
Melihat obat yang diberikan oleh Hans seharusnya kandungan Afung tidak bermasalah. Jadi mengapa Meng Si berani mengancam Afung gunakan bahasa tak sedap. Meng Si katakan perempuan mandul tak pantas dampingi Heru. Hanya perempuan sehat bisa dampingi orang kaya. Dia akan siap jadi isteri Heru untuk hari depan. Dia janji akan singkirkan Afung secepatnya. Ancaman orang sirik.
"Dok... yakin kandungan Tante aku tak masalah?" ulang Citra ingin pastikan Afung memang baik saja.
"Sejauh ini aman cuma kita butuh waktu untuk pulihkan memar. Sebenarnya aku heran mengapa bisa ada kejadian ini?"
"Dia pesenam. Sewaktu latihan perutnya kena hantam palang dan terjatuh."
"Artinya benturan cukup kuat baru terjadi hal begini. Persis kena di bawah pusar. Kita doa saja semua akan lancar. Kurasa asal mereka subur pasti ada keajaiban. Minum dulu obatnya kita tunggu reaksinya. Dan kau yang harus hati-hati. Jangan banyak aktivitas! Duduk manis di rumah saja! Tak perlu datang ke sini buka praktek lagi. Emosi juga sangat berpengaruh pada kondisi janin."
"Aku bosan di rumah. Aku jamin akan hati-hati. Terima kasih dok! Kami pamitan dulu. Bulan depan kami balik lagi."
"Setiap saat."
"Terimakasih... assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..."
Afung tahu diri segera bantu Citra berdiri tegak. Perut Citra sudah mulai jadi penghalang Citra bergerak lincah. Beban yang harus dipikul perut Citra tidak main-main. Ada empat bayi harus digendong sekaligus. Gimanalah yang empunya badan. Mana Citra tubuhnya mungil.
Alvan menanti di luar dengan sabar. Untuk buah hati apa yang tidak. Disuruh tunggu seharian juga tak masalah asal Citra dan anak selamat.
Beriringan mereka menuju ke parkiran mobil Alvan. Afung dengan telaten membimbing ibu hamil ini menuju ke mobil Alvan. Dengan perlahan Citra masuk ke dalam mobil duduk di jok depan samping Alvan.
Begitu duduk perut Citra makin jelas tercetak di balik baju ibu hamil. Alvan menjadi gemas lihat perut mirip bola dunia. Buncit bundar.
Kalau tak ada Afung tangan jahil Alvan pasti sudah berada di perut isteri tercinta. Laki menahan diri sampai di rumah. Alvan mengantar kedua wanita ini pulang baru berangkat ke kantor. Telat demi buah hati tidak masalah.
Citra dan Afung telah selamat tiba di rumah barulah Alvan bergerak ke kantor. Di kantor masih ada banyak pekerjaan harus dia tangani. Alvan tak mungkin di rumah ngawasin Citra dua puluh empat jam. Alvan percaya Bu Sobirin akan merawat cucunya dengan baik.
Untung sudah sediakan satu tumpuk dokumen harus dipelajari oleh Alvan. Kini Alvan lebih hati-hati tangani dokumen tidak sembarangan percaya pada laporan bawahan. Satu kali kena tipu tak mungkin dibiarkan terjadi lagi.
Sedang fokusnya Alvan bekerja ponsel berteriak kencang memanggil pemilik untuk perhatikan benda tipis itu. Alvan luangkan waktu melirik benda canggih itu. Tertera nama panggilan Amang di layar. Alvan segera aktifkan ponsel terima panggilan dari orang tua di Kalimantan.
"Halo Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam.. apa kabar nak?"
"Alhamdulillah baik Mang! Di sana bagaimana? Semua sehat?"
"Sehat. Papa dan mamamu bagaimana? Ada kemajuan?"
"Papa sudah pulih tapi mama masih butuh pengobatan cukup lama. Cuma ada kemajuan. Mama kan pecah pembuluh darah maka akibatnya sangat fatal. Masih untung diberi umur panjang. Oya... ada kabar baik untuk Amang! Isteriku sedang hamil anak aku!"
"Alhamdulillah...dapat rezeki lagi! Jangan bilang kembar lagi!"
"Kok Amang omong gitu? Tak suka punya cucu kembar?"
"Ya senang dong! Kembar tiga lagi?"
"Kali ini tidak kembar tiga tapi empat."
"Astaghfirullahaladzim. Kembar empat? Kau tidak sedang mengolok Amang bukan?"
"Kok mengolok orang tua? Alvan tak mau tanggung dosa mang! Mereka memang empat."
"Ya Allah...sungguh luar biasa! Amang harus datang lihat mereka kalau sudah lahiran. Jangan lupa kabari Amang ya! Kami akan datang beramai-ramai jenguk anakmu!"
"Alvan akan kirim pesawat jemput Amang sekeluarga. Tapi tak boleh lebih dari sepuluh orang. Daya tampungnya cuma sekitar gitu."
"Ya nggak sampai sepuluh orang! Pokoknya nanti kabari Amang ya!"
"Beres..."
"Oya Van... apa kamu tak bergerak hati mencabut tuntutan pada Kayla dan ibunya. Ibunya sakitan. Diabetesnya kumat sampai dirawat. Anak Kayla juga terlantar. Mantan suaminya ada datang mohon ampun. Dia dan Kayla akan bersatu lagi bila Kayla bebas nanti. Amang harap kau berbelas kasihan."
__ADS_1
"Mang...aku memang kasihan tapi ini konsekuensi orang jahat. Amang tak tahu betapa banyak korban akibat kejahatan Kayla. Salah satunya mama jadi sakit. Beri aku waktu untuk berpikir!"
"Diskusi sama Citra! Siapa tahu hatinya tergerak bebaskan Kayla."
"Citra? Dia pasti akan langsung bebaskan Kayla. Dia itu wanita berhati emas. Aku yang bertahan karena apa yang dilakukan Kayla sudah lewat batas."
"Amang tahu tapi beri dia kesempatan bertobat. Amang jamin dia takkan usik kalian lagi."
"Beri Alvan waktu ya untuk berpikir. Dan jangan sekali-kali telepon Citra minta kebebasan Kayla! Nanti jadi beban pikiran dia. Sangat berbahaya bagi janin di perutnya."
"Amang bukan orang jahat nak! Amang tahu resikonya! Apa lagi anak Citra luar biasa. Amang harap kau cepat beri jawaban! Kasihan ibu Kayla."
"Baik mang! Kuusahakan secepatnya."
"Terima kasih nak! Salam untuk seluruh keluarga kamu ya! Jangan lupa kabari Amang kalau anakmu lahiran!"
"Pasti mang!"
"Ok...Amang tutup telepon! Cepat beri kabar pada Amang ya! Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Alvan dibuat termenung oleh permintaan Amang. Alvan dilema harus bagaimana. Jujur Alvan belum terima Citra hampir celaka akibat ulah Kayla dan Selvia. Selvia sudah meninggal kini tinggal Kayla harus membayar mahal atas kejahatannya.
Apa yang harus Alvan lakukan saat ini. Berbesar hati cabut tuntutan atau tutup mata hati biarkan Kayla selesaikan masa hukuman. Bingung juga Alvan.
Alvan harus diskusi dengan Heru soal ini. Heru pasti punya jalan keluar.
Waktu bergerak tanpa menunggu orang malas. Pagi yang cerah telah berlalu berganti senja menyambut malam. Alvan tak sabar ingin segera pulang untuk jumpa sang isteri dan anak-anaknya. Di mata Alvan tak ada orang lain selain Citra dan anaknya. Dunia Alvan penuh dengan profil sosok dokter idola rumah sakit.
Alvan tiba di rumah disambut oleh Citra seperti biasanya. Ibu hamil ini sudah menanti Alvan di depan pintu karena lakinya sudah kasih kabar segera pulang. Senyum Citra laksana air surga menyejukkan iman lelaki ini.
Alvan langsung mengecup kening Citra begitu siap parkir mobil di halaman rumah. Alvan lihat mobil Heru sudah duluan terparkir artinya om Citra sudah duluan pulang.
Wajar sekarang Heru lebih cepat pulang karena di rumah sudah ada pemanis yang akan beri rasa manis. Orang lagi kasmaran semua jadi indah. Alvan sendiri juga sedang bucin pada Citra yang telah mencuri seluruh hati.
"Waalaikumsalam..." Citra hendak menyambut tas kerja Alvan namun ditolak laki ini karena tak mau isterinya capek. Gendong anaknya saja sudah cukup capek, Alvan mana tega menambah beban wanita ini.
Alvan melingkar tangan ke pinggang Citra yang sudah tak bisa dirangkul. Hanya terpegang sebagian. Walau gitu Alvan puas.
"Mau minum teh atau langsung mandi?"
"Mandi saja! Mas bersihkan badan biar tak bau kecut. Nanti diprotes dedek bayi dalam perut. Anak-anak mana?"
"Di sebelah lagi ngajar Oma mereka bahasa Indonesia. Koko sangat lembut sedang Amei kejam sekali. Oma mereka asyik di bentak. Amei tak cocok jadi guru."
Alvan terkekeh bayangkan Afung meringis dimarahi guru galak yang kecil. Tubuh boleh mungil kayak mami tapi mental boleh diuji coba. Mental baja.
Kedua insan ini segera masuk kamar agar Alvan bisa mandi cuci semua kotoran yang dibawa dari luar.
Citra dengan telaten menyediakan pakaian rumah untuk suaminya. Citra pilih kaos oblong santai dengan celana karet agar bergerak bebas dalam rumah. Seharian pakai busana resmi kantoran tentu kurang nyaman. Gunakan pakaian sederhana berkesan santai.
Alvan tidak rewel pilih busana. Dia pakai apa yang telah disediakan Citra. Bisa meringankan beban Citra merupakan Alvan.
Citra senang Alvan tidak rewel. Tampaknya musim ngidam sudah berlalu. Kini Alvan tidak banyak tingkah minta aneh-aneh. Badai benaran telah berlalu dari keluarga ini.
Tiba-tiba pintu kamar Citra diketok orang dari luar. Citra berniat bangkit dari tempat tidur namun ditahan Alvan. Alvan bergerak ke arah pintu lihat siapa yang ketok pintu.
Iyem berdiri di depan pintu menatap Alvan dengan malu-malu karena telah ganggu jadwal istirahat majikan.
"Ada apa Yem?" tanya Alvan heran tumben pembantu berbadan subur ini datang sore begini.
"Maaf pak! Itu ada Bonar di depan mau jumpa bapak dan ibu!" kata Iyem malu-malu kucing.
"Bonar? Ada apa?"
__ADS_1
"Katanya ada mau disampaikan!" Iyem masih malu katakan mengapa Bonar datang.
"Baik...suruh masuk! Aku segera datang!"
"Iya pak!" Iyem minta diri pergi sampaikan pesan Alvan pada Bonar.
Citra memanjangkan leher lihat siapa yang ganggu waktu mereka berdua. Alvan sudah menutup pintu berbalik kepada Citra. Bonar ingin jumpa mereka maka Alvan wajib bawa Citra temui anak Batak itu.
Alvan heran mengapa anak itu datang secara mendadak. Apa jadwal Bonar libur sehingga ada waktu berkunjung ke tempat mereka.
"Siapa mas?"
"Bonar mau jumpa kita! Ayok kita temui anak itu! Kita lihat dia mau apa?" Alvan membantu Citra berdiri tegak. Sekarang sudah duduk susah bangun akibat perut terlalu buncit.
Alvan membimbing Citra keluar ke ruang tamu jumpai Bonar. Mata Alvan mencari kedua konco Bonar tapi tidak tampak kehadiran mereka. Hanya ada Bonar sendirian di ruang tamu di temani satu gelas jus jeruk. Iyem juga tak tampak batang hidung.
"Bonar...ada apa?" sapa Citra duluan. Anak Batak itu segera bangun dari tempat duduk berdiri sopan di hadapan majikan.
"Selamat sore pak...kak Citra!" Bonar tampak grogi disapa Citra.
"Kau libur hari ini?"
"Iya pak! Tapi aku segera balik ke gudang kok!"
"Ayok duduk! Emang ada hal penting mau disampaikan?" tanya Alvan duduk seberangan dengan Bonar.
Bonar duduk dengan patuh sambil menggosok kedua telapak tangan. Jelas anak itu grogi jumpa kedua majikan berhati mulia itu.
Alvan dan Citra menunggu kalimat apa bakal muncul dari mulut si Batak. Ntah perihal apa akan disampaikan laki itu. Yang jelas anak itu salah tingkah.
"Omong dong!" pinta Citra.
Bonar menarik nafas dalam-dalam sebelum mulutnya mengeluarkan kalimat wakili isi hati.
"Begini kak...aku mau melamar Iyem!" akhirnya keluar juga kata-kata bermakna dari bibir Si Batak.
Alvan dan Citra saling tukar pandangan. Alvan acung jempol puji keberanian Bonar utarakan isi hati. Lelaki sejati memang begitu seharusnya. Tak perlu plin plan buang waktu. Alvan sudah pernah rasakan bagaimana jadi orang tak punya pendirian.
"Apa Iyem sudah tahu?" tanya Citra tak urung senang. Paling tidak Bonar sudah ada yang jaga.
"Sudah... kami sudah diskusi! Berhubung aku tak punya keluarga di sini jadi kuminta bapak dan kak Citra jadi orang tuaku!"
"Itu urusan gampang! Yang penting kau ijin dulu sama Bik Ani! Beliau itu bibinya Iyem."
"Sudah pak! Bik Ani sudah restui kami. Tinggal melamar di keluarga Iyem di Jawa Tengah sana!"
"Rencana kamu kapan ke sana? Kita harus cari waktu hari Minggu. Anak-anak bisa ikut ke sana." ujar Alvan kasih waktu pada Bonar untuk berpikir.
"Itu bukan tujuan penting kapan ke sana! Yang penting kesiapan kamu membina rumah tangga. Membangun satu rumah tangga tidak semanis saat pacaran. Apa Iyem sudah siap ditinggal berhari-hari selama kamu piket? Apa kau siap waktumu dengan konco kamu tersita untuk Iyem?" tanya Citra tajam.
"Iyem akan tinggal bersama aku di gudang. Aku ijin untuk bawa Iyem bersamaku di gudang."
Citra menggeleng tak ijinkan Bonar ajak Iyem tinggal di gudang. Bukan Citra tak punya hati pisahkan dua hati sedang berpadu. Citra memikirkan akibat Iyem tinggal di sana. Di gudang semua lelaki. Siapa bisa tebak hati manusia. Tak jarang hati manusia tergoda jeratan setan.
"Tak boleh...Iyem tak boleh tinggal di gudang! Kalau penjaga gudang cuma kamu aku tak keberatan tapi di sana masih banyak cowok lain. Setan itu lebih kuat dari iman. Aku tak di saat kau lengah setan menggoda iman manusia. Terjadi hal di luar dugaan kita. Sebelum terjadi lebih baik kita hindari."
Kata-kata Citra sangat masuk di akal. Citra bukan melarang tapi menjaga Iyem dari segala kemungkinan terburuk.
"Maksud kakak ada teman niat jahat pada Iyem?"
"Belum tentu terjadi tapi kita menjaga saja! Kita hindari sebelum terjadi. Iyem satu-satunya wanita di sana bisa saja munculkan niat jelek di hati orang. Kita tak tahu isi hati orang. Lebih baik Iyem tinggal di rumah kamu. Bapak akan atur waktu agar kau bisa berkumpul dengan keluarga kamu dalam waktu teratur."
"Iya kak! Terima kasih. Aku akan bicara sama Iyem kapan datang ke rumahnya."
"Kau sudah siap jadi kepala rumah tangga? Jangan konyol berbuat sesuka hati lagi! Ada yang harus kamu jaga!"
__ADS_1
"Siap kak! Aku sudah persiapkan diri merawat Iyem seumur hidup. Dalam suka maupun duka."