
"Siap komandan!" seru Tokcer dengan hati gembira. Sudah diduga Azzam sangat pintar tak ingin mengecewakan siapapun. Tidak pada Citra juga pada Alvan.
"Pak...mereka masih di stasiun kereta api. Ayo cepat kita susu mereka Pak! Koko kasih kode pada Andi agar segera menyusul sebelum mereka berangkat."
Alvan ingin sekali berteriak bahagia mendengar keberadaan anak istrinya. Tak ada waktu berpikir yang lain selain mengejar Citra dan anak-anak. Kali ini Alvan sengaja tidak membawa mobil karena merasa tidak mampu lagi menjalankan kendaraan. Seluruh badannya terasa kaku tak mampu bergerak lagi.
Tokcer dengan sigap menjalankan kendaraan menuju ke stasiun kereta api. Satu detik waktu terbuang adalah kekalahan mereka.
Dalam perjalanan menuju ke stasiun Alvan mengabari Heru bahwa Citra dan telah ditemukan dalam keadaan baik. Alvan juga menghentikan Untung mencari Citra.
Sebenarnya Alfan tidak ingin mengejutkan kedua orang tuanya dengan kepergian Citra. Namun Alfan harus mengabari mamanya bahwa Citra memilih pergi dari mereka. Alvan yakin sekali Citra pergi gara-gara mulut mamanya yang tidak bisa direm. Nyerocos sesuka hati sampai melukai hati kecil Citra. Belum apa-apa telah menanam rasa tidak suka di hati Citra pada mamanya. Bagaimana Citra bersedia tinggal bersama dengan orang yang selalu memusuhinya.
"Halo assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..."
"Papa sudah tidur?"
"Sudah setelah fisioterapi. Ada apa? Mengapa suaramu serak nak?"
"Ma..kalau boleh Alvan mau tanya kenapa mama tak suka pada Citra dan anak-anak."
"Mama suka kok pada anak-anak...mereka kan cucu mama! Cuma Mama tak suka Citra gunakan anak-anak merongrong kamu! Dia sudah pergi sekian lama ya kita anggap dia memilih pergi dari pada menjadi isterimu. Wanita model gitu apa masih pantas untukmu?"
"Mama telah salah menilai Citra. Dia sama sekali tidak menggunakan anak untuk menjerat aku justru aku yang berusaha masuk ke dalam hidupnya. Bertahun dengan susah payah dia membesarkan anak-anak tanpa meminta sepeserpun dari keluarga kita. Setelah anak-anak besar kita ingin mengambilnya begitu saja bukankah itu akan melukai hatinya."
"Alvan... kau tak tahu bagaimana liciknya seorang wanita yang hanya mendambakan materi? Kau lihat bagaimana si Karin itu! Dari dulu mama melarang kamu berhubungan dengan dia tapi kamu tidak dengar. Apa akibatnya sekarang? Dia mencoreng mukamu dengan tingkahnya yang sangat tidak pantas. Apa kamu akan memelihara wanita yang seperti itu satu lagi?"
Alvan menghela nafas tidak mengerti dalam pemikiran mamanya. Citra pergi bukan karena kemauan sendiri melainkan Alvan yang telah menalaknya wajar Citra pergi jauh karena sakit hati atas perlakuan tidak adil di masa lalu.
"Ma... kali ini Citra memilih pergi dari kita lagi ma! Citra tidak tertarik sedikitpun pada harta keluarga kita. kalau dia mau dia bisa mendapatkan dari keluarga Perkasa. Tetapi Citra juga tidak menginginkan harta dari keluarga orang itu karena dia telah memiliki harta yang lebih berharga dari harta di atas harta yakni anak-anaknya. Citra telah pergi membawa anak-anak. Mungkin sekarang mama puas mendengar berita ini. Citra akan segera menghilang dari depan mata mama."
"Apa maksudmu Citra pergi?"
"Mama asik menyinggung perasaannya maka dia memilih meninggalkan Alvan! Citra tidak butuh pengakuan dari keluarga kita. Dia bertahun hidup mandiri tanpa bantuan kita jadi apa yang hendak Mama tuntut dari dia?"
"Van... Mama tidak menuntut apa-apa dari dia selain anak-anaknya. Dia mau pergi pergi saja tapi tinggalkan anak-anak."
"Ya Allah ma!!! Kalau mama bilang begitu maka Alvan akan melepaskan hak asuh anak-anak kepada Citra biar mama puas. Seharusnya Mama tahu kita tidak berhak sama sekali menuntut anak-anak itu. Alvan menalak dia dalam keadaan hamil tetapi dia begitu sabar melahirkan anak-anak Alvan. Dasar apa Mama menuntut hak asuh anak-anak?"
"Kenapa kamu asik memojokkan mama Van? Baiklah.. Mama akan menceritakan Mama mengapa Mama tidak menyukai Citra. Sebelum kakekmu meninggal dia telah membuat surat warisan mewariskan setengah perusahaan kepada Citra dan anak-anaknya. Sekarang surat itu ada pada Pak Man. Andaikata anak-anak Citra berusia 17 tahun maka seluruh warisan akan diserahkan kepada Citra. Bukankah Citra sangat pintar mempengaruhi kakek Wira mewariskan setengah perusahaan kepadanya?"
Alfan tertegun mendengar kabar ini. Baru hari ini Alfan tahu kalau kakek telah mewariskan setengah perusahaan kepada Citra dan anak-anaknya. Tetapi Citra sendiri tidak pernah bertanya soal warisan. Mungkinkah ini hanya warisan kakek tanpa sepengetahuan Citra? Kalau ini benar Citra tidak dapat disalahkan sama sekali. Kalau Citra wanita jahat pasti sudah akan menuntut haknya sebagai pewaris yang mempunyai posisi sama dengan Alvan. Citra adem ayem mencari uang untuk membiayai hidup kedua anaknya.
"Alvan rasa Citra tidak mengetahui hal ini. Selama bersama Alvan tidak pernah sekalipun dia mengungkit soal harta warisan bahkan dia banting tulang untuk membesarkan anaknya dengan uangnya sendiri. Seharusnya Mama bertanya pada Pak Man mengenai warisan ini. Jangan menyalakan Citra dulu!"
__ADS_1
"Kenapa kau tidak tanya sendiri biar tahu betapa busuk Citra. Citra itu sama saja dengan Karin. Wanita di sampingmu semua rubah licik."
"Baik...sekarang Alvan mencari Citra dulu! Alvan jamin dia tidak akan muncul di hadapan mama lagi biar mama merasa tenang hartanya dicuri Citra."
"Lalu anak-anak?"
"Itu anaknya! Pasti ikut dia! Alvan sudah banyak berbuat salah pada Citra. Ini waktunya Alfan menembus semua kesalahan Alvan di masa lalu."
"Nggak bisa gitu dong! Kau ini tak bisa punya anak. Lalu siapa pewaris kita?"
"Bukankah mama takut kehilangan harta? Untuk apa pewaris? Kita sumbang saja ke yayasan bila sudah waktunya. Mama pikir sendiri apa kesalahan mama. Alvan cari Citra dulu! Assalamualaikum."
Alvan menutup ponsel dengan hati gemas. Mau cucu tapi takut hilang harta. Cepat atau lambat seluruh warisan akan jatuh ke tangan Azzam dan kedua adiknya. Namun dengar ada berita setengah perusahaan diwariskan kepada Citra dan anak-anak mamanya langsung bereaksi. Seolah Citra memang telah merebut harta warisan.
Sesampai di stasiun yang penuh dengan sesak lautan manusia yang hendak berangkat maupun yang tiba. Tokcer dan Bonar mengedarkan pandangan ke segala arah untuk mencari keberadaan ketiga orang kesayangan bos mereka.
Alvan tidak kalah sibuk memasang mata lebih jeli untuk menangkap sosok anak dan istrinya. Namun sayang bayangan mereka tidak nampak sama sekali di stasiun kereta api. Mau tak mau Alvan menjadi panik.
Tokcer cerdik coba teleponi Azzam minta petunjuk. Anak itu telah beri kode tak ingin pergi namun tak kuasa melawan perintah sang mami terpaksa diam.
Telepon Azzam tak diangkat cuma Tokcer dapat SMS singkat dari Azzam.
\=Dalam kereta api. Gerbong VIP\=
Tokcer perlihatkan SMS Azzam di hpnya yang warna ntah hitam ntah abu-abu. Layar hitam putih nyaris tak tampak tulisan. Masih untung Tokcer ngerti isyarat Azzam.
"Bonar...tolong kasih tahu masinis agar jangan jalankan kereta! Katakan apa adanya!" perintah Alvan pada Bonar sebelum menyusul Tokcer. Alvan takut tiba-tiba kereta melaju bila penumpang telah naik semua. Sia-sia usaha mereka mengejar Citra.
Tokcer duluan menemukan Citra dan kedua anaknya. Azzam tersenyum tipis senang Alvan berhasil mengejar mereka. Azzam kini makin paham posisi papinya yang serba salah.
Azzam mulai iba pada papinya yang tidak henti dirundung oleh berbagai masalah. Baru saja tersenyum bahagia bersama maminya sekarang tertimpa bencana lagi.
Citra langsung loyo begitu melihat kehadiran Tokcer. Ada Tokcer pasti ada Alvan. Sia-sia rencananya ingin pergi jauh dari keluarga yang membuat kepalanya makin pusing. Menemukan keluarga bukannya membuat Citra bahagia malah membuat Citra dilanda dilema.
"Sayang...mengapa kau pergi?" Seru Alvan tanpa malu-malu walau diperhatikan oleh puluhan pasang mata.
Alvan segera mendekati Citra dan mengangkat Afifa dari tempat duduk. Mengamankan Afifa duluan pasti akan menahan langkah Citra. Citra tak mungkin pergi tanpa anaknya.
Citra lama membeku tidak menjawab pertanyaan Alvan. Alvan tidak tahu bagaimana sedihnya Citra anaknya dihina oleh Mama Alvan. Entah apa yang ada di benak Ibu Dewi sehingga tega menghujat cucu sendiri. Itu yang membuat Citra tidak bisa menahan diri untuk meninggalkan keluarga Lingga.
"Papi...Amei mau jalan-jalan naik kereta api. Papi mau ikut?" tanya Afifa yang tidak menyadari sesuatu telah terjadi di dalam keluarga. Afifa tidak secerdik Azzam sehingga senang saja diajak jalan-jalan oleh Citra. Beda dengan Azzam yang lebih ngerti keadaan.
"Papi ikut ke manapun kalian pergi! Kita ke tempat di mana kalian pergi! Tok...kau pulanglah! Aku akan pergi ikut kakak kalian! Bilang sama Untung tangani kasus Selvia dan urus semua tugas perusahaan. Aku lepaskan semuanya!" Alvan memilih ikut Citra pergi kemanapun dia mau. Alvan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.
"Tapi pak...gimana perusahaan tanpa bapak?" Tokcer bingung dapat perintah aneh. Alvan melepaskan satu perusahaan raksasa demi keluarga. Perusahaan pasti akan runtuh.
__ADS_1
"Apa artinya perusahaan tanpa keluargaku? Aku pilih keluarga. Tolong kalian jaga perusahaan dan kedua orang tuaku?"
"Pak...ini..." Tokcer melirik Citra yang masih tak bergeming.
Azzam mencolek Citra agar beri reaksi. Andai Alvan benar tinggalkan kemewahan demi mereka patut dapat acung jempol. Tapi menurut Azzam itu konyol. Perusahaan yang telah berdiri puluhan tahun hancur karena seorang wanita. Apa Alvan tidak malu pada pendiri perusahaan?
"Mi...kita pulang!" Azzam akhirnya mengeluarkan suara mengajak Citra pulang. Pergi tanpa menyelesaikan masalah sama aja menerobos hujan tanpa membawa payung hasilnya tetap basah.
Citra menatap mata Azzam yang berkilat menahan air mata. Kali ini Azzam membela Alvan yang belum tentu bersalah. Azzam bukan anak berotak bebal tak paham situasi.
Citra bangkit meninggalkan tempat mereka baru saja duduk. Wanita itu berjalan keluar dari kereta. Alvan tersenyum pada Azzam dengan tatapan terima kasih.
"Bawa koper nyonyamu! Kita pulang!" kata Alvan pada Tokcer. Tokcer bergerak sigap mengambil bagasi bini majikannya. Dalam hati Tokcer bersyukur Citra tidak jadi pergi.
Bisa dibayangkan betapa kacau hidup Alvan tanpa Citra. Alvan telah menyerahkan seluruh hidupnya kepada keluarganya. Citra dan anak-anaknya adalah segala-galanya bagi Alvan.
Bonar ikut lega melihat keluarga bosnya kembali utuh. Alvan menggendong Afifa sementara Citra dan Azzam berjalan di depan dahului Alvan. Paling buntut Tokcer menyeret dua koper menuju ke parkiran. Bonar tahu diri membantu Tokcer urus koper majikannya.
Mereka segera naik ke dalam mobil tanpa bersuara. Wajah Citra masih tidak memperlihatkan persahabatan. Alvan tidak berani mengusik ketenangan Citra saat ini. Tidak usah ditanya Alfan telah menemukan jawaban mengapa Citra mendadak pergi.
"Malam ini kita tidak usah pulang ke rumah! Kita nginap saja di hotel. Antar kami ke hotel J!" perintah Alvan kepada Tokcer tanpa minta persetujuan Citra.
"Siap pak!"
"Kalian juga boleh nginep di situ untuk ngawasin anak-anak."
Tokcer dan Bonar saling berpandangan penuh arti. Siapa tidak kenal hotel J yang terkenal sangat mewah. Tarif nginap di sana bisa mencapai jutaan. Tarif nginap semalam bisa jadi uang makan mereka berbulan-bulan.
Bonar memberi tanda jempol di bawah kaki namun dilihat Tokcer. Rezeki anak Soleh. Ikut kerja dengan Alvan menaikkan derajat mereka. Dari gembel jadi orang kaya walau hanya numpang.
Tokcer mengarahkan mobil ke hotel mewah ternama di kota. Hotel terdiri tiga puluh lantai itu tampak kokoh di mata Tokcer dan Bonar. Seumur hidup baru masuk ke hotel semahal ini. Jangankan masuk! Disuruh nginap bersama majikan lagi.
Alvan tetap menggendong Afifa masuk disambut ramah oleh penjaga pintu masuk hotel. Alvan langsung menuju ke resepsionis untuk mendaftarkan kehadiran mereka. Alvan meminta dua kamar suite room yang paling mewah untuk keluarganya dan Tokcer cs.
Alvan ingin berterima kasih kepada Tokcer yang kedua kawannya maka sengaja memesan kamar untuk mereka juga. Alvan yakin Tokcer akan memanggil Andi untuk bergabung dengan mereka. Alvan tidak masalahkan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membalas budi baik para pegawainya.
"Silahkan pak Alvan! Bapak dan keluarga ditempatkan di lantai dua puluh delapan." penjaga resepsionis memberi dua buah kartu pada Alvan tanpa melalui pendaftaran. Alvan hanya mengeluarkan tanda pengenal pada cewek cantik di depan meja resepsionis.
Tokcer dan Bonar tak henti kagum pada kemewahan hotel yang menguras biaya hidup berbulan bila nginap di situ. Di lobi hotel seliweran bule aneka model. Rata-rata jangkung berpenampilan rapi. Dari bentuk tampilan sudah dijamin dari kalangan kantong tebal.
"Ssssttt...telepon Tante Andi agar ke sini! Kalau kalian tinggalkan Kujamin hidup kalian akan makin singkat." bisik Azzam sebelum mereka naik ke atas di mana tempat mereka akan nginap.
"Kau benar...Suruh dia bawa pakaian bersih biar tidak malu. Kita mandi air pancuran nanti!" sahut Bonar mulai norak.
"Kalau kita tinggalkan dia bisa mati gantung diri dia! Manusia norak gitu nolak diajak sini? Rugi hidup!"
__ADS_1
Azzam dan Bonar tertawa cekikan dengar kata Tokcer. Azzam lega Citra mulai jinak dapat sogokan nginap di tempat mewah.