
Citra masih meragukan cinta Alvan. Dulu Alvan demikian tergila-gila pada Karin. Rela menentang kakek Wira demi Karin. Sekarang katakan cinta padanya. Yang mana cinta sejati Alvan. Karin atau Citra.
"Kau meragukan aku?"
"Bukan meragukan...asal mas tahu! Cinta dan terpesona itu dua hal berbeda. Dulu mas rela meninggalkan segalanya demi Karin. Itulah cinta tulus dan aku hanyalah cinta yang muncul di saat mas terpuruk karena Karin berkhianat. Tanyalah pada mas yang mana cinta tulus mas!" kata Citra mulai hitungan perasaan Alvan. Citra tidak mengatakan semua ini demi menjaga perasaan orang di kiri kanan. Alvan sendiri bongkar cinta Laura maka Citra ikutan tuntut kebenaran cinta Alvan.
"Apa yang bisa kubilang? Di mataku tidak ada orang lain selain kamu dan anak-anak."
"Satu pertanyaan untuk mas! Andai Kak Karin tidak kena HIV apa yang akan mas lakukan? Berdiri di antara kami berdua jadi maharaja?" Citra menatap bola mata Alvan yang berputar bingung untuk jawab.
Wanita itu makhluk paling misterius. Di satu sisi mendukung semangat di belakang mendorong ke pinggir jurang. Dari awal Citra terima Karin dan sekarang tuntut Alvan ungkap gimana perasaan terhadap dua wanitanya.
"Kenapa kau tanya itu? Kuakui dulu aku terpesona oleh Karin. Dia cantik menggairahkan tapi seiring waktu semua itu pudar. Dia mau bagaimana aku tak peduli, ada pulang atau tidak aku tak peduli. Maka itu dia jadi liar berbuat sesuka hati. Lalu terhadapmu aku merasa berdosa dan mencarimu bertahun. Pagi siang malam aku berdoa jumpa lagi denganmu. Bayanganmu tiap hari muncul di benakku. Semangatku makin menyala sewaktu kita berjumpa. Di saat itu Karin hilang dari mataku. Aku tak tahu harus katakan apa tentang cinta. Kamu sendiri nilai perasaan aku. Untuk lebih pasti kau tanyalah Daniel bagaimana terpuruknya aku kau pergi! Aku tak pandai sandiwara bela diri. Apapun yang ada di pikiranmu, aku hanya minta satu. Jangan pernah tinggalkan aku!"
Citra menghela nafas. Alvan telah ungkap apa yang ada di hati. Citra percaya itu adalah fakta. Tak ada guna kejar yang telah berlalu. Citra tekan Alvan sampai gepeng sekalipun hasilnya tetap sama.
"Ya sudah. Mas hanya perlu ajar diri sendiri tidak ulang kesalahan sama. Di dunia ini tidak sering ada kesempatan kedua ketiga dan seterusnya. Jadi cukup sekian."
"Terimakasih sayang! Mas janji pada kamu dan anak-anak akan menjadi manusia lebih baik lagi. Kau mau temani mas malam ini kan?" rengek Alvan sok manja.
"Kalau tidak gimana?"
"Cari perawat good looking temani mas! Yang suaranya merdu, berwajah putih."
"Ok...itu ada mbak Kunti! Suara merdu, wajah putih dan pakaian juga putih. Lengkingan suaranya akan meresap ke hati. Tunggu saja!" Citra turun dari brankar hendak pergi.
Alvan merasa bulu kuduk merinding ditawarkan makhluk astral yang konon katanya cantik cuma berwajah pucat pasi. Alvan tak berharap jumpa makhluk dari alam gaib. Cukup bini mungilnya.
"Woi mau ke mana? Masa mas ditinggal sendirian?" seru Alvan ketakutan kata Citra jadi nyata.
"Bukankah mau perawat cantik? Aku pergi cari."
"Tidak perlu...cukup isteri aku saja! Isteri aku cukup cantik." Alvan merayu Citra di tengah rasa takut.
Citra tertawa geli. Badan doang yang gede nyali seupil. Orang model kayak gini paling gampang di provokasi. Citra senang lihat Alvan sengsara kena permainan mulutnya.
"Merayu ya! Nggak usah." Citra melengos tetap keluar dari ruang VVIP. Alvan terbelalak tak percaya Citra tega meninggalkan dia sendirian. Baru saja menakuti dia sekarang dengan santai meninggalkan dirinya. Sungguh kejam wanita kalau ngambek. Alvan menduga ini buntut daripada perdebatan kecil mereka.
Alvan menarik selimut lebih tinggi menutupi leher lantas memejamkan mata tak ingin melihat apapun di sekeliling. Laki ini takut membuka mata tiba-tiba muncul satu sosok berpakaian putih dengan rambut riap-riapan di depan mata. Alvan belum siap berteman dengan makhluk gaib dari alam lain.
Lama sekali Alvan merem tak berani buka mata. Badan segede kingkong belum jamin punya nyali terhadap hal gaib. Tampang doang sangar, nyali segede kacang hijau.
Mulut Alvan komat kamit baca ayat suci yang dia hafal. Sekedar menenangkan hati atau usir setan yang mengganggu.
Satu tepukan lembut menerpa pipi Alvan. Tangan itu dingin sekali nyaris membuat jantung Alvan berhenti. Mau berteriak melukai harga dirinya sebagai lelaki bertubuh besar. Jatuh dasi CEO kalah oleh satu tepukan setan.
Tiupan nafas panas menjalar di dekat kuping Alvan makin membuat mata laki ini terkatup rapat. Dalam pemikiran laki ini hawa ******* panas ini berasal dari sesuatu yang bertampang seram.
Lama Alvan menanti ada jari panjang mengelus lehernya namun sayang tak ada reaksi sampai terasa ada sesuatu lembut berada di atas bibirnya. Hangat tidak dingin. Alvan tidak siakan kesempatan baik ini menggigit bibir kenyal di bibirnya.
Tak perlu buka mata Alvan tahu siapa pemilik bibir misterius yang nyaris bikin jantungnya berhenti. Lama Alvan mengulum bibir ranum milik Kunti cantik penghias hati.
Akhirnya Kunti cantik Alvan berontak kehabisan nafas dihajar mangsa mesum. Alvan buka mata tertawa penuh kemenangan berhasil balas keisengan Citra. Mau takuti Alvan malah kena perangkap pasien nakal.
__ADS_1
"Gimana? Manis kan bibir mas Alvan?" tanya Alvan menggoda.
Citra mundur menjauh seraya mengusap bibir yang agak bengkak kena ciuman Alvan. Citra tak sangka Alvan akan bereaksi ekstrim menciumi dia di rumah sakit. CEO apa senakal ini?
"Iseng amat.."
"Kamu duluan takuti aku!"
"Isshhh...dasar penakut! Aku pergi ceking obat mas! Kirain aku tega ninggalin CEO kekanakan sendirian?"
"Kukira kau benaran tinggalin aku! Sini dong!" Alvan melambai agar Citra merapat lagi. Ciuman tadi membuat Alvan ketagihan ingin merasakan benda kenyal di bawah hidung Citra.
"Janji tidak mesum lagi? Ini rumah sakit pak! Gimana kalau ada perawat masuk?" Citra masih bertahan berdiri menjauh dari Alvan.
"Biarin...kamu ini kan bini aku! Siapa berani larang aku sentuh milik pribadi. Dilapor ke PBB juga nggak masalah!" ujar Alvan serius.
Citra tertawa kecil. Hal sepele dibawa ke PBB. Perang dunia ketiga saja belum dilapor ke sana. Orang PBB makan kenyang bukan urus pria pengecut. Tampang Rambo, nyali hello Kitty.
"Mas ini suka lupa daratan...kita video call dengan anak-anak? Mereka pasti kangen pada papi mereka."
"Jangan! Nanti mereka pikiran pikir aku sakit. Berapa hari lagi kita kan sudah jumpa. Ada kabar dari Heru?"
"Afisa sedang ujian. Mereka tidak pergi jauh. Mereka main dekat saja. Afung juga sudah masuk latihan."
"Apa Afisa juga akan masuk latihan? Takutnya siap ujian langsung masuk latihan. Gagal dong kita liburan bareng." Ucap Alvan pesimis setelah tahu Afung masuk latihan. Takutnya Afisa juga dipaksa ikut latihan untuk ikut kejuaraan akhir tahun.
Citra mengedik bahu tak punya ide. Afisa milik punya tanggung jawab pada tugas. Setiap saat dipanggil harus siap. Citra harus berdoa semoga Afisa dapat keringanan untuk nikmati liburan. Afisa sudah terlanjur jadi aset negara maka wajib tunduk pada perintah pelatih.
"Nanti aku akan bincang dengan mama Afisa. Beri dia kesempatan berlibur sama kita. Mas mau sesuatu? Pingin ke kamar mandi atau minum?"
Citra bergerak turuti keinginan Alvan supaya malam ini tak diwarnai perdebatan yang pasti konyol. Kapan perdebatan mereka mengarah ke hal di luar masalah masa lalu. Dinding pemisah mereka hanya satu yakni kisah jaman dahulu yang takkan pudar walau dalam konteks Citra minta tutup buku.
Citra membantu Alvan setengah duduk agar tidak bosan berbaring terusan. Bantal diganjal di belakang punggung Alvan untuk menahan tubuh besar itu tidak terbentur pada pinggiran brankar. Setelahnya Citra baru merapatkan tubuh pada Alvan tanda berdamai.
Alvan melingkarkan tangan ke bahu Citra agar benaran bersatu dengan tubuhnya. Bau tubuh Citra yang selalu segar jadi terapi penenang jiwa Alvan.
"Aku ingin begini sampai tua." desah Alvan damai.
"Aku juga mas! Terlalu jauh melangkah bikin lelah. Aku tak mau melangkah lagi." sahut Citra merebahkan kepalanya ke dada kanan Alvan.
"Iya... kita hanya tunggu keajaiban burung bangau antar bayi cantik pada kita. Aku tak sabar ingin cepat pulih. Nikmati bulan madu di negeri tirai bambu. Pulangnya bawa janin di perut." khayal Alvan bayangkan Citra langsung hamil kalau dia sudah pulih total.
"Emang bikin roti tinggal dicetak! Harus ada ijin Gusti Allah! Kita doa saja ya!"
"Iya...Oya...gimana perawat yang tinggal di rumahmu? Kalau Bu Hajjah setuju lepas rumahnya dia harus pindah ke mana lagi? Kayaknya bu Hajjah akan menerima persyaratan kita."
Apa yang dikatakan Alvan satu masalah baru bagi Citra. Jasmine harus pindah ke mana bila barter rumah terlaksana. Jasmine harus pindah ke mana pula? Kalau suruh dia kost mana cukup gajinya. Habis bayar kost.
"Jasmine tak mungkin tinggal sama Andi. Coba aku diskusi dengan Andi dulu. Mungkin anak itu ada jalan keluar. Sebenarnya Jasmine itu anak pintar, cuma dia tertekan maka kerjanya tak beres. Dua hari ini dia mulai fokus kerja kok!"
"Kau aturlah yang baik! Sekarang Jasmine jadi tanggung jawabmu! Dia sudah keluar dari rumahnya maka kau lah ibunya sekarang."
"Ya mas...apa mas tak mau ke kamar kecil? Biar kukawani?"
__ADS_1
"Aku bisa sendiri perlahan! Dari tadi aku juga pergi sendiri. Tak mungkin minta nona perawat kawani ke kamar kecil. Ntar dia tergiur pula sama si Otong ganteng."
Citra mencubit pinggang Alvan akibat ucapan nakal laki itu. Seorang perawat sudah teruji mental. Tiap hari mereka juga lihat anggota tubuh pasien. Dosa atau tidak itu hanya bisa dinilai oleh Tuhan. Intinya mereka wajib laksanakan tugas.
"Otong loyo dibanggakan. Apa ada keluhan sewaktu buang air kecil?"
"Tidak cuma lukanya nyeri dikit."
"Wajar toh nyeri! Kena gigit semut aja sakit. Jangan manja! Mas makan apa biar aku pergi beli."
"Tidak ada. Kalau kau mau silahkan beli. Mungkin mas akan cepat tidur. Kayaknya agak ngantuk."
"Itu efek obat. Tidurlah! Aku di sini jaga mas!"
"Tidurlah disini!"
"Mas tidur dulu. Aku coba jalan ceking pasien yang baru operasi. Lihat ada keluhan tidak. Mas tak apa ditinggal?"
"Pergilah! Jangan lama ya!"
"Iya...mas istirahat saja!" Citra hadiahkan satu kecupan di pipi Alvan karena patuh. Anggap saja Alvan pasien anak-anak mesti dirayu baru anteng.
Citra buka pintu keluar cari udara segar. Suasana rumah sakit sudah terlalu akrab dengan Citra. Waktu Citra lebih banyak terbuang di rumah sakit. Sumpah seorang dokter adalah mengabdi setulus hati pada pasien. Citra tak mau termakan sumpah maka berikan yang terbaik pada orang-orang membutuhkan tenaganya.
Sepeninggalan Citra ponsel Alvan berbunyi. Alvan tarik bibir ukir senyum lihat siapa yang telepon. Siapa lagi yang bisa buat Alvan tersenyum kalau bukan konco kesayangan si seniman gagal.
"Halo Bray..ada apa?"
"Tolong tanya Citra ada obat sekali tegak langsung pingsan?"
"Kok cuma pingsan? Nggak modar sekalian?"
"Tega amat lhu! Sobat seganteng aku ini tak ada dua di dunia ini. Coba pasang iklan di media apa ada dua stok model ini?"
"Ogah...takut ribuan orang mendaftar! Tampang lhu kan pasaran! Di pasar loak seribu tiga."
"Dasar kutu kupret...nggak setia kawan! Kamu harus bantu aku singkirkan si lintah Laura. Tadi dia bawa orang tuanya lamar aku. Gila nggak anak songong itu? Harga aku terjun bebas. Masa cowok dilamar cewek!"
"Kalau gitu lhu aja lamar dia! Kan asyik dapat isteri gratis. Nggak lama lagi musim hujan, kau takkan kedinginan lagi. Enak lho punya bini! Bangun pagi lihat pemandangan asri. Bukan bantal guling tanpa kepala."
"Yang serius bro! Dia itu anak jenderal...pantes songong! Bokapnya punya senjata dor kepala gue kalau nolak."
"Emang ada jenderal main hakim sendiri? Lhu aja pingin Kawini Laura! Ambil saja!"
"Emang kemeja tinggal pakai! Semua butuh proses bro. Kuakui anak itu baik walau songong. Rajin dan punya insiatif dan kreatif. Jauh beda dengan Natasha."
"Caile..jatuh cinta ni ye! Kok mau disingkirkan? Bukankah menarik?"
"Menarik sih iya cuma aku takut salah langkah. Bolong kepala gue kena dor! Bayangin ke mana aku di situ dia! Masuk ke kamar mandi dia jaga di depan takut gue kabur."
"Bukankah pagi dia bertugas di rumah sakit?"
"Setengah hari dia sudah datang. Tidak pulang sampai malam. Kalau bukan tadi datang bersama bokap dan nyokap mungkin sekarang masih keliaran di sini."
__ADS_1
"Aduh bro! Selama masih dalam batas positif biarin aja! Lagi pedekate kan? Sudah waktunya lhu coba lirik cewek! Jangan terobsesi melulu pada Citra! Aku bukan cemburu pada lhu bro! Tapi harap lhu move on dari milik pribadi Alvan."
"Ngerti pak Alvan...nggak bakalan gue rebut Citra lhu! Cuma kalau lhu tebar cinta lagi mungkin aku akan masuk."