ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Bayar Rindu


__ADS_3

Dengan cara apa Alvan baru bisa bayar kesalahan di masa lalu. Bicara soal materi Citra bukan Karin yang agungkan materi sebagai landasan hidup. Citra orang penuh kasih sayang pendamba surga. Karin berkali menyakiti dia namun tetap perjuangkan hak Karin tanpa gembar-gembor pada Karin kalau dia membela Karin. Citra bekerja dengan hati bukan dengan mulut.


"Ya sudah pak! Nanti aku akan jumpa isteri bapak. Aku ajak dia ke sini untuk ngobrol dari hati ke hati. Semoga hatinya terbuka. Semua wanita akan luluh bila ada kesungguhan bapak untuk berubah. Aku yakin itu!"


"Terima kasih Bu dokter! Hanya ibu dokter bersedia dengar curhat aku! Semoga hidup ibu selalu bahagia bersama keluarga. Tidak berantakan seperti keluarga aku!"


"Amin...aku pergi dulu ya! Istirahat!" Citra beranjak pergi balik badan hendak keluar tenda.


Begitu badan Citra berputar di depan dokter ini sudah ada sosok tinggi besar halangi jalan Citra. Sesaat Citra tertegun tak sangka Alvan akan muncul secara tiba-tiba.


Alvan menghujani Citra dengan tatapan sayu penuh rasa rindu. Baru pisah dua hari tumpukkan rasa kangen sudah menggunung di hati Alvan. Gimana kalau Citra pergi berbulan. Tumpukan itu akan membludak meletus seperti gunung api aktif sembur lahar dari perut bumi.


Sejenak keduanya saling menatap dalam kebisuan. Citra cukup kaget Alvan ikutan datang ke tempat dia bertugas. Sedikitpun Citra tak sangka Alvan akan datang. Citra harus bahagia atau kesal? Bahagia diperhatikan Alvan, kesal Alvan meninggalkan anak-anak tanpa persetujuannya.


Citra mendengus keluarkan suara halus dari hidung mancungnya. Hidung mungil incaran Daniel ikut naik satu mili ke atas. Di mata Alvan wanita di depannya tetap cantik dalam kondisi apapun.


Citra keluar tenda diikuti Alvan dari belakang. Alvan jadi bayangan Citra walau beda postur. Satu mungil mirip liliput dan satunya tinggi mirip raksasa. Perbedaan kontras. Bukan pasangan serasi.


Citra tidak segera balik ke mesjid melainkan ke tenda dapur umum. Citra merasa kerongkongan kering harus disegarkan dengan teh hangat. Alvan ngekor tanpa suara mirip bodyguard sedang kawal nona kaya.


"Bonar...kak Daniel?" seru Citra surprise melihat dua sosok yang sangat dia kenal berada di tenda dapur umum.


Kedua laki itu tak kalah surprise melihat Citra berada di situ. Daniel mencibir paham mengapa Alvan susah payah datang berkunjung ke daerah bencana. Ternyata ada magnet kuat menarik laki itu datang ke situ. Sungguh licik cara Alvan boyong dia ikut terjun lokasi gempa. Tidak buka cerita ada pemanis di situ.


"Adik cantik...tugas sini toh! Ini kakak sudah datang untukmu! Terharu kan?" Daniel bangkit dari bangku kayu darurat hampiri Citra yang melebarkan bibir ukir senyum manis.


"Kalau gitu kuucapkan selamat datang? Lagi ngapain?"


"Minum kopi...kopinya sangat buruk kualitas. Kopi serasa arang." bisik Daniel takut komplainnya terdengar orang. Daniel sengaja bicara pelan dekat di kuping Citra untuk bakar api cemburu Alvan.


Laki plin plan model Alvan patut diberi syok terapi agar hargai nilai seorang Citra. Dulu dibuang demi wanita lain, kini dapat masalah cari Citra lagi. Daniel tahu harapan untuk meraih Citra makin terjal karena adanya Azzam dan Afifa. Namun selagi masih ada celah Daniel akan usaha masuki celah menuju ke tujuan utama.


Alvan menatap Daniel dengan tatapan ingin membunuh. Nyesal Alvan ajak Daniel temani dia menemui Citra. Daniel bukannya jadi teman sukacita namun jadi teman pembawa duka.


Alvan mendehem kencang beri peringatan pada Daniel agar tahu diri di depan ada polisi gadungan sedang piket pantau orang iseng.


Daniel pura-pura tidak dengar deheman Alvan. Laki ini malah menarik tangan Citra untuk ikut minum kopi arang karangan Daniel. Citra dengan senang hati ikut duduk di bangku kayu ala darurat. Bonar mengangguk sopan sewaktu Citra duduk dekat dengannya. Bonar tentu saja kenal sosok mami dari Azzam si racun dunia itu.


"Kak..." sapa Bonar sambil beri senyum tidak manis. Wajah khas Batak dari mana bisa keluar rasa manis. Selebar apapun senyum Bonar tetap seperti seringai harimau.


"Kok bisa di sini?"


"Diajak pak Alvan..."


"Kok bisa? Memang kamu kerja sama pak Alvan?"


"Sementara ini iya kak! Tokcer sudah jadi supir pribadi Azzam. Aku belum dapat kedudukan."


Citra memutar kepala menatap Alvan berterima kasih telah mengurangi pengangguran di kampung mereka. Kalau mau direkrut masih banyak pengangguran di sekitar rumah Citra. Tak mungkin semua Alvan boyong kerja di perusahaan. Tentu saja harus ada satu kelebihan baru bisa diajak kerja.


"Benar pak Alvan? Tokcer dan Bonar kerja di tempatmu?" meluncur juga obrolan dari Citra pada Alvan. Alvan menunggu kalimat dari mulut Citra dari tadi.


"Rekom Andi...kulihat mereka cukup baik untuk dilatih! Semoga Andi tidak salah ajak mereka bekerja di perusahaan." sahut Alvan datar tak tunjukkan kalau dia senang Citra pecahkan kebekuan antara mereka.


"Terima kasih pak! Mereka akan jadi karyawan baik. Kujamin itu. Bagaimana anak-anak?"

__ADS_1


"Sehat...Nadine kubebaskan tugas jaga mereka selama aku di sini. Anak-anak ingin dengar suaramu. Nanti kau rekam biar kubawa pulang."


Citra lega Alvan telah mengatur yang terbaik untuk anak-anak. Rasa jengkel terkuras dikit berhubung Alvan telah lakukan beberapa hal baik menurut Citra. Citra senang Alvan ikut membasmi pengangguran di kalangan anak muda. Citra bukannya tidak peduli pada nasib anak muda tapi berdasar kemampuan Citra sebagai dokter bisa sumbang apa. Ajak mereka jadi perawat tidak mungkin karena mereka tak punya dasar pendidikan ke medis. Citra hanya bisa kasih doa.


"Kalian ngobrol! Kami ini bagai obat nyamuk tukang usir nyamuk nakal. Yok Bobo?" Daniel mencolek Bonar ikut dengannya ke tempat lain. Daniel tahu diri tak ingin ikut nimbrung masalah keluarga. Walau Alvan dan Citra telah pisah keduanya masih ada ikatan sebagai orang tua dua bocah.


"Kok Bobo? Nama aku Bonar bah!" protes Bonar tak suka namanya diganti serampangan.


"Sudahlah! Beti...beda tipis!" Daniel merangkul Bonar agar jauhi pasangan lagi gencatan senjata itu.


Alvan berterima kasih sahabatnya peka kalau dia ingin berduaan dengan Citra. Kadang Daniel tidak terlalu menjengkelkan. Adalah dikit empati pada teman lagi kasmaran.


"Kau percaya pada Bonar dan Tokcer?" tanya Citra setelah Bonar menjauh.


"Percaya! Mereka kasar tapi jujur!"


"Iya...gitulah mereka! Tokcer itu sayang pada ibunya, Bonar anak yatim piatu dari Medan. Didiklah mereka dengan baik!"


"Aku masih bingung mau tempatkan Bonar di mana? Emang keahliannya apa?"


"Dia itu sangat jujur! Jaga gudang atau satpam gitu!"


"Apa dia mau tidur di gudang? Sebulan paling libur sehari. Tanggung jawab besar. Gajinya juga besar."


"Tempatkan saja! Toh dia hidup sendirian! Aku yakin dia amanah!"


"Ok ikuti perintah nyonya Alvan! Oya ini ada rekaman kedua anakmu! Coba kau buka!" Alvan menyodorkan ponselnya pada Citra.


Citra menatap benda pipih di tangan Alvan dengan tatapan ragu. Citra tidak terbiasa buka hp orang lain. Ponsel termasuk barang pribadi tak boleh dilangkahi.


Alvan menyodorkan ponsel itu lebih dekat lagi agar Citra bersedia menerimanya. Tak ada keraguan di wajah Alvan beri barang pribadinya pada Citra. Alvan ingin katakan pada Citra dia tak punya rahasia pada Citra.


"Apa tidak bahaya?"


"Main sebentar saja! Kami langsung pulang setelah mereka lepas kangen. Aku akan bawa pasukan neon kamu!"


"Pasukan neon? Apa itu?"


"Tuh Andi, Tokcer dan Nadine."


"Nadine jangan! Dia tak boleh tinggalkan ibu. Sini bukan tempat piknik. Kami sini kekurangan air bersih. Takutnya tak lama lagi akan muncul wabah penyakit baru. Kita lihat nanti saja! Bagusnya tak usah datang. Udara panas akan memicu kekeringan. Rawan penyakit ISPA."


"Baik nyonyaku! Dengar katamu saja! Ayok buka rekaman anak-anak! Dengar celoteh mereka! Aku akan usahakan telepon satelit agar kau terhubung dengan anak-anak. Sini signal kosong!"


"Jangan signal! Listrik saja tak ada. Malam cuma andalkan obor dan genset."


"Kau pasti tak kerasan. Apa perlu kuganti dokter lain?"


Citra menggeleng. Ganti dokter hasilnya tetap sama. Apa sudah ganti dokter sarana akan berubah baik?


"Tak usah...aku baik saja di sini! Terima kasih untuk semuanya!"


"Kau ibu anak-anak aku! Aku wajib menjagamu. Oya apa aku boleh minta sesuatu darimu?"


"Jangan yang aneh ya!"

__ADS_1


"Dijamin tidak aneh tapi wajar. Aku cuma mau kamu panggil mas Alvan! Aku merasa seperti orang tua punya empat anak."


Citra tertawa kecil. Kemarin Heru minta dipanggil mas juga alasan tak mau tampak tua. Ini telah datang satu lagi lelaki sok muda padahal emang sudah mulai tua.


"Emang kenapa punya empat anak? Merasa tua ya?"


"Bukan merasa emang tua kok! Aku akan lebih semangat bila ada yang ingatkan bahwa aku masih sanggup nafkahi bini! Aku pingin berobat biar Afifa punya adik. Kapan kau operasi aku?"


"Kau tak takut anakmu tertular HIV?"


"Kenapa tertular? Apa kamu juga HIV?"


"Ge er banget! Siapa lagi mau punya anak darimu? Kita ini bukan suami isteri sah. Bapak sudah talak aku. Jangan bilang lupa ya!"


Alvan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sungguh tidak peka nih wanita. Diajak rujuk arahnya memojokkan. Alvan belum pikun telah menalak Citra. Alvan berharap Citra buka hati memberi maaf.


"Aku tak lupa itu nyonya Alvan! Aku akan undang penghulu nikahkan kita lagi."


"Apa aku ada bilang setuju? Fokus dulu pada kak Karin! Beri dia ruang untuk bicara dari hati ke hati. Tidak mungkin bilang pisah kalian langsung pisah. Dia itu cinta pertamamu. Tak mudah dilupakan gitu saja."


"Aku sudah bilang takkan ceraikan dia. Aku jamin seluruh hidupnya tapi aku tak mau tinggal serumah dengannya. Dia itu licik. Aku tak mau masuk perangkapnya. Dia bisa berbuat apa saja untuk ikat aku agar tidak pergi darinya. Salah satunya jadikan aku zombie macam dia."


"Keren amat istilahmu! Aku tak mau dahului yang di atas. Biarkan waktu yang jawab! Kita jalani saja semua ini selagi kita masih diberi kesempatan bernafas."


Alvan tak bisa berbuat apapun untuk luluhkan Citra. Semua alasan Citra cukup masuk akal. Citra butuh waktu untuk lihat kesungguhan Alvan pada keluarga kecilnya. Asal Alvan berhasil merangkul Azzam dan Afisa mungkin jalan Alvan akan terbuka.


Penghalang Alvan datang dari darah daging sendiri yang sangat kritisi. Jalan menuju ke Roma harus dapat ijin dari dua penguasa lokal yakni Azzam dan Afisa. Afifa gampang diurus karena memang telah menyayangi Alvan.


"Aku akan usaha. Kau tak mau lihat rekaman anak-anak?"


"Nanti saja setelah tugasku beres. Bapak tidak pulang?"


"Tidak...besok heli akan jemput aku! Malam ini aku akan nginap di sini bersamamu! Takut ada kadal buntung cari kesempatan menyelinap ke tenda kamu."


Citra belum paham sindiran Alvan tentang Heru. Alvan sengaja tak buka cerita dia tahu Heru ada datang. Lebih baik berlagak pilon ketimbang kalah selangkah. Heru lebih gesit berhasil jadi super Hero di mata Citra. Alvan super Hero ketinggalan kereta. Menyusul dari belakang. Kali ini Alvan kecolongan Heru.


"Sini serba sederhana. Jangan mengeluh ya!"


"Asal bersamamu lautan api kuseberangi."


"Cisss lebay!" tak urung Citra tersipu digombalin Alvan. Citra tetap wanita normal punya perasaan. Apa lagi Alvan pernah ada dalam hidup Citra. Rasa itu belum hilang seratus persen walau Citra sudah bisa terima Alvan mencintai Karin.


"Serius dibilang lebay! Mungkin kau meragukan kesungguhan aku bangun keluarga sakinah denganmu. Aku akan tunggu kau melihat kesungguhan aku. Aku bukan lelaki suka main celup sana sini maka itu aku takkan memaafkan Karin berani berkhianat." Alvan mengatakan isi hati memang sakit hati dibuat Karin. Dia berusaha setia dibalas pengkhianatan terbuka Karin.


Citra tak punya alasan bantu Karin berdiri tegak di samping Alvan. Perbuatan Karin memang di luar nalar sehat. Suami ganteng, kaya raya, baik dan setia. Ke mana lagi dicari stok terakhir model gitu. Apa alasan Karin berpaling dari Alvan. Tergoda hiruk pikuk keglamoran dunia artis atau pede akan cinta Alvan.


"Aku abstain soal ini!"


"Lebih bagus gitu! Biar aku dan Karin selesaikan masalah kami. Kau cukup buka hati biar aku ikut masuk dalam hidupmu. Aku akan singkirkan semua buaya dan kadal sekelilingmu!"


"Ngaco...dari mana muncul buaya kadal di kota? Sudah ach! Makin ngawur! Bapak mau bersih-bersih?" Citra alihkan topik biar tidak dipaksa menjawab pertanyaan yang tak bisa dia jawab dalam waktu dekat.


"Maksudmu mandi?"


Citra mengangguk benarkan dugaan Alvan. Alvan mengangkat tangan mencium bawah lengan cari tahu apa ada bau menyengat dari situ. Rasanya masih harum parfum mahal seharga satu ponsel harga menengah ke atas.

__ADS_1


"Aku tidak bau kok! Apa iya harus mandi?"


"Apa bapak pikir mandi hanya karena bau badan? Jaga kebersihan! Bersih itu pangkal kesehatan." sungut Citra dengar jawaban tidak rasional Alvan. Tiap hari semprot parfum jadi tak bau. Selama itu pula tak usah mandi walau daki sudah naik satu inchi di kulit.


__ADS_2