ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Pak Jono Kolaps


__ADS_3

Citra dan Alvan saling berpandangan merasa tak enak hati. Afisa hanya datang berlibur dua hari dapat sambutan tak menyenangkan. Kesan pertama telah melukai perasaan gadis muda itu. Kelihatannya keluarga Lingga akan semakin menjauh dari Citra dan anak-anak.


"Kalian harus tinggal di sini karena kalian adalah anaknya anakku! Aku ini Oma kalian! Kalian harus patuh pada orang tua. Kalian pikir dari mana kalian kalau bukan bagian dari papi kalian!"


Azzam dan Afisa kontan berdiri mendengar keangkuhan orang yang disebut Oma. Dasarnya kedua anak ini memang tak suka pada keluarga papinya, kalimat Bu Dewi sok berkuasa menusuk jantung keduanya.


"Oma...kami memang anak dari Alvan Lingga tapi bukan berarti bisa berdiri di atas kepala kami. Kami besar di bawahan asuhan mami kami, kalau memang keluarga Lingga yang terhormat merasa berhak di mana kalian sama delapan tahun ini?" Giliran Azzam bersuara. Azzam merasa dia yang berhak bicara karena dia anak sulung.


"Hei...kalian ini monster atau anak kecil? Bicara tidak sopan pada orang tua. Dalam darah kalian mengalir darah Lingga jadi patuhi peraturan keluarga ini." bentak Bu Dewi makin gila.


"Baik...sekarang tanya pada anak kalian yang bernama Alvan Lingga? Apa yang dia lakukan selama delapan tahun ini? Pernahkah memberi kami sehelai kaos untuk lindungi kami dari dingin malam hari? Pernahkah memberi kami segelas susu hangat di kala kami kedinginan di malam hari? Tidak bukan? Mengakui darah kami ada darah Lingga itu gampang. Kami bertiga belum pernah minum segelas susu dari Lingga." Azzam menggenggam tangan Afisa agar amarahnya tidak naik ke kepala.


Andi dan Tokcer menyaksikan bagaimana licin anak Citra. Kalau katakan kalimat ini keluar dari anak seumur delapan tahun tak ada yang percaya. Suasana memanas gara-gara Bu Dewi tidak bijak terhadap Citra dan anak-anak.


"Zam...tak baik omong gitu sama Oma! Ayok duduk!" pinta Alvan mendinginkan Azzam. Alvan yakin Bu Dewi akan makin tersudut bila dia jagoannya bergabung serang si orang tua. Ini bukan salah Azzam maupun Afisa. Bu Dewi yang sok hebat merasa bisa berkuasa atas anak Alvan.


Tak tahu anak Citra mirip landak kecil berduri lancip. Diserang langsung beri balasan mengerikan.


"Maaf Pi...Koko tak ijin siapapun mengecilkan nilai mami!" lirih Azzam masih hormati Alvan sebagai papi.


"Papi tahu ..kalian duduklah! Biar papi yang bicara."


"Iya Pi..." Azzam patuh menarik Afisa duduk kembali. Afifa hanya bengong lihat kedua saudaranya adu mulut dengan Oma mereka. Tak ada suara menggelegar dari anak Citra namun pedih di kuping.


"Pa...ma... Azzam dan kedua adiknya memang anak Alvan tapi bukan berarti kita bisa dokter mereka. Citra dengan susah payah besarkan mereka tanpa bantuan Alvan. Kalau dikatakan kita tidak berhak atas anak-anak itu harus kita terima. Citra besarkan anak-anak dengan hasil keringat sendiri, dasar apa kita memaksa mereka. Diakui sebagai orang tua Alvan sudah bersyukur. Sudah cukup menyulitkan Citra. Atau kami sekeluarga pergi jauh merantau cari kebahagiaan kami! Itu yang mama minta?" Alvan tak dapat menahan diri lagi untuk berdiam diri biarkan Bu Dewi semena-mena pada Citra.


"Alvan...ngomong apa kamu? Ini rumahmu..rumah Citra dan anak-anak. Sudah ..jangan diteruskan! Papa mau muntah lihat kalian asyik berdebat!"


Citra menoleh ke pak Jono yang tampak pucat. Citra segera memeriksa denyut nadi mertuanya. Detaknya terlalu cepat tanda ada yang tak beres. Citra tidak bawa stetoskop tak dapat memeriksa mertuanya lebih detail. Citra hanya menduga pak Jono tensi darahnya sedang meningkat.


"Kasih minum dikit kita ke rumah sakit. Tensi papa meningkat. Ayok segera ke rumah sakit sebelum serangan kedua gejala stroke!" Citra beri aba-aba pada Alvan untuk antar pak Jono ke rumah sakit.


Rencana tadi memang mau ke rumah sakit. Tertunda karena kehadiran Afisa. Pertemuan yang seharusnya jadi moments indah berubah jadi kacau hanya karena keegoisan Bu Dewi tidak suka pada Citra.


Bu Dewi memucat lihat kondisi suaminya drop berkat keegoisannya. Bu Dewi berniat singkirkan Citra lalu ambil alih hak asuh anak-anak. Wanita ini pikir pakai kekuasaan Lingga bisa tekan Citra tunduk pada permintaan Bu Dewi.


Tanpa Citra di samping Alvan pasti akan menyerah dan membebaskan saudaranya. Dapat menantu impian juga cucu-cucu cantik. Sempurna lah rencana rancangan Bu Dewi.

__ADS_1


Semua mengantar Pak Jono ke rumah sakit. Afisa yang baru datang bukannya nikmati liburan bersama saudara kembar tapi menyaksikan tragedi menyedihkan. Maminya tidak dihargai di keluarga papinya. Apa guna maminya terima papi tak punya gigi taring. Tunduk pada macan tua bergigi palsu. Afisa makin yakin ajak Citra dan kedua saudaranya ikuti jejaknya tinggal di luar negeri. Penghasilan Afisa lumayan untuk biayai kehidupan mereka di Tiongkok. Untuk apa menahan perasaan dihina oleh keluarga sendiri.


Citra turun tangan sendiri mengobati mertuanya. Citra lebih yakin tangani kesehatan pak Jono dengan tangan sendiri. Untunglah pak Jono cepat tertolong sebelum darahnya mencapai titik berbahaya. Darah Pak Jono cepat distabilkan sebelum terserang stroke gelombang kedua.


Azzam dan kedua adiknya menanti di luar ruang perawatan. Alvan dan jagoan Neon dampingi ketiga bocah itu menanti kabar perkembangan kesehatan pak Jono. Bu Dewi mondar mandir di depan ruang penangan takut terjadi sesuatu pada suaminya. Bu Dewi akan menyesal bila terjadi sesuatu pada Pak Jono. Dia memang salah telah sok ego tanpa peduli perasaan orang lain.


"Ce..." panggil Azzam menarik perhatian Afisa.


Afisa membalikkan wajah ke arah Azzam seraya tersenyum. Senyum Afisa sangat maut akan menjadi pembunuh para pria hidung belang di kemudian hari.


"Mari sini! Ada apa mau Koko bilang. Kita bicara di sana yok!" Azzam menunjuk tempat agak sudut tanpa pengunjung lain. Entah rahasia apa akan dikatakan Azzam kepada Afisa. Afisa paham maksud Azzam segera angkat badan bergerak ke tempat dimaksud Azzam.


Alvan dan Afifa hanya memandangi kedua kakak beradik itu melangkah menjauhi mereka. Alvan merasa sangat takjub pada kedua anaknya itu. Kecil-kecil tapi akalnya panjang sekali. Terutama Afisa yang bicaranya kayak seorang filsuf. Menasehati ujung-ujungnya menyindir.


Azzam memberi tempat pada Afisa di sampingnya. Kedua persis dua orang dewasa sedang bermusyawarah kasus besar. Dari tampang jelas anak kecil namun isi otak titisan profesor.


"Ada apa ko?" tanya Afisa setelah berduaan.


"Koko minta maaf ya! Kamu datang tapi sambutan sangat mengerikan."


Afisa menggeleng tidak menyalahkan Azzam. Semua terjadi toh bukan kesalahan Azzam. Mereka ini hanyalah korban masa lalu.


"Oma memang menyebalkan tetapi Opa dan Papi sangat baik. Papi memang pernah bersalah pada kita tetapi dia berusaha menebusnya. Hidup Papi juga tidak mudah. Dulu koko juga sangat membenci Papi tapi setelah melalui hari-hari panjang Koko mulai memahami Papi. Papi itu dasarnya baik dan penyayang." Azzam berusaha membuka hati Afisa agar menerima Alvan. Alvan berhak mendapat kesempatan kedua. Lelaki itu telah berusaha menebus kesalahannya dengan berbuat apapun demi kebahagiaan Citra dan anak-anak.


"Maaf ko! Cece telah mengambil keputusan akan membawa kalian pulang ke Beijing. Cece telah mendapat rumah dari pemerintah walaupun tidak terlalu mewah. Cukuplah untuk kita berempat!"


Azzam menghela nafas karena tahu Afisa terlanjur ilfil pada keluarga Lingga. Hati Afisa jauh lebih keras daripada Azzam. Sangat tidak mudah meluluhkan hati Afisa untuk melihat sisi baik Alvan.


"Ce..masih banyak misteri dalam hidup mami. Cece tahu nggak kalau kita mempunyai keluarga lain selain keluarga Papi. Mereka adalah keluarga dari sebelah mami kita. Mereka sangat baik dan penyayang. Kita mempunyai seorang Om yang sangat lucu dan baik sekali namanya Om Gi. Dia sangat sayang pada Afifa."


Afisa terbengong mendengar cerita Azzam. Dari mana muncul kisah baru di dalam hidup mereka. Setahu Afisa mereka hidup berempat tanpa sanak keluarga. Baru saja muncul keluarga Lingga dan sekarang muncul lagi keluarga baru. Mau tak mau menjadi pusing tujuh keliling.


"Kok menjadi ribet ko? Muncul orang-orang baru di sekeliling kita membuat Cece jadi bingung."


"Sekarang Cece jangan ambil keputusan dulu! Jumpai keluarga baru kita dulu baru ambil langkah terbaik. Koko akan dukung bila semua alasanmu tepat. Amei tidak mungkin dipisahkan dari papi. Kita harus jaga perasaan Amei. Lihat tuh dia sangat bangga punya papi Alvan!"


Kedua anak Alvan menancapkan mata ke arah Afifa yang bergelayut manja pada Alvan. Bagaimana jadinya kalau Afifa harus pergi jauh dari papinya. Ini akan jadi pr baru buat Afisa.

__ADS_1


"Ajak papi kalian ke sana! Apa Koko tak lihat Oma yang kayak barongsai kena siram minyak panas? Sembur api panas mau bakar kita."


"Koko juga tidak ngerti mengapa Oma itu benci pada kita padahal kita tak pernah nyusahin beliau. Gini saja! Cece coba bicara dengan papi dulu baru pikirkan hari depan. Kalau kita tekan papi untuk kesalahan Oma tentu tidak adil bagi papi."


Afisa setuju ide Azzam. Dia harus bicara empat mata dengan Alvan. Afisa merasa bertanggung jawab pada Citra dan kedua saudaranya padahal dia sendiri tak lebih seorang anak kecil baru tumbuh.


"Baiklah ko! Cece akan coba dengar alasan papi. Tapi yang pasti Cece tak mungkin tinggal di sini karena papa dan mama tak ada yang jaga. Mereka juga butuh Cece."


Mata Azzam berubah sayu mendengar ketegasan Afisa. Gadis cantik ini terang-terangan mengatakan bahwa dia tidak akan tinggal di tanah air. Afisa juga menjaga perasaan kedua orang tua angkatnya di Beijing.


Harapan untuk berkumpul bersama hingga dewasa pupus sudah dari angan Azzam. Afisa sudah ambil keputusan akan melanjutkan hidup di negeri tirai bambu itu. Azzam harus hormati keputusan Afisa walau dalam hati masih ada ganjalan. Mereka kembar tapi harus cerai berai.


"Koko harap Cece jangan langsung ambil keputusan begitu! Cobalah berbincang dengan Papi dan mami dulu!"


Afisa memahami perasaan Azzam ingin Afisa mengenal papi mereka lebih dekat. Apapun itu takkan pengaruhi keputusan Afisa melanjutkan karier di negeri orang. Di sana atlet lebih mendapat penghargaan. Jaminan hidup tua telah ditetapkan begitu Afisa bersedia mengabdi untuk negara.


Alvan perhatikan kedua anaknya dari jauh. Keduanya berbincang serius seperti orang tua sedang membahas satu keputusan besar. Alvan heran mengapa dia bisa menurunkan anak-anak yang otaknya melebihi otak anak lain. Kedua anak itu tak pantas disebut anak-anak malahan lebih pantas disebut anak terlalu cepat tua.


Setelah puas ngobrol keduanya kembali bergabung dengan Afifa dan Alvan. Keduanya bergandengan mesra layak anak kecil lain mendapat teman sehati. Azzam lebih tinggi sedikit dari Afisa. Kedua cocok disebut anak kembar, sedang Afifa asing sendiri. Beda jauh dari kedua kakak kembarnya.


"Serius sekali...melepas rindu ya?" tegur Alvan ramah. Alvan mana berani bicara kasar pada Afisa. Gadis kecil itu telah terlanjur ilfil pada keluarganya. Andai Alvan tambah setelan tinggi maka keadaan akan makin runyam.


"Oh cuma ngobrol biasa Pi! Lama tidak jumpa jadi kangen." sahut Azzam cepat sebelum Afisa sembur kalimat tidak menyenangkan.


"Gitu ya! Besok kita pergi jalan-jalan sebelum Afisa balik ke Singapura. Papi yang akan Afisa balik ke sana."


"Tidak perlu. Cukup antar sampai bandara. Cece sudah sering bepergian bersama anggota senam tanpa pengawalan. Kita harus mandiri agar tidak harus tunduk pada arahan orang lain. Kita harus punya prinsip. Apalagi seorang lelaki, setiap langkah harus kita hitung sendiri. Jangan harap digandeng orang baru bisa jalan." ujar Afisa berkata dengan pijaran mata setajam sembilu.


Azzam menarik nafas. Ternyata Afisa sudah tidak sabar untuk kritik Alvan yang dia anggap lemah. Tidak berani bersikap sebagai lelaki jantan. Semua masih harus dikontrol oleh orang tua. Habislah harga Alvan di mata Afisa.


Alvan bukan tak tahu Afisa sedang arahkan ujung tombak ke dadanya. Menikam dengan sekali gerakan.


"Sayang...lelaki sejati harus pandai menjaga orang sekeliling juga. Bukan hanya karena emosi kita lupakan jasa orang telah mengandeng kita sewaktu kita belajar merangkak, belajar berjalan. Jangan sudah pintar jalan kita tinggalkan orang telah menanam Budi pada kita! Itu justru bukan sikap lelaki sejati." Alvan berbalik ajar Afisa agar tidak pentingkan ego sendiri.


Alvan tak mungkin melupakan jasa kedua orang tuanya walau Bu Dewi telah lewat batas menginjak kepala Citra. Alvan harus pandai bersikap merangkul semuanya agar hidup damai.


Azzam setuju dengan kata-kata Alvan. Alvan sedang menunjukkan bakti pada orang tua yang besarkan mereka. Argumentasi Afisa tidak salah dan dalil Alvan juga tidak salah.

__ADS_1


"Dalam hal berbakti tidak ada yang salah. Orang tua adalah kiblat kita. Tetaplah lakukan sholat tanpa lupakan kiblat. Bersholat itu kewajiban tapi kadang lihatlah apa kiblat kita tepat arah tidak? Kalau melenceng perbaikilah ke arah tepat." timpal Azzam.


__ADS_2