
Jasmine segera bergabung dengan Fitri setelah lepaskan pakaian seragam. Mereka harus segera tinggalkan rumah sakit sebelum ketahuan ikut dalam test darah. Fitri punya bukti lengkap kecurangan perawat yang pasti sudah kongkalikong dengan Viona.
Viona merasa dirinya pintar ternyata ada yang lebih lihay darinya. Azzam sudah perhitungkan langkah Viona. Andai wanita itu memang saudara Gibran dia tentu takkan curang. Di sini Azzam bisa nilai siapa yang jadi penipu.
Andai orang itu jujur maka Azzam dengan ikhlas ijin lakukan test DNA. Bagus juga buktikan siapa sesungguhnya keturunan Perkasa agar tak ada penyesalan di kemudian hari. Azzam tidak ngotot harus jadi pewaris dari Perkasa. Dia yakin suatu saat dia akan seperti Alvan dan Heru asal rajin.
Kita lihat ke Viona dan Heru di sekitar rumah sakit. Viona begitu yakin akan menangkan pertarungan ini maka tidak takut pada Heru dan Alvan. Tujuannya salah satu di antara dua orang kaya ini. Siapa saja tak jadi soal asal jadi ratu di atas ratu.
"Well...kita sudah selesai. Kita tunggu hasil dua hari lagi." kata Heru pada Viona yang masih menanti di ruang tunggu. Hanna hanya berdiam diri tidak berani berkotek.
"Cuma segini? Hanna berhak lho tinggal di rumahmu gantiin Citra. Malam ini kami akan nginap di rumah kamu." ujar Viona santai.
Heru dan Alvan saling berpandangan. Sungguh besar nyali Viona buat panggung sandiwara besar. Apa dia tidak takut tersesat di panggung yang segede gitu.
"Maaf nona...sebelum ada hasil kita takkan ijinkan kalian ganggu keluarga kami. Citra masih majikan rumah Perkasa." kata Heru tegas. Feeling Heru tetap berat ke Citra. Citra punya bukti kuat bahwa dia anak Hamka dan Inge. Heru sudah lihat sendiri foto keluarga Hamka. Ditambah hasil test DNA perkuat kalau Citra memang darah daging Perkasa.
Cuma Heru ikuti permainan Viona untuk kasih pelajaran pada wanita itu agar tutup buku usik ketenangan keluarga mereka. Langsung vonis Viona bohong takkan hilangkan rasa penasaran Viona taklukkan dua singa dua kerajaan.
Viona langsung berdiri dengan marah ditolak Heru. Alvan pura-pura tak dengar ketegasan Heru. Tumben hari ini Heru waras bisa hasilkan keputusan tegas. Biasa jumpa wanita langsung stroke sebuah badan.
"Kau akan menyesal telah kejam pada keponakan kamu. Kau minta maaf belum tentu diterima!" sungut Viona yakin sedang berada di atas angin.
"Aku Heru Perkasa tak pernah sesali apa yang telah aku lakukan. Hari Selasa nanti kita lihat hasil bersama. Untuk sementara kau urus dulu keponakan aku. Aku masih banyak kerja." Heru beri kode pada Alvan untuk angkat kaki dari rumah sakit.
"Mas Heru...apa benar kau sudah menikah?" buru Viona tak ijinkan Heru angkat kaki dari rumah sakit sebelum dengar semua curhat dia. Viona halangi langkah panjang Heru tinggalkan rumah sakit.
"Iya...aku sudah menikahi seorang wanita sederhana yang tahu arti hidup susah. Orang yang ngerti arti susahnya cari uang. Bukan mesin peras orang sampai kering." Heru menatap Viona tajam.
Alvan puji ketegasan Heru. Kali ini dia harus akui kehebatan Heru dalam menangani masalah ini. Tegas tidak bertele-tele menyudutkan siapapun sampai hasil keluar.
"Lalu aku bagaimana? Aku sudah menunggu kamu cukup lama!" Viona memelas sedih dengan mata memerah. Heru tak punya waktu untuk berpikir itu kesedihan dari hati kecil ataupun hanya sekedar akting untuk mencari simpati Heru.
"Maaf Vi.. sekarang aku telah menjadi seorang kakek dan seorang ayah maka aku harus bertanggung jawab pada keluarga aku. Tak ada waktu untuk bermain-main lagi." sahut Heru tegas.
"Aku tak percaya. Semua ini pasti ulah Citra untuk jauhkan aku darimu mas! Aku takkan menyerah mengambil hak aku. Dan juga hak Hanna. Apa kata orang kalau tahu masa suram keluarga Perkasa. Membuang anak sendiri dan cucu sendiri." ancam Viona menemukan sela pukul mental Heru.
"Kau ngancam aku? Aku Heru tidak takut apapun yang akan kau katakan. Kita punya hukum. Atau kamu mau nyusul Selvia membusuk di penjara." Heru balas ancaman Viona dengan kalimat lebih menohok.
Selvia hancur karena ambisi berlebihan kini muncul Viona ingin melanjutkan kisah tragis di penjara.
"Kita tunggu hasil DNA. Separuh Perkasa milik Hanna. Ingat itu!"
Heru mengangguk yakin. Tak ada banyak mulut dengan wanita. Hanya memperburuk suasana hati saja. Tanpa peduli pada ocehan Viona lagi Heru melangkah pergi diikuti Alvan. Kedua pemilik perusahaan kompak banget lindungi satu orang sama yakni Citra. Citra sangat pantas dilindungi karena baik Budi.
Heru dan Alvan naik ke mobil sama. Alvan ambil alih stiur karena tahu mood Heru sedang di bawah standar.
__ADS_1
Heru memasang muka keruh bersedih harus berhadapan dengan saudara sendiri lagi dalam kasus itu-itu lagi. Tak jauh dari kata asmara dan materi. Heru sudah dapat kedamaian sejak menemukan Citra. Kini kedamaian itu terkuak karena kehadiran Viona si perusuh.
"Kita pulang om Heru?" tanya Alvan setelah mobil tinggalkan rumah sakit.
"Cari tempat nongkrong saja. Aku tak sanggup lihat wajah welas Citra. Kalau kita cerita dia pasti akan ngalah biarkan si Hanna jadi keponakan aku."
"Kau benar...aku tak tahu apa tujuan Viona tapi dia kurang perhitungan. Dari segi umur Hanna tampak cukup dewasa. Wajahnya memang mirip Hamka, itu kuakui. Tapi banyak kejanggalan. Dia samasekali tidak tahu menahu tentang mertua aku. Dijebak Gibran saja dia tak tahu." Alvan beri analisa mengenai munculnya anak kandung Hamka.
"Kau pikir aku bodoh? Aku sengaja ijinkan dia test darah untuk hentikan ambisi Viona ganggu kita di hari depan. Afung bukan Citra yang mau terima ada saingan. Afung pencemburu nomor satu. Waktu menikah ada saudara puji aku Afung mau colok matanya. Sadis banget!"
"Wah...ada lawan nih! Tamat deh riwayat playboy kelas teri." olok Alvan membuat Heru mendelik.
"Jaga mulut! Aku ini Om kamu! Yang sopan!"
Alvan tertawa dimarahi Heru. Status mereka memang anak dan mertua tapi di dunia bisnis mereka setara. Sama-sama macan bisnis.
"Kita ke tempat Daniel ya! Telepon pada Citra kabarkan kita tidak pulang makan. Dia pasti menunggu kita pulang."
"Kamu saja! Kamu kan suaminya!"
"Iya...om!" Alvan sengaja menekan kata om lebih dalam untuk olok Heru lebih jauh.
"Oya ..nanti Afisa pulang ke Beijing biar kuantar! Aku masih kangen pada Afung. Maklumlah pengantin baru!"
"Tanya maminya dulu! Mungkin Citra yang mau ke sana antar anaknya."
Alvan tertawa lepas menyaksikan kesewotan Heru. Alvan pernah rasakan kerinduan itu maka ngerti perasaan Heru. Sangat sedih berpisah jauh dari pujaan hati. Alvan masih mending tidak terpisah oleh lautan. Cuma sulit dekati Citra sewaktu pertama jumpa. Terhalang oleh status palsu jadi mantan pula.
"Ok...ok.. kamu yang antar!" Alvan mengalah ijinkan Heru antar Afisa nanti. Alvan arahkan mobil ke tempat Daniel cari suasana adem. Tempat Daniel paling tepat usir kegalauan.
Di tempat lain segerombolan anak muda sedang menikmati es krim di salah satu gerai makanan dingin itu. Gibran jadi cukong bayarin es krim pelepas dahaga. Mereka baru saja lepas dari rasa tegang. Sejauh ini misi mereka berjalan mulus. Tinggal tunggu hasil test beberapa hari ke depan. Test DNA lebih rumit dibanding test penyakit. Hasilnya tak bisa instan.
Azzam dengan es krim coklat plus wafer. Afisa minta rasa strawberry juga dengan wafer. Yang lain santap sesuai selera masing-masing.
"Aku takut setengah mati waktu tukar darah. Harus hindari CCTV gerak cepat." ujar Jasmine di tengah acara makan es krim.
"Kalian harus lihat video kecurangan perawat itu. Kita harus lapor pada pak Alvan tentang perawat ini. Dia tak boleh berada di rumah sakit. Sangat berbahaya buat pasien." Fitri mengeluarkan hasil rekaman untuk ditonton bersama.
Gibran dan Azzam paling teliti perhatikan video cari kesalahan perawat itu. Nyatanya memang salah sangat fatal. Tak ada kata ampun untuk perawat nakal itu. Tak usah ditanya pasti karena godaan Mbah fulus. Mbah fulus ini memang hebat. Semua orang tunduk padanya bahkan dukun sakti kalah total melawan Mbah fulus.
"Apa kita diam sampai hasil keluar atau kita minta papi pecat perawat itu sekarang?" tanya Afisa gregetan lihat ada orang se curang itu. Apa dia tak tahu resiko dari perbuatan nya? Satu keluarga utuh akan cerai berai gara ketamakan seorang manusia.
Azzam menggeleng, "Kalau kita ributkan sekarang pasti ketahuan kita yang tukar darahnya. Kita diam saja dulu! Kita sikat bersama-sama."
"Kak Andi tak bisa bayangkan bagaimana reaksi analis sewaktu cek darah Hanna. Botak tuh kepala! Dia pasti pusing cek darah Hanna. Ini manusia jadian dari hewan!" Andi tertawa ngakak bayangkan analis darah cek darah Hanna yang aneh.
__ADS_1
"Jelmaan siluman ayam!" timpal Tokcer bikin semua terbahak.
"By the way...aku ucapkan terima kasih telah bela keluarga aku! Aku tak rela kehilangan keponakan yang cantik jelita." Gibran merangkap tangan ucapkan terima kasih pada semua yang ikut ambil resiko bongkar kejahatan Viona.
"Eiittt...tak semua cantik jelita! Masih ada yang ganteng.." tukas Azzam keberatan disamakan dengan kedua adiknya.
"Iya ..iya...habis ini ke mana kita?"
"Gimana kalau kita pergi ke kampung kita dulu. Koko kangen pada suasana kampung." usul Azzam.
"Ok...habiskan dulu es krim biar tidak Mubazir." kata Tokcer setuju.
Dua hari berlalu. Hari ini keluar hasil test DNA antara Hanna dan Heru. Alvan sengaja tak ijinkan Citra bekerja agar tak tahu apa yang telah terjadi. Alvan tak mau Citra bersedih karena dicurigai bukan anak Hamka.
Anak-anak ikut jadi saksi pertarungan antara Heru dengan Viona klaim Hanna anak Hamka yang berarti keturunan Perkasa.
Alvan, Heru, Viona, Hanna dan seorang teman hadir di ruang Hans selaku penanggung jawab rumah sakit. Ketiga bocah dari dua keluarga menunggu di luar tidak ingin mengacaukan pertemuan para orang bersangkutan. Mereka menunggu hasil karena masih ada kasus harus diselesaikan yakni perawat curang. Andi tak bisa ikut karena harus masuk kantor sedangkan Jasmine dan Fitri kawal ruang praktek Citra yang diambil alih oleh Bryan.
Ruang Hans jadi hening tatkala amplop warna putih memanjang diantar oleh petugas lab. Hans menerima amplop itu sambil edarkan mata ke sekeliling pantau reaksi wajah tamunya. Hans ikut tegang rasakan suasana mencekam. Ini bukan sekedar hasil test darah tapi menyangkut warisan yang harus ditampung pakai truk tronton.
"Bismillah saja bro!" pinta Alvan tak ingin terkurung dalam suasana mencekam. Ada rasa tak nyaman di dada harus menanti cukup lama hasil menegangkan itu.
"Ok... bismillahirrahmanirrahim" Hans membuka amplop yang masih tertutup dengan tegang.
Hans membaca hasil laporan dengan kening berkerut-kerut. Yang lain tak sabar menanti kalimat keluar dari mulut Hans.
"Apa hasilnya bro?" tanya Alvan ingin mengambil kertas berisi laporan.
"Negatif alias sama sekali tak ada hubungan. Di situ tercantum lagi darah nona Hanna ada kelainan. Tidak mirip darah manusia. Mirip darah hewan unggas berdarah panas dalam bahasa latin homoioterm. Ada apa ini?" tanya Hans bingung.
Heru dan Alvan saling tukar pandangan sementara Viona langsung berdiri dengan marah. Wanita ini tersulut emosi tak percaya test ini hasilnya negatif.
"Kalian manipulasi test ya! Aku yakin Hanna ini anak Hamka. Tak mungkin negatif!" teriak Viona kalap. Wanita itu ingin merebut hasil test. Untung Alvan cepat selamatkan kertas tak berdosa itu.
"Nona jangan sembarangan omong ya! Nona harus bawa teman nona cek up karena darahnya bukan darah manusia melainkan darah hewan. Dari mana ada darah hewan di rumah sakit. Ini murni hasil lab tanpa rekayasa. Kalau tak puas nona silahkan lakukan test di rumah sakit lain." kata Hans tersinggung tuduhan Viona anggap pihak mereka lakukan hal tak terpuji.
"Panggil perawat yang urus darah Hanna. Aku mau tahu dari mana munculnya darah aneh. Kalian mau permainkan kami? Kami bisa lapor polisi!" seru Viona kalap sekali. Gaya sosialita high class sirna diganti wanita histeris.
"Baik...aku akan panggil petugas yang ambil sampel darah kalian. Aku yakin dia ikut prosedur." Hans yakin anak buah yang dia pimpin takkan curangi rumah sakit.
"Sudah cukup...kita pergi saja kalau memang negatif! Mungkin aku salah anggap keluarga kalian itu papi aku." akhirnya Hanna beranikan diri kemukakan pendapat. Hanna mulai gentar melibatkan banyak orang. Kalau sempat melibatkan pihak berwajib tamatlah riwayat mereka.
"Han..kau gila? Kau lupa warisan papi kamu? Bisa beli sepuluh rumah gedongan." Viona membentak Hanna yang mulai dihinggapi rasa takut.
"Gedongan tak artinya lagi kalau harus masuk penjara. Aku pilih mundur. Yok kita pergi!" Hanna beranjak pergi diikuti teman satunya.
__ADS_1
Viona memucat ditinggal pergi oleh orang yang dianggap anak Hamka. Tanpa kehadiran Hanna permainan game over. Tamat cerita.
"Kalian memang bukan manusia. Tega terlantarkan anak sendiri demi perempuan murahan. Aku pasti akan kembali ambil hak aku!" Viona mengambil tas tangan di atas meja melenggang pergi.