
Ayi meneliti Alvan dari atas hingga ke ujung kaki. Ayi tidak menduga kalau suami citra adalah seorang lelaki yang sangat tampan. Dalam bayangan Ayi mantan suami Citra adalah seorang lelaki gendut dengan kepala botak serta wajah licik kayak tikus. Bagaimana tidak Ayi menggambarkan sosok suami Citra dalam bayangan buruk karena lelaki itu tega meninggalkan Citra untuk wanita lain.
"Oh ini suamimu...ganteng juga ya! Sayang otaknya sakit! Punya isteri cantik dan baik masih main gila. Harusnya direbus di kuali bakpau." omel Ayi tidak simpatik pada Alvan. Ganteng-ganteng kurang waras. Emak model Ayi mulutnya kayak petasan meledak. Bunyi gede tak peduli orang yang dengar.
"Dia baik kok Ayi! Ada salah paham antara kami. Boleh minta sarapan?" Citra tak ingin Alvan tampak buruk di mata orang lain. Sejelek apapun Alvan dia tetap papi dari anak-anak.
Ayi tersadar Citra datang untuk sarapan pagi. Dia malah mengingat kenangan lama Citra. Ayi melontarkan pandangan kurang suka kepada Alvan baru ngeloyor pergi masuk ke dalam.
Alvan dapat rasakan tatapan tajam dari perempuan paro baya itu. Dari sinar mata perempuan itu tersirat rasa tidak suka kepadanya. Memang salahnya apa sehingga perempuan itu langsung melontarkan permusuhan pertama kali berkenalan.
Citra menarik tangan Alfan agar tidak terpaku pada sikap kasar Si Ayi. Waktu mereka tidak lama di negeri tirai bambu ini maka mereka harus cepat menemui profesor lalu keliling kota untuk menghabiskan sisa hari di Beijing.
Alvan hanya diam dibawa duduk di salah satu kursi terbuat dari kayu jaman. Alvan menduga warung ini sudah cukup tua. Perabotan saja kusam seolah produk jaman dulu.
"Mas ikut makan sarapan ala kita ya! Halal kok! Tak ada unsur hewani. Semua nabati." ujar Citra usir keraguan Alvan.
Alvan hanya bisa mengganggu karena memang tidak berdaya. Tanpa Citra Alvan tak mungkin bisa melenggak-lenggok di daerah ini karena terkendala bahasa. Ketiga anak Alvan telah menguasai bahasa Mandarin dengan fasih merupakan modal untuk bekerja sama dengan orang dari negeri ini.
"Mas merasa ibu tadi kurang suka pada aku!" ungkap Alvan jujur. Ada sesuatu di balik sikap kurang ramah Ayi tadi.
Azzam dan Afisa saling tersenyum tanpa berniat kenapa Ayi kurang suka pada Alvan. Ayi melihat sendiri Citra jatuh bangun membesarkan tiga anak tanpa suami akibat suami terjerat wanita nakal. Sesama wanita pasti pro pada wanita yang terzolimi.
"Ayi memang gitu sama orang asing. Banyak curiganya. Nggak mas pikirin."
Ayi hidangkan sarapan panas plus gorengan cahkwe dan mantou. Gibran dan Alvan tak pernah sarapan begini tampak kurang suka. Apa bisa kenyang hanya dengan satu mangkuk air tahu dan sepotong gorengan?
Bagian Afifa ada kembang tahu. Cahkwe Afifa sudah dipotong kecil-kecil diletakkan di piring kecil. Ayi tampaknya sangat mengenal kebiasaan anak-anak Citra.
"Xie xie Nainai (Terima kasih nenek)." ujar Afifa dengan mata berbinar. Gadis kecil ini sangat senang dapat menikmati sarapan tradisional dari negeri ini. Sarapan sehat tanpa lemak.
Gibran dan Alvan mau tak mau terpaksa harus ikut makan menu yang sangat aneh di mata mereka. Ketiga anak Citra tidak peduli dengan tanda tanya di hati Alvan dan Gibran. mereka langsung menikmati sarapan pagi mereka.
Sendok pertama terasa berat masuk ke mulut. Namun sampai di lidah terasa gurih dan manis. Tidak terlalu manis pas selera Alvan. Perut Alvan langsung hangat kena kuah air tahu.
"Lumayan.." Alvan melanjutkan sendok kedua dan seterusnya. Gibran lihat Abang iparnya dapat nikmati sarapan aneh ini menyulut rasa penasaran ikut lakukan hal sama. Reaksi Gibran tidak jauh beda dengan Alvan.
Citra hanya tersenyum melihat suami dan adiknya menyukai sarapan yang mereka tawarkan. Jadilah mereka sarapan di iringi tatapan aneh Ayi. Ayi tak habis pikir mengapa Citra mau kembali kepada Alvan yang telah membodohi dia selama bertahun-tahun. Apa keistimewaan lelaki itu sampai Citra melepaskan rasa benci di hati menerima lelaki itu.
Apapun itu Ayi hanya mengharap Citra menemukan kebahagiaannya. Semua orang berhak bahagia. Mungkin inilah saatnya Citra menerima pahala daripada kesabarannya selama ini.
"Mami...Amei boleh minta dibungkus air tahu? Untuk minum nanti." pinta Afifa setelah mangkuknya bersih. Perut si kecil sudah membesar sehingga satu mangkuk tidak membuatnya puas.
"Tentu boleh...mami percaya Nainai pasti sudah siapkan untuk kalian bawa pulang! Tak percaya? Kita taruhan ya!"
Afifa tentu saja kegirangan mendengar pernyataan Citra. Kebiasaan Ayi itu telah terbentuk dari dulu. Selalu membungkuskan air tahu untuk Citra dan anak-anak.
__ADS_1
Alvan kuat menduga Ayi ini orang yang telah berjasa merawat Citra dan anak-anak selama di Beijing. Alvan tak boleh mengabaikan kebaikan seseorang pada keluarganya. Dilihat dari kondisi bukanlah dari golongan atas.
"Ayi...kami harus buru waktu! Berapa harga sarapan kami?" seru Citra setelah setiap mangkuk bersih dari isinya.
Ayi tergopoh-gopoh datang bawa satu kantong plastik. Seperti dugaan Citra, Ayi telah siapkan bekal untuk anak-anak buat makan di luar nanti. Afifa tertawa sendiri ingat kata Citra bahwa Ayi pasti ingat kebiasaan lama.
"Bayar apa? Ini untuk cucu-cucu aku! Kapan kalian balik ke Indonesia?"
"Besok Ayi... Anak-anak harus sekolah. Aku dan suami aku harus bertugas. Sarapan ini harus dibayar karena aku tidak datang sendiri. Suami aku yang akan bayar. Berikan ponsel Ayi biar kutransfer bayaran!"
"Aiya...bayar apa? Kalian sudah datang Ayi sudah senang. Kalau ke sini harus mampir ya!"
"Tak boleh Ayi...sekarang sudah ada yang tanggung jawab hidup aku!"
"Terserah kamulah!" Ayi menyerahkan ponselnya pada Citra untuk ditransfer sejumlah uang. Di sana jarang orang bawa uang kontan karena pembayaran banyak dilakukan secara online.
Citra menatap Alvan tanpa berkata apapun. Citra hanya ingin tahu sampai di mana kepekaan Alvan pada kebaikan orang.
Alvan mengeluarkan ponsel transfer sejumlah uang tanpa tanya berapa harga sarapan mereka. Mungkin sedikit niat baik Alvan akan membantu Ayi renovasi toko yang sangat usang ini.
Citra mengembalikan ponsel pada Ayi sambil tersenyum puas. Otak suaminya belum berkarat masih bisa dipakai berpikir waras.
Ayi terkaget melihat uang yang masuk. Satu jumlah tidak masuk akal. Beberapa mangkuk air tahu dan beberapa potong cahkwe dihargai ratusan juta? Ayi mengucek mata tak percaya sampai lihat berkali-kali siapa tahu matanya rabun salah lihat.
"Ini..." Ayi menunjuk ponsel dengan bingung.
"Terima kasih Xiao Ci..." Ayi memeluk Citra dengan linangan air mata. Ada rasa bahagia terselip di hati Citra telah menemukan jalan terang. Alvan dengan gampang memberi sejumlah uang artinya laki itu mapan. Diberi uang bukan berarti Ayi telah berdamai dengan Alvan. Tetap ada rasa tak suka pada laki itu.
"Jaga diri Ayi! Kita pasti jumpa lagi! Cece akan sering kunjungi kamu karena dia masih di sini. Kami pamitan."
Ayi mengangguk lalu menatap Alvan belum bersahabat. Lewat tatapan mata Ayi mengancam Alvan agar tidak ulangi kesalahan sama terlantarkan anak isteri. Alvan yang tak paham hanya bergidik anggap emak ini ada kelainan jiwa.
Berenam mereka keluar berjalan kaki menuju ke rumah sakit. Jaraknya tidak jauh, cukup dengan jalan santai sudah tiba sana. Udara pagi masih sejuk belum terpapar sinar ultraviolet sang mentari maka perjalanan terasa adem.
Anak-anak sudah hafal jalan ke rumah sakit berlari riang. Gibran iri pada kehidupan keponakan yang demikian lepas tanpa beban. Mereka telah menemukan apa yang jadi milik mereka. Gibran masih terkatung-katung belum jelas. Gibran tak tahu apa dia dan ibu tirinya bisa hidup damai atau akan ada konflik. Semoga Afung bukan ibu tiri dalam dongeng jahatin anak suami.
Citra membagi masker sebelum masuk rumah sakit. Itu peraturan utama masuk rumah sakit. Masa pandemi gini tetap ada peraturan harus ditaati. Alvan melihat tempat kerja Citra dulu lumayan bonafide. Rumah sakit swasta cukup besar. Rumah sakitnya bersih dan teratur. Tak ada suara berisik karena semua patuh pada peraturan. Jujur di tanah air masih kalah soal kedisplinan.
Citra cari tahu tentang anak suster Ming dulu. Citra ingin bawa Alvan jumpai suster Ming agar tahu ke mana uang dalam jumlah besar yang dia minta kemarin. Alvan memang tidak tanya namun Citra mau Alvan tahu ke mana perginya uang itu.
Citra dapat info anak suster Ming sudah masuk ruang perawatan agar bisa dipantau waktu tepat dioperasi. Citra bergegas bawa keluarganya temui suster Ming yang telah ambil cuti untuk dampingi sang anak jelang operasi.
Anak suster di rawat di ruang kelas tiga berisi empat bed brankar khusus untuk anak kecil. Citra tak asing dengan lingkungan rumah sakit dengan cepat menemukan tempat anak suster Ming dirawat. Citra mengetok pintu walau pintunya memang terbuka. Ruang anak-anak pintu kamarnya memang terbuka tak ada privasi.
Di dalam berisi tiga pasien yang rata-rata seumuran anak suster Ming. Mereka semua pasti ada masalah di dalam organ tubuh. Anak-anak menderita kelainan akan di tempatkan satu kamar agar dokter yang kontrol kesehatan tidak perlu ke sana kemari cari yang mana pasiennya.
__ADS_1
Dua ibu-ibu dan satu lelaki kontan melihat ke arah pintu lihat siapa yang datang sepagi ini. Dokter tak mungkin datang sepagi ini karena mereka harus urus pasien rawat jalan dulu.
"Dokter Xiao Ci..." suster Ming segera hampiri Citra yang belum berani masuk karena di dalam bukan cuma anak Ming pasiennya. Orang tua anak lain belum tentu suka ada orang asing di dekat anak mereka yang sakit.
"Suster...gimana anakmu?" tanya Citra dalam bahasa lokal.
"Rencana lusa operasi. Kau mau tunggu?" suster Ming menggenggam tangan Citra penuh harapan Citra bisa berada di rumah sakit selama anaknya operasi.
"Besok aku balik. Aku kirim doa saja! Oya ..ini suami aku! Namanya Alvan!" Citra perkenalkan Alvan pada suster Ming.
Suster Ming tak sangka suami Citra sangat ganteng. Masih muda penuh kharisma. Sangat cocok bersanding dengan Citra walau tampak ada sedikit perbedaan umur.
Suster Ming membungkuk hormat pada Alvan karena bersedia jadi donatur untuk anaknya. Alvan terpana mendapatkan penghormatan demikian mulia dari seorang wanita. Suster Ming tidak kenakan baju seragam jadi dia sama saja dengan ibu lokal yang lain.
"Uang kemarin untuk bantu anak suster Ming. Anaknya punya kelainan jantung bawaan. Harus dioperasi jadi kuminta mas jadi dermawan." Citra buka suara jelaskan duduk perkara agar Alvan tidak bingung.
Sudah Alvan duga Citra bukan wanita boros foya-foya dengan uangnya. Maka dia tidak tanya apapun. Ternyata Citra sedang menebar kebaikan. Alvan makin bangga pada kebaikan hati Citra.
Alvan menggoyang tangan ingin katakan tak apa. Hanya itu yang bisa Alvan katakan lewat bahasa isyarat. Mau katakan lebih banyak juga tak bisa. Biarlah Citra yang jadi juru bicara!
"Jangan dipikirkan! Asal anakmu sehat kami ikut senang. Kalau sudah selesai operasi kabari aku ya! Kami pamitan dulu mau jumpa profesor. Jaga diri!"
"Terima kasih Dokter Xiao Ci!" sekali lagi suster Ming membungkuk beri hormat pada keluarga yang baik hati ini.
Citra menepuk bahu suster Ming lantas ajak anak-anak dan suami menuju ke tempat profesor. Jam gini profesor pasti ramai pasien. Citra tak punya banyak waktu terpaksa datang juga ke ruang praktek dokter senior itu.
Untunglah pasien belum ada seolah restui Citra beserta keluarga temui guru Citra itu. Citra mengetok pintu pelan sambil menyembulkan kepala menggoda lelaki tua itu.
Profesor angkat kepala lihat siapa yang demikian iseng goda orang tua.
"Ach ..Xiao Ci! Ayok masuk! Aku sengaja tak terima pasien pagi ini tahu kamu pasti datang."
"Jani harus tepati. Ini keluarga aku!" Citra menarik Alvan untuk masuk ke dalam.
Mata yang telah senja itu menatap Alvan dengan teliti. Dari ujung kepala hingga ujung sepatu tak luput dari incaran mata Profesor. Berulang kali mata tua itu jelajahi seluruh tubuh Alvan. Alvan seperti mangsa siap jadi santapan monster dahsyat. Sekali telan kontan remuk.
"Wah...suamimu ganteng! Bisa bahasa Mandarin?" ujar Profesor sambil tertawa.
"Nggak bisa pak! Ayo anak-anak salami profesor!" perintah Citra pada keempat anak itu.
"Yeye ni hao?(kakek apa kabar?)" sapa Azzam paling duluan baru disusul kedua adiknya dan Gibran. Gibran hanya bisa mengikut tak paham artinya.
"Wah kalian sudah besar! Sudah cantik dan ganteng. Masih rajin sekolah kan?"
Kompak ketiga anak itu angguk membuat sang profesor tertawa senang. Alvan bikin analisa anak-anaknya juga dekat dengan sang profesor. Profesor tampak sangat kenal mereka. Ini membuat Alvan duga Citra adalah sosok disayangi semua orang. Di mana pun dia tetap di terima dengan tangan terbuka.
__ADS_1
"Kami tak bisa lama di sini pak! Anak-anak minta jalan sebelum balik ke Indonesia. Semoga tahun depan kita jumpa lagi." kata Citra minta ijin bawa anak pergi jalan.