
Siapapun tak tahu mengapa kedua singa gagah itu bisa berada di pengungsian. Mengapa dua singa bisa berada di satu lahan sama. Hanya segelintir orang tahu tujuan Heru dan Alvan. Orang itu adalah Daniel teman sejati Alvan.
Di kantor desa dua dokter penuh akal licik menyesali kejadian yang baru menimpa mereka. Niat hati ingin menjadi ratu di hati Heru dan Alvan makin kena sekak mental.
Tina mondar-mandir di kantor desa belum percaya Heru dan Alvan punya kelainan jiwa. Menurut kabar angin Heru itu maha raja di kalangan wanita haus akan cinta. Tidak pernah terdengar berita Heru suka sama sesama lelaki.
Di lapangan Tina dan Indah lihat pakai mata kepala sendiri Heru dan Alvan saling umbar kemesraan. Apa yang sedang terjadi? Sinetron apa sedang kejar rating cari penonton setia.
"Aku tahu Tin! Kedua laki itu hanya berpura-pura test kita. Lihat kita menyerah mengejar cinta mereka atau teguh perjuangkan cinta kita. Sejujurnya Alvan lebih keren. Tubuhnya tinggi besar cuma wajah Heru lebih ganteng. Aku suka yang ganteng."
"Aku jatuh cinta pada dada bidang Alvan. Betapa damai berada di pelukan laki itu." Tina mendekap tangan ke dada berkhayal kepalanya berada di atas dada Alvan. Sumpah mati Tina takkan bangun seumur hidup. Biar lengket di dada Alvan sampai dunia kiamat.
"Tapi Alvan punya bini. Kau mau jadi bini muda? Ntar dicaci pelakor!"
"Pelakor untuk rebut Alvan tak jadi soal. Besok kita atur strategi buat keduanya nyungsep di kasur ini. Jangan terpengaruh drama mereka lagi! Kita harus bersatu mencapai impian kita jadi wanita kaya. Mejeng bawa mobil sport. Tenteng tas Hermes dengan Kilauan berlian di leher. Ah...betapa indah hidup ini! Aku bosan hidup begini terus. Cowok yang kejar kita hanya tingkat ASN bergaji habis bulan habis beras." keluh Indah berharap plan naik ke kasur bersama Heru terwujud nyata.
"Amin...besok kita lupakan kejadian malam ini! Dokter kota kan pergi jadi mereka milik kita. Aku tak percaya keduanya bisa tahan diri lihat pemandangan indah dari bahasa tubuh kita."
"Aku yakin mereka bakal tersungkur bertekuk lutut pada kita."
"Sekarang kita duduk biar besok ada semangat baru susun strategi."
"Ok..."
Biarlah malam berlalu tanpa kesan. Setiap orang punya rencana indah untuk esok hari. Berbagai harapan tersusun di dada untuk dijalankan esok penuh harapan.
Pagi subuh Citra dan Melati sudah bangun berberes untuk kembali ke kota. Semua barang mereka sudah dipacking rapi untuk memudahkan heli membawa bekal mereka. Citra tidak banyak bawaan karena sebagian barang sudah dia bagi ke pengungsi yang membutuhkan. Mereka lebih membutuhkan dari Citra maka Citra berikan secara ikhlas.
Citra tinggal tas kecil untuk dibawa pulang. Bawaan Melati lumayan banyak karena dari awal dokter umum itu sudah bawa cukup banyak stok pakaian.
Citra membantu Melati memasukkan sisa baju kotor ke tas kresek untuk dicuci di rumah. Melati berat hati berpisah dengan Citra yang dia anggap sebagai dokter panutan. Usia relatif muda sudah dokter spesialis. Setiap tindak tanduk Citra cerminkan manusia beradab memahami tata Krama.
"Citra...kapan kita jumpa lagi?" Melati menahan tangan Citra yang memasukkan pakaian Melati ke kantong kresek. Citra menatap lurus ke bola mata Melati ijinkan gadis itu mencari kejujuran di matanya.
"Setiap saat...teleponi aku kapan saja! Cuma kamu jangan kalau jumpa kurcaci aku!"
"Apa maksudmu? Kau piara binatang imut?"
"Bukan binatang tapi anak manusia! Aku punya tiga anak kembar. Mereka sudah delapan tahun."
Melati melongo tak percaya cerita Citra. Citra tak ubah anak SMA dari mana bisa punya anak berusia delapan tahun. Umur berapa Citra melahirkan.
"Anak adopsi?" tebak Melati
"Anak kandung aku! Aku single parent...masa lalu aku tidak seindah bayanganmu! Kapan-kapan kau jumpa anak-anak aku ya!" sahut Citra kalem mengusir tebakan salah Melati.
"Bokap mereka mana? Jangan bilang kalian berpisah karena pelakor!"
Citra tak dapat tahan tawa karena tebakan Melati jitu seratus persen.
__ADS_1
"Kok bisa tebak begitu?"
"Sekarang kan jaman pelakor! Dari pejabat, aparat, ASN, tukang ojek sampai pemulung lagi musim selingkuh. Kan lagi ngetrend berselingkuh. Virus Covid berlalu muncul virus jenis baru yakni virus Selinda."
"Selinda? Virus apa itu? Ada-ada saja kamu ini."
"Selingkuh itu indah."
Tawa Citra bergema mengundang kerlingan mata orang yang masih di mesjid. Citra yang biasa kalem bisa juga kocak perdengarkan suara renyah di pagi hari. Tawa Citra dianggap tawa bahagia akan segera pulang ke rumah. Siapa tak senang terbebas dari tugas berat di daerah serba minim.
"Lucu kamu Mel...sudahlah! Biarkan orang bahagia menurut cara mereka! Kita juga bahagia ala kita. Bermimpi sesuai batas kita. Tak perlu berangan jauh dari jangkauan kita. Sadar tangan kita tak mungkin memeluk gunung maka tak usah lakukan! Peluk saja guling..dekat dan hangat!"
"Kau benar...Oya....kau balik dengan pak Alvan?"
"Iya...kami dari satuan rumah sakit beliau! Kau numpang pak Heru saja. Tunggu jemputan dari pemerintah belum tahu kapan tibanya. Itupun via darat. Kau akan kelelahan dalam perjalanan. Atau ikut kami."
Melati tentu saja berharap ikut Citra namun penumpang di heli Alvan sudah melebihi kapasitas seharusnya. Gerry dan perawat, belum lagi Bonar dan Daniel. Apa semua bisa diangkut sekaligus? Mungkin harus dikoordinasikan dengan Heru dan Alvan agar tidak membahayakan penerbangan.
"Kita lihat nanti! Kau sudah siap?" Melati menutup kopernya memastikan semua barang telah terkumpul di kopernya.
Citra menunjuk tasnya yang tergeletak nelangsa sendirian tak dipedulikan. Isinya tinggal beberapa potong pakaian beserta beberapa cream anti matahari. Selebihnya Citra tinggalkan bagi mereka yang memerlukan.
"Kau praktis...yok sarapan!" Melati mengajak Citra isi perut sebelum pergi.
"Kau duluan! Aku harus jumpa pak Alvan dulu! Untuk memastikan jam berapa kita terbang."
"Ok..." Melati tidak curiga sama sekali kalau Citra punya ikatan dengan cowok kaya itu. Sikap Citra biasa saja terhadap Alvan dan Heru. Tidak ada hal mencurigakan.
Alvan dan Heru sudah tak ada. Tinggal Bonar masih tidur bergulung kedinginan di bawah selimut tipis. Si Batak itu tidur nyenyak banget. Kalau ada bom atom jatuh persis di ujung kepala baru terbangun. Citra tidak bangunkan lajang itu. Tujuan Citra bukan Bonar melainkan Alvan.
Citra mencoba mencari Alvan dan Daniel di dapur umum. Perkiraan Citra mereka berada di tempat yang ada bau makanan. Kopi pagi jadi kebutuhan para pria sebelum aktifitas. Tanpa kopi kepala masih terganjal batu gede, berat tak bisa digerakkan.
Citra berjalan anggun melewati beberapa warga yang sedang nikmati makan pagi ala kadar. Citra selalu welcome berkat keramahannya sebagai dokter. Tak heran warga suka pada dokter ramah itu.
Ternyata di dapur umum sudah ramai dihadiri para pelacak makanan. Heru dan Alvan berada di situ bersama dia dokter baru yang gantiin Citra.
Semua mata tertuju pada Citra begitu masuk tenda dapur umum. Terutama Alvan yang masih sangsi apa Citra masih ngambek oleh pengakuannya di hadapan Heru. Untunglah wajah Citra biasa saja tidak garang kayak semalam.
"Selamat pagi semua..." sapa Citra mengambil tempat di samping Melati.
"Pagi..." suara koor bareng menyahuti sapaan Citra.
Heru dengan gesit mengambil teh manis dari meja mengangsurkan pada Citra. Mata kedua dokter baru berubah merah melihat Heru menolak mereka namun bertindak Galant pada dokter kota. Tak pelak rasa cemburu plus jengkel berkembang di dada. Mengusir Citra dari pengungsian merupakan tindakan tepat kalau mau curi hati Heru dan Alvan. Citra terlalu mempesona untuk diabaikan.
Di lain pihak Alvan menatap nanar ke arah Heru. Kalau bukan terdapat banyak orang penting di situ, bogem mentah Alvan pasti akan mendarat mulus di wajah ganteng dewa Yunani itu. Alvan menekan perasaan agar tidak berkobar membakar seluruh tenda.
"Terima kasih mas!" ujar Citra lembut nyaman di kuping Heru. Berdasarkan sikap Citra tidak gubris pada Alvan mendatangkan harapan Heru untuk tetap berjuang memasukkan nama Citra di kartu keluarga.
"Kau mau makan apa? Di sini cuma ada nasi goreng dan mie rebus! Atau makan roti susu yang mas bawa!" Heru perlihatkan perhatian berlebihan pada Citra mengundang amarah di hati Alvan. Berani banget Heru serobot lahannya di depan umum. Mau cari mati tuh kunyuk! Omel batin Alvan.
__ADS_1
"Tidak usah repot! Cukup nasi goreng. Biar kuambil sendiri. Mas duduk saja!"
"Ok sekalian ambilkan untuk mas ya!" pinta Heru sok manja biar Alvan makin gondokan.
"Iya mas!" Citra bangkit berjalan ke arah meja di mana tersedia menu sarapan pagi untuk semua yang merasa perutnya lapar. Semua boleh makan tanpa kecuali.
Alvan bangkit ikuti Citra ke meja dapur umum. Alvan ingin ingatkan Citra agar jaga sikap di tempat umum. Alvan hanya cari alasan menjauhkan Heru dan Citra. Yang iyanya Alvan cemburu Heru dekati Citra.
Alvan heran mengapa dia jadi bucin. Padahal Karin berpelukan mesra dengan orang di medsos dia tidak pernah sedih ataupun sakit hati. Mengapa jatuh pada Citra dia ingin hajar setiap laki yang dekati Citra. Perasaan apa itu?
Alvan sengaja berdiri di belakang Citra lihat wanita itu hanya ambil untuk Heru atau masih ingat dirinya. Citra berat ke mana? Heru atau Alvan. Detik-detik ini jadi moments penting bagi Alvan membaca isi hati Citra.
"Makan apa pak?" tanya Citra tanpa menoleh ke belakang. Tanpa melihat Citra tahu ada sosok tinggi berada di belakangnya.
"Kau makan apa aku makan apa. Suami isteri harus sehati."
"Kita bukan kembar Siam kenapa harus sehati? Hati kita terpisah kok!" ketus Citra sambil menyendok nasi ke piring.
"Sinis amat! Aku kan mau belajar jadi suami siaga!"
"Bapak bodoh soal ini! Tak usah belajar. Sudah pasti dapat nilai nol, takkan lulus." nada suara Citra masih ketus.
"Aku akan rajin belajar. Tak ada yang mustahil kalau kita mau. Aku takkan menyerah." kata Alvan seraya membantu Citra membawa dua piring berisi nasi goreng. Alvan takkan beri kesempatan pada Citra hidangkan nasi pada Heru.
Citra tak punya kewajiban pada Heru. Heru hanya teman bukan pasangan Citra. Alvan lebih berhak mendapat pelayanan Citra walau Citra asyik bilang mereka tak ada hubungan apa-apa.
Tina dan Indah mulai paham mengapa kedua bos besar itu tidak tertarik pada mereka. Ternyata magnet menarik kutub kedua orang itu adalah dokter kota berwajah imut.
Kedua cowok tajir itu berlomba menarik perhatian Citra. Setiap gerakan tubuh Citra jadi pantauan dua cowok ganteng itu. Tina dan Indah menyesal tidak melanjutkan aksi mereka semalam. Sandiwara Heru dan Alvan telah mengacaukan rencana mereka. Tekad mereka harus makin kuat harus berbaring satu kasur dengan kedua laki itu.
Alvan menaruh jatah sarapan Heru persis di depan meja Heru. Alvan sedang ingatkan Heru agar jauhi Citra secara tak langsung. Melarang Citra ambil makanan untuk Heru sudah menjadi satu warning bagi Heru.
Citra hanya bisa menarik nafas lihat kekonyolan Alvan membatasi gerakannya. Citra tidak marah cuma jengkel cara Alvan perlihatkan kekuasaan atas dirinya. Dasar diktator kacangan.
Alvan tidak segan pindah duduk satu meja dengan Citra. Laki tak peduli bagaimana orang mau menilai hubungan mereka. Terserah yang punya pikiran. Berpikir itu mah bebas. Gratis tidak dipungut bayaran.
Melati mulai menangkap ada sesuatu tak beres antara Citra, Heru dan Alvan. Pagi ini semua tampak lebih jelas. Apa karena hari makin terang maka semua tampak lebih jelas? Heru dan Alvan berseteru mencuri perhatian Citra.
"Sebentar lagi heli kita sampai! Kita langsung pulang. Kau pulang rumah tak usah melapor ke rumah sakit. Istirahat seminggu baru kerja." ujar Alvan di tengah makan sarapan.
Melati dengar dengan jelas suara Alvan beri nasehat pada Citra. Alvan itu apanya Citra sampai beri perhatian full.
"Iya...tapi besok sudah boleh kerja kok!"
"Tidak...aku mau kamu kawani anak-anak karena besok mereka libur! Pulihkan stamina baru masuk kerja! Kali ini patuh ya!"
Citra tidak menjawab. Sesampai di rumah bahas soal kerja toh belum terlambat. Di depan orang ramai tak mungkin adu mulut bikin kekacauan. Citra bukan tak kenal Alvan yang terkenal tak suka dibantah.
Melati mencolek Citra penasaran dengan isi obrolan kedua orang di sampingnya. Mereka bicara pelan namun jelas di kuping Melati. Hubungan Alvan dan Citra bukanlah hubungan bos dan pegawai. Ada sesuatu mendalam dari obrolan keduanya.
__ADS_1
Citra menyendok nasi ke mulut di bawah pancaran amarah Tina dan Indah. Orang yang merusak mimpi indah mereka ternyata satu orang. Kedua pengusaha besar itu mengincar orang sama. Satu wanita imut diperebutkan dua orang top tanah air. Apa kelebihan Citra sampai mampu menyihir kedua cowok incaran mereka. Dari segi penampilan Citra jauh di bawah mereka. Soal kecantikan mereka punya daya saing tidak di bawah Citra.