ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Pengakuan Citra


__ADS_3

Hati Citra bergetar lihat bagaimana Afifa merindukan sosok bapak yang diimpikan selama bertahun. Hubungan darah tak dapat dibohongi. Sejauh itu mereka berpisah, dasar jodoh tetap jumpa lagi. Sebenarnya ini bukan soal jodoh atau tidak. Tapi kontak batin anak bapak. Tak ada yang bisa halangi kasih antara anak bapak termasuk Citra.


"Anak papi mau makan bubur lagi?" tanya Alvan berusaha cari simpatik anaknya. Jujur Alvan takut Afifa kena hasutan Citra menjauh darinya. Sejauh ini Citra belum ikhlas Alvan dekati anaknya.


"Bubur lagi? Boleh campur cah kwee?" mata bening Afifa menyiratkan keberatan makan bubur cuma tak berani menolak.


"Apa itu cah kwee?" Alvan bingung makanan yang dimaksud Afifa. Baru kali ini laki macho ini dengar adanya makanan itu.


"Cah kwee itu gorengan. Sejenis roti goreng kosong. Anak-anak biasa makan dengan bubur ataupun air tahu. Mereka sarapan dengan itu." Citra jelaskan biar Alvan ngerti pola makan Afifa yang lebih ke negeri tirai bambu.


"Apa enak? Kalau Afifa mau biar papi beliin?" Alvan kembali fokus pada Afifa setelah dapat pelajaran gratis dari Citra. Tambah satu pengetahuan Alvan terhadap anak-anak.


"Untuk sementara Afifa jangan makan gorengan! Dia sedang demam pak!" tukas Citra tak harap Alvan beri racun pada Afifa. Minyak dan gorengan panas akan memicu hawa panas. Anaknya bisa naik suhu tinggi lagi.


"Mami kok panggil papi pak! Emang mami anak papi? Papi jadi tua dong!"


"Papi emang sudah tua. Sudah bangkotan. Fungsi organ tubuh mulai aus." sindir Citra disambut cibiran Alvan. Citra niat sekali jatuhkan Alvan di mata anak. Untung Afifa bukan Azzam. Gadis kecil itu belum gitu paham sindiran Citra. Andai jumpa Azzam tamatlah harga diri Alvan.


Lajang itu pasti tak segan habisin Alvan sampai ko. Beruntung Alvan tak disekak Citra lagi karena perawat datang antar pesanan Citra dan obat untuk Afifa. Kali ini Citra ambil alih menyuap Afifa makan.


Afifa pasti rewel karena dari raut wajah si mungil isyaratkan tak suka makan bubur sekali lagi. Citra sudah baca dari kerutan di kening gadis cilik itu. Ntah pakai cara apa dia akan menolak bubur. Alasan pertama harus pakai cah kwee yang tak mungkin dicari malam hari. Tunggu ide apa terselip di otak kecil itu.


"Papi mau makan bubur juga?" tawar Afifa mengejapkan mata indahnya.


"Tidak..papi baru saja makan bareng mami. Kenyang .."


"Amei juga kenyang. Lihat perut Amei buncit!" tangan kecil Afifa menepuk perutnya ingin kasih tahu bahwa perut itu masih ada isi.


"Sini papi yang suap. Perut Amei minta dimanja papi." Alvan bangkit dari sofa mengambil alih mangkok bubur dari tangan Citra. Kali ini Citra beri kesempatan pada Alvan tunjukkan kesungguhan jadi seorang bapak. Mampu tidak merayu anak makan.


Citra mundur ke belakang beri tempat pada Alvan belajar jadi bapak baik. Seumur hidup Alvan baru kali ini urus anak. Untunglah anaknya tidak nakal menguras tenaga, cuma Alvan belum temukan jalan taklukkan Azzam. Seorang presiden direktur perusahaan besar ko oleh anak kecil. Tersiar di luar akan jadi aib bagi Alvan.


Citra pura-pura tak lihat Alvan mulai keluarkan jurus rayuan gombal pada anak kecil. Andai rayu wanita dewasa mungkin Alvan sudah lulus predikat cumlaude. Memang itu bakat alam Alvan.


Citra tekuni hp chat dengan Nadine tanya keadaan Azzam. Citra kuatir Azzam cari kesempatan main hp Ance sampai larut malam. Citra memang tak beli ponsel untuk anak-anaknya karena seumur Afifa dan Azzam belum butuh benda itu. Citra mau kedua anaknya menikmati masa kanak-kanak sesuai tingkatan permainan anak seusia mereka. Main dan game dan nonton YouTube menyita perhatian mereka terhadap pelajaran.


Citra sediakan laptop di rumah untuk Azzam biar tidak gaptek. Anak itu terlalu pintar sayang tak kenal teknologi. Citra wanti-wanti kalau laptop digunakan untuk menambah ilmu. Bukan untuk bersenang-senang.


Citra tersenyum sendiri lihat Alvan gunakan segala trik merayu anaknya makan. Cerita dari ujung langit sampai ke ujung bumi. Afifa menjadi pendengar setia sekali-kali bertanya dengan tampang lugu. Citra beri nilai tujuh atas usaha Alvan merayu Afifa.


Perlahan tapi pasti bubur di mangkok menyusut sedikit demi sedikit. Alvan telah melaksanakan tugas dengan baik. Citra beri apresiasi pada mantan suaminya itu.


"Citra...obatnya?" Alvan menyudahi suapan terakhir karena Afifa mulai bosan. Tinggal sedikit tersisa di mangkok. Alvan tak paksa lagi, yang penting perut Afifa tidak kosong.


Citra bergerak cepat mencari dua jenis obat untuk Afifa. Sudah waktunya Afifa minum obat agar suhu badan tak naik. Makin malam suhu akan meningkat. Empat jam setelah minum obat akan disuntik obat lain ke selang infus.

__ADS_1


Alvan melayani anaknya dengan telaten persis bapak idaman. Kalau Afifa jatuh cinta pada Alvan bukan hal luar biasa. Gadis kecil itu sangat merindukan profil seorang bapak. Afifa selalu iri pada teman lain yang punya keluarga lengkap bila ada acara sekolah ataupun diantar pasangan suami isteri.


Azzam dan Afifa dipaksa puas oleh kehadiran seorang ibu yang sangat sayang pada mereka. Seluruh perhatian Citra tercurah pada kedua anaknya. Tak ada yang lebih penting dari apapun selain kedua anaknya.


"Nah anak papi yang cantik sudah mulai sehat!" Alvan membersihkan sisa bubur dari bibir Afifa pakai tisu yang tersedia di meja nakas samping tempat tidur Afifa.


"Thank you so much papi! I love you."


"Papi love you too." Alvan tak mau kalah ungkap isi hati. Serasa mimpi tiba-tiba punya anak segede ini. Ini adalah peristiwa menakjubkan bagi Alvan.


"Papi katakan kenapa selama ini tak jumpai Amei dan Koko. Marahan sama mami jangan bawa kami! Atau kami ini bukan anak papi. Masih ada papi lain." mulut mungil Afifa keluar juga kalimat yang di tabu Alvan.


Mata Citra terbelalak bentuk indah bulat. Dalam hati Citra bersorak akhirnya anak sekecil Afifa menuntut keadilan bagi dirinya. Citra bersyukur Alvan menempatkan diri dalam posisi sulit. Rasanya Citra ingin berjoget ria rayakan kemenangan atas Alvan. Alvan bukan tak tahu Citra sedang suka cita lihat dia bingung.


Salah sendiri beri bibit bagus pada Citra sehingga muncul makhluk-makhluk kecil berotak licin. Bijak dan pintar.


"Sayang...mami kalian bawa kalian keluar negeri buat papi sulit jumpa kalian! Itu bukan salah papi. Papi mencari kailan kok!" Alvan berbohong cari kebenaran untuk bela diri.


Mata Afifa pindah kepada Afifa menuntut kebenaran kata-kata Alvan. Citra meletakkan ponsel di atas paha menantang mata indah anaknya. Citra tatap Afifa lekat-lekat dengan tatapan lembut tanpa emosi.


"Afifa percaya pada mami?" tanya Citra halus mendayu.


Kepala mungil Afifa angguk. Gadis ini tentu percaya pada Citra seratus persen. Citra yang besarkan mereka dengan segenap hati. Alvan baru jumpa beberapa kali belum mampu menggeser posisi Citra dari benak Afifa.


"Papi ikut?"


"Tidak...kasihan rubah papi tak ada yang umpan. Bisa mati lho!"


"Usir saja Pi! Rubah itu licik dan jahat. Tak usah dipiara! Kembalikan ke hutan!" Afifa berbalik pada Alvan. Alvan menatap Citra dengan tajam. Tega Citra sudutkan Alvan gunakan istilah rubah pada Karin. Citra tidak tahu nasib Karin di ujung tanduk. Alvan akan lepaskan Karin bila segalanya jelas siapa anak di perut Karin.


"Iya akan papi kembalikan ke hutan asal Afifa senang! Sekarang anak papi mau tidur?"


"Iya tidur!"


Alvan membantu Afifa berbaring lalu menyelimuti gadis kecilnya. Afifa tersenyum senang harapannya dipenuhi Alvan. Enyahkan rubah perusak yang telah kuasai papinya sekian tahun.


"Selamat bobok sayang! Besok bangun sudah sembuh." Alvan mendaratkan bibir ke ubun kepala Afifa.


"Iya Pi! Besok papi usir rubahnya ya!"


"Papi janji...papi akan bayar semua hutang papi pada kalian. Kita akan bersama selamanya. Papi, mami, Azzam dan Afifa."


"Cece Afisa lagi. Papi selalu lupa pada Cece. Papi tidak sayang pada Cece?"


"Maaf papi lupa! Papi sayang kalian semua. Tidurlah!"

__ADS_1


Afifa patuh pejamkan mata. Efek obat membuat Afifa ngantuk. Anak dalam keadaan sakit butuh istirahat cukup. Tidur adalah pilihan tepat untuk kembalikan energi yang terbuang karena demam.


Dalam sekejab Afifa terbuai mimpi. Senyum manis iringi gadis mungil itu masuk ke alam mimpi. Mungkin dalam mimpi Afifa hanyut dalam pelukan Alvan. Alvan idola baru Afifa. Idola yang ditunggu selama delapan tahun.


"Kau ini...sama anak kecil untuk apa ungkit soal Karin?" Alvan berjalan jauhi ranjang Afifa ambil posisi dekat Citra.


"Aku tak pernah bohongi anakku. Faktanya kau memang tak ingin anak bukan? Karin segalanya bagi Alvan Lingga." cetus Citra tak beri point bagi Alvan.


"Sudah kubilang aku tak tahu ada anak-anak. Tanpa anakpun aku cari kamu. Tapi kamu raib."


Citra tertawa kecil mengejek Alvan tidak peka jadi manusia. Kalau Citra raib dari mana gelar dokter dari UGM? Alvan tidak tulus mencari Citra maka selamanya tak jumpa.


"Kalau aku raib artinya topi sarjanaku di UGM kucuri dari kampus. Aku ada di dekatmu! Tinggal di belakang komplek rumahmu dan Karin. Aku kontrak di sana selama empat tahun. Kau yang terlena oleh Karin lupa daratan."


"Tapi aku ke kampusmu tanya keberadaan mu. Tidak ada yang kenal?"


"Tidak kenal? Kau tanya siapa? Preman yang disewa Karin nyamar jadi mahasiswa? Aku tak perlu cerita trik Karin. Kelak tanya sendiri pada bini tercintamu."


Alvan termenung. Tiap pagi dia cari Citra di kampus khusus kedokteran tapi jawabannya tak ada mahasiswi bernama Citra. Sungguh tak masuk akal cerita ini bila betul Citra lulus di UGM. Universitas kebanggaan Indonesia.


Sekarang Alvan baru rasakan kejanggalan mahasiswa yang dia tanya. Mahasiswa itu seolah tahu jadwal Alvan datang serta seakan memang tunggu kehadiran laki itu di kampus. Setiap kali ditanya jawaban tetap sama sampai Alvan putus asa tak lanjut cari Citra.


"Kau benar Citra...ada yang aneh!" gumam Alvan merasa bodoh.


"Tak usah ungkit kisah lama. Yang penting kita semua berdiri di tempat masing-masing. Bapak lanjut dengan Karin dan aku lanjut dengan anak-anak. Tidak perlu merasa berhutang pada Azzam maupun Afifa. Aku akui mereka anak-anak kamu cuma bapak tak punya hak atas mereka. Aku pemilik tunggal." ujar Citra tegas walau nadanya lembut.


"Terima kasih pengakuan mu. Aku lega kau jujur. Beri aku kesempatan bayar segala kesalahanku! Aku menyesal menelantarkan kalian. Kau pasti hidup susah besarkan tiga anak pintar. Pertanyaan mereka pasti membuatmu bingung. Aku minta maaf!" kata Alvan tulus. Kesungguhan terpancar di wajah ganteng itu.


"Aku sudah memaafkan bapak dari dulu! Aku juga berterima kasih bapak telah menyumbang anak-anak bernilai plus padaku. Mereka Asetku paling berharga. Kuharap bapak jangan usik mereka. Bapak akan punya anak dari Karin kelak."


"Kau mau ngejek aku? Kondisiku kau tahu jelas." Alvan gusar dibilang bakal punya anak dari Karin Citra tahu persis kondisi Alvan saat ini tak mungkin punya anak lagi. Ini kalimat ejekan telak, bukan hiburan.


"Berobat pak! Ingat umur! Usia Karin tak muda lagi pak! Hampir capai limit akhir jatah hamil. Terlalu tua hamil resiko gede. Anak bisa tak sehat dan nyawa ibunya juga terancam. Kalau bapak sih tak masalah asal produktif."


Alvan merasa kalimat Citra bukan menghibur tapi memojokkan. Citra gunakan bahasa medis memojokkan dia dan Karin. Usia Karin sama dengan Alvan, hampir empat puluh tahun. Memang beresiko tinggi hamil di usia terlalu matang. Tapi apa mau dikata Alvan kena musibah tanpa dia sadari. Bukan Karin bermasalah tapi dirinya. Pantesan Karin tak hamil-hamil. Alvan yang tak punya keturunan.


"Aku tak peduli soal itu lagi. Aku sudah punya Azzam, Afisa dan Afifa. Mereka darah dagingku. Penerus marga Lingga." ucap Alvan yakin.


"Tahun depan Azzam dan Afifa akan kembali sekolah di Beijing. Nama mereka sudah terdaftar di sana. Mereka cuma setahun di sini untuk belajar bahasa maminya. Jangan bapak tak usah bermimpi kumpul dengan mereka. Aku tak mau anakku jadi korban keganasan Karin. Kalau bapak sayang pada mereka jauhkan mereka dari Karin." Citra berkata serius arahkan mata ke Afifa yang tertidur pulas. Citra tak rela lihat anaknya disakiti Karin. Bagi Citra wanita itu terlalu mengerikan.


"Karin pernah mengancammu?" tanya Alvan mencoba meraba arah kata Citra. Apa yang tak dia ketahui tentang Karin? Karin termasuk wanita baik cuma liar. Belum pernah Alvan lihat Karin lakukan tindakan kriminal. Paling cuma menindas Citra di masa lampau.


"Tak usah di bahas. Kuharap bapak pikirkan permintaanku! Ini demi keselamatan anak-anak. Berjanjilah Karin tak tahu kami ada di tanah air! Biar kami hidup aman."


Hati Alvan terenyuh dengar permintaan sederhana Citra. Wanita ini benar-benar tak mau terlibat dalam hidup Alvan dan Karin lagi. Citra lelah harus berjaga seumur hidup.

__ADS_1


__ADS_2