ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Jumpa Citra


__ADS_3

Perjalanan satu jam lebih terasa sangat lama buat Alvan. Dalam benak Alvan slide Heru dan Citra saling lempar pandangan mesra. Dada Alvan serasa di bakar di atas bara api. Panas membara ingin hanguskan Heru jadi sate gosong.


Ternyata begini rasanya cemburu buta. Emosi membubung di kepala mengeluarkan asap amarah. Tapi Alvan heran mengapa perasaan itu baru muncul saat ini. Waktu Karin berfoto mesra dengan cowok lain dia santai saja. Tak ada gejolak aneh seperti sekarang ini. Tak peduli Karin berpose pelukan mesra dengan laki manapun. Giliran Citra emosinya meledak tak rela ada orang menyentuh wanita itu. Apa ini yang namanya cinta suci? Cinta yang muncul dari sanubari terdalam.


Sementara itu Bonar dan Daniel menikmati pemandangan dari atap dunia. Semua benda di bawah seperti semut kecil. Rumah berkotak-kotak mungil layak mainan anak. Daniel tak lupa abadikan semua karunia Tuhan untuk jadi kenangan di masa depan. Tidak setiap waktu bisa rasakan naik helikopter keliling angkasa raya. Hanya orang punya kuku tajam bisa rasakan kehidupan kalangan atas.


Helikopter yang ditumpangi Alvan dkk duluan tiba karena bawaan tidak terlalu berat. Helikopter satu lagi lebih sarat muatan terbang tidak sekencang helikopter pertama.


Cuaca sedang cerah tidak menyulitkan pendaratan. Helikopter Alvan mendarat mulus sisakan tiupan angin dari baling-baling helikopter. Benda sekitar helikopter berterbangan kena angin kencang dari helikopter.


Dari tadi Pak Hasan selaku kades sudah tahu ada helikopter bakal mendarat. Cuma mereka tak tahu heli dari mana karena mereka tak punya akses komunikasi dengan luar. Seluruh jaringan komunikasi putus. Desa ini benar-benar terisolasi total dari hubungan luar.


Pak Hasan segera menyambut tamunya yang tentu datang membawa rezeki bagi warganya. Pagi tadi Heru baru pulang kini diganti dermawan lain membawa armada lebih besar.


Bonar paling duluan turun disusul Daniel yang terpana tak sangka Alvan akan bawa dia ke tempat jauh dari perkiraannya. Pemandangan miris terpapang di kelopak mata Daniel dan Bonar. Hati mereka terenyuh ikut merasakan derita korban gempa. Mereka hidup santai di kota melupakan sekelompok masyarakat sedang berjuang di antara maut.


Alvan turun sambil bawa ransel titipan Untung. Alvan beri kode pada Daniel dan Bonar untuk segera bantu turunkan bantuan yang masih berada dalam heli.


Pak Hasan selaku kades cepat-cepat hampiri Alvan dkk. Sama seperti menyambut Heru waktu pertama datang. Pak Hasan bersyukur dan tetap berlaku sopan pada dermawan berhati mulia.


"Selamat datang pak! Aku Hasan kades sini!" Pak Hasan menyalami Daniel, Bonar dan terakhir Alvan.


"Oh pak Kades! Apa bisa bantu turunkan kotak-kotak di heli? Satu heli lagi akan segera mendarat. Yang ini harus segera terbang agar tidak beradu!" Alvan langsung utarakan niat hati agar pemuda situ cepat bertindak membantu. Lahan situ tak bisa menampung dua heli sekaligus maka satunya harus segera take off kasih kesempatan pada heli lain mendarat.


"Segera pak!" Pak Hasan tanggap melambai pada para lelaki yang duduk termenung."Woi ke sini bantu!"


Pasukan siap siaga meluncur cepat dekati helikopter Alvan. Saling membahu turunkan kotak-kotak berisi makanan dan susu untuk bayi pengungsi. Bawaan Alvan di heli ini tidak sebanyak bawaan Heru waktu pertama datang.


Dalam pandangan mata bawaan Alvan serba tanggung. Mereka tak tahu ada satu heli lagi siap mendarat bila heli ini mengudara. Suara dengung heli satu lagi sudah terdengar dari jauh. Semua kepala mendongak ke langit cari asal suara. Heli yang lebih besar hampir mendekati landasan darat.


"Bisa lebih cepat? Itu heli satu lagi mau mendarat." kata Alvan kuatir heli berputar terlalu lama di udara.


"Ayo cepat anak-anak!" Pak Hasan kasih semangat pada pemuda kampung agar bergerak lebih gesit.


Pemuda yang semula loyo mengira cuma itu bantuan Alvan kontan bangkit energi lihat bantuan menyusul telah tiba. Bagai kena setrum listrik tegangan tinggi semangat mereka menyala. Dalam sekejap kotak-kotak berpindah dari heli ke tempat aman.


Pilot ambil ancang-ancang mengudara beri ruang pada heli satu lagi mendarat. Daniel dan Bonar mengambil bekal mereka sebelum heli terbang menjauh. Sebelum pergi Alvan berpesan agar besok heli balik jemput dia pulang.


Heli kedua mendarat mulus membawa bantuan lebih banyak. Bantuan Alvan jauh lebih lengkap dari bantuan Heru. Hampir satu ton makanan tertampung di heli yang lebih besar. Warga korban bencana bersyukur dermawan bermunculan di daerah mereka yang terisolasi. Untuk beberapa hari ke depan makanan cukup untuk seluruh warga.

__ADS_1


Pak Hasan tak henti bersyukur pada kebaikan hati dermawan macam Alvan dan Heru. Pak kades tak tahu ini semua berkat seorang dokter incaran dua pengusaha kaya bertugas di situ. Tanpa Citra di situ Heru dan Alvan paling menyumbang tanpa susah payah terjun ke lokasi. Karena ada gula manis maka semut jantan para rebutan cari sumber rasa manis itu.


Akhirnya semua bantuan Alvan bertumpuk di tempat aman. Tugas para pemuda sekarang adalah pindahkan makanan dan bantuan lain ke posko di kantor desa. Pak Hasan tak henti bersyukur kedatangan dermawan baik hati mengulurkan tangan di saat genting begini. Bantuan dari pemerintah belum menjangkau desa mereka karena lokasinya sangat terpencil. Syukurlah ada yang melirik desa mereka.


Pak Hasan mengajak Alvan dkk menuju ke tempat lebih nyaman untuk ngobrol. Satu-satunya tempat nyaman dan bersih tentu saja mesjid tempat korban dirawat sekaligus tempat istirahat para medis.


Alvan bersorak dalam hati karena tak lama lagi akan jumpa dengan bini tercinta. Eh bukan bini tapi mantan bini. Alvan harus lebih giat jadikan Citra jadi bininya lagi. Pesaing ulung telah duluan lancarkan serangan fajar mencoba luluhkan hati Citra. Kalau Alvan masih adem ayem Citra bakal pindah ke kandang Heru.


Daniel dan Bonar tak henti meratapi nasib para pengungsi. Kehidupan mereka memang tak layak karena tidur di tenda beralas plastik. Ntah orang tua maupun anak-anak bertumpuk satu di tenda-tenda di lapangan terbuka. Satu pemandangan miris namun apa mau dikata. Tuhan sedang menguji kesabaran umatnya. Lihat sampai di mana iman umatnya hadapi cobaan.


"Ini tempat pasien parah dirawat. Tadi pagi dua pasien sudah dievakuasi ke kota karena lukanya parah. Mari kukenalkan pada dokter sini!" Pak Hasan memberi penjelasan pada Alvan yang matanya mencari sosok mungil si maling hati.


Perhatian Alvan mana tertuju pada pasien. Rasa rindu pada sosok mungil Ibunda dari bocil kesayangan memuncak di ujung hati. Mau tanya langsung malu di hati. Ketulusannya bantu warga kena bencana akan dipertanyakan. Datang menjenguk sang dokter atau mau para korban.


"Apa semua warga ditangani dengan baik? Selain sembako apa yang masih diperlukan?" Alvan mencoba konsentrasi kondisi warga. Terlalu egois bila datang semata-mata hanya demi Citra. Sebagai manusia punya empati Alvan wajib membantu sekuat tenaga.


"Alhamdulillah tertangani dengan baik berkat orang baik macam baik. Ada pak Heru juga datang beri bantuan tidak kecil. Semoga semua amal bapak mendapat balasan dari Allah SWT. Aku wakili seluruh warga ucapkan terima kasih."


"Jangan gitu pak! Ini kewajiban kami sebagai manusia. Aku dengar bantuan dari pemkab belum masuk sini maka aku datang bawa sedikit bantuan."


"Ini mah bukan sedikit pak! Sangat banyak...ayok kita duduk di sana! Bapak pasti lelah. Biar kusuruh dapur bikin kopi untuk bapak-bapak sekalian." Pak Hasan sangat terkesan pada kerendahan hati Alvan. Alvan lebih ramah dari Heru yang lebih sedikit arogan perlihatkan kekuasaan sebagai orang kaya.


"Terima kasih telah merepotkan! Bapak silahkan kembali kerja biar kami jalan sendiri! Jangan kehadiran kami menyita waktu bapak!"


Alvan tersadar mereka belum kenalan. Asyik ngobrol sampai lupa saling tukar nama. Daniel dan Bonar sudah hilang ntah ke mana. Kedua orang itu mungkin penasaran pingin explore lebih jauh kondisi para korban.


"Aku Alvan..."


"Aku Hasan kades sini! Terima kasih atas semua pak Alvan! Aku tinggal sebentar ya! Aku akan segera balik."


"Silahkan!" Alvan biarkan kades melanjutkan kegiatan lain. Pak kades tak mungkin hanya demi temani tamu abaikan tugas lain. Pak Hasan bukan hanya urus dua orang tapi seluruh warga. Apa lagi di saat inilah Pak Hasan harus tunjukkan tanggung jawab seorang pemimpin.


Sepeninggalan Pak Hasan, Alvan mencari Citra sekitar mesjid namun orang yang dicari tidak tampak batang hidung. Ke mana sosok mungil itu? Lagi periksa pasien di tenda lain atau ke daerah lain yang lebih terpencil.


Alvan melihat seorang perawat sedang istirahat di lantai beralas plastik. Perawat itu tampak sedikit pucat mungkin kelelahan urus banyak pasien. Alvan makin kuatir kondisi Citra. Apa Citra juga selelah itu?


Alvan dekati perawat itu cari tahu di mana dokter mungil miliknya. Perawat itu tahu diri segera bangkit dari lantai begitu lihat Alvan.


"Pak Alvan!" serunya mengenali siapa yang datang. Sikapnya berubah santun hormati lelaki baik itu.

__ADS_1


"Kau kenal aku?"


Perawat itu mengangguk. Giliran Alvan heran mengapa di tempat ini ada yang mengenalnya. Padahal dia bukan orang suka muncul di berita.


"Saya Ranti perawat rumah sakit bapak! Saya di sini bersama Bu Citra dan pak Gerry."


"Oh...mana dokter Citra dan dokter Gerry? Kok tidak nampak?"


"Bu Citra ada di tenda. Dokter Gerry turun ke lembah karena ada penduduk sana sakit. Tak mau di evakuasi ke sini. Mari kuantar pak!"


"Kau kurang sehat ya? Wajahmu pucat. Istirahat saja! Aku bisa sendiri." Alvan melarang perawat itu mengantarnya. Keadaan perawat itu tidak dalam kondisi memadai. Hendak merawat orang sakit sedang dia sendiri juga lagi kurang fit .


"Terima kasih pak! Jalan lurus lalu belok kiri. Di tenda paling besar. Di situ dokter Citra lagi tugas."


"Terima kasih." Alvan segera ayunkan langkah berdasarkan info dari perawat tadi.


Tidak susah menemukan tenda yang dimaksud. Tenda cukup besar untuk menampung para korban bencana. Alvan tak tahu berapa pasien sedang dirawat di sana. Semoga tak banyak korban sehingga semua bisa cepat membangun kembali pedesaan mereka.


Alvan masuk ke tenda mencari orang dimaksud. Dipan kayu berjejeran menampung para korban terluka maupun yang sakit akibat trauma. Di sana rata-rata orang dewasa dengan aneka keluhan. Yang terluka, yang demam, yang kena stroke akibat naik hipertensi. Macam-macam penyakit berbaur di situ.


Tatapan Alvan jatuh pada satu sosok sedang memeriksa seseorang di atas dipan. Alvan melihat Citra gunakan stetoskop memeriksa detak jantung sekaligus denyut nadi orang itu. Citra sangat serius memeriksa pasien tanpa sadari ada orang datang dari jauh menjenguknya.


Alvan berjalan perlahan dekati Citra tanpa berniat usik kerja Citra. Cukup memandang saja hati Alvan sudah tenang. Apa lagi lihat Citra dalam kondisi fit. Hati Alvan tenang setelah jumpa pujaan hati.


Sekarang bilang pujaan hati. Dulu ngumpet di mana? Di saat Karin berulah baru teringat pada wanita yang pernah dia hina dulu. Karin dan Alvan anggap Citra selamanya hanya jadi kesakitan di belakang layar. Takkan mungkin tampil di panggung sebagai pemeran utama.


Kini Citra yang maju ke depan jadi tokoh penting. Keadaan berbalik arah. Alvan yang mengejar Citra sekarang. Citra berhak jual mahal karena kartu as di tangan Citra. Masa depan Alvan berada dalam genggaman Citra. Andai Citra bawa pergi kedua anaknya maka Alvan gigit jari meratapi nasib malang.


"Pak...asal bapak ikuti aturan minum obat bapak akan segera sembuh! Bapak harus semangat melawan penyakit. Bapak harus ingat pada keluarga ya! Anak bapak masih kecil butuh bimbingan bapak." Citra berkata lembut pada pasien yang terbaring tak berdaya. Raut wajahnya redup tanpa gairah hidup.


Penyakit apa diderita bapak hingga demikian putus asa. Penyakit mematikan tak bisa disembuhkan?


"Tapi Bu dokter! Isteriku tak mau sama aku lagi. Dia marah karena aku pergi tinggalkan dia di hari gempa. Aku salah telah berkhianat." ujar bapak itu lirih akui dosa main hati.


"Bapak harus minta maaf! Janji jangan ulangi kesalahan sama! Semua wanita di dunia ini tak ada yang bersedia berbagi suami. Dalam agama memang dibolehkan poligami tapi bapak tahu tidak bapak telah menyakiti hati isteri. Menyakiti hati isteri itu termasuk berdosa."


"Aku tahu...aku janji akan tinggalkan perempuan itu kembali pada isteriku!"


"Jangan janji padaku! Cepat sehat dan temui anak isteri bapak. Insyaallah dia akan memaafkan bapak bila bapak sungguh-sungguh berjanji takkan selingkuh lagi."

__ADS_1


Alvan yang ikut mendengar merasa hatinya membeku. Lelaki yang berbaring sakit telah berbuat serong selingkuhi istri. Ternyata tak ada wanita ikhlas suami berbagi cinta. Citra telah ungkap isi hati walau secara tak langsung kepada Alvan. Citra memendam rasa benci selama bertahun di karenakan Alvan berbagi hati pada Karin. Citra bak sampah teronggok di sudut rumah hanya bisa saksikan suami bermesraan dengan wanita lain.


Seberapa dalam luka di hati Citra. Pantesan Citra selaku menanggapi Alvan dengan sikap dingin. Ternyata Citra sangat terluka.


__ADS_2