ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Insiden Kecil


__ADS_3

Bu Dewi benar-benar terperangah mendengar kalimat tajam yang keluar dari mulut kecil Azzam. Bu Dewi tak menyangka Azzam yang terlihat pendiam ternyata mampu mengeluarkan kalimat-kalimat yang menusuk jantung.


"Nak... mengapa Koko ngomong begitu? Oma kan hanya bertanya!" Bu Dewi belajar mengalah karena wajah Azzam makin perlihatkan rasa tidak senang. Masa jumpa pertama langsung ciptakan gap antara cucu dan nenek.


"Bertanya itu tidak bersalah Oma. Tetapi sebelum bertanya kita berkaca dulu apa kita sudah pantas mengeluarkan pertanyaan yang memojokkan orang lain?"


Bu Dewi mulai sadar sedang berhadapan dengan anak yang otaknya memiliki banyak cabang. Makin dia mengorek keterangan tentang Citra maka Azzam akan makin memojokkan Alvan. Cucunya yang satu ini bukan sembarangan anak kecil.


"Ma... lebih baik Mama bercerita tentang perjalanan Mama selama di Kalimantan!" Alfan berusaha mengalihkan perhatian Bu Dewi daripada Azzam. Alvan takut Bu Dewi tidak terbiasa dengan ketajaman mulut Azzam. Nanti malah Bu Dewi mengira Azzam cucu kurang ajar. Padahal Azzam sedang membela Citra. Baik buruk Citra Azzam lah lebih mengerti. Maka itu Azzam tidak mengijinkan siapapun mengeluarkan kata-kata yang tidak sedap untuk Citra.


Sebagai orang tua Bu Dewi memahami makna dari kata-kata Alvan. Alvan tak ingin Bu Dewi beradu mulut dengan Azzam mengenai Citra. Selama ini Citra telah cukup menderita kelakuannya di masa lalu.


Hubungan mereka telah membaik. Jangan karena ingin mengorek keterangan masa lalu membuat jurang pemisah lagi. Alvan sudah kapok kehilangan Citra sekali, Alvan tidak akan bodoh melakukan kesalahan yang sama. Sekali lagi Alvan bersalah maka tiada tempat Alvan di hati anak-anak lagi.


"Oh itu... selama di Kalimantan Mama tiap hari berkumpul dengan keluarga. Pas waktu pergi ada acara pesta makanya semua keluarga berkumpul. Tiap hari mama diajak sana-sini mengunjungi keluarga yang ada di sana. Pokoknya tiada hari tanpa keluarga."


"Pantes Mama betah di sana. Ternyata asyik keluyuran ke sana kemari." ujar Alvan sambil melirik Azzam dari kaca pion. Wajah si lajang mengeras dengan pancaran mata membekukan orang. Alvan menyesali mulut mamanya keceplosan mengorek keterangan tentang Citra tanpa pakai saringan. Kalau pertanyaan itu ditujukan pada Afifa mungkin tidak ada kendala. Afifa yang pola pikir lugu takkan berpikir panjang. Tapi Azzam bukan anak yang ijinkan orang mengucilkan nilai Citra.


"Mama puas kok ke sana! Kapan-kapan Oma akan ajak Koko dan Amei ke Kalimantan jumpa sanak keluarga di sana. Kalian pasti betah." Bu Dewi berusaha menghidupkan keadaan yang hampir chaos gara-gara tak pandai jaga lidah.


"Kami akan betah bersama mami. Di mana ada mami di situ ada kami. Bagi kami mami adalah sumber kehidupan kami."


Citra bangga sekali dengar jawaban Azzam. Tidak sia-sia dia persembahkan seluruh hidup pada kedua anaknya. Sekecil ini Azzam telah tahu balas jasa Citra.


Bu Dewi makin paham peran Citra dalam kehidupan kedua cucunya. Azzam bisa sangat mencintai Citra tentu dengan berbagai alasan. Salah satunya kasih sayang dari kita yang tidak pernah luntur pada kedua anaknya. Bu Dewi menyesal telah bertanya tentang Papi baru kepada anak-anak. Dapat dipastikan kalau Citra tidak memiliki lelaki lain selama ini.


"Koko.. Oma minta maaf kalau telah menyinggung perasaan Koko. Mama mengerti bagaimana sayangnya Koko kepada mami. Mama juga tahu kalau mami Koko itu orangnya setia dan mulia." kata Bu Dewi berusaha memenangkan hati Azzam lagi. Sebagai orang tua Bu Dewi harus bijaksana menghadapi anak-anak yang pola pikirnya terlalu runcing.


Azzam yang terlanjur ilfil kepada Omanya membuang pandangan ke luar jendela mobil. Lajang ini memilih tidak menjawab agar isi hatinya tidak terluapkan saat ini. Azzam benar-benar tidak rela kalau ada orang lain menyudutkan Citra.

__ADS_1


Bu Dewi belum mengenal Azzam sehingga ceplas-ceplos bertanya pada anak-anak. Tak disangka Citra memiliki anak yang sangat luar biasa.


Suasana hening melanda isi mobil Alvan. Tak ada yang ingin mengeluarkan kata-kata setelah keadaan menjadi dingin. Kehangatan yang baru saja terjadi sewaktu di bandara seolah sirna kayak bensin menguap kena panas matahari. Ini tak luput dari kesalahan Bu Dewi yang merasa sok tahu terhadap anak-anak. Beliau pikir kedua anak Citra sama saja dengan anak-anak lain yang tidak berpikir panjang. Apa ditanya itu yang dijawab.


Akhirnya Alvan memarkirkan mobil di pelataran rumah sakit. Mereka akan segera bertemu dengan Pak Jono. Semoga saja Bu Dewi memegang janji tidak akan histeris di depan Pak Jono. Biasanya seorang istri akan lebay bila melihat suami terluka sedikitpun, apalagi ini Pak Jono diserang stroke.


Citra duluan turun sampai menggandeng kedua anaknya menjauhi Bu Dewi dan Alvan. Citra bukanya ingin menghindari Bu Dewi tetapi ingin menenangkan Azzam yang telah terpancing amarahnya.


Di belakang Alvan menggandeng Bu Dewi berjalan perlahan melewati halaman parkiran. Sebenarnya Alfa merasa tidak enak hati dengan kejadian yang terjadi di dalam mobil. Tetapi ini murni kesalahan Bu Dewi yang telah memojokkan Citra. Tak seharusnya Bu Dewi bertanya demikian di depan anak-anak.


"Ma... Alvan ingin kasih tahu pada Mama kalau bicara dengan Azzam harus hati-hati. Anak itu luar biasa pintar dan sangat menyayangi Citra. Azzam itu putra sulung Alvan, yang kedua Afisa dan yang kecil Afifa. Mereka kembar tiga. Alvan butuh waktu cukup lama untuk menaklukkan hati Citra dan Azzam. Apa Mama pikir mereka menerima Alvan begitu saja? Kumohon Mama jangan memperkeruh suasana yang telah mulai membaik. Alvan belum siap kehilangan ketiga anak Alvan dan Citra." kata Alvan sambil memegang tangan Bu Dewi agar wanita itu sadar bahwa betapa sulit menyatukan dua hati yang telah terpisah.


"Lalu bagaimana dengan Karin? Dia sedang mengandung anakmu. Mama memang tidak suka pada Karin tetapi anak yang di dalam kandungannya adalah darah daging kita. Kita tidak bisa mengingkari keberadaan anak itu. Apa kamu akan melakukan poligami? Mama lihat kamu tidak dapat melakukannya karena si Koko itu takkan pernah mengizinkan kamu menduakan wanita!"


"Alvan tahu..anak Karin telah keguguran! Selama Mama pergi banyak sekali kejadian terjadi di keluarga kita. Dosa Karin sangat banyak. Tak mungkin Alvan ceritakan satu persatu saat ini. Sekarang yang penting adalah kita memberi semangat pada Papa agar cepat sembuh!" Alvan tak mungkin buka siapa bapak dari anak Karin. Anak itupun telah tiada maka Alvan tak ingin jelaskan apa yang terjadi. Biarlah semua terkubur dalam tanah.


"Astaghfirullahaladzim.. apa yang telah terjadi? Mengapa Karim bisa sampai keguguran? Apa karena kehadiran Citra?"


Bu Dewi menghentikan langkah menatap mata anaknya lekat-lekat untuk mencari kejujuran di mata itu. Bu Dewi memang tidak menyukai Karin tetapi tidak mengharap Karin keguguran gara-gara Citra. Bisa jadi Karin sakit hati pada kehadiran Citra sehingga mengalami pendarahan. Bu Dewi tidak memahami apa yang telah terjadi di dalam keluarganya. Citra juga yang jadi kambing hitam dari persoalan ini.


"Semoga kamu jujur nak! dulu kamu campakkan Citra demi Karin dan sekarang mengharap kamu tidak mencampakkan Karin karena Citra. Kami ini semua wanita yang mempunyai perasaan halus. Karin boleh bersalah tetapi dia telah mendampingi kamu selama bertahun-tahun."


Alvan menatap punggung Citra yang telah duluan masuk ke dalam rumah sakit. andaikata Citra mendengar kalimat yang keluar dari mamanya pasti akan sakit hati. Citra tidak tahu menahu mengenai kelakuan Karin. Tiba-tiba dijadikan tersangka penyebab keguguran Karin siapapun akan sakit hati.


"Baiklah ma! Kalau mama memang ingin mengetahui mengapa Karin sampai keguguran Alvan akan menjawab dengan sejujur-jujurnya. Anak yang dikandung Karin itu bukan anak Alvan. Dia main gila dengan lelaki lain sehingga mengandung. Lalu dia main gila lagi dengan seorang lelaki yang mengidap penyakit HIV. Di situlah penyebab dia keguguran karena Karin juga sedang menginap penyakit HIV." Alvan sudah tak sanggup menyembunyikan fakta karena Bu Dewi asyik menuduh Citra dengan tuduhan yang tidak mendasar.


Bu Dewi mendekat mulut saking kagetnya mendengar cerita Alvan mengenai Karin. Bu Dewi tak menyangka Karin bisa berbuat seekstrem ini mempermalukan Alvan. Tubuh Bu Dewi sampai bergetar menerima fakta bahwa menantunya bukanlah wanita baik-baik. apalah jadinya bila Bu Dewi tahu bahwa bapak dari anak yang dikandung Karin adalah suaminya sendiri. Mungkin nenek itu akan mati berdiri karena serangan jantung.


"Kau tidak bohong pada Mama nak? Apa bukan karangan kamu untuk bisa kembali pada Citra?"

__ADS_1


"Citra lagi Mama salahkan! Citra malah menyarankan aku kembali pada Karin dan berpisah dengannya secara baik-baik. Mama tahu nggak aku sangat mencintai Citra. Bertahun-tahun Aku kehilangan sosok yang aku cintai. Aku mencari Citra kemana-mana tetapi dibohongi oleh Karin. Karin telah berbuat banyak memisahkan aku dengan Citra. Kebaikanku pada Karin seperti mengambil pasir menimbun laut. Tidak berbekas sama sekali. Apa Mama masih ingat kejadian kecelakaan Alfan pada 4 tahun lalu? Gara-gara kecelakaan itu Alvan kehilangan kesuburan. waktu Mama mengatakan Karin hamil aku sangat terkejut karena aku baru pulang dari rumah sakit mendapat laporan bahwa aku ini mandul. Sekarang mama ngerti kan mengapa Alvan marah pada Karin?"


Bu Dewi seperti kehilangan sukma mendengar Karin mengidap penyakit HIV. Penyakit yang sangat tidak diharapkan oleh semua manusia di bumi ini. Manusia kotor yang akan mengidap penyakit itu.


"Van.. ini Mama mengerti mengapa tiba-tiba kamu mengirim Mama ke Kalimantan! Ternyata ini persoalannya. Kamu tak ingin Mama mengetahui persoalan yang sesungguhnya. Benarkah itu nak?" Bu Dewi memegang kedua lengan Alvan sambil mengguncangnya.


Alvan tidak berdaya untuk menjawab selain mengangguk benar kan dugaan Bu Dewi. Bu Dewi tertawa pahit mengira keluarganya di Kalimantan memang mengundangnya ke pesta. Ternyata Alvan mempunyai perhitungan lain mengirim mamanya ke daerah jauh.


"Kalau kamu tidak subur mengapa bisa ada Azzam dan Afifa? Atau mungkin Citra sedang membohongi kamu."


"Mengapa Mama berubah aneh pada Citra? Citra itu orangnya sangat tulus. Dia bahkan memaafkan Karin yang telah menyakitinya bertahun-tahun. Apa di dunia ini masih ada orang sebaik Citra? Soal Azzam dan Afifa mereka lahir 8 tahun yang lalu. Waktu itu Alvan masih sehat. Kecelakaan 4 tahun lalu yang telah merenggut masa depan Alvan."


Bu Dewi merasa sangat bodoh tidak mengetahui kemelut yang sedang dihadapi oleh anaknya. Bu Dewi bukannya membantu anaknya malah pergi bersenang-senang ke Kalimantan. Rasa bersalah pada Alvan membuncah di hati bu Dewi.


"Ma... Citra dengan susah payah telah membesarkan cucu-cucu mama jadi Alvan harap mama harus bisa menghargai pengorbanan Citra. Citra tidak mengharap sedikitpun harta dari keluarga kita. Dia cuma menginginkan anak-anaknya saja. Alvan juga menginginkan anak-anak itu. Mereka adalah pewaris dari keluarga Lingga. Kuharap mama bisa memilah masalah. Kalau sempat Azzam dan Citra memilih pergi dari Alvan maka Alvan juga akan meninggalkan semuanya pergi bersama mereka." kata Alvan tajam supaya mamanya tidak berprasangka buruk pada Citra.


"Kau yakin pada Citra?"


"Alhamdulillah Alvan yakin pada Citra! Dia banyak mengubah hidup Alvan menjadi lebih baik. apa Mama tak melihat bagaimana dia mendidik ketiga anaknya menjadi manusia yang sangat berpotensi. Mama lihat saja si Azzam! Bagaimana sosok anak hasil didikan Citra? Anak seumur itu telah mempunyai pikiran yang lebih panjang daripada rel kereta api."


Bu Dewi manggut-manggut setuju pada perkataan Alvan. Azzam memang memperlihatkan kecerdasan anak yang luar biasa. Harusnya Bu Dewi bangga memiliki cucu yang sangat jenius. Namun tetap saja tertinggal keraguan bila hati wanita tua ini. Bu Dewi takut Citra menggunakan kedua anaknya untuk menjerat Alvan. Citra bukanya tidak tahu kalau keluarga Lingga sangat kaya raya. Apa mungkin Citra sedang mengincar harta keluarga Lingga? Itu keraguan seorang ibu. Bu Dewi hanya ingin melindungi anaknya dari ancaman luar.


"Lalu Karin di mana sekarang?"


"Ada ada di rumah sakit ini sedang dirawat karena keguguran dan mengenai penyakitnya. Mama tidak perlu terlalu mendekati Karin karena dia mengidap penyakit yang sangat berbahaya."


"Kalau Karin HIV lagi kamu bagaimana?" Bu Dewi cemas anaknya ikut terjangkit. Alvan adalah pasangan Karin, wajar kalau tertular penyakit mematikan itu.


"Alhamdulillah anak mama aman dari penyakit itu karena telah cukup lama kami tidak berhubungan badan. Karin terlalu asyik di luar melupakan suami. Allah masih sayang pada Alvan dihindarkan penyakit ini dan bertemu Citra."

__ADS_1


"Di mana kamu bertemu Citra?"


"Di rumah sakit ini! Dia bertugas di sini setelah lulus dokter spesialis di Tiongkok. Aku jumpa dia sewaktu cek kesuburan! Dia dokter yang tangani aku! Dia menolak dan berniat kabur lagi bawa anak-anak. Untunglah Alvan pakai segala cara melarangnya pergi. Kalau tidak seumur hidup kita tak tahu ada penerus Lingga telah hadir di dunia ini."


__ADS_2