ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Acara lamaran


__ADS_3

Alvan menangkap gelagat tidak baik dari reaksi Azzam. Alvan takkan memaksa Azzam bertemu Karin bila si lajang tak mau. Nanti malah timbul kekacauan antara mereka. Alvan bukan takut pada Azzam namun menjaga perasaan yang pernah terluka oleh kesilapan Alvan.


Suara gembira Gibran bergema di seluruh ruang menghidupkan suasana yang kaku. Remaja tanggung itu duluan dekati Afifa memberi kecupan di ubun keponakannya baru layangkan pandangan hidangan di atas meja.


"Wah .. makan enak! Om Gi simpan tas dan cuci tangan dulu!" Gibran berlari menapaki tangga menuju ke atas di mana kamarnya berada.


Citra membawa hidangan terakhir yakni tumis paprika dengan udang. Paprika banyak mengandung vitamin C, A dan E serta kalium lumayan tinggi. Sangat cocok dikonsumsi oleh anak sedang tumbuh remaja namun sayang tidak semua anak suka paprika. Anak sekarang lebih suka junk food yang kurang sehat.


"Gi mana?" Citra mencari Gibran. Tadi barusan terdengar suaranya kini orangnya tak ada.


"Om lagi cuci tangan." Afifa yang menyahut.


"Oh..." mulut Citra menyahut kata Afifa namun mata mengarah ke Azzam. Citra menghela nafas melihat putra satu-satunya sedang kurang bahagia. Citra sudah bicara dengan Azzam namun Azzam menolak jumpa Karin. Citra tidak memaksa takut merusak mood Azzam di ujian hari Senin.


Tak ada yang bersuara sampai Gibran datang membawa hentakan suara riangnya. Gibran orangnya asik tidak terlalu memikirkan hal-hal yang memusingkan kepala. Gibran tidak mau cari masalah karena tak suka didekati masalah. Lebih baik easy go lapangkan dada terima apa adanya.


"Sori telat pulang! Kak Tokcer tak jemput sih! Om Gi pulang dengan ngojek."


"Ya ampun Gi! Kakak lupa kau tidak dijemput. Kak Tokcer antar tamu jalan-jalan. Maafkan kakak ya!"


Gibran tertawa tidak anggap kelalaian Citra sebagai satu kesalahan. Gibran sudah besar bisa urus diri sendiri. Soal jemputan hanyalah masalah kecil tak perlu diperpanjang.


"Kak...Gi sudah gede! Kalau jaman dahulu seumur Gi sudah punya isteri. Sekarang saja dianggap anak kecil." canda Gibran.


Azzam suka cara Gibran menyenangkan orang. Anak itu tidak cengeng minta dimanja.


"Emang om mau kawin?" tanya Afifa terbawa cerita konyol Gibran.


"Om akan kawin kalau keponakan om sudah ada yang jaga. Sekarang masih harus jaga kalian. Ayo makan! Om Gi sudah lapar."


Citra mulai menyendok nasi ke piring orang yang duduk kelilingi meja makan. Mulai dari Alvan terakhir Afifa. Selanjutnya hanya terdengar dentingan piring. Tak ada yang ingin buka mulut lewatkan nikmat masakan Bu Sobirin.


Azzam bergegas masuk kamar seusai makan. Tampaknya Azzam sedang hindari komunikasi dengan Citra. Azzam orangnya memang lain. Sekali tak suka tak ada yang bisa bujuk dia kecuali dia melihat sendiri kesungguhan orang itu. Contoh seperti Alvan. Dulu Azzam juga tak suka Alvan, berkat kegigihan Alvan berhasil rebut hati Azzam.


Alvan menyusul Azzam ke kamar. Alvan sudah bertekad tak ingin paksa Azzam bertemu Karin. Alvan tak ingin ada salah paham antara dia dan anaknya itu.


Alvan mengetok pintu Azzam yang memang terbuka lebar. Daun pintu dibiarkan terbuka seolah memang sedang menanti seseorang untuk masuk.


Azzam melihat ke arah Alvan lalu kembali menekuni buku tebal di atas meja belajar. Alvan masuk langsung duduk di atas ranjang.


"Zam...kalau capek istirahat dulu! Baru siap makan jalan sebentar. Jangan duduk terus!"


"Tanggung Pi...dikit lagi! Papi tidak balik kantor?"


"Ini kan Sabtu. Kerja setengah hari. Katanya besok Azzam mau pergi main sama kak Andi?"


Azzam mengangguk tanda iya.


"Papi ijin?"


"Ijin dong! Azzam hati-hati ya kalau main! Jangan pergi jauh dari kak Andi!"


"Iya Pi... katanya mau ke mal. Amei tidak kami ajak!"

__ADS_1


"Nggak usah! Kalian anak laki saja pergi. Papi akan beri Azzam uang untuk belanja. Jangan gunakan uang kakak-kakak kamu ya! Uang mereka datang dari hasil keringat. Jangan terbuang sia!"


"Iya Pi tapi kak Tokcer bilang mau traktir Koko makan enak!"


"Kalau sekedar makan boleh tapi jangan minta beli ini itu! Kalau Azzam mau beli pakai uang papi."


"Iya Pi. Koko ngerti...Tadi mami ada ajak Koko jumpa dia!"


Alvan membeku Azzam telah buka cerita tentang dia. Si dia tentu saja Si Karin. Orang yang paling tak ingin dijumpai Azzam.


"Lalu apa katamu?"


Azzam meletakkan pensil di meja memutar badan saling berhadapan dengan Alvan. Bukan Azzam yang ketakutan ditanya Alvan justru Alvan merasa jantung dag dig dug menanti jawaban dari mulut anak lakinya.


"Dasar apa kami harus jumpa? Orang kayak gitu harus dihindari. Jika perlu jangan berbagi oksigen! Biar dia hirup karbondioksida saja."


Belum apa-apa sudah muncul kalimat penuh sindiran. Ntah kalimat pedas apa lagi bakal melewati pita suara Azzam.


"Zam...papi tidak memaksamu jumpa dia cuma papi ingin katakan kalau dia menyesal. Dia ingin pergi dari kita belajar ilmu agama di pondok pesantren. Kita beri dia waktu untuk bertobat. Semua orang berhak mendapat kesempatan kedua."


"Maksud papi setelah dia pintar agama dia akan balik ke dalam hidup papi?"


"Selamanya tak ada kesempatan lagi. Papi tak mau menambah orang lain dalam keluarga kita selain nanti mami kamu lahir adik kalian. Cukup kita-kita saja."


"Lalu untuk apa kita berbaikkan dengan dia?"


"Dia mengidap penyakit yang tak ada obatnya. Hidupnya bergantung pada obat. Kalau dia berhenti minum obat maka nyawanya di ujung tanduk. Dia ingin jumpa Azzam dan Afifa untuk terakhir kali. Itu katanya."


Lama Azzam tak jawab. Hanya matanya bermain selidiki kebenaran omongan Alvan. Azzam takut Alvan hanya ingin membujuknya jumpa Karin. Azzam tidak punya hati sebaik Citra. Gampang memaafkan orang bersalah.


"Astaghfirullah....Ya nggak ko! Papi toh tidak memintamu mesti jumpa! Papi hanya bercerita mengapa dia mau pergi. Dia ingin bertobat untuk membayar rasa salah pada mamimu. Sudah...Azzam tak usah simpan di hati! Anggap saja kita tak pernah bahas soal itu. Oya...ini yang dari papi!" Alvan mengeluarkan seikat uang warna merah. Masih terikat kertas berlogo bank tertentu.


Azzam ragu menerima pemberian Alvan yang dinilai terlalu banyak untuk ukuran anak sekecil dia. Azzam pergi jalan tanpa niat membeli sesuatu. Hanya ingin rilex bersama konconya.


"Itu banyak Pi! Koko tak ada rencana membeli apapun. Mungkin nanti nampak cemilan Koko beli untuk Amei. Uang saya banyak begini takutnya nanti jatuh."


"Simpan dalam tas. Hati-hati jaganya! Nanti ada lebihnya kasih ke mami."


Azzam tidak mengambil semua. Hanya mengambil beberapa lembar untuk beli jajanan buat Afifa dan Gibran. Azzam tidak dididik untuk hambur hasil keringat orang tua.


"Ini cukup Pi! Berikan uangnya pada mami biar bisa bayar uang sekolah kami."


"Itu tak perlu kau pikirkan! Papi sudah sisihkan uang sekolah kalian. Sudah papi berikan pada mamimu. Kalian tanggung jawab papi. Nanti malam kita ke cafe om Daniel. Bersiaplah!"


"Masih lama malamnya Pi!" ujar Azzam menertawai kepikunan Alvan. Alvan ikut tertawa kebodohan sendiri. Alvan menjadi gugup bila berhadapan dengan Azzam. Sekecil begini kharisma Azzam sudah sudah terpancar di usia dini. Bagaimana lah kharisma Azzam bila sudah dewasa kelak? Berapa wanita akan patah hati ditolak oleh Azzam.


"Ok...papi keluar dulu! Kalau capek istirahat. Jangan memaksa diri untuk matian belajar. Apapun hasil kamu tapi tetap puas karena kamu telah berusaha."


"Terima kasih Pi!"


Alvan keluar mencari Citra. Rencana bawa Azzam jumpa Karin tak perlu diperpanjang. Azzam sudah katakan tidak mau jumpa. Bila dipaksakan takut terjadi hal di luar dugaan. Alvan memilih menyerah dari pada menyakiti kedua belah pihak.


Seluruh keluarga Alvan dan ketiga tamu Citra berangkat ke tempat Daniel gunakan dua mobil. Heru berangkat dengan Gibran di mobil lain. Berarti tiga mobil mewah sedang menuju ke tempat yang telah dibooking Alvan. Cafe bernuansa alam di tempat Daniel. Dalam hati Alvan hanya berdoa semoga jiwa seniman Daniel belum tumpul. Semoga masih bisa hasilkan karya dikenang sepanjang masa Heru.

__ADS_1


Daniel sudah menanti di depan cafe. Lelaki ini mengenakan pakai nyentrik mirip bajak laut penguasa lautan. Topi lebar warna hijau gelap plus ikat kepala berbunga warna pink. Paduan yang sangat jelek namun nyentrik.


Citra tak dapat tahan tawa lihat cara Daniel berpakaian. Laki itu gunakan tema apa sampai berdandan aneh seperti Kapten Jack Sparrow dalam film Pirates of the Caribbean.


Semua terkesima dapat sambutan aneh dari Daniel. Alvan sudah kuatir rencana Heru nyatakan cinta pada Afung bakal ambyar. Belum apa-apa sudah disuguhi tampilan konyol Daniel.


"Lhu kena bom atom sampai geger otak gitu?" bisik Alvan malu lihat tamu isterinya melongo.


"Ini sebagian dari acara Heru. Tema malam ini bajak laut culik cewek untuk dijadikan permaisuri bajak laut. Ayok masuk ke dalam!" ajak Daniel tak peduli rasa bingung para tamu.


Daniel sengaja bikin tempat di paling ujung agar tak ganggu pengunjung cafe yang lain. Malam Minggu cafe selalu ramai dikunjungi kawula muda mencari angin segar. Untunglah malam Minggu ini langit cerah seakan restui Heru tembak Afung.


Dari jauh tampak lampu lampu warna warni kedap kedip di sekeliling pohon. Tak ada lampu Watt besar agar suasana makin romantis. Lilin dalam gelas hiasi lantai dengan pola kapal laut. Kain tipis berjuntai dari atas pohon untuk gambarkan itu ombak yang bertalu di lautan. Kain-kain melambai kena tiupan angin malam.


Balon-balon berisi gas berbentuk hati dibiarkan bertaburan di sekeliling tempat kapal lilin berada. Samar-samar tercium harum bunga mawar menambah keromantisan malam ini.


Semula Daniel ingin bikin kejutan buat Afung dengan cara menyembunyikan dekor tapi berhubung komunikasi tidak klik maka semua dibuat terbuka.


Citra dan Alvan saling berpegangan tangan puas hasil kerja Daniel. Sederhana namun mampu memberi kesan pada orang yang punya hajatan.


"Nah...sebelum kita makan silahkan kita menuju ke topik acara! Ayok silahkan tuan Heru dan nona mata kecil." Daniel berani katakan begitu karena tahu pasangan Heru tidak ngerti bahasa Indonesia.


Giliran Heru bingung. Apa yang akan dia katakan pada Afung. Gunakan bahasa Indonesia Afung tidak ngerti niat hatinya, gunakan bahasa Afung Heru tidak becus. Betul-betul satu hubungan aneh. Menyatukan dua kultur beda jauh.


Heru menatap Citra minta bantuan. Afung sedikit memahami niat Heru menyatakan cinta padanya tapi apa yang akan dikatakan lelaki itu.


"Bunga dan cincinnya mana?" tanya Citra tak melihat sarana terpenting dalam acara ini. Tak ada yang bawa buket bunga. Apa Heru lupa beli bunga untuk calon pacarnya? Playboy kondang mati kutu dibuat oleh gadis beda negara.


Di tanah air banyak stok tak kalah dari Negera luar mengapa cari penyakit melabuhkan hati pada gadis beda suku.


Gibran bergerak cepat paham apa yang diinginkan Citra. Lajang ini asyik saja punya ibu tiri. Heru sudah cukup lama menduda wajar cari pengganti. Gibran tidak melarang Heru asal Heru bahagia dengan pasangannya.


Gibran kembali dengan satu buket mawar warna pink. Bunga mawar lambang cinta bagi seluruh umat yang sedang demam asmara. Tak pelak Heru harus kembali bawa seikat bunga tembak gadis bermata sipit.


Gibran menyerahkan bunga pada Heru untuk gombalin Afung. Heru menerima bunga dari anaknya belum reda dari rasa bingung. Pasalnya apa yang harus dia katakan pada Afung. Apa sodorkan bunga lalu bikin tanda love pakai jari tangan?


Seperti nonton film jaman nenek moyang. Filmnya bergerak tapi tak ada suara alias film bisu.


"Opa...ajak Afung ie masuk lingkaran lilin! Ikuti semua kata Koko!" Azzam maju ke depan membantu Heru tuntaskan moments kocak ini. Hendak nyatanya cinta namun terkendala bahasa.


"Aku rasa lebih bagus pakai bahasa isyarat. Anggap saja kalian bisu. Bercinta dalam hati saja!" olok Daniel bikin Heru mendelik kesal. Orang sudah keluar keringat dingin masih saja diolok.


"Bagus juga! Tak perlu bersuara cukup saling lempar hati lewat tatapan mata. Kami akan diam menonton sinetron secara live." sambung Alvan makin memojokkan Heru.


"Kalian sinting...ayok Azzam! Kau minta Afung ie kamu masuk lingkaran lilin. Opa harap kamu mau jadi translator opa."


"Ok opa..." Azzam tinggalkan Heru putar badan ke tempat Afung dan kedua temannya berdiri.


Andi dan Tokcer hanya bisa jadi penonton. Mereka tak bisa bantu apapun karena tak ngerti bahasa Mandarin. Keduanya memilih tutup mulut.


Azzam menggandeng Afung masuk ke lingkaran lilin. Afung yang tampak tolol hanya bisa ikuti permintaan Azzam. Perlahan gadis itu masuk di lingkaran lilin berbentuk kapal. Afung berdiri tegak di tengah kapal lilin, Heru masuk bawa seikat mawar pink. Kini keduanya saling berhadapan tak tahu harus omong apa. Cuma mata saling memandang paham isi hati.


"Opa... berlutut dong! Tanya pada Afung ie apa bersedia jadi pacar?" Azzam bicara sok ngerti.

__ADS_1


"Woi anak kecil...dari mana kamu belajar cara melamar cewek?" tanya Gibran heran Azzam bertingkah seperti kakek penghulu.


"Dari cerita...semua diam dulu! Kasih kesempatan pada opa rayu calon pengantin." Azzam menaruh telunjuk di bibir minta yang lain diam.


__ADS_2