
Sebelum waktu makan siang Citra datang menjenguk Alvan. Kedua laki itu masih tidur pulas. Andai ada gempa besar apa mungkin mereka akan terbangun. Daniel lebih lucu. Tertidur dengan mulut terbuka mengeluarkan suara dengkuran halus. Dengkuran Daniel mungkin tahu diri karena berada di di rumah sakit. Maka suara yang keluar perlahan namun tertangkap oleh telinga Citra.
Citra paling duluan membangunkan Daniel karena takut tiba-tiba Laura sadar dari obat bius. Citra mau Daniel yang pertama dilihat oleh Laura begitu siuman. Itu akan membantu pemulihan kesadaran Laura.
"Kak Daniel..." panggil Citra dengan suara kecil.
Daniel menggeliat membuka mata menatap Citra dengan pandangan kosong. lelaki itu sedang mengumpulkan pikiran yang barusan melayang entah ke mana. Sebagai balasan Citra memberi seulas senyum manis yang selalu terkenang di benak Daniel.
"Citra...aku di mana?" Daniel mengedarkan mata ke sekeliling belum sadar sepenuhnya dia berada di mana.
"Kak Daniel di ruang rawat mas Alvan...masa lupa! Aku membangunkan Kak Daniel karena sebentar lagi Laura akan segera sadar. Pergi cuci muka dan temui Laura di kamarnya." kata Citra lembut tahu roh Daniel belum terkumpul semuanya. Orang yang baru bangun tidur kadang memang suka ngelindur.
Daniel terduduk begitu dengan Citra menyebut nama Laura. Daniel telah ingat apa yang terjadi. Dia berada di rumah sakit untuk menjenguk Laura yang baru saja dioperasi.
"Laura...apa dia sudah siuman?"
"Kurasa hampir sadar. Lebih baik kak Daniel segera jenguk dia. Dia berada di ruang samping. Cuci dulu muka bantal biar begitu buka mata dia lihat kak Daniel yang ganteng."
Daniel tertawa senang Citra akui dia ganteng. Pengakuan yang jujur. Citra tahu saja mana barang bagus.
"Ok...aku segera ke kamar sebelah. Oya...apa keluarganya tidak keberatan aku di sana?"
"Kak Daniel pikir otak mereka karatan tak bisa berpikir? Semua tahu orang yang paling diharapkan Laura adalah kak Daniel terganteng."
Dua kali Citra menyebutnya ganteng bikin nyawa Daniel bertambah jadi rangkap dua. Pujian dari bibir wanita yang dia cintai dari jaman dulu seperti untai puisi terangkai indah di sanubari.
Daniel minta ijin gunakan kamar mandi Alvan untuk cuci muka buang wajah bantal. Laura harus lihat wajah ganteng Daniel dalam kondisi segar. Pangeran katak impian berada di pelupuk mata begitu mata itu merekah dari bekas obat bius.
Citra acung jempol puji Daniel sudah fit untuk jumpai Laura. Daniel tersipu malu juga bahagia. Andai Laura itu Citra semua akan lebih indah. Sayang itu cuma khayalan kosong. Laura tetap Laura, Citra tetap Citra. Tak ada yang berubah.
"Pergilah! Aku akan bangunkan mas Alvan."
"Doakan aku ya!"
"Doain apa? Cepat menikahi Laura? Pasti Kudoain.." ujar Citra cepat.
"Huusss...doain jangan di dor bokap Laura!"
"Mana mungkin di dor calon mantu? Pergi sono!" usir Citra halus.
Citra takut Laura keburu bangun tak lihat pangeran katak penghias jendela hati. Daniel keluar dari ruang rawat Alvan berpindah ke kamar tak jauh dari kamar Alvan. Jelas keluarga Laura bukan dari kalangan sederhana. Kamar rawatan seharga jutaan semalam tidak jadi beban. Orang sanggup rogoh kocek cukup dalam artinya isinya memadai.
Citra hampiri Alvan untuk bangunkan lakinya. Sudah waktu makan siang sekalian cek kondisi suaminya. Citra tidak kontrol rutin seperti pasien lain karena tahu Alvan tidak butuh. Keadaan Alvan cukup stabil.
"Mas...bangun!" Citra memanggil dengan halus supaya suaminya tidak kaget.
Hampir sama dengan Daniel. Alvan buka mata menatap lurus ke arah Citra. Manik mata Alvan agak kabur akibat lama tidur. Perlahan laki ini melihat sosok di depannya dengan jelas.
"Kau datang sayang!"
"Datang dong! Kan imamnya di sini! Mau sholat?"
"Kau sudah sholat?"
"Sudah dong! Ada keluhan?"
"Ada..."
"Di mana tak enak? Di jahitan atau di dalam daging?" Citra meraba bekas operasi suaminya dengan perlahan takut menyakiti laki itu.
"Aku kesepian...perawat pribadi sibuk sama pasien lain!" keluh Alvan manja minta perhatian Citra.
__ADS_1
"Itu resiko punya isteri dokter. Bukan milik suami seutuhnya tapi milik semua orang sakit. Gimana? Mau sholat nggak biar kubantu?"
"Ya mau...tapi gimana mau sujud?"
"Untuk orang sakit ada perlakuan khusus. Ayo ambil air wudhu dulu!" Citra membantu Alvan turun dari brankar. Sakit bukan alasan melupakan tugas utama seorang muslim. Orang sakit bisa sholat duduk maupun tidur.
Citra dengan sabar tuntut Alvan sholat secara duduk. Laki itu memang belum boleh sujud takut melukai bekas operasi. Pengetahuan Alvan tentang sholat makin bertambah. Bangga punya isteri yang bisa membimbing kita menjadi lebih baik.
Selanjutnya mereka makan berdua dalam ruangan. Makanan Alvan memang sengaja disediakan oleh pihak rumah sakit sebagai tanda hargai posisi Alvan sebagai pemilik rumah sakit.
Hans datang juga menjenguk Alvan setelah kesibukan reda. Hans minta maaf datang telat jenguk bos dia. Kesibukan nyaris menyita seluruh waktu Hans. Direktur rumah sakit itu datang bawa satu keranjang buah dan bunga segar. Tradisi lama jenguk teman sakit.
Citra yang terima semua bawaan Hans. Dokter yang pernah naksir Citra kini berubah sungkan pada Citra setelah status Citra terbongkar.
"Ayo duduk pak Hans!" Citra usir rasa kaku antara mereka persilahkan Hans duduk di sofa.
"Terima kasih. Maaf sekarang baru bisa datang. Gimana keadaan? Tak ada kendala bukan?" tanya Hans langsung pada Alvan.
"Alhamdulillah tak ada... tak ada kendala di rumah sakit bukan?"
Hans menggeleng. "Aku sedang ajukan proposal beli alat scan baru! Nanti akan kami rapatkan dewan direksi. Kuharap pak Alvan setuju beli alat CT scan tercanggih. Tunggu pak Alvan sehat baru kuserahkan proposal!"
"Memangnya yang lama sudah rusak?"
"Oh tidak...kita harus ikuti arus perkembangan teknologi. Mesin CT scan yang baru lebih jelas karena menganut sistim tiga dimensi. Pak Alvan tidak perlu memikirkan hal itu sampai sehat dulu."
Alvan mengangguk setuju. Bukan saat tepat bahas soal pekerjaan. Alvan butuh istirahat total menuju penyembuhan.
"Maaf pak Hans! Kita sini tak ada minuman untuk disuguhkan pada bapak. Maklumlah ruang orang sakit." Citra menukas kurang enak hati tidak bisa beri apapun pada tamu.
"Tak perlu repot! Kami yang harus malu tak beri layanan terbaik pada pak Alvan. Masih harus merepotkan Bu dokter rawat pak Alvan."
"Itu tugasku sebagai keluarga mas Alvan. Aku tak balik praktek. Pasien juga sudah habis. Biar kurawat sendiri bos kita." olok Citra usir rasa kaku yang cukup kental.
"Ok...aku permisi! Masih ada sedikit pekerjaan."
"Oh silahkan! Terima kasih sudah datang!" sahut Alvan basa basi adat ketimuran.
Hans keluar diantar Citra sampai keluar. Citra samasekali tak tahu pengakuan Hans pada Alvan. Alvan ngerti bagaimana menjaga muka temannya maka tak pernah ungkit perihal itu di depan Citra.
Kisaran jam lima sore Alvan kedatangan tamu di luar dugaan. Rombongan jagoan neon bersama Jasmine dan Iyem. Citra tak tahu sejak kapan ketiga jagoan neon dekat dengan cewek sekitar mereka. Nampaknya lagi musim bercinta. Kuncup bunga cinta sedang tumbuh untuk mekar melukis kisah cinta baru mulai.
Citra surprise keberanian Andi ajak Jasmine menjenguk Alvan. Di tambah Bonar berani bawa pembantu di rumah bertubuh subur si Iyem. Hanya Tokcer datang bawa tangan sendiri. Cinta Tokcer tertinggal di negeri Paman Sam yaitu Amerika. Itupun belum tentu bisa bermekaran karena perbedaan kultur dan jarak ribuan mil.
Alvan terpana lihat yang muda yang bercinta. Selama mereka bercinta dalam batas wajar tak ada hak Alvan melarang mereka bersama. Alvan malah bersyukur si tulang lunak akhirnya menemukan tambatan hati. Alvan mengira Andi punya kelainan jiwa senang cowok. Syukurlah itu tak terjadi. Jasmine juga bukan pilihan buruk.
Kelima anak muda itu duduk berjejer sepanjang sofa mirip anak kecil dikumpulkan oleh sang ibu dengar ceramah. Gaya duduk mereka juga lucu. Kedua kaki dirapatkan dengan tubuh tegak bak tiang kayu.
"Kalian langsung dari kantor?" tanya Citra awali obrolan.
Suasana sangat kaku karena ketegangan terpahat di wajah kelima orang itu.
"Iya kak! Kami jemput Bonar dan Iyem dulu. Jasmine kan tunggu kita di sini. Ya kan Mimi?" Andi bertanya pada Jasmine dengan kenesnya.
Alvan menepuk jidat lihat gaya kenes Andi. Jasmine yang cewek tidak segenit dia. Masa sang cowok yang genitan. Panggilan untuk Jasmine juga bikin kuping pedih. Mimi. Betapa norak panggilan itu. Dasar Andi nyiur melambai. Kalau Jasmine kabur itu bukan salah anak gadis itu.
"Nanti pulang hati-hati ya! Jangan kencang bawa mobil!" nasehat Alvan tak tahu harus omong apa pada anak-anak muda ini. Niat mereka jenguk bos sudah merupakan penghargaan bagi Alvan.
"Iya pak...rencana kami mau main bentar sebelum pulang. Apa boleh?" tanya Bonar yang paling jujur.
"Boleh asal hati-hati jaga mobil. Jangan pulang kelewat malam ya!" Citra menyahut sebelum Alvan dahului. Citra takut Alvan tak ijin anak-anak itu pergi main. Citra yakin mereka anak baik takkan berbuat macam-macam.
__ADS_1
"Pasti kak!" sahut Andi pede.
Pintu diketok dari luar tanda ada yang minta ijin masuk. Jasmine tahu diri segera bangkit geser pintu lihat siapa yang datang. Ternyata Fitri perawat di tempat praktek Citra. Perawat itu datang untuk jenguk suami Bu dokter. Sebagai bawahan Citra tentu penting beri perhatian pada keluarga atasan.
"Kak Fitri...ayok masuk!" Jasmine menarik Fitri bergabung dengan mereka. Fitri agak segan lihat banyak tamu pak Alvan.
"Pak...Bu.." sapa Fitri segan.
"Fitri mau duduk mana lagi! Tempat duduk sudah penuh."
"Tak usah Bu...cukup berdiri. Tadi cukup lama duduk catat laporan hari ini."
"Sudah beres?"
"Alhamdulillah sudah Bu maka ke sini. Apakah bapak sudah sehat?" Fitri melirik ke arah Alvan yang duduk di atas brankar.
"Sudah...selang infus sudah dibuka. Mau pulang juga bisa. Kita lihat besok bagaimana perkembangan. Fitri bisa gabung dengan Jasmine dan kawan-kawan pergi cari hiburan. Nanti kamu akan diantar."
"Apa muat berenam?" Alvan mengernyit alis bayangkan mobilnya digasak enam orang. Maksimal penumpang lima orang.
"Bisa...Iyem duduk di depan. Yang lain desakan dikit di jok belakang. Pergilah cari hiburan setelah lelah bekerja! Semoga hari kalian ceria."
"Terima kasih kak! Apa boleh kami pamit sekarang? Biar cepat pulang!" Andi tak sabar ingin segera cari hiburan bersama Jasmine. Citra tak pernah lihat Andi demikian antusias terhadap seorang gadis. Mungkin lonceng di hati Andi telah berdentang bunyikan lagu cinta. Harapan Citra hanyalah Andi bisa Pacaran dengan normal. Tidak lebay sok feminim lagi.
"Ok pergilah! Hati-hati ya! Jangan ngebut karena mobil sarat penumpang! Jaga diri ya Tok!"
"Iya kak..." sahut Tokcer iyakan nasehat Citra.
Akhirnya rombongan jagoan neon meninggalkan ruang rawat Alvan. Suasana kembali sepi tinggal pasangan suami istri nikmati sisa hari.
Alvan tertawa besar setelah anak-anak muda itu pergi. Alvan tak sangka Andi kepentok pada Jasmine. Kebersamaan menumbuhkan perasaan bukan lah kalimat kosong. Andi yang lemah gemulai bisa jatuh cinta.
"Kenapa ketawa mas?" tegur Citra tak paham penyebab tawa Alvan.
"Andi kesandung kerikil cinta. Bucin akut.."
"Mas kayak nggak pernah muda saja! Biarkan saja! Toh mereka semua anak baik! Aku kuatir Bonar dan Iyem. Emang mas kenal sifat Iyem?"
"Iyem itu keponakan Bik Ani! Cukup baik dan sabar. Orang model Karin sanggup dia ladeni. Mereka toh bukan segera menikah. Biar saling kenal karakter dulu! Besok aku pulang rumah saja kalau sudah bisa pulang. Bosan banget di sini?"
"Baik kalau itu mau mas! Aku akan atur mas pulang! Besok aku akan ambil liburan sampai hati Senin."
"Gitu dong jadi isteri Soleha."
"Hu mau mas! Sekarang aku mau lap badan mas biar segar. Setelahnya baru aku mandi."
"Nggak perlu repot. Aku toh tidak keluar keringat! Kapan kotornya?"
"Bukan soal kotor tapi soal kuman. Ini rumah sakit kawan! Jutaan kuman berterbangan."
"Terserah nyonya deh! Apapun kulakukan asal kamu jangan tinggalkan aku!"
"Aku takkan tinggalkan mas tapi mas yang tinggalkan aku. Ya kan?"
"Mulai lagi kaset lama! Campak kelaut. Tak perlu diputar lagi." rengut Alvan dengan muka masam. Ada saja cara Citra bongkar kisah lama yang ingin dilupakan Alvan. Noda hitam yang Bayangi sepanjang sejarah hidup Alvan.
Tak ada guna ungkit kisah lama yang telah usai.
Citra tidak lanjutkan buka bobrok masa lalu Alvan. Suaminya baru siap operasi tak mungkinlah Citra kejam bikin mood Alvan memburuk.
Citra mengambil handuk kecil untuk bersihkan tubuh besar Alvan. Citra makin hari makin dewasa mulai bisa bebas interaksi intim dengan Alvan. Rasa malu perlahan memudar.
__ADS_1
Alvan milik Citra dan sebaliknya. Saling memiliki merupakan ketentuan satu pasangan resmi. Manusia diciptakan memang untuk berpasangan. Saling memberi dan menerima.