ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Rencana Berantakan


__ADS_3

Sesuai janji Alvan pada Citra mengajak mengajak istrinya menjumpai Natasha dan Daniel untuk membicarakan rencana Daniel menikahi Natasha. Selepas kerja Alvan bawa Citra menuju ke cafe Daniel.


Alvan dan Citra ingin memastikan perasaan Natasha pada Daniel. Pindah agama bukan hal main-main. Ini menyangkut iman dan perasaan seorang manusia. Maunya tulus keluar dari hati.


Cafe Daniel lumayan ramai dipenuhi anak muda makan minum sambil pacaran. Angin sejuk serta alunan musik lembut membuat suasana adem. Cocok bagi anak muda berbagi isi hati. Dan yang bagi datang beramai-ramai sekedar kongkow juga tempat tepat.


Ketiga laki dari kampung Andi tampak bahagia jumpa Citra di cafe Daniel. Penampilan mereka berubah sekarang. Sudah bersih dan klimis. Sadikin dan Kasim tampak lebih ganteng sedang Iming masih biasa. Mungkin karena Iming sudah punya keluarga maka tidak pecicilan kayak kedua rekannya.


Citra puas melihat perubahan ketiga preman kampung yang jadi lebih baik. sebelum menjumpai Daniel Citra mengajak ketika teman Andi itu ngobrol sejenak.


Citra duduk di salah satu kursi di cafe Daniel sementara ketiga konco itu berdiri seperti anak SD sedang menghadap guru. Citra tersenyum ramah pada ketiga orang itu agar tidak seperti seorang guru sedang menghukum muridnya.


"Gimana? Betah kerja sini?" tanya Citra lembut seperti biasanya.


"Betah kak...kami sudah gajian! Lumayan bisa nyimpen duit di sini. Untuk tempat tinggal dah makan kami sudah terbebas dari biaya. Kami hanya membawa badan dan semangat kerja yang tinggi." sahut Sadikin dengan wajah berbinar-binar bahagia. Masih terbayang sigembok uang warna merah berpindah tangan dari bendahara cafe kepada mereka. Itu adalah momen paling mengharukan bagi Sadikin karena baru pertama kali dia memegang uang sebanyak kayak gitu. Uang dari hasil keringat sendiri.


"Pertahankan semangat kalian! Sekarang susah cari kerja. Apalagi yang tanggung makan dan tempat tinggal. Iming gimana? Kangen rumah?" Citra berbalik pada Iming yang sudah punya keluarga.


"Kangen juga. Setiap Senin aku dapat cuti satu hari untuk lihat Leha."


"Aku hari Selasa lihat emak." timpal Kasim.


"Dan kau pasti Rabu.." Citra menunjuk Sadikin.


Sadikin mengangguk malu ketebak jadwal liburnya. Kedengaran sepele tapi sangat bermakna bagi mereka yang jauh dari keluarga.


"Bos kalian baik kan?"


"Baik banget! Orangnya lucu. Kalau kita salah tidak dimarahi tapi dihukum ngelap gelas sampai kinclong. Tak boleh ada sidik jari." Sadikin yang menyahut.


"Daniel memang baik dari dulu. Kalian kerja yang rajin dan jujur agar bisa dijadikan tangan kanan bos. Ok...kakak ke dalam dulu!" Citra bangkit berjalan ke kantor Daniel merangkap tempat tinggal laki lajang itu.


Citra ragu apa tempat tinggal Daniel layak dijadikan rumah bagi keluarganya kelak? Selagi lajang bolehlah sesuka hati. Tapi kalau untuk membentuk satu keluarga haruslah punya rumah sesungguhnya. Bukan rumah-rumahan.


Alvan melihat bayangan Citra melewati kantor Daniel. Laki ini segera memanggil Citra agar jangan tersesat ke belakang yang merupakan dapur cafe.


"Sayang...sini!" seru Alvan memanggil Citra agar masuk ke kantor Daniel yang merangkap tempat istirahat beliau.


Citra tersipu malu nyaris nyasar ke belakang. Tak disangka pintu kaca yang baru dia lewati merupakan markas Daniel lalui hari-hari di temani kesepian. Untung datang Natasha jadi pelipur rasa sepi Daniel.


"Assalamualaikum...." sapa Citra sebelum masuk ke dalam kantor Daniel. Citra sengaja berbuat gitu agar Daniel dan Natasha mulai belajar kenal agama.


"Waalaikumsalam..." sahut Alvan wakili tuan rumah sambut Citra. Daniel dan Natasha masih grogi menyahuti salam Citra. Kedua pasangan yang akan segera diresmikan tampak belum paham benar jadi muslim yang baik.


"Duduk di mana senang!" Daniel berubah sungkan setelah Citra berkunjung ke kandangnya.


"Terima kasih...Kok pada bingung?" Citra sengaja duduk dekat Natasha agar gampang komunikasi nanti.

__ADS_1


"Cobalah jelaskan pada Natasha kalau ingin menikah denganku harus menjadi seorang muslimah! Dan bukan cuma menjadi muslimah saja. Harus laksanakan semua yang seharusnya dilakukan orang muslim. Bukan Islam KTP doang!" ujar Daniel melirik Natasha yang masih dipenuhi rasa ragu untuk maju.


"Nat...apa yang dikatakan Daniel itu benar! Kamu harus pikir matang-matang untuk menjadi seorang muslim. Jangan hanya berdasarkan rasa ego menggebu-gebu membuatmu salah langkah. Kau mencintai Daniel?" tanya Citra lembut tak ingin Natasha tertekan.


"Cinta...kak Daniel baik tidak suka paksa seperti Abang aku."


Citra layangkan pandangan ke arah Alvan mulai menemukan sesuatu pada Natasha. Gadis ini belum sepenuhnya tahu arti cinta. Dia hanya kagum pada Daniel yang menurutnya bisa memanjakannya. Itu sangat berbahaya bagi pernikahan mereka kelak. Mencintai seseorang tak bisa hanya di dasari perasaan sesaat. Sekali kita ijab kabul maka seumur hidup kita terikat pada pasangan kita.


"Nat...kalau kak Daniel mu ngaku suka padaku kau gimana? Ada rasa marah?" tanya Citra meneliti perubahan wajah Natasha.


"Kenapa mesti marah? Yang suka kan kak Daniel. Belum tentu dia bisa nikahi kamu. Bukankah kamu ini isteri kak Alvan?" Natasha menyahut datar tanpa emosi.


"Ok...aku tahu... sebenarnya kak Daniel itu playboy. Pacarnya banyak...di mana-mana ada pacarnya! Kau tidak cemburu?"


Daniel dan Alvan terperangah dengar Citra buka kartu Daniel pada Natasha. Bukankah ini akan bawa akibat fatal pada hubungan Daniel dan Natasha. Ada saja kelakuan Citra. Dia diminta datang untuk beri pandangan pada Natasha bukan merusak rencana Daniel untuk menikahi Natasha.


"Nggak tuh! Aku percaya pada Kak Daniel akan setia kepadaku walaupun pacarnya banyak. Aku kan masih muda dan cantik bila dibanding dengan pacarnya yang lain."


"Gimana kalau kelak setelah kalian menikah dia lengket kembali pada pacarnya?"


"Dia bisa pacaran aku juga bisa. Dia kan lebih tua, aku muda. Kesempatan aku lebih banyak. Impas toh!" Natasha mencibir Daniel.


"Natasha sesungguhnya kamu tidak mencintai Daniel. Perasaanmu pada Daniel saat ini karena karena kamu membutuhkan seseorang untuk memperhatikan kamu. Pas Daniel yang ada di sampingmu maka kamu merasa mencintainya. Cinta itu kalau dijabarkan Maha luas dan panjang. Cinta yang tulus hanya memberi tidak akan mengharap pembalasan daripada orang yang kita cintai. Kita bersedia mengorbankan apa saja asal orang yang kita cintai bahagia."


Hati Alvan tercolek mendengar pengakuan Citra tentang cinta. Perasaan Citra terhadap Alfan selama ini adalah cinta yang sangat tulus. Citra mengorbankan perasaan sendiri dengan rela meninggalkan Alvan untuk Karin asal Alfan bahagia.


Citra manggut-manggut semakin paham ke mana arah cinta Natasha pada Daniel. Daniel sendiri sudah mendengar pengakuan Natasha yang terdengar sesuka hati. Natasha hanya membutuhkan seseorang memperhatikannya. Bukan satu pernikahan seperti yang diidamkan oleh ndak ke Daniel. Kalau diteruskan pasti akan membawa masalah yang cukup panjang dan berbelit-belit.


Daniel harus berpikir ulang bila ingin menikahi Natasha. Gadis ini tidak seperti Citra yang jauh lebih dewasa di umur relatif muda. Yang paling tepat sekarang adalah mengantar Natasha pulang ke Amerika agar wanita muda ini menemukan jati diri.


"Nat... lebih baik kamu pulang ke Amerika dan bicara dengan kedua orang tuamu baik-baik. Katakan kamu ingin menikah dengan Kak Daniel dan menetap di Indonesia."


"Ogah...ntar disuruh kuliah lagi! Aku muak harus kuliah. Lebih baik di sini bisa bebas sesuka hati. Jadi isteri kak Daniel not bad. Kak Daniel orangnya asyik. Aku main sepuasnya dia tak marah."


"Oh gitu...jadi kamu mau menikah supaya tidak pulang ke Amerika dan bisa bebas di sini?" tanya Daniel mulai gregetan setelah tahu rencana Natasha bersedia menjadi isterinya. Cuma manfaatin dia lepas dari tekanan kedua orang tuanya. Untung saja Citra sangat jeli melihat kekurangan Natasha. Kalau tidak Daniel akan terjebak dalam satu pernikahan yang tidak sehat.


"Bukan gitu sepenuhnya. Pokoknya aku akan patuh asal tak usah pulang ke state." kata Natasha manja.


"Kalau gitu kita tak usah menikah. Untuk sementara kau tinggal di rumah Kak Citra agar orang tidak bergunjing kita."


"Tak usah menikah boleh tinggal di sini?" seru Natasha girang terbebas dari beban moral. Sejujurnya Natasha tidak ikhlas harus pindah agama. Tapi demi mencapai tujuan mau tak mau dia harus tempuh jalan ekstrem untuk dapat kewarganegaraan Indonesia.


Citra dan Alvan saling berpandangan. Untung mereka datang pelajari rencana pernikahan Daniel dan Natasha. Ternyata Natasha hanya ingin ambil batu loncatan untuk menjadi warga Indonesia. Juga untuk menghindari kedua orang tuanya.


Daniel tak kalah lega terbebas dari satu pernikahan paksaan. Usia Natasha yang jauh lebih muda darinya sudah menjadi kendala utama. Ditambah sifat manja Natasha yang susah dikendalikan. Natasha bukanlah Citra yang mampu memandang sesuatu dari segi kebaikan.


"Kalau gitu Natasha ikut kami untuk sementara. Nanti sesudah ada keputusan kamu mau tinggal di Indonesia atau Amerika barulah kita cari jalan." Citra ambil jalan tengah agar Daniel terhindar daripada dosa. Hidup serumah dengan gadis yang bukan muhrimnya sama saja dengan kumpul kebo.

__ADS_1


"Tinggal di rumah Kakak? Lalu kak Daniel gimana? Bukankah Kak Daniel akan kesepian?"


"Di sini banyak orang bagaimana keadaannya bisa kesepian? Kamu baik-baik saja di rumah Kak Citra ya! Sekarang kamu kumpulkan pakaianmu dan barang-barangmu ikut kak Citra pulang ke rumahnya. Nanti Kak Daniel akan mengunjungi kamu." ujar Daniel merasa lega atas pengertian yang diberikan oleh Citra pada Natasha.


Andaikata Citra tidak datang maka Daniel akan terikat pada satu pernikahan yang akan menjadi neraka di kemudian hari. Natasha belum cocok dijadikan ratu rumah tangga seperti Citra. Natasha masih kekanakan hanya memikirkan main dan kebebasan.


"Apa rumah kakak jauh?" tanya Natasha melupakan rencana pernikahan dengan Daniel.


"Tidak terlalu jauh." data Citra dengan ramah.


"Ok...aku berberes dulu." ujar Natasha riang tak perlihatkan rasa sedih tak jadi dinikahi Daniel. Tak ada beban Sedikitpun di wajah anak itu. dengan riang anak itu berlari ke ruang belakang yang menjadi tempat tidurnya selama ini.


Daniel menarik nafas dalam-dalam mengisi dadanya dengan oksigen agar jangan sesak nafas. Daniel baru saja terhindar dari bencana besar yang akan tenggelamkan hidupnya seumur hidup. Daniel yang harus berterima kasih kepada Citra yang jeli melihat kesungguhan Natasha untuk menjadi istri Daniel. Ternyata hanya sebagai batu loncatan untuk mencapai keinginannya.


"Terimakasih...Cit.." ujar Daniel sambil tertawa kecil. Daniel menertawai kebodohannya cepat terperangkap oleh perasaan galau seorang anak remaja. Daniel tidak peka melihat kesungguhan Natasha untuk menjadi seorang istri yang baik.


"Sama-sama... lebih baik Pak Daniel meneleponi keluarganya di Amerika dan berterus terang apa yang telah terjadi. Mintalah mereka menjemput Natasha di Indonesia! Bukan Kak Daniel yang mengantar ke sana. Kak Daniel yang mengantar Natasha akan merasa kak Daniel mengusirnya. Jadi lebih baik biar keluarganya yang datang menjemput."


"Ya ampun... mengapa kamu sangat bijaksana? Seharusnya kamu yang menjadi Nyonya Daniel. Bukan menjadi Nyonya daripada orang somplak kayak Alvan."


"Woi... jaga tuh mulut sebelum disumpah dengan seember cabe rawit!" sungut Alvan tak senang Daniel terangan ngaku inginkan isterinya.


"Mas Alvan ini...kak Daniel hanya canda lagi! Coba Kak Daniel cari kontak keluarganya biar kita ngomong bersama-sama! Mumpung Natasha lagi sibuk."


"Ok...ok...pake sambung internasional habisin pulsa gue! Bisa tekor cafe aku!"


"Kan ada WhatsApp...telmi amat!" rutuk Alvan melempar kotak tisu ke arah Daniel.


Daniel bukannya menghindar tapi menangkap kotak itu agar jangan jatuh ke lantai.


"Iya...judes amat!" Daniel mencari kontak keluarga Natasha yang bisa dihubungi. Yang punya wa hanyalah kakak Natasha yang merupakan pembawa acara berita di televisi. Hebat juga ada keturunan Indonesia menjadi orang hebat di Amerika. Bukan hebat dalam arti mempunyai kekuasaan tetapi berhasil di dalam karir. Untuk bisa tembus menjadi pembawa acara di televisi sana bukanlah hal yang gampang kalau tidak memiliki sesuatu yang bisa diandalkan.


"Halo...Niken? Ini Daniel..."


"Hai Daniel...apa kabar? Apa rambut di kepalamu masih utuh?"


Daniel mengernyit alis heran mendengar pertanyaan yang sangat aneh. Mengapa tiba-tiba kakaknya si Natasha bertanya rambut di kepalanya. Apa sekarang Kakak Natasha menjual shampo untuk menumbuhkan rambut?


"Masih utuh...belum butuh sampo penguat akar rambut. Apakah kalian semua di sana sehat-sehat?"


"Semua sehat... apa kamu menghubungi aku gara-gara si setan cilik itu?"


"Kok kamu tahu?"


"Kuliah Natasha hampir selesai. Dia harus pulang untuk menyelesaikan skripsi yang tinggal sedikit lagi."


"Inilah yang ingin kubahas denganmu! aku hampir melakukan kesalahan besar ingin menikahi Natasha karena dia mengaku mencintai aku. Nyatanya dia hanya memanfaatkan aku agar dapat kartu penduduk di Indonesia oleh karena itu aku sangat mengharap kalian datang menjemputnya pulang ke Amerika. Tidak baik seorang anak gadis tinggal di rumah seorang cowok lajang seperti aku. Aku bukannya tidak senang dia tinggal di sini tetapi aku tinggal seorang diri akan mendatangkan banyak guntingan tidak baik."

__ADS_1


__ADS_2