
Azzam ingin marah tapi tak tega melihat Afifa bersedih. Gadis kecil itu tak setegar Azzam hadapi cobaan hidup. Afifa tetap seorang anak kecil yang butuh kasih sayang utuh dari bapak dan ibu. Untuk kebahagiaan Afifa Azzam bersedia mundur selangkah.
"Anak papi...anak manis!" ujar Alvan di antara keharuan. Ternyata begini punya anak gadis. Ingin melindungi dan memberi yang terbaik.
"Papi tak boleh pergi lagi ya! Amei mau papi yang antar ke sekolah biar teman Amei tak ejek Amei tak punya papi. Amei punya kok! Ganteng lagi." ucap Amei bangga akhirnya dia juga punya papi seperti teman lain.
"Papi siap antar tuan puteri ke sekolah. Cepat sembuh baru cepat balik sekolah. Sekarang Afifa mau makan apa? Papi beli untukmu." Alvan menjauhkan tubuh Afifa dari dadanya agar bisa lihat wajah cantik anaknya. Afifa persis boneka walau agak pucat. Alvan bersyukur dikaruniakan anak secantik Afifa. Azzam yang ganteng. Alvan belum tahu tampang Afisa belum bisa bayangkan sosok itu.
"Semua boleh?"
"Boleh..."
"Amei mau es krem rasa vanila dan rasa coklat untuk Koko. Papi pergi beli."
"Oh itu belum boleh! Tunggu Afifa sehat dulu! Di rumah sakit dilarang bawa es krem. Belum masuk sudah dicegat satpam. Tunggu Afifa sehat kita makan es krem sepuasnya dan naik kereta api. Ok?"
Afifa tampak kecewa tapi tak membantah. Afifa anak baik memaklumi peraturan rumah sakit. Didikan Citra patut acungan jempol. Anak-anak patuh tak rewel seperti anak umumnya.
"Iya Pi! Koko ikut kan?" Afifa ganti menatap Azzam yang diam tak mau ikut ngobrol. Azzam belum terima Alvan hadir di antara mereka. Anak lajang ini lebih hargai perasaan maminya ketimbang rasa ego ingin punya papi bisa dibanggakan. Alih-alih bikin bangga, di mata Azzam papinya itu hanya aib masa lalu Citra.
"Koko tak suka pergi sama orang asing! Hati-hati kamu Mei! Banyak orang jahat nyamar jadi orang baik. Kita jangan ketipu tampangnya!"
Alvan menghela nafas dalam-dalam sadar anak lajang itu sedang memainkan peran sebagai orang teraniaya. Azzam hasut Afifa agar tak percaya pada Alvan. Tujuan Azzam sangat jelas ingin Alvan buruk di mata Afifa.
"Zam...aku ini benar papi kamu! Darah kita sama! Bukti apa lagi harus papi beri agar kamu percaya kalian ini darah daging papi." Alvan bertahan tak marah walau Azzam melecehkan dia terusan.
"Bukti dalam arti apa? Moral, pengakuan atau tanggung jawab?" sekak Azzam bikin semua melongo. Apa ini benar kalimat yang keluar dari mulut Azzam? Anak kecil berumur delapan tahun.
Citra tak kalah kaget dengar anaknya sanggup menyudutkan Alvan dengan kata menohok. Secara logika orang akan berpikir Citra yang ajar Azzam omong gitu. Tapi fakta kalimat itu spontan keluar untuk jawab pernyataan Alvan.
"Koko...jaga sopan santun!" ujar Citra tak enak pada Alvan. Laki ini bisa saja mengira Citra cuci otak anaknya untuk benci bapak kandung sendiri.
"Maaf mi...Koko hanya ingin lindungi keluarga Koko!" Azzam berkata menundukkan kepala bersalah telah terlalu kasar pada Alvan. Citra selalu ajar anak-anaknya agar jaga sopan santun di hadapan orang lebih tua. Biasa Azzam suka bercanda tapi dalam batas wajar. Ntah kenapa Azzam tidak suka pada Alvan. Ada dendam di hati Azzam bapak mereka campakkan mereka.
"Sudahlah Citra! Azzam masih kecil belum paham masalah kita!"
Citra angguk kecil. Afifa agak bersemangat dekat Alvan. Sosok yang dia impikan hadir sesuai harapan. Papi ganteng dan kaya.
"Koko pulang sekarang? Besok Koko ke sekolah, mami akan nyusul."
"Tidak perlu mi...Koko pergi sama kak Ance saja!" Azzam melarang Citra memikirkan dirinya.
"Tadi mami sudah urus surat pindah sekolah kalian. Mami harus ke sana untuk batalkan. Kalian tetap sekolah di sana."
"Oh...kalau mami rasa kita harus pindah Koko siap kok! Ngak masalah sekolah di mana asal bersama Amei dan mami." Azzam berkata sengaja lirik Alvan yang tak sangka Citra telah atur kabur darinya lagi.
Citra meringis jengah lihat Alvan pasang mata elang hakimi kebodohan Citra. Apa seumur hidup Citra ingin kabur bawa lari anak-anaknya?
__ADS_1
"Azzam...papi janji akan berusaha jadi papi yang baik! Papi akan minta maaf pada mami asal kamu puas!"
"Kalau kata maaf bisa tutupi semua kesalahan orang penjara tak diperlukan lagi. Ok Amei...Koko pulang dulu! Nanti malam Koko balik lagi sama kak Ance! Siau siong sudah dibawa. Mau Koko bawa apa lagi?" Azzam menyodorkan boneka beruang kesayangan Afifa ke dada adiknya.
Afifa tersenyum memeluk boneka warna orange itu erat ke dada. Dekik di pipi menampakkan diri bentuk dua lesung kecil menambah kata manis di wajah Afifa. Alvan gemas sekali pada gadis kecilnya. Kalau bukan Afifa sakit ingin rasanya Alvan culik Afifa bawa ke hadapan orang tuanya.
"Besok Koko sekolah. Pulang sekolah saja datang! Malam dingin tak usah datang. Sini ada papi dan mami! Koko bobok sama Kak Ance saja!" Afifa tak kalah bijak dari Azzam.
"Kita harus video call sama Cece di Beijing! Kita berdua harus ada."
"Sekarang saja ko! Kasih tahu Amei sakit! Siapa tahu Cece mau pulang sama kita! Kasih tahu juga kita sudah punya papi. Ganteng kayak Koko!" Afifa berkata dengan semangat seakan tidak sakit.
Betapa bahagianya Afifa dapat jumpa orang yang hanya jadi angan gadis ini. Hati Citra tercubit sakit Afifa lebih mencintai Alvan yang baru masuk ke kehidupan mereka. Citra merasa tak berarti dibanding Alvan. Jerih payah besarkan Afifa selama ini rasanya tersia.
"Amei istirahat ya! Koko pulang. Kalau tidak mendung Koko balik sini." Azzam tak peduli larangan Afifa agar dia tak balik. Azzam tak ingin Alvan kuasai adiknya. Azzam rasakan kesedihan maminya waktu lihat Afifa begitu ceria berpelukan dengan Alvan. Azzam sangat paham derita hati sang mami.
"Iya ko! Hati-hati ya! Kak Ance jaga Koko Amei lho!" Afifa berkata pada Ance yang masih mewek. Pria AC/DC ini cepat terbawa suasana haru bila lihat adegan sedih. Nonton sinetron saja bisa habiskan satu kotak tisu.
"Iya nona manis! Kak Ance yang akan antar Koko balik sini! Ok?"
"Ok .." Afifa acung jempol setuju kata Ance.
Azzam mengelus pipi adiknya baru pamitan sama Citra. Lajang itu salam sopan mencium tangan Citra. Lalu pergi tanpa menoleh kepada Alvan. Ance bagai bebek ngekor langkah panjang Azzam.
"Biar kuantar mereka! Tunggu angkot sudah susah jam gini!" Daniel cepat sadar mengejar Azzam dan Ance yang makin menjauh.
Alvan dirundung rasa bersalah makin membuncah. Menyesal pun tak ada guna karena Azzam terlanjur tanam bibit permusuhan dengan Alvan. Butuh proses panjang mencuri simpatik Azzam.
Ruangan jadi sepi. Tinggal Afifa masih terpesona pada Alvan. Gadis kecil ini tak kira punya papi sangat ganteng. Baik pula di mata Afifa. Rasanya ingin cepat sembuh agar bisa wujudkan berbagai keinginan bersama Alvan.
Alvan naik ke tempat tidur Afifa untuk memeluk anaknya lebih lama. Rasa nyaman mengaliri seluruh tubuh Alvan. Kini dia punya tanggung jawab besar jaga anak-anaknya agar tumbuh menjadi manusia multi guna. Punya pendirian dan tidak buta oleh cinta.
"Papi..." panggil Afifa memecahkan lamunan Alvan.
"Ya sayang...mau apa? Pingin makan apa?"
"Ngak ada pingin apa. Papi tak boleh pergi ya! Amei mau papi di sini sama Amei."
"Tentu nak! Tapi Afifa harus makan dikit. Papi pergi beli untuk Afifa."
"Mami saja pergi beli. Di kantin ada bubur ayam. Afifa suka kan?" tukas Citra cepat tak mau merepotkan Alvan. Citra kenal sekali seluk beluk rumah sakit maka tahu ada makanan untuk orang sakit.
"Mau asal makan sama papi. Beliin papi juga ya!" Seru Afifa senang pertama kali makan dengan orang dipanggil papi.
"Iya..." Citra ambil tas gantung di atas sofa menuju ke pintu keluar ke kantin. Citra pergi dengan hati cemas. Takutnya Alvan berhasil bujuk Afifa untuk tinggal bersamanya. Citra tak rela Afifa tinggal dengan Karin selaku ibu tiri.
Citra bukannya tak tahu gimana kelakuan Karin di belakang Alvan. Citra tak pernah buka karena sadar itu bukan wilayahnya. Baik buruk Karin biarlah Alvan yang beri nilai. Citra tak punya hak hakimi Karin, dia hanya masa lalu Alvan. Kebetulan tumbuh benih Alvan di rahimnya. Itulah ikatan mereka saat ini.
__ADS_1
Sepergi Citra, Alvan kembali fokus pada Afifa. Afifa adalah jalan bagi Alvan untuk merangkul kembali keluarga yang terkoyak. Semua karena ego Alvan merasa jadi pria paling sempurna mencintai seorang wanita mulia. Siapa sangka wanita itu rubah licik.
"Afifa sayang...selama ini kalian tinggal di mana? Papi cari kalian tapi tak ketemu." Alvan mulai cari info melalui Afifa.
"Kami tinggal di Beijing. Mami kuliah sambil kerja. Koko, Amei dan Cece di jaga mama dan papa kalau mami kerja."
"Siapa papa dan mama? Orang mana?"
"Papa itu kerjanya ngajar di tempat kuliah mami, dan mama pelatih senam. Maka itu Cece belajar senam tak bisa pulang. Cece ikut lomba."
"Cece...Afisa?"
"Iya...namanya bukan Afisa lagi. Sudah ganti jadi Chai Sia. Nama Mandarin...namaku Yin Sia dan Koko namanya Chen Yang. Yang kasih nama papa."
Alvan merutuk dalam hati siapa berani ganti nama anak-anaknya dengan nama aneh. Anak-anak tumbuh di bawah asuhan orang Tionghoa pantas mereka bergaya mirip orang Tionghoa. Alvan berjanji akan rebut perhatian anak-anak agar mengakui dia sebagai papi.
Alvan mulai paham karakter kedua anaknya, kini tinggal bagaimana memahami Afisa yang bentuk dan raut wajah belum Alvan ketahui.
"Cece mu mirip siapa?"
"Mirip Koko..tinggi dan cantik! Dia itu peramah tak suka marah seperti Koko. Dia sayang Amei kok! Cuma Cece itu ngak mau pulang."
"Kenapa?"
"Dia belajar senam dan sekolah. Cece pintar dapat ranking. Papa dan mama sayang padanya. Koko juga pintar dapat ranking. Cuma Amei yang tak dapat ranking." Afifa menunduk sedih tak sepintar kedua saudaranya.
Alvan cepat paham segera merapatkan tubuh mungil itu ke dadanya. Alvan ingin katakan kalau Afifa itu berharga buatnya walau tak sepintar Azzam maupun Afisa. Setiap anak punya karakter sendiri. Afifa lembut dan baik hati. Itu sudah pasti warisan Citra. Sedangkan Azzam warisi sifat kerasnya. Alvan tak bisa salahkan Azzam punya sifat keras berkepala batu. Persis sifatnya.
"Sayang...kau cantik dan baik hati. Pintar itu tergantung kita rajin apa tidak. Papi yakin Afifa pasti mampu menyamai Azzam. Belajar yang rajin ya!"
Afifa mengangguk termakan omongan Alvan. Tangan kekar Alvan membelai rambut Afifa selembut mungkin. Sungguh damai menjadi bapak dari anak cantik. Kini Alvan tak risau tak punya keturunan. Tidak sembuh tak jadi soal. Penerus sudah lengkap. Ada cewek dan cowok. Cowoknya gagah serta berwibawa walau masih pinyit.
"Assalamualaikum..." sapa Citra seraya masuk bawa beberapa kotak styrofoam warna putih. Mata Citra singgah pada anak bapak itu. Kedua manusia beda generasi itu masih berangkulan. Tubuh mungil Afifa nyaris hilang dalam dada yang bidang itu.
"Waalaikumsalam...mami...ada bawa untuk papi?" suara bening Afifa bergema dalam ruangan.
"Ada...Amei makan sendiri atau mami suap!" Citra meletakkan makanan di atas meja. Makanan itu masih hangat cocok membantu Afifa berkeringat setelah santap bubur hangat. Semoga anak gadisnya cepat pulih bisa beraktifitas seperti biasa.
"Papi suap Amei dan mami suap papi. Kita main suap-suapan." ujar Amei riang tak ngerti jantung Citra berdetak kencang melebihi laju pesawat super jet. Permintaan tak wajar Afifa memicu gemuruh hebat dalam diri Citra. Makin ingin menjauh makin mendekat laki itu.
"Papi sudah gede bisa makan sendiri! Toh papi ada yang suap tiap hari! Kita tidak dibutuhkan di sini nak! Biar mami suap Amei! Papi makan sendiri."
Alvan mencibir kena sindiran Citra. Tukang suap Alvan tentu saja Karin. Jelas nada Citra tak senang Alvan dekat dengan anaknya. Citra makin menarik setelah lalui proses perpindahan waktu. Waktu maju ke depan membentuk Citra jadi mandiri lebih matang.
"Amei ngak mau...pokoknya papi suap. Mami suap papi. Kata Ananda teman Amei papi maminya tiap hari tidur bareng, makan bareng. Amei juga mau papi mami gitu. Kalau tidak Amei tak mau makan!" Afifa buang muka dengan gaya keren. Tangan berlipat di dada, kepala hadap jendela tak menatap Citra. Afifa ngambek keinginan tak dituruti.
Citra menghela nafas hilang akal hadapi Afifa. Biasanya anak itu patuh tak pernah menyusahkan. Mengapa setelah jumpa Alvan Afifa berubah ganas.
__ADS_1
Citra tak punya pilihan lain selain ikuti permintaan Afifa. Anak itu sedang demam tinggi maka Citra harus jaga mood Afifa jangan sempat drop. Ini akan memicu kenaikan suhu badan.