
Citra dan Alvan berangkat kerja sementara Heru ditinggal untuk urus pengawalan anak-anak pergi jalan-jalan. Sekedar berjaga-jaga lebih baik dari pada tertimpa musibah.
Heru mengutus empat orang bertubuh kekar kawal anak-anak dari jauh agar tidak mencolok di mata orang. Sebisanya tampil sederhana agar tak menarik perhatian.
Di tempat lain Citra sudah bertugas seperti biasa. Fitri dan Jasmine sudah berberes terima pasien. Berapa hari ini tugas Citra banyak ditangani Bryan selaku murid Citra. Anak itu cukup pintar walau belum seahli Citra. Laura belum bisa ikut belajar karena tangannya belum sembuh total.
Bryan jumpa Citra berlaku agak sopan mengingat gurunya ini bukan dokter biasa. Latar belakang Citra sangat mengerikan. Bryan bukan apa-apa bila ingin bersaing dengan pemilik perusahaan raksasa di tanah air. Jangankan berharap bermimpi saja dilarang.
Bryan dampingi Citra memeriksa pasien termasuk kontrol di ruang rawat. Pasien Citra tidak banyak karena Citra datang secara mendadak. Besok mungkin pasien Citra akan normal seperti biasanya.
Hari ini pekerjaan Citra cukup santai begitu juga perawat dan dokter magang. Citra duluan pulang sesuai janji pada Alvan. Biarlah Bryan melanjutkan praktek dengan sisa pasien. Ini untuk melatih diri Bryan agar lebih teliti periksa pasien. Citra beri pesan pada Bryan segera teleponi dia bila ada pasien kronis.
Citra pulang dengan taksi online karena tak mau merepotkan Alvan. Citra yakin pekerjaan Alvan masih bertumpuk. Semalam saja pulang larut malam. Citra tak boleh manja bergantung pada Alvan. Puluhan tahun sudah dia lalui tanpa Alvan berada di sisi. Hari-hari pahit itu berlalu juga.
Di rumah masih sepi karena anak-anak masih pergi main. Citra tidak ingin mengusik kegembiraan anak-anak. Citra percaya Heru dan Alvan tidak akan membiarkan anak-anak berada dalam kesulitan. Mereka pasti sudah memperhitungkan baik buruk dengan adanya pengawalan.
Saat santai begini Citra teringat pada Karin. Citra harus menyampaikan undangan kepada mantan istri Alvan itu. Wanita itu berhak tahu bahwa di rumah mereka akan segera ada pesta. Mau datang atau tidak Itu haknya Karin yang penting Citra sudah meletakkan niat bersih mengundang wanita itu.
Citra cari posisi santai di ruang keluarga untuk melaksanakan misi meneleponi Karin. Sekeliling ruang terasa dingin karena tidak adanya suara sedikitpun. Bahkan suara kendaraan dari luar pun tidak terdengar sampai ke dalam. Keheningan menjadi raja di atas ruangan ini.
Citra aktifkan ponsel mencari kontak Karin. Tak butuh waktu lama Citra telah menemukan kontak dengan nama Karin.
"Halo... assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam... Apa kabar Citra?"
"Alhamdulillah baik kak. Kak Karin gimana? Apa sehat?"
"Sejauh ini sehat cuma dua hari lalu sempat flu karena perubahan cuaca. Tapi sekarang sudah aman. Anak-anak sehat?"
"Sehat... Mereka sudah pergi jalan-jalan. Kami baru saja pulang dari liburan ke Bali karena Afisa sudah balik dari Beijing."
Terdengar tawa Karin di seberang sana. Apa yang membuat wanita itu tertawa. Citra tak ngerti mengapa Karin tertawa dengar liburan keluarga.
"Alvan ikut?"
"Ikut...dia yang paling semangat liburan bareng anaknya."
"Dulu kuajak liburan Alvan selalu tolak alasan tak bisa tinggalkan kantor. Makanya aku sering libur dengan teman. Tampaknya Alvan memang sangat mencintai kalian."
"Jangan berpikir aneh! Dia mau pergi karena anak. Oya kak.. hari Sabtu ini kakak bisa ke sini? Anak-anak ulang tahun. Aku berharap kakak bersedia datang."
"Pak ustad ada bilang kalau Alvan mengundang dia. Kurasa aku lebih tak datang. Aku datang ke situ sebagai apa? Dulu orang mengenalku sebagai istri Alvan dan apakah harus kukatakan bahwa aku ini mantan istri? Kasihan Alvan bila orang bertanya-tanya mengapa dia memiliki dua istri. Yang mana istri sah dan yang mana istri siri. Ini akan menyulitkan Alvan di depan relasi. Kakak hanya kirim doa saja ya Citra!"
"Kak.. untuk apa kita dengar omongan orang lain? Cukup kita saling mengetahui apa yang terjadi di dalam rumah tangga kita. Tak perlu ada dendam maupun rasa sakit hati lagi. Semuanya telah berlalu dan kita telah memiliki jalan masing-masing."
"Kakak ngerti isi hatimu Citra. Hatimu terlalu baik pada semua orang. Kakak tidak akan datang untuk mengacaukan pesta kalian. Cukup doa Kakak yang sampai kepada kalian."
"Baiklah kak! Terimakasih doa kakak. Apa kakak tak mau jumpa Afisa? Dia Atlet senam."
"Aku tahu. Aku sudah melihat postingan Heru di akunnya. Kamu beruntung memiliki anak-anak yang sangat berbakat. Kakak doakan semoga kalian mendapat momongan baru untuk menambah semarak keluarga kalian."
__ADS_1
"Amin kak... kakak harus jaga kesehatan dan jangan lupa minum obat! Boleh juga Kakak campur dengan herbal-herbal warisan orang tua. Siapa tahu keberuntungan berpihak pada kakak mengusir seluruh virus itu dari tubuh kakak."
"Emang ada herbal untuk itu?"
"Sebenarnya belum teruji secara klinis. Itu tanaman tanpa efek samping. Kakak coba saja minum rebusan Brotowali dan sambiloto. Kalau Allah berkehendak semua akan terjadi. Kun fayakun. Ingat itu saja kak!"
"Terima kasih sudah ingatkan kakak. Kakak akan coba usaha. Doakan kakak ya!"
"Pasti kak... kehadiran kakak tetap diharapkan! Aku tak peduli orang omong apa tentang kita. Orang hanya lihat dari luar tak tahu cerita sesungguhnya. Untuk apa kita dengar sekali ocehan orang."
"Kakak tahu kamu tak peduli tapi ingat Alvan. Dia bukan orang biasa, setiap gerak gerik dia jadi santapan media. Jangan sampai nama baiknya tercemar karena aku!"
Kata-kata Karin mengandung kebenaran. Kalau dia muncul orang-orang media pasti akan kejar cerita tentang keluarga Alvan yang ribet. Tak pernah terdengar Alvan punya anak tiba-tiba keluar anak sudah besar beserta dua isteri. Sinetron garapan siapa sedang dilakoni Alvan.
"Baik kak...kakak tentu lebih bijak dari aku! Aku cuma tetap kakak datang jumpa Afisa. Tak lama lagi dia akan balik ke Beijing."
"Iya...salam dari bunda saja!"
"Akan kusampaikan. Jaga diri kak! Salam untuk pak ustad."
"Nanti kakak sampaikan! Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..."
Citra termenung Karin banyak berubah. Bicara sudah lebih sopan tidak asal Nyaplak. Tampaknya pak ustad banyak pengaruhi jiwa Karin. Citra bersyukur Karin menuju ke manusia lebih baik.
Heru mengundang pemilik butik top untuk urus pakaian cucu-cucunya. Alvan kalah gesit dari Heru. Lelaki itu lebih pengalaman mengurus persiapan pesta ulang tahun anak-anak. Alvan sangat kaku kurang ngerti apa kebutuhan anak-anak untuk berpesta.
Tiba juga hari yang dinanti. Acara ulang tahun ini dibuat dua sesi. Untuk teman sekolah Azzam dan para guru diadakan pada pukul tiga. Teman-teman Gibran juga diundang untuk meriahkan pesta yang luar biasa ini.
Dekorasi persis dekorasi pernikahan orang tajir. Ballroom hotel di dekor sedemikian rupa demi sang buah hati. Seluruh ruangan di dekor dengan warna silver. Di di dinding di hiasi Huruf besar ucapan ulang tahun ketiga anak Alvan berurutan Azzam, Afisa dan Afifa Lingga Perkasa. Orang bodoh yang baca pun bisa ngerti kalau ketiga anak ini keturunan langsung dari dua dinasti kaya ini.
Tamu-tamu yang di dominasi anak-anak tanggung dimanjakan oleh hiburan khas anak-anak. Makanan lezat tersusun rapi di atas meja sepanjang lima meter. Dari hidangan khas Indonesia sampai masakan ala barat. Penganan kue-kue lucu ikut ambil bagian. Jelas pesta sore ini khusus sambut tamu anak-anak.
Seluruh karyawan dua perusahaan sengaja diliburkan untuk bantu sukseskan pesta Azzam bersaudara. Seksi sibuk tentu saja ketiga jagoan neon. Mereka terpanggil dampingi ketiga anak menerima kado aneka model.
Heru dan kedua keponakan layani tamu para guru serta orang tua anak yang ikut antar anak mereka berpesta.
Ketiga anak Alvan duduk manis di kursi di atas panggung dengan pakaian wah. Azzam kenakan setelan jas warna putih gading sedang Afisa kenakan gaun warna oranye muda dan terakhir Afifa dengan model gaun sama cuma beda warna. Ketiganya tak ubah pangeran dan Puteri dari negeri dongeng.
Acara merangkak jauh menuju ke puncak acara di mana ketiganya akan tiup lilin di dampingi keluarga.
MC berupa orang top di bidangnya dengan luwes meminta ketiga bocah bergerak ke tempat di mana adanya kue delapan susun sesuai umur ketiga anak itu.
Alvan, Heru dan Citra terpaksa tinggalkan tamu untuk dampingi ketiga bocah di moments penting ini. Om Gi mereka juga tidak ketinggalan dengan setelan jas hampir sama dengan Azzam.
Sayang opa dan Oma Uyut masih di luar negeri tak bisa ikut jadi saksi pesta meriah ini. Tapi tak mengurangi hikmah pesta megah ini.
"Bapak-bapak ibu-ibu yang kita hormati serta adik-adik tersayang! Mari kita sama-sama nyanyikan lagu ulang tahun untuk ketiga anak kembar kita yakni Azzam, Afisa dan Afifa. Ayok mulai." MC mengajak seluruh tamu undangan menyanyikan lagu ulang tahun iringi ketiga anak potong kue.
Lagu Selamat ulang tahun bergema di seluruh ruangan. Citra membantu ketiga anak memotong kue yang cukup tinggi. Mereka tak dapat potong dari puncak karena keterbatasan tinggi tubuh. Azzam masih mending nyaris capai kue di lapisan ke delapan, Afisa ketujuh sedangkan Afifa harus puas di lapis ketiga.
__ADS_1
Tepuk tangan bergema begitu kue dipotong. Citra memotong beberapa potong di pindahkan ke piring. Masing-masing anak diberi satu piring untuk dibagikan pada orang yang paling mereka cintai. Azzam memberi kue pertama pada Heru sebagai kakek, Afisa berikan pada Alvan dan si kecil beri pada Citra.
Anak-anak yang cerdik pandai atur agar orang tua mereka mendapat kehormatan dalam porsi sama. Afifa minta satu lagi untuk diberikan pada om Gi kesayangan. Gibran sangat sayang pada Afifa mana mungkin si kecil lupakan omnya.
Mata Gibran berkaca-kaca terharu Afifa tidak abaikan dia. Tidak sia-sia kasih sayang yang dia berikan pada si kecil. Ternyata Afifa memang sayang padanya juga.
Azzam meminta Citra potong kue tiga potong lagi untuk di berikan pada ketiga konco sehidup semati yakni tiga jagoan neon.
Azzam menyerahkan kue dikawani Afisa kepada ketiga jagoan setia itu. Andi tak sangka Azzam benar-benar sayang pada mereka. Andi tak kuasa perasaan menetes air mata. Lajang ini mencium pipi Azzam berulang kali sebagai tanda membalas kasih sayang Azzam.
Citra bangga pada anak-anak yang tak lupa dari mana asal. Sudah di atas tidak lupa yang di bawah. Kacang tidak lupa akan kulitnya.
Sedang drama haru biru tiba-tiba ada pelayan datang berbisik pada Heru kalau ada orang cari di luar tempat acara. Heru menatap Alvan heran mengapa ada tamu sangat misterius ingin jumpa penyelanggara pesta. Heru yang atur pesta maka dia yang paling duluan diberitahu.
"Aku keluar sebentar!" bisik Heru pada Alvan.
"Iya... hati-hati! Kita banyak musuh terselubung." kata Alvan pelan takut terdengar Citra.
Heru segera keluar untuk melihat siapa orang yang ingin bertemu. Di luar hotel Heru melihat ada tiga orang berpakaian rapi membawa dokumen. Mereka mengangguk sopan pada Heru.
"Anda ini?" tanya Heru masih dipenuhi tanda tanya.
"Oh kami ini dari dealer mobil antar hadiah untuk Afisa Lingga!" salah satu dari mereka menyerahkan map berisi dokumen kepada Heru.
Heru yang bingung kali ini. Siapa demikian keren ngasih hadiah sangat mahal. Heru membuka map berisi dokumen untuk lihat apa isi dokumen.
Heru kaget melihat jenis mobil yang dihadiahkan untuk Afisa. Mobil sports seharga miliaran. Heru tak tahu persis berapa harga mobil itu tapi harganya cukup bikin kantong bolong.
"Maaf...kalau boleh tahu dari siapa?" tanya Heru bergetar karena salut pada pemberi hadiah.
"Oh ini dari Thomas Smith. Beliau pesan akan datang malam nanti. Silahkan terima dokumen ini! Mobilnya ada di depan hotel. Mari kita lihat mobilnya!"
"Tunggu...aku panggil dulu orang yang bersangkutan. Penerima hadiah belum memutuskan terima hadiah mahal ini atau tidak. Soalnya hadiah ini mahal."
"Oh gitu ya! Silahkan! Kami tunggu di sini!"
Heru balik badan kembali ke ruang pesta temui Alvan sebagai orang tua Afisa. Siapa penggemar berat Afisa sampai rela korek kantong dalam sekali. Penggemar Afisa yang satu ini pasti sangat kagum pada Afisa. Karena kepiawaian Afisa di dunia atlet atau suka pada anak kecil itu.
Heru menarik Alvan untuk bicara mengenai hadiah Afisa. Yang lain larut dalam pesta tidak terlalu perhatikan apa yang dilakukan Heru dan Alvan.
"Ada apa om?" tanya Alvan agak keras saingi suara bising anak-anak bergembira.
"Di luar ada orang antar mobil untuk Afisa. Katanya dari Thomas Smith."
"What? Mobil untuk Afisa? Dari Thomas?"
"Kau tahu orang itu?"
Alvan mengangguk, "Anak dari George Smith si raja kapal."
"What?" giliran Heru kaget karena Afisa bisa kenal orang kaya Eropa.
__ADS_1
"Mereka kenalan sewaktu liburan di Bali. Anak itu kenal Afisa dari berita di media."