
Citra bergegas mencari Bu Sobirin selaku tuan rumah. Citra tidak ingin pergi tanpa meninggalkan pesan. Citra bukan orang tak punya tanggung jawab. Pesta itu diperuntukkan untuk dirinya maka Citra wajib jaga muka kelurga barunya.
Keadaan darurat memaksa Citra harus meninggalkan pesta yang sedang berlangsung. Bukan karena Bu Dewi mertuanya Citra cari muka obati beliau. Namun sebagai dokter harus siaga bila ada pasien membutuhkan bantuan.
Untunglah bu Sobirin memahami keadaan dan ijinkan Citra pergi bersama Alvan. Dia tidak punya waktu pamitan pada anak-anak lagi karena waktu sangat mepet. Setiap detik merupakan kehidupan bagi orang sakit.
Berangkatlah Alvan dan Citra ke rumah sakit. Sampai kapan Alvan harus lalui sedemikian banyak rintangan hidup.
Citra melihat ketegangan di wajah lakinya. Mengapa cobaan enggan jauhi Alvan.
"Mas..hati-hati berkendaraan!" Citra ingatkan Alvan agar tetap tenang.
"Iya sayang....mas masih ingat anak-anak kita! Mas kasihan pada Afisa. Seharusnya kita beri dia kenangan indah tapi bukan dapat kenangan indah tapi bayangan kelam."
Citra mengelus pipi Alvan beri spirit agar tetap tabah. Selama manusia masih hidup takkan luput dari cobaan. Tergantung kekuatan kita hadapi ujian cobaan.
"Asal mas sanggup aku juga sanggup. Cobaan ini belum seberapa bila dibanding dengan mereka yang kena bencana. Hilang tempat berteduh juga sanak keluarga. Tawakal ya mas!"
Alvan bisa berbuat apa selain ikuti saran Citra tawakal. Anggap ini hutang yang harus dibayar keluarga Lingga pada anak istri.
"Mas akan kuat bila kita gandengan! Besok mas harus antar Afisa balik ke Singapura. Ini kesempatan mas tunjukkan pada Afisa dia juga anak mas."
"Jangan dipaksa bila mas tak bisa pergi! Afisa akan ngerti kok! Afisa itu anak baik dan pintar."
"Tidak..apapun terjadi mas akan antar Afisa."
Citra merasa tak ada guna melarang Alvan mencuri perhatian Afisa. Alvan ingin lebih dekat dengan anaknya yang satu ini. Anak itu lebih sulit didekati daripada Azzam. Hati Afisa lebih keras dari Azzam. Mungkin karena latihan yang cukup berat buat anak bermental baja.
"Kita lihat kondisi mama dulu! Herannya mengapa tiba-tiba dia kolaps padahal waktu kita tinggalkan masih sehat."
Alvan mengarahkan mata ke jalan tak bisa jawab. Alvan juga tak tahu mengapa mamanya jatuh pingsan. Harus tunggu mamanya sadar baru temukan jawaban.
Jalan ke rumah sakit terasa sangat panjang karena beban di hati yang sarat dengan beban. Dalam keadaan begini Citra merasa sangat kasihan pada Alvan. Kalau bisa Citra ingin memindahkan sebagian beban diletakkan di pundaknya agar bisa sama-sama merasakan beban berat itu.
Citra yang nyaris patah arang terhadap sikap Bu Dewi kini bangkit untuk jadi sandaran bagi Alvan. Citra harus membawa Alvan keluar dari kegelapan Songsong hari cerah.
Citra segera menjenguk Bu Dewi di ruang ICU karena wanita itu koma belum sadar. Citra dan Alvan segera temui dokter yang menangani Bu Dewi pertama kali. Sayang hanya dokter umum karena dokter spesialis telah pulang. Dokter umum tentu tidak begitu paham detail penyakit Bu Dewi karena perlu bantuan dokter spesialis.
Citra meminta Bu Dewi di scan bagian otak untuk lihat penyebab wanita tua itu tiba-tiba koma. Citra diagnosa ada perpecahan pembuluh darah di otak. Kalau hanya penyumbatan akibatnya tidak fatal gini. Citra sudah sering jumpai kasus kena serangan stroke akut. Kelihatannya penyakit Bu Dewi jauh lebih serius dari pak Jono.
Alvan menanti di luar tunggu kabar dari Citra. Alvan dihinggapi rasa cemas tak terhingga. Seburuk apapun Bu Dewi dia tetap ibu Alvan. Orang yang melahirkan Alvan ke dunia ini.
Alvan tidak berani kabari pak Jono kondisi mamanya. Pak Jono sendiri belum pulih betul mana sanggup terima kabar duka ini.
Saat Alvan menanti Citra obati Bu Dewi ponsel Alvan berbunyi. Di layar tertangkap nama Karin.
Alvan menghela nafas bertanya dalam hati mengapa tiba-tiba si Karin menelepon. Sudah lama mereka tidak saling ngobrol ataupun telepon. Segala keperluan Karin dipenuhi oleh Untung.
"Ya..."
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..." Alvan tertegun dengar sapaan salam dari Karin. Sejak kapan wanita itu kenal adat istiadat. Biasa wanita nyelonong tanpa lihat ada palang tidak.
"Gimana mamamu?"
"Kamu kok tahu dia sakit?"
"Tadi dia teleponi aku minta bantu dia singkirkan Citra. Aku tolak dan dia marah."
"Mama koma..."
"Oh..." Karin tidak berani cerita kalau dia sudah buka aib seluruh keluarga Lingga. Baru omong segini Bu Dewi koma. Bagaimana kalau Karin buka lebih dalam.
"Apa tujuan mama minta kamu singkirkan Citra?"
"Dia tidak bilang. Hanya minta aku membantunya menyingkirkan Citra. Sudah ku katakan kalau Citra itu wanita baik-baik tapi mamamu tidak mau tahu. Aku tak tahu apa tujuan Mama kamu menyingkirkan Citra. Aku sudah banyak bersalah pada Citra tak mungkin aku menambah dosa lagi."
__ADS_1
Alvan ingin sekali meninju tembok agar melepaskan semua ganjalan di dada. Mengapa Bu Dewi tidak henti menyakiti Citra. Tidak berhasil dari sini, ke sana dia berjalan. Ketemu gang buntu jadi kolaps pula.
"Van...aku mau ke rumah sakit! Aku mau lihat keadaan mama kamu!"
"Tidak usah! Kau istirahat saja. Kalau ada apa-apa dengan mama aku akan kabari kamu. Kalau kamu memerlukan sesuatu teleponi Untung!"
"Tidak...semua cukup kok! Jaga kesehatan kamu! Sudah cukup banyak masalah di dalam keluarga. Semoga segera berakhir."
"Amin... assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam..."
Alvan mendapat sedikit gambaran penyebab Bu Dewi kolaps. Lagi-lagi ikuti nafsu singkirkan Citra. Tidak tercapai tujuan langsung drop.
Orang yang suka berbuat tidak akan menang selamanya. Suatu saat pasti akan kena batunya contohnya seperti Ibu Dewi yang sekarang telah mendapat ganjaran menyakitkan.
Alvan mengusap wajah untuk hindari kekecewaan mendalam. Dalam hal ini siapa harus disalahkan. Karin atau Bu Dewi sendiri. Alvan tidak menyalahkan Karin menolak bantu Bu Dewi. Karin sudah berada di jalur yang benar. Tapi penolakan ini membuat mamanya kena serangan perpecahan pembuluh darah.
"Mas..." satu tepukan membuat Alvan kaget.
Alvan balik badan berhadapan dengan Citra yang mungil. Alvan tak dapat sembunyikan duka dalam hati melihat Citra masih berdiri utuh di depannya.
Apa yang akan terjadi bila Karin dan Bu Dewi bersatu singkirkan Citra. Bu Dewi tidak akan kolaps tapi Alvan kehilangan wanita yang dia cintai.
"Mas...ini rumah sakit!" Citra mendorong Alvan membuat jarak.
Alvan ingin sekali menangis dalam pelukan Citra. Menumpahkan segala beban yang sangat berat di dalam dada. Sayang Alvan seorang lelaki yang pantang menumpahkan air mata di depan umum.
"Mas..ada apa? Kok jadi cengeng?"
"Tidak apa sayang...hanya bersyukur melihatmu menolong mama! Gimana kondisi mama?"
Kali ini Citra yang menarik nafas. Keadaan Bu Dewi jauh dari kata ok. Ada pembuluh darah dalam otak pecah. Harus segera ditangani. Kalau tidak selamanya Bu Dewi takkan bangun lagi. Bahkan bisa sebabkan Kematian.
"Ayok kita duduk!" Citra menarik tangan suaminya untuk duduk di bangku stainless. Alvan patuh ikuti anjuran Citra.
Untuk sementara Alvan tak bisa gunakan akal sehat. Apa pun yang dikatakan Citra akan jadi patokan Alvan. Alvan percaya Citra tidak berniat jahat pada keluarganya.
"Operasi...cuma operasi ini beresiko besar! Taruhannya lima puluh persen. Kalaupun tidak dilakukan operasi nyawa mama juga dalam bahaya. Pengumpulan darah di batang otak sangat berbahaya. Aku tak berani ambil resiko maka harus ada ijin kamu dan papa." Citra berkata terus terang karena operasi tidak bisa ditunda.
Alvan makin terpuruk. Jalan di depan mata seperti tergenang banjir tak bisa dilalui Alvan lagi. Alvan tak bisa minta pendapat pak Jono. Sekarang Alvan harus hubungi keluarga Bu Dewi di Banjar untuk kabari kabar duka ini.
"Aku ingin Azzam dan Afisa jadi penentu nyawa Oma mereka. Aku juga akan telepon ke Kalimantan minta ijin." lirih Alvan sudah tak sanggup berpikir panjang.
Citra ngerti suasana hati Alvan sedang buruk. Manusia mana tak sedih lihat orang yang telah besarkan dia dari bayi hingga jadi orang sedang bertarung melawan maut.
"Tapi Azzam dan Afisa hanya anak kecil mas! Jangan libatkan mereka!"
"Tidak...mereka adalah masa depan Lingga. Akan kuminta Untung bawa mereka ke sini. Kita dengar pendapat mereka. Mungkin dengan ini Afisa dan Azzam akan memaafkan kekasaran Oma mereka."
Citra tak ingin membuat Alvan makin kacau memilih diam. Betul kata Alvan. Azzam dan kedua adiknya mewarisi darah Lingga. Sejarah yang tak mungkin di hapus.
"Terserah mas! Sekarang terpenting hubungi keluarga di Kalimantan. Aku akan hubungi dokter bedah untuk konsultasi. Aku tak mungkin bekerja sendiri."
"Kau siap mental operasi mama?" Alvan butuh kepastian Citra menangani mamanya. Citra bukannya tak bisa jawab tapi dokter hanya perantara. Yang menentukan bukan manusia tapi Tuhan Yang Maha Kuasa.
"Kita berserah pada Yang Maha Kuasa. Aku akan berusaha yang terbaik."
"Terima kasih sayang." Alvan meraih kepala Citra hadiahkan kecupan di kening. Citra tersipu malu dapat hadiah dilakukan Alvan di tempat umum.
Kini tugas Alvan adalah hubungi Untung jemput anak-anak lalu hubungi keluarga Bu Dewi di Kalimantan. Soal anak-anak gampang urusannya tapi untuk buka mulut bicara dengan keluarga Bu Dewi di Kalimantan merupakan beban berat bagi Alvan.
Menyampaikan kabar gembira hati riang mulut gampang terbuka tapi untuk sampaikan kabar duka mulut susah terbuka laksana berton-ton batu sumbat mulut.
Alvan tetap harus buka mulut beri kabar sekaligus minta pendapat dari keluarga Bu Dewi. Alvan terpaksa hubungi Amang.
"Halo... assalamualaikum..." sapa Alvan terhubung dengan adik mamanya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam...ada kabar apa?"
"Mang...kita di sini sedang berduka. Papa aku lagi dirawat dan mama..." Alvan tak sanggup lanjutkan kalimat. Kerongkongan Alvan seakan tersekat oleh batu gede. Sangkut tak bisa berkata lancar.
"Mamamu kenapa? Bikin ulah lagi?"
"Bukan itu mang! Mama pendarahan dalam otak."
"Astaghfirullah...kok bisa?"
"Ceritanya panjang. Sekarang Alvan minta ijin operasi mama. Cuma Citra bilang harapan lima puluh lima puluh. Apa pendapat Amang?" tanya Alvan tak urung suaranya bergetar.
"Kalau tidak operasi bagaimana?"
"Lebih fatal. Mama akan koma ntah kapan siuman. Lebih banyak bahaya dari pada selamat. Amang yang harus ambil keputusan. Papa belum bisa kita ganggu."
Alvan mendengar helaan nafas berat Amang. Siapa bisa tenang dengar kakak kandung berada diambang maut. Semua bermula dari niat Bu Dewi ingin jodohkan Alvan dengan saudara jauh. Akhirnya begini kacau. Nyawa jadi taruhan.
"Laksanakan yang terbaik! Bilang pada Citra Amang titip mamamu padanya. Kembalikan mamamu utuh pada Amang. Percayalah! Selanjutnya mamamu takkan persulit Citra lagi."
"Iya mang! Terima kasih. Alvan yakin untuk bawa mama ke meja operasi."
"Amang akan berdoa dari sini! Jam berapa operasinya?"
"Segera. Alvan tunggu anak-anak untuk jenguk Oma mereka sebelum operasi."
"Allah pasti akan lindungi kita!"
"Amin... assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.."
Alvan termenung melirik Citra. Sudah ada keputusan Bu Dewi harus jalani operasi untuk mengangkat darah beku di otak. Citra segera bertindak minta dipersiapkan meja operasi. Sebelumnya Citra harus konsultasi dengan dokter bedah pelajari jalan operasi.
Operasi besar begitu bukan segampang makan nasi. Butuh perhitungan matang karena ini menyangkut alat paling vital hidup seorang manusia. Otak adalah pusat dari hidup seorang manusia. Salah sedikit nyawa Bu Dewi di ujung tanduk.
"Mas...tunggu di sini! Aku pergi bersiap." Citra menepuk lengan Alvan pelan isyaratkan semangat.
Alvan menarik bibir sedikit juga kasih spirit pada Citra untuk percaya diri operasi mertuanya. Tidak semua orang mampu turun tangan operasi keluarga sendiri. Itu butuh mental baja.
Citra melangkah pergi diikuti pandangan mata Alvan. Alvan merasa ditinggal sendirian di hamparan lautan pasir gersang. Tanpa penghuni lain. Sejauh mata memandang hanya ada kesunyian. Tak ada uluran tangan membimbing Alvan keluar dari kegersangan.
Bunyi suara telepon mengembalikan kesadaran Alvan ke alam nyata. Alvan edarkan mata tampak sekeliling penuh orang lalu lalang. Kebanyakan para medis seliweran lakukan tugas masing-masing.
Alvan menggeleng kepala agar ingat dia berada di rumah sakit. Tadi Alvan terjebak dalam fatamorgana di Padang pasir luas.
Alvan memainkan ponsel di tangan lihat siapa telepon. Ternyata teman dekat yang akhir-akhir ini sibuk dengan cewek dari Amerika.
"Halo bro...masih hidup?"
"Setengah hidup...kau di mana?"
"Lagi perjalanan ke rumah sakit. Karin teleponi aku kasih kabar tentang mamamu. Turut berduka ya!"
"Karin? Kok dia bisa hubungi kamu? Bukankah kalian kurang akur?"
"Yaelah...hari gini masih musuhan? Kayak anak TK saja! Gimana Tante Dewi? Sudah sadar?"
"Belum. Citra sedang siapkan meja operasi."
"Segawat gitu? Yayang Citra turun tangan sendiri?"
"Yayang endasmu? Citra bini gue...jangan buat gue jadi dukun sunat ya?"
"Duh sewot amat! Citra is the best. Tidak ada orang bisa gantiin dia bersemi di hatiku!"
"Edan...Oya..anak gue si Afisa sudah ada di sini! Dia baru datang dari Singapura. Lagi tanding senam di sana."
__ADS_1
"Mirip gue ya!" ujar Daniel tertawa ngakak.
"Mirip kepala lhu! Itu bibit gue!"