ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Karin Berangkat


__ADS_3

Karin tak sanggup tahan kesedihan lagi. Air matanya meleleh basahi pipi yang tirus itu. Kemegahan yang selama ini jadi patokan taraf hidup Karin sirna.


"Bunda akan ingat kata-kata kamu nak! Bunda ingin mendengar kamu memaafkan bunda." Karin mencekal kedua lengan Azzam dengan pelan. Tak ada niat menyakiti Azzam. Karin butuh kepastian kata maaf Azzam.


"Koko belum pantas menerima kata maaf bunda. Yang paling berhak adalah mami. Yang paling terluka adalah mami. Asal mami sudah memaafkan bunda otomatis kami sebagai anak menerima dengan lapang hati."


"Ya Tuhan...mengapa ada anak sebijak ini? Bolehkah bunda memeluk kalian berdua? Kalian berdua anak papi berarti anak bunda."


Azzam mengangguk. Tangis Karin meledak penuhi seluruh ruang tamu yang mewah. Semua ikut sedih lihat adegan mengharukan ini. Alvan memalingkan wajah menahan air mata. Moments ini yang dia tunggu. Keluarganya saling memaafkan. Kebencian di buang sejauh mungkin agar tersisa kata bahagia.


Azzam biarkan Karin memeluknya. Tak ada balasan dari Azzam tapi tak menolak Karin. Bagi Azzam hanya Citra berhak mendapat pelukan hangatnya.


Afifa maju ikut memeluk Karin cuci semua kesalahan Karin di masa lalu.


"Terima kasih sayang. Oya...ini Bunda ada sesuatu untuk Azzam." Karin mengeluarkan satu map ntah berisi apa. Karin menyerahkan map itu kepada Azzam selaku anak sulung Alvan.


Di antara keraguan Azzam menerima pemberian Karin. Anak itu menatap map di tangan dengan heran.


"Apa ini?"


"Itu surat kepemilikan rumah ini. Bunda wariskan kepada Azzam dan Afifa. Mulai saat ini rumah ini punya kalian dua." Karin mengusap pipi Azzam lembut dengan tangan kurusnya.


"Tidak boleh Bunda! Ini milik Bunda. Bunda kan tidak selamanya tinggal di Jawa. Bunda pasti pulang sini." bantah Azzam menyerahkan map itu pada Karin.


"Kalau bunda pulang pasti tinggal sini! Tapi bunda lebih tenang telah serahkan rumah ini pada kalian yang lebih berhak. Azzam rawat rumah ini selama bunda tak ada. Bunda telah bangun kandang kucing di samping rumah karena tahu suatu saat kamu pasti datang. Bunda lega jumpa kamu anak baik."


"Bunda lupa ya kalau masih ada Cece di Tiongkok. Mengapa semua orang suka lupa pada Cece?" timpal Afifa kurang senang Afisa tidak dilibatkan dalam obrolan. Afisa seolah-olah tersingkir.


"Oh...bunda minta maaf sayang! Bunda lupa kalian kembar tiga. Iya Cece juga pemilik rumah ini!" kata Karin untuk menyenangkan Afifa.


Bik Ani muncul membawa minuman untuk tamu. Bik Ani senang bisa jumpa kedua anak tuannya. Kedua anak itu manis menarik perhatian orang. Mereka pernah jumpa sewaktu Alvan titip kucing di situ. Bik Ani berkesan pada kedua bocah kembar itu.


"Nenek..." seru Afifa masih ingat Bik Ani.


Bik Ani tertawa ramah pada Afifa. Gadis kecil itu mengingatnya dengan baik. Artinya Afifa bukan anak yang buang papan setelah berhasil lewati jembatan.


"Neng cilik...nenek senang lihat kamu lagi!" Bik Ani mencolek pipi chubby Afifa yang berona merah bak tomat matang.


"Ini Amei sudah datang!"


"Iya...neng cilik mau makan sesuatu?"


"Nggak usah nek! Masih kenyang...ayok duduk sini nek!"


"Nenek masih ada kerja di dapur. Nanti nenek datang lagi." Bik Ani hendak mengundurkan diri ke belakang.


"Bik... setelah aku pergi bibik ke rumah Citra ya! Bik Ani dan Iyem pindah ke tempat Citra untuk sementara." ujar Karin menunjuk ke arah Citra bakal majikan baru Bik Ani.


Bik Ani menatap Citra dengan senyum tipis. Bik Ani bukan tak tahu kisah sedih Citra. Bik Ani tak bisa bantu apa selain patuh pada perintah majikan. Wajah Citra yang teduh membuat Bik Ani lega. Semua pembantu takut majikan galak.


"Iya nona Karin...bibik ke dapur ya! Makan siang di sini?"


"Tidak usah Bik! Kami akan bawa anak-anak keluar nanti. Biar makan di luar saja." kata Citra lembut tak mau merepotkan orang tua itu.

__ADS_1


"Iya non.." Bik Ani melangkah pergi.


Di teras sana, Iyem menyuguhkan kopi instan untuk tamu Karin. Iyem yang montok berhasil mencuri perhatian Bonar. Bonar suka yang berbadan subur biar tak usah repot beli guling untuk teman tidur. Cukup bantal kepala dan isteri montok.


Bonar asyik perhatikan Iyem menghidangkan kopi untuk mereka berempat. Bagi Andi dan Tokcer penampilan Iyem biasa saja. Lemak di tubuh Iyem bukan pemandangan indah, jaman ini siapa mau jadi sarang lemak tak sehat. Mengundang kolesterol endap di tubuh.


Lain mata lain pendapat. Bonar justru merasa Iyem cewek luar biasa. Satu lagi preman kepentok dewa cinta. Baru saja Tokcer kepentok bule Amerika kini Bonar sangkut pada lemak Iyem.


"Kenalan dek!" pinta Bonar tak malu pada jumpa pertama.


"Isshhh...aku di sini cuma pembantu! Bukan majikan." sahut Iyem malu ayam.


"Aku juga pegawai pak Alvan cuma bagian gudang. Aku Bonar." Bonar mengulurkan tangan minta salaman. Iyem menerima tangan kasar Bonar malu-malu kucing.


"Iyem..."


"Minta nomor ponsel boleh?"


"Boleh mas..."


Bonar mengeluarkan ponselnya agar diisi nomor Iyem. Iyem mengambil ponsel Bonar lalu ketik nomornya ke ponsel android Bonar. Untung lajang ini sudah ganti ponsel. Coba kalau masih pakai ponsel lama yang huruf dan angka tak tampak lagi. Mau ngumpet di mana wajah si Batak ini.


Andi dan Tokcer saling lempar mata geli lihat cara Bonar kenalan. Tak ada basa-basi langsung tembak. Sungguh lelaki berjiwa kesatria. Pemberani tak kenal gentar. Syukur Iyem mau berbaik hati ladeni Bonar, coba kalau Iyem cuek. Bakal terjadi tragedi baru. Bunga belum ditanam sudah layu.


"Nanti bang Bonar telepon ya!"


"Iya mas...permisi dulu!" Iyem melempar senyum maut bikin nyawa Bonar nyaris melayang ketimpa senyum Iyem. Senyum termanis yang pernah Bonar dapatkan dari cewek.


"Gile lhu Batak! Main embat!" kata Andi setelah Iyem menghilang ke dalam.


"Selera lhu payah Bonar! Apa kau tak lihat bentuk tubuh truk tronton? Semua serba jumbo. Gardan dobel, lampu depan raksasa. Serba gede ..lhu doyan yang gituan?" olok Tokcer.


"Bagiku Iyem itu sexy.. tidak kerempeng kayak cewek masa kini. Apanya mau di peluk? Tulang doang!" balas Bonar tak terpengaruh ejekan Tokcer. Bonar tetap suka pada Iyem pada pandangan pertama. Terserah Tokcer mau omong apa. Anjing menggonggong kafilah berlalu.


"Kak Bonar doyan yang jumbo. Kalau ada anak bisa bagi ASI." gurau Gibran bikin semua tertawa. Anak bapak dapat jatah ASI bila pabriknya berukuran jumbo. Tidak perlu repot cari susu tambahan untuk poding sang bapak.


"Ada aja kamu Gi...masa Bonar mau rebutan ASI sama anak! Anak minum susu formula sementara bapak minum ASI langsung dari pabrik." ejek Andi hadirkan guyon lucu.


"Huusss...di dengar Iyem bisa di PHK. Ngelamar belum surat PHK sudah terbit." Bonar beri tanda tutup mulut sebelum empunya pabrik susu dengar pabrik jadi bahan perbincangan.


"Iya...kita doain deh! Lewat tol biar mulus!"


"Gitu dong! Eh...matahari sudah tinggi! Apa jadi kita pergi jalan?" Bonar melirik jam tangan di tangan menunjukkan pukul sembilan.


"Kalau lhu berani masuk saja! Lalu lhu ngamuk biar Azzam cukur rambut lhu!" tukas Andi tak berani ganggu acara keluarga Alvan. Andi paham kalau Alvan sedang berusaha menyatukan kedua isterinya juga anak-anak. Andi sendiri tak suka Citra di duakan. Tapi apa daya Andi hanya sebagai bawahan. Sejak kapan bawahan punya hak urus masalah internal bos.


"Biar kulihat di dalam. Semoga Azzam ngerti kode dariku." Gibran bangkit dari bangku ukiran Jepara yang indah. Harganya tentu selangit.


Gibran mengintip dari balik pintu apa yang terjadi di dalam. Tak ada kejadian sepesial selain saling tukar bicara. Azzam menangkap bayangan Gibran dari balik pintu. Azzam cepat tanggap kalau konconya di luar sudah tak sabar untuk meluncur ke tempat tujuan mereka.


"Jam berapa berangkatnya?" tanya Alvan melirik jam.


"Pesawat jam sebelas. Mereka sudah menunggu di bandara. Mereka datang dengan sepur." sahut Karin sibuk membelai pipi Afifa.

__ADS_1


Kalau boleh jujur Alvan tak suka anaknya dekat Karin. Penyakit berbahaya Karin bisa saja menulari anaknya. Namun Citra tidak bereaksi artinya semua aman terkendali.


"Sepur itu apa bunda?" si mulut mungil bertanya tak paham apa makna sepur.


"Sepur itu kereta api. Orang Jawa sebut kereta api dengan kata sepur. Afifa kalau libur kunjungi bunda ya!"


"Tempat bunda jauh?"


"Jauh sedikit. Tapi sama pesawat cepat kok! Afifa harus ingat punya bunda ya! Bunda akan ingat Azzam dan Afifa. Kalian harus berbakti pada papi dan mami. Rajin belajar jadi anak berguna!"


"Pasti bunda...besok Amei mulai ujian. Bunda harus doain Amei dan Koko biar lulus. Kalau bisa dapat ranking."


"Pasti...pasti.." Karin kembali terharu Afifa tidak memusuhi dirinya. Afifa masih terlalu lugu untuk paham kejadian masa lalu. Beda dengan Azzam yang terlalu paham.


"Bunda perbanyak zikir agar cepat dapat hidayah. Penuhi hati dengan Asma Allah. Niscaya Bunda akan dapatkan apa yang dicari. Kejadian yang berlalu jadi pelajaran agar tak terulang kisah sedih. Kesedihan akan timbulkan banyak penyakit. Angkat kedua tangan memohon petunjuk jalan Allah."


Karin melongo dikuliahi anak kecil. Dunia sudah terbalik. Orang dewasa dikasih tausyiah oleh anak kecil. Karin yang tak ngerti agama atau anak di depannya ini calon ustad masa depan.


Citra dan Alvan masem-masem malu Azzam sok dewasa beri pelajaran pada orang yang pantas jadi ibunya. Citra sendiri tak sangka Azzam berani kuliahi isteri papinya. Mental Azzam patut di puji. Tak kenal takut asal tidak melanggar hukum.


"Zam...kamu hebat! Bunda kagum pada kamu! Semoga kelak kau jadi orang besar. Berguna bagi semua orang."


"Amin.."


"Kau bersiaplah biar kami antar kamu ke bandara! Azzam dan temannya hendak pergi main! Biar mereka pergi!" Alvan juga melihat Gibran bolak balik di depan pintu. Anak-anak sabar ingin segera meluncur ke tempat mereka jadikan pusat hiburan.


"Oh gitu ya sayang! Hati-hati di jalan. Beri bunda satu pelukan terakhir." Karin merentangkan tangan mengharap Azzam berbaik hati beri satu kenangan indah.


Azzam melirik Citra. Citra mengangguk ijinkan Azzam memeluk Karin sekali lagi. Karin memeluk Azzam erat-erat seolah Azzam adalah kunci kebahagiaan terakhirnya.


"Bunda jaga diri! Rumah ini tetap milik bunda. Tak ada yang mau merebut hak bunda. Kebahagiaan bukan di nilai dari seberapa tebal dompet kita tapi seberapa tebal iman kita."


"Bunda bangga punya anak macam kamu. Tetaplah jadi juara di hati orang tua ya! Kamu harus jaga kedua adikmu. Kamu anak sulung harus ambil alih tahta Lingga. Bunda berdoa untukmu."


"Terima kasih...Koko pamitan dulu. Bunda jaga kesehatan. Assalamualaikum..." Azzam meraih tangan Karin letakkan di jidatnya.


"Waalaikumsalam..." Karin tertegun tatkala tubuh Azzam bergerak keluar ke arah pintu untuk bergabung dengan konconya.


Kesabaran Citra berbuah hasil. Anak-anak penerus bangsa terlahir dari perut wanita sederhana macam Citra. Citra sederhana tapi hasilkan produksi spektakuler. Karin takkan percaya Azzam umur delapan tahun bila tak saksikan sendiri kepintaran anak tirinya. Anak luar biasa.


"Koko mau ke mana Mi?" pertanyaan Afifa membuyarkan rasa takjub Karin pada Azzam.


"Koko orang itu mau main di mal. Amei tak cocok pergi dengan mereka. Mereka kan cowok semua. Amei ikut mami antar bunda ke bandara ya!"


"Kenapa Amei tak boleh ikut? Bukankah ada Koko dan om Gi?"


"Sayang...mereka itu cowok mainnya kasar. Ntar mungkin nonton balap gokart. Amei kan tak suka yang gituan! Ikut mami ke bandara saja!"


Afifa tak membantah lagi. Permainan balap membalap bukankah kesukaan Afifa. Afifa tetap anak kecil senang main boneka Barbie. Nonton YouTube tentang lagu anak ataupun film kartun kesukaan Afifa. Dunia Afifa murni dunia anak-anak.


Alvan lega anak gadisnya tidak menuntut ikut Azzam. Sumpah mati Alvan tidak ijin Afifa ikutan dengan segerombolan anak lajang. Alvan ingin hindari hal-hal di luar dugaan walau belum tentu terjadi.


"Aku tinggal sebentar. Aku bersiap berangkat." Karin mengundurkan diri masuk ke kamar untuk ambil koper menuju ke bandara. Pundak Karin lebih ringan setelah jumpa Azzam. Azzam bersedia menerimanya sudah merupakan karunia Tuhan tak terhingga. Semula Karin mengira akan pergi tanpa dapat maaf Azzam. Ternyata Azzam tidak segalak yang digambarkan. Anak itu malah beri kesan anak baik punya sejuta kepintaran. Karin belum jumpa Afisa lagi. Ntah gimana reaksi Afisa jumpa musuh bebuyutannya. Afisa lebih keras dari Azzam. Afisa lebih tidak rasional mengandalkan emosi.

__ADS_1


Karin menyeret koper serta satu buah tas tangan. Alvan segera bangkit membantu Karin membawa koper. Tidak suka pada Karin bukan berarti Alvan cuek sepenuhnya. Jumpa wanita lain dalam keadaan begini Alvan juga bersedia membantu. Apalagi ini Karin wanita yang pernah hiasi hidup Alvan.


Karin biarkan Alvan membawa kopernya keluar rumah. Koper itu jadi bekal Karin selama mondok di pesantren. Isinya cuma pakaian dan perlengkapan sholat. Karin tidak membawa barang berharga karena merasa semua itu tak ada arti.


__ADS_2