
Azzam tidak tersenyum senang atau beri reaksi menggembirakan. Alvan tak tahu apa lagi yang ada di otak anaknya. Dapat dipastikan bayangan buruk terhadap Alvan. Anak itu mengira Alvan sengaja menyimpan kenangan bersama Karin. Nama Karin belum kena delete dari hati Alvan.
"Sudah?" Alvan yang balik bertanya apa Azzam puas melihat Alvan menghapus semua kenangan bersama Karin. Alvan bukan takut pada Azzam tapi tak mau anaknya menaruh rasa curiga. Jurang yang telah terjembatani akan menganga lagi. Jarak akan terbentang antara mereka.
Azzam turun dari kursi singgasana Alvan tanpa berkata apa-apa. Anak lajang ini memilih bergabung dengan Afifa di sofa. Alvan berdoa dalam hati semoga foto-foto Karin bukan menambah dosanya di mata Azzam. Mengapa nasibnya apes selalu saja ada sela menumpuk noda hitam di mata Azzam.
Nampaknya Alvan harus mandi kembang setaman untuk buang aura sial. Baru saja bersenang dengan kedua anak kini muncul soal baru dengan Azzam.
Beruntung Untung bawa makanan mencairkan suasana canggung antara anak bapak itu. Untung bawa cukup banyak makanan kesukaan anak-anak bosnya. Untung sengaja memilih makan yang lezat karena kedua anak itu mendapat penghargaan atas prestasi mereka.
Afifa paling duluan comot makanan yang dikemas di sterofoam. Untung order makanan yang tidak terlalu pedas menurut ukuran anak-anak. bistik ayam dengan saus jamur plus kentang goreng dan sayuran wortel. Cukup menunjang gizi untuk pertumbuhan anak-anak.
Alvan membantu kedua anaknya untuk membuka kemasan agar tidak bertaburan di mana-mana. Afifa sudah tidak sabaran ingin cepat-cepat menikmati makanan yang diorder oleh Untung.
Azzam sedikit kalem tidak tergesa-gesa walaupun tampak memang juga kelaparan. Alvan membantu kedua anaknya menyiramkan saus ke bistik agar segera dinikmati oleh kedua anaknya.
Azzam dan Afifa tampak sangat suka menu pilihan Untung. Kedua anak itu menyantap makanan tanpa suara. Alvan juga ikut makan sekali-kali melirik ke arah Azzam untuk melihat bagaimana raut wajah anaknya itu. Tetap cool tak tampak ada sesuatu tersembunyi di dalam hati anak itu.
Selesai makan Alvan membawa Afifa dan Azzam membersihkan tangan di kamar mandi dalam ruangan. Entah kenapa Azzam seperti agak segan masuk ke dalam kamar istirahat Alvan. Namun anak itu masuk juga dengan terpaksa.
Alvan makan hati memiliki anak dengan kecerdasan melewati batas seharusnya. Bawaan Azzam selalu curiga kepadanya. Kalau begini terus Alvan akan lebih cepat tua dari usia sebenarnya.
"Ok..sekarang kita pergi belanja! Setelah itu kita langsung pulang. Mami sudah bilang menunggu kita di rumah." Alvan mengurai rasa kaku dengan Azzam. Afifa tidak ambil peduli dengan suasana yang agak horor. Afifa si hati lembut mana lihat adanya pertempuran batin antara anak bapak. Pangkalnya hanya karena foto-foto Karin tersimpan sedemikian banyak di komputer Alvan. Sedangkan dengan Citra tak ada satu lembar pun. Jangan selembar, setengah saja tidak ada.
Azzam merasa maminya tidak dihargai oleh Alvan. Yang pantas dipertahankan justru tak dihargai, sedangkan yang harus dicampakkan justru dapat kehormatan menjadi penghias layar kaca.
Azzam sama sekali tidak bicara walau Afifa meloncat girang dapat banyak hadiah dari Alvan. Azzam tidak memilih satu barang pun sebagai tanda boikot papinya. Alvan menawarkan ini itu selalu dibalas gelengan kepala.
Jujur Alvan menjadi pusing menghadapi sikap Azzam yang cepat berubah. Tadi mereka masih baik-baik, dalam sekejap anak itu berubah arah. Kelihatannya badai sedang bertiup ke arah Alvan lagi. Salah sendiri lengah membaca situasi. Sudah tahu punya bocah selihay detektif sengaja pula simpan kenangan dengan mantan isteri. Cari penyakit sendiri.
Afifa mendapat banyak hadiah sedang Azzam tidak mengambil satupun barang yang ditawarkan Alvan. Sifat keras Azzam ntah diwarisi dari siapa. Lebih keras dari batu. Batu masih dihancurkan pakai Godam palu. Sedang yang ini tidak mempan dirayu.
Alvan kecewa atas sikap Azzam. Hanya kesalahan kecil anaknya tega vonis dia telah melanggar hukum keluarga. Tinggal menunggu hukuman apa pantas dijatuhkan ke Alvan. Hukuman pancung atau kena dimusuhi seumur hidup.
Alvan membawa kedua anaknya pulang ke rumah. Di sana sudah ada Citra menunggu kehadiran keluarganya. Afifa berseru riang begitu lihat Citra telah berdiri di depan pintu. Gadis ini melompat ke pelukan maminya.
Citra tertawa lihat Afifa begitu bahagia melangkah maju sesuai harapan satu keluarga.
"Mami..Amei berhasil jadi ranking dua. Tahun depan Amei akan jadi ranking satu." koar Afifa suarakan rasa bangga berhasil maju dari tingkatan lama.
Citra tak dapat menyentuh pipi chubby Afifa karena kedua tangan memeluk Afifa agar jangan melorot ke bawah. Untuk ukuran tubuh Citra berat badan Afifa lumayan terasa. Afifa termasuk anak sehat karena tubuhnya bulat.
"Mami sudah tahu dari papi. Anak mami sudah gede. Selamat ya sayang!" Citra hadiahkan kecupan di pipi berulang kali.
Azzam mematung menanti euforia Afifa berlalu. Dia juga harus dapat ucapan dari Citra. Ini sangat penting bagi Azzam. Ucapan Citra melebihi hadiah segunung.
Alvan mendehem menyadarkan Citra kalau masih ada anaknya yang lain menanti ucapan dari mulut sang mami.
"Amei turun dulu! Mami ingin peluk Koko!" kata Citra paham kode Alvan.
Afifa meluncurkan tubuh dari pelukan Citra beri kesempatan pada maminya beri penghargaan pada Azzam yang lebih membanggakan.
__ADS_1
Citra meraih tubuh Azzam ke pelukan sambil beri kecupan di atas kepala Azzam.
"Selamat ya ko...mami selalu bangga padamu! Pertahankan prestasimu! Jangan lengah!"
"Terima kasih mi! Koko janji akan makin rajin. Koko ada minta pada guru agar Koko naik ke kelas lima saja tapi guru bilang harus tunggu keputusan sekolah."
"Oya? Apa Koko mampu mengejar pelajaran kelas lima?"
"Insyaallah mi..doakan Koko berhasil!" ujar Azzam kalem tak bermaksud menyombongkan diri.
Afifa mendengar kalau abangnya akan loncat kelas lagi merasa sangat tidak senang. Kalau Azzam naik ke kelas 5 berarti dia ketinggalan 2 tahun dari Azzam. Mereka akan terpisah makin jauh.
"Nggak boleh ko! Amei makin tertinggal dong! Nanti Koko lebih cepat tamat daripada Amei. Amei tak mau sekolah sendirian tanpa adanya Koko." Afifa pasang wajah cemberut tak mau ditinggal oleh Azzam.
"Itu baru rencana Amei! Kan belum disetujui sekolah. Kalaupun Koko naik kelas lima Koko tetap berada di sampingmu. Sedetikpun Koko takkan biarkan orang yang Koko sayangi tersakiti. Kalau Amei tak suka Koko duduk di kelas lima Koko akan mundur." Azzam menguatkan Afifa kalau semua tak ada yang berubah.
Afifa tepuk tangan kesenangan Azzam mengalah demi dirinya. Afifah tidak tahu kalau Azzam sedang ingin menunjukkan bahwa dia mampu melahap semua pelajaran yang telah diterangkan oleh guru. Azzam tidak keberatan harus menunda rencana demi menyenangkan adiknya.
Alvan menatap Citra lekat-lekat seperti ada jarum kecil sedang menancap di sudut hati. Sedikit sakit namun terasa. Azzam gunakan kalimat sederhana mengingatkan Alvan untuk tidak menyakiti hati orang tercinta. Pasti ini imbas dari file Karin.
"Ok... anak-anak! Sudah capek seharian. Pergi mandi dan kita tunggu waktu magrib. Kita berdoa bersama agar kepintaran anak-anak mami makin bertambah." Citra menepuk pantat Afifa agar segera masuk ke kamar.
"Asal jangan tambah pikun saja!" desah Azzam pelan namun jelas di kuping.
"Apa katamu nak? Siapa pikun?" tanya Citra tak paham kalimat itu ditujukan pada siapa.
"Yang merasa." sahut Azzam seraya angkat kaki dari ruang keluarga sambil tenteng tas ranselnya.
"Papi...di mana belanjaan Amei?" Afifa berseru keras sampai Alvan terloncat kaget. Afifa terkekeh tak sangka Alvan bakalan kaget diteriaki keras.
"Oh ini...biar papi antar ke kamarmu!" Alvan segera mengambil beberapa paper bag di atas meja hadiah untuk Afifa.
Citra mengerjit alis lihat belanjaan Afifa lumayan banyak. Citra tak pernah ajar anaknya meminta walaupun berhasil dalam hal apapun. Apa Afifa sudah lupa didikan sang mami.
"Amei...ini semua Amei yang minta?" tegur Citra.
"Bukan...aku yang tawarkan! Mereka tak minta apapun. Kau jangan salah paham!" tukas Alvan cepat sebelum anaknya kena semprot mami sekeras baja itu.
"Benar mi...papi yang ngasih! Tuh Koko tak mau apapun! Dari tadi Koko kayaknya kurang senang."
"Sudahlah! Cepat mandi!" Citra menghela nafas melirik ke tingkat atas lihat bayangan Azzam yang sudah menghilang.
Afifa dan Alvan segera naik ke lantai dua menyusul Azzam. Citra kembali ke dapur menyiapkan makan malam untuk rayakan keberhasilan Azzam dan Afifa menjadi yang terbaik. Citra takkan beri hadiah tapi perhatian tulus seorang ibu.
Citra meneleponi Andi beserta kedua temannya untuk ikut rayakan keberhasilan kedua kurcaci Alvan. Ketiga jagoan neon itu orang cukup berarti bagi Azzam maka mereka wajib datang.
Sholat Isya semua telah berkumpul di rumah Citra. Bonar paling bahagia jumpa Iyem di tempat Citra. Pucuk dicinta ulampun tiba. Dasar jodoh ke manapun pergi tetap jumpa.
Semua memberi hadiah buat Azzam dan Afifa. Gibran juga beri hadiah sebagai om yang sayang keponakan. Gibran tak malu kalah dari kedua anak kecil itu. Keberhasilan Azzam dan Afifa akan jadi motivasi baginya untuk lebih maju.
Heru tidak tanggung-tanggung beri Azzam satu set home theater untuk di isi di dalam kamar anak itu. Hadiah lumayan mahal tapi takkan membuat Heru miskin. Afifa meja belajar baru yang berwarna pink. Hadiah dari Heru tak dapat dipasang malam hari. Mungkin besok harus cari tukang ahli untuk urus semua hadiah dari Heru.
__ADS_1
Masakan Citra sungguh lezat tak kalah dari restoran mahal. Pendek kata semua happy.
Seusai makan Azzam ajak ketiga jagoan neon kongkow di teras seperti biasanya. Sekarang mereka jarang bisa berkumpul karena terpisah jarak. Kalau dulu enak. Tinggal seberang selangkah dua langkah sudah bisa berkumpul.
Kesempatan kali ini harus disikapi sebaik mungkin. Saling tukar cerita pengalaman masing-masing selama menjalani hari berjauhan.
Iyem mengantar jus jeruk sebagai pelengkap acara kumpul bareng anak muda itu. Mata Bonar berbinar-binar lihat sosok subur Iyem melenggang di antara mereka.
"Di minum..." kata Iyem sopan.
"Terima kasih dek Iyem! Tidak mau gabung dengan kita di sini?" tanya Bonar sok akrab.
"Masih banyak kerja di belakang bang! Iyem harus cuci piring dulu." tolak Iyem halus.
"Biar Abang bantu! Abang ini pernah jadi kuli cuci piring di warung."
"Mana boleh tamu disuruh cuci piring. Nanti Iyem dimarahi nyonya Citra."
"Bukan nyuruh kok! Abang yang suka rela. Ko...kak Bonar boleh bantu Iyem?" Bonar ijin pada Azzam untuk ikut Iyem ke dapur. Ini kesempatan dekati Iyem. Kesempatan langka ini harus dimanfaatkan sebaik nya.
"Pergi sana! Asal jangan cucinya ke KUA." gurau Tokcer diiringi tawa derai Andi. Azzam yang belum paham situasi hanya melongo.
Iyem tersipu malu beri respon positif. Andi acung jempol puji keberanian Bonar mepet Iyem. Gini-gini Bonar punya nyali utarakan rasa suka pada Iyem. Caranya juga sopan tidak grasak-grusuk.
Iyem melangkah pergi diikuti Bonar dari belakang. Mereka ke dapur lewat pintu samping jadi tidak masuk ke ruang tamu lagi.
"Kak Bonar demen sama kak Iyem?" tanya Azzam mulai paham. Otaknya kena cas paham kondisi sebenarnya.
"Jadi kamu rasa apa?" tanya Andi sewot anggap Azzam kurang peka.
"Yaelah kak Andi! Koko kan ngak tahu kebaikan kak Bonar ada udang di balik batu. Kak Iyem lumayan baik cuma badannya gendut gitu. Kuat makan lho!"
"Itu selera kak Bonar kamu. Dia senang kok bangsa subur. Kata Bonar tidak perlu beli guling lagi karena sudah ada guling hidup yang empuk."
Akhirnya ketiga tertawa cekikikan mengejek selera Bonar yang aneh. Orang senang cewek ramping. Ini malah doyan yang bertumpuk lemak.
"Kak Tokcer ada kabar Natasha?" tanya Azzam teringat pada incaran Tokcer.
"Tiap hari teleponan dan video call. Dia janji akan cepat selesaikan kuliah untuk cari kerja di sini. Kak Tokcer kasih semangat dia biar makin rajin."
"Apa keluarganya tahu dia berteman dengan kak Tokcer?"
"Tahu...kak Tokcer tak banyak berharap. Dia orang kaya dan berpendidikan sedang kak Tokcer seorang supir. Banyak perbedaan antara kami."
"Koko tak pernah anggap kak Tokcer supir. Kakak tetap kakak. Cuma keahlian kak Tokcer di situ ya harus di situ. Kalian keluarga Koko sampai kapanpun." kata Azzam membuat Andi dan Tokcer terharu. Azzam tak berubah walau status telah menjadi putra mahkota dua kerajaan besar. Di sinilah nilai Azzam sebagai anak baik.
"Terimakasih ko! Kak Andi mau nangis rasanya."
"Nangis saja biar dipanggil kak Ance lagi. Anak laki kok cengeng. Kita harus tegar kawan cobaan hidup. Kalian lihat Cece! Dia tetap semangat walau jauh dari keluarga. Dia ingin mengalahkan dunia. Masa lalu mami ajar kami harus tegar. Jangan sudah miliki semuanya kita lupa kata kerja keras."
"Ko...kami kok merasa jadi anak SD diajarin guru?" Tokcer memijit leher merasa bodoh bila sudah diajak bicara falsafah.
__ADS_1