ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Papi Idaman


__ADS_3

Azzam benar tak ingin Alvan merebut perhatian Citra dan Afifa. Azzam merasa Alvan tidak pantas bersanding dengan mamanya lagi. Melepaskan seorang wanita dalam keadaan hamil bukanlah sikap kesatria. Alvan bukan kesatria itu. Alvan telah melewatkan kesempatan menjadi suami dan bapak baik. Azzam akan pikul semua beban menjadi kepala keluarga. Maka itu Azzam belajar dengan baik agar bisa membanggakan Citra.


Sekecil gitu Azzam sudah punya jalan pikir sangat jauh. Tidak disangsikan kelak Azzam akan menjadi tumpuan harapan Citra. Doakan Azzam tetap menjadi tumpuan yang berguna kelak.


Alvan berada di rumah Citra hingga malam. Setelah makan malam Alvan baru pulang. Niat hati ingin tinggal di situ namun Citra bersikeras tak ijinkan Alvan berada di situ untuk hindari gunjingan tetangga. Semua tahu Citra janda beranak tiga. Tidak pernah ada seorang laki datang ke rumah itu selain Andi. Andi langganan abadi singgah di rumah Citra. Seluruh warga komplek tak ada yang open Andi bertandang ke rumah Citra. Siapa tak tahu Andi laki bertulang lunak. Tubuh pejantan jiwa feminim.


Afifa manyun sewaktu Alvan pamit hendak pulang. Gadis kecil Alvan tak rela papinya pergi. Sehari bersama Alvan terasa sangat indah. Punya papi ganteng membuat hati Afifa berbunga. Besok ke sekolah dia sudah bisa banggakan papinya pada teman sekelas. Afifa punya bahan cerita main boneka dengan sang papi. Sejuta kisah indah tersusun di benak Afifa untuk diceritakan pada teman satu sekolah.


Alvan pulang ke rumah yang makin dingin. Rumah itu hilang pamor sejak Karin berubah liar. Tak ada lagi tawa canda hiasi setiap sudut rumah. Cahaya kemilau tahun-tahun lalu telah padam. Tersisa hanya kekelaman menutup aura keluarga itu. Seharusnya Alvan bahagia berhasil perjuangkan Karin. Mengapa terakhir yang dia dapat hanya zonk. Justru orang yang dia sakiti hidup bahagia walau tanpa segudang harta. Citra berhasil menata hidupnya. Alvan yang hancur.


Alvan tidur sendirian dihiasi kesepian. Beginilah nasib orang angkuh! Selalu merasa yang terbaik. Buntutnya kena adzab Allah karena berkhianat. Sekarang dia dikhianati. Impas sudah sakit hati Citra. Alvan tidur memeluk penyesalan. Makan tuh rasa sesal sampai kenyang.


Seperti biasa Citra sibuk urus kedua anaknya bersiap pergi sekolah. Afifa sudah fit siap kembali berkutat dengan ratusan kalimat dan puluhan angka hitungan. Afifa tak sepintar Azzam. Namun kemauan Afifa belajar jauh lebih tinggi dari Azzam. Afifa sadar dia tak sepintar Azzam maka harus dua kali lipat rajin. Untuk mencapai hasil maksimal harus ada kemauan. Afifa ingin kejar Azzam menjadi murid berprestasi maka tak boleh kendor. Afifa akan genjot terus untuk capai prestasi setara Azzam.


Alvan datang pagi sekali tepati janji pada Afifa antar dia ke sekolah. Alvan datang pas sewaktu keluarga kecil Citra sedang sarapan pagi. Makanan sederhana menguatkan badan untuk bisa beraktifitas full seharian.


Citra sudah menduga Alvan takkan lewatkan kesempatan hari pertama Afifa ke sekolah setelah bolos berapa hari karena sakit. Andai Alvan ingkar lagi makin tamat riwayatnya dibully Azzam.


Azzam diam saja tatkala lihat Alvan datang bayar janji. Tak ada komentar dari mulut si lajang selain menyendok nasi gurih Made in Citra. Semua godokan Citra selalu enak di lidah Azzam.


Alvan tanpa malu minta sarapan bersama anak-anak. Laki ini sengaja tidak sarapan dari rumah bertujuan makan masakan Citra. Bertahun missed masakan Citra kini ada kesempatan ulang kenangan yang membekas di otak.


Afifa berbinar jumpa Alvan pagi ini. Wajah cantik Afifa makin cantik berseri diantar papi impian. Pagi ini semua serasa sempurna bagi penghuni hunian sederhana ini.


Citra merasa terbantu Alvan bersedia antar anak-anak ke sekolah. Dengan demikian dia tak perlu bolak balik antar kedua anaknya.


Citra sangat berterima kasih pada Alvan. Punya teman seperjuangan merawat anak-anak ternyata meringankan bahu. Beban Citra sedikit berkurang hari ini. Dia bisa cepat berangkat kerja.


"Biar kuantar sekalian ke rumah sakit?" tawar Alvan setelah Azzam dan Afifa berada dalam mobil. Muka Azzam berkerut mirip jeruk purut baru dipetik. Untung Azzam ganteng. Coba kalau bertampang pas-pasan! Bisa dibayangkan gimana bentuk wajah lajang itu. Tentu tak jauh dari kata menyeramkan.


"Tidak usah! Aku terbiasa naik motor. Lebih leluasa pulang pergi. Oya...apa tidak ajak Andi sekalian? Dia kan akan kerja di perusahaan?" Citra ingat Andi yang dari semalam gelisah. Andi galau tak bisa tidur saling bahagia bisa kerja di kantor Alvan. Jangan jadi pegawai kantoran! Jadi cleaning servis maupun office boy juga tak masalah. Yang penting kerja halal.


Alvan menepuk jidat teringat pada Andi. Alvan nyaris melupakan Andi saking senang bisa bertugas perdana antar buah hati ke sekolah. Dia sendiri menjanjikan kerja buat Andi, sekarang dia lupa.


"Panggil Andi biar bareng." Alvan merasa tak salah ajak Andi yang telah berjasa menjaga anaknya selama ini. Andi menebar kasih sayang maka Alvan menebar kebajikan memberi peluang pada Andi menjadi manusia berguna. Bukan parasit menempel pada orang tua.


Citra bukan Tarzan kota memanggil pakai panggilan khas rimba. Suara halus Citra tak cocok dipakai berteriak ala Tarzan. Takkan disambut kuping Andi yang rada pekak. Jalan tikus pakai ponsel, cepat tepat multiguna.


"Halo assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam...ada apa mbak? Andi lagi persiapkan mental berangkat ke kantor pak Alvan."

__ADS_1


"Telat...pak Alvan sudah di sini tunggu kamu! Cepetan sini berangkat bareng!"


"Emang boleh?"


"Kenapa tidak? Cepat...ntar adik-adik telat ke sekolah!" Citra membentak Andi yang telmi. Telat mikir.


"Iya siap Bu dokter! Segera!"


Citra tersenyum lihat Andi langsung keluar dengan pakaian rapi. Kemeja warna abu dan celana hitam. Baru kali ini Citra melihat Andi berpakaian secara benar. Biasa suka asalan. Kadang pakai daster wanita. Andi ada sedikit kelainan jiwa. Jiwa Andi dominan gen wanita terjebak di tubuh cowok. Semoga Alvan punya cara kembalikan Andi pada harfiah seorang lelaki.


Azzam dan Afifa tergelak-gelak merasa lucu Andi berdandan ala cowok tulen. Keduanya merasa itu bukan Andi teman main mereka. Andi berubah menjadi sosok lain bikin kedua kurcaci itu pangling.


"Kak Andi ya?" olok Azzam mengulum senyum.


"Bukan...pocong bangun kesiangan! Eh...racun! Tak bosan ya ganggu kak Andi!" kata Andi ngambek.


"Kak Andi ganteng sih! Cowok ya harus gitu! Ntar pulang sekolah kita bakar baju neng geulis kak Andi! Biar tidak teringat pada baju cewek lagi."


"Huusss...mau disate Tante Nadine? Itu bajunya!" Andi masih berdiri di luar mobil ngobrol santai dengan Azzam.


"Andi...masuk! Kita bisa telat kena macet! Ngobrol nanti di rumah!" Alvan tak sabar dengar obrolan tak bermutu antara Andi dan Azzam. Satu hari ngobrol takkan kelar bila bahas sisi jiwa feminim Andi. Andi terlalu mendalam jiwai karakter cewek.


Alvan mengitari mobil buka pintu sebelah kanan khusus buat pengemudi. Keempat penumpang mobil mewah produk tahun tinggi siap meluncur. Azzam dan Afifa melambai sopan pada Citra. Citra mengantar kepergian orang-orang dekatnya dengan doa dan seulas senyum damai.


Alvan bunyikan klakson baru melaju meninggalkan Citra. Suasana kembali hening. Keramaian sesaat berakhir karena semua menjalankan aktifitas masing-masing. Citra juga harus balik rumah sakit jalankan tugas sebagai dokter. Puluhan pasien sudah antri menanti kehadiran dokter ramah itu.


Citra memeriksa pintu rumah sebelum tinggalkan rumah. Waspada lebih baik dari pada menyesal nanti. Biasa Citra bisa mengandalkan Andi awasi rumah. Berhubung cowok jadian itu sudah mulai bekerja Citra tak punya hansip setia lagi.


Citra kunci pintu pagar baru berangkat ke rumah sakit dengan hati lega. Motor matic setia Citra melaju meninggalkan rumah menuju ke tempat dia bertugas. Hari ini pasien model apa akan dia temui. Semoga tak ada lagi pasien senakal pak Heru. Sudah tua namun songong. Sok imut cari perhatian. Citra tak suka pasien tak patuh model Pak Heru. Mentang-mentang kaya bisa berbuat seenak perut. Dokter juga punya emosi.


Citra parkirkan motor di tempat biasa dia parkir. Satpam di parkiran sudah hafal kebiasaan Citra tempati posisi itu. Satpam selalu kosongkan tempat itu khusus untuk Citra. Pagi ini Citra kembali hadir setelah libur berapa hari.


"Selamat pagi dok!" sapa satpam ceria seperti biasa.


Citra melepaskan helm merapikan rambut yang berantakan karena kena sangkutan tali pengait. Jari tangan yang sering pegang pisau operasi mengelus rambut berantakan sampai rapi. Satpam muda terkesima saksikan kecantikan alami Citra di bawah pantulan cahaya adem mentari pagi.


Inilah bidadari dari bumi batin satpam tak bisa sembunyikan rasa kagum. Beruntung lelaki yang berhasil mencuri cinta dokter ramah ini.


"Pagi mas Theo...titip motor ya!"


"Iya Bu dokter! Motor Kujamin akan berdiri manis tunggu Bu dokter lepas piket."

__ADS_1


"Bisa aja mas Theo! Permisi ya!" Citra mengambil tas kerja warna hitam lalu melenggang santai menuju pintu utama rumah sakit.


Theo sang satpam bersiul kagum pada sosok full pesona. Bohong kalau dia tak menaruh harapan pada Citra. Punya harapan tidak dosa. Setiap orang punya hak menyukai seseorang walau tanpa balasan. Cinta itu merdeka. Siapapun boleh punya cinta cuma tergantung tepuk sebelah tangan atau kedua tangan menyatu.


Citra melewati pintu utama berjalan menuju ke ruang tempat dia praktek. Sepanjang jalan Citra umbar senyum cerah agar semuanya kena virus ceria. Berbahagia merupakan obat dari segala rasa gundah. Semua orang bisa senang tapi belum tentu bahagia. Senang ini itu belum bisa dianggap sudah bahagia. Bahagia itu sesuatu yang keluar dari lubuk hati merasakan hidup sempurna tanpa cacat.


Masih adakah hidup sesempurna itu? Selama kita bernafas di atas bumi takkan pernah luput dari masalah. Ntah itu besar atau kecil. Tinggal kita sendiri bagaimana sikapi masalah itu.


"Dokter Citra..."


Citra menunda langkah menanti siapa yang memanggil. Dokter Rahma tergopoh-gopoh mengejar Citra seolah ada pasien genting. Pasien sekarat model apa bisa membuat dokter senior itu hilang akal.


"Iya dokter Rahma?" Citra menyahut setelah dokter itu dekat.


Dokter Rahma mengurut dada menetralkan nafas. Beberapa kali menarik nafas barulah dokter Rahma mengeluarkan suara bernada putus asa.


Citra langsung tebak kalau bukan pasien songong di ruang VVIP buat ulah tak mungkin dokter Rahma pusing tujuh keliling. Belum pulang pasien songong itu.


"Citra...untung kau datang! Asma aku kumat gara-gara pasien di atas. Dia mogok makan dua hari ini. Dia dehidrasi." lapor dokter Rahma muram durja.


Citra melongo sampai tak bisa berkata-kata. Pasien itu sakitnya di tangan. Kenapa menjalar ke penyakit lain.


"Dia ada riwayat penyakit lain? Asam lambung atau sakit mag?"


"Bukan...ngambek dokter bedah dia tak datang kontrol kesehatan dia! Kau ngerti kan?"


Citra mendecak jengkel tak paham apa isi otak laki kaya itu? Citra hanya dokter bedah syaraf, urusan pemulihan sudah diambil alih dokter Rahma. Selanjutnya Pak Heru tanggung jawab dokter Rahma. Dilihat dari proses penyembuhan seharusnya tak ada kendala berarti. Sudah bisa pulang, selanjutnya hanya datang kontrol. Kok dibuat ribet?


"Minta suntik rabies kali! Seharusnya dua hari lalu dia sudah bisa pulang! Kenapa ditahan sampai hari ini?"


"Ya Allah...kami sudah urus dia pulang tapi beliau bilang masih sakit. Bekas operasi masih berdenyut pedih."


"Perih dikit ya wajar! Ayok kita kontrol pasien kurang waras itu! Bawa suntikan anti anjing gila!" Citra menggeram kesal merasa dipermainkan pasien tak waras itu.


Apa semua orang kaya suka permainkan orang. Dokter saja mau dijadikan bulan-bulanan. Tinggal di kamar VVIP kuras kantong sampai jebol. Apa laki itu sangat kaya tak hiraukan tagihan membengkak?


Dokter Rahma bersorak senang Citra beri tanggapan akan kontrol pasien menyusahkan itu. Rahma hilang akal bujuk Heru makan dan minum untuk pulihkan stamina. Laki itu persis anak TK minta perhatian. Semoga Citra punya jurus andalan taklukkan pasien songong itu.


Keduanya berjalan ke arah lift menuju ke lantai di mana ruang VVIP berada. Citra belum sempat ke ruang praktek cek seberapa banyak pasien sudah antri. Membantu dokter Rahma lebih penting agar pasien itu cepat pulang. Sudah sehat ngapain bertapa di rumah sakit. Buang uang juga buang waktu.


Lift berhenti di lantai sepi. Lingkungan itu jarang pasien karena harga sewa kamar mencapai beberapa sejuta dalam semalam. Tidak semua orang mampu dirawat di ruang itu. Afifa dirawat di situ karena Alvan sang papi sekaligus pemilik rumah sakit. Kalau Citra yang harus bayar rumah bisa terjual untuk tutupi biaya rumah sakit Afifa. Untung Afifa punya papi kaya cover semua biaya.

__ADS_1


__ADS_2