
"Papi tidak apa nak! Papi lega kalau Azzam tidak anggap papi abaikan kalian. Kalian bertiga adalah pelita hidup papi. Tak ada yang lebih penting dari kalian."
"Koko tahu...nanti Koko akan jelaskan semuanya pada Afifa dan Afisa. Mereka akan maklum mengapa tidak jadi liburan bersama. Sebagai gantinya Papi harus membawa kami liburan barengan di Bali."
"Ok...papi janji! Papi akan pesan hotel mewah untuk kita nginap bersama. Kalian di sana harus patuh pada Oma Uyut ya! Jaga diri dan jaga kesehatan!"
"Pasti Papi. kami tidak pernah berbohong gula membuat oma Uyut susah hati. Kami di sini tiap hari bersenang-senang. Papi dan mami tidak usah kuatir. Koko titip mami ya Pi!"
"Mami kalian itu isteri papi. Mana mungkin papi tinggalkan. Papi rindu pada kalian. Nanti malam video call lagi ya! Papi mau lihat Afisa dan Afifa."
"Siap kapten... sekarang Koko tutup dulu teleponnya karena Koko masih banyak kesibukan. Nanti malam kita sambung lagi. Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Hubungan terhenti. Alvan dan Citra berdiam diri tak tahu harus omong apa. Azzam sudah demikian bijak tidak kejar janji Alvan pada mereka. Bukan Alvan ingin ingkar janji tapi keadaan memaksa Alvan harus lari dari janji.
"Mas...kita jadwal tahun depan lagi." kata Citra tak semangat.
"Iyalah! Lain bisa apa? Om kamu itu memang kegatelan. Tunda sampai tahun depan pun tak mau." omel Alvan belum puas hati rencana liburan berantakan.
"Alah.. laki itu pada dasarnya sama semua. Pantang lihat barang licin!" sungut Citra meletakkan ponsel di meja lalu ayun langkah ke dapur. Tentu saja lanjutkan acara memasak.
Alvan tinggal sendirian merenungi liburan yang batal. Bayangan honeymoon bersama Citra dengan pengawalan tiga pengawal pribadi ambyar. Sedih dan sakit hati pada Heru. Kunyuk itu bersenang dengan isteri baru sedang Alvan nelangsa batal pergi. Alvan berjanji akan membuat Heru bayar apa yang telah dia lakukan pada keluarganya.
Seminggu berlalu. Alvan telah kembali lakukan aktifitas seperi biasa. Citra sibuk dengan tugas sekaligus didik lima murid calon dokter. Waktu berjalan sangat cepat. Tak terasa sudah waktunya Heru bawa pulang anak-anak ke tanah air. Kedua orang Alvan dan orang tua Heru masih di sana untuk menunggu Bu Dewi berobat.
Alvan dan Citra turun tangan sendiri sambut kehadiran buah hati. Dua Minggu berpisah cukup membangun rasa rindu jadi satu bangunan besar. Bangunan sarat dengan bongkahan rindu.
Di rumah Andi dkk membuat acara penyambutan meriah. Semua yang kenal Azzam dan Afifa diundang datang ke rumah Citra. Daniel seniman gagal juga diundang untuk meriahkan acara ini. Bu Menik dan Emak Tokcer tentu saja ambil bagian sukseskan acara ini.
Andi jadi panitia penyambutan. Laki yang mulai sadar kalau dia itu cowok kini tampil makin macho. Sengaja piara kumis tipis biar tampak makin macho.
Kembali pada Alvan dan Citra yang menyambut kehadiran Heru dan anak-anak ke tanah air. Pasangan suami isteri ini menanti dengan hati bergebu ingin segera memeluk buah hati. Ada rasa tidak sabar menunggu pesawat landing.
Bukan salah jadwal pesawat landing tapi pasangan ini yang kecepatan datang ke bandara. Pesawat mungkin masih berada di langit menembus awan, keduanya sudah di bandara.
Begitulah hati orang tua. Merindukan anak setiap detik. Sedang yang dirindukan belum tentu ingat orang tua. Yang terbaik selalu diberikan pada anak. Kasih ibu sepanjang jalan sedang kasih anak sepanjang galah. Pepatah kuno yang gambarkan kasih sayang ibu yang tak pernah putus.
Hampir satu jam menunggu akhirnya pesawat yang ditunggu landing berdasar pengumuman operator bandara. Citra berjingkrak kegirangan sampai lupa diri berada di mana. Wanita ini memeluk Alvan berkali-kali.
Alvan terharu melihat kebahagiaan isterinya akan segera jumpa anak. Alvan tak tahu berapa berat timbangan kasih sayang Citra pada anaknya. Yang pasti berton tak bisa diukur.
Keduanya bergerak ke tempat penjemputan. Satu persatu penumpang keluar bawa bagasi menuju ke penjemputan. Mata Citra jeli mencari sosok-sosok yang selalu berada di hati.
Yang paling duluan tampak Gibran gandeng Afifa. Keduanya berjalan keluar lewati pintu kaca tebal. Di belakang hadir Azzam dan Afisa barulah muncul si biang kerok pengacau rencana Alvan.
Hati Alvan masih mengkal pada Heru. Laki itu harus bertanggung jawab atas batalnya rencana mereka berlibur. Heru harus bayar mahal kegagalan ini.
"Mami...papi..." seru Afifa begitu lihat kedua orang tuanya.
Citra merentangkan tangan sambut anak bungsunya. Afifa melepaskan pegangan Gibran berlari menyongsong sang mami. Citra memeluk buah hatinya dengan erat-erat tumpahkan rasa kangen.
__ADS_1
Azzam dan Afisa memeluk Alvan karena tak ingin ganggu kerinduan Afifa si kecil. Mereka berdua lebih dewasa biarlah mengalah. Azzam dan Afisa bukannya tidak rindu pada Citra. Cuma ada makhluk kecil lebih manja butuh bau induknya.
Gibran juga dapat pelukan hangat Alvan. Hanya Heru tak dapat jatah. Laki itu sudah puas peluk isteri baru mana ingat pelukan keluarga lagi.
"Amei...gantian dong! Kami kan mau peluk mami!" Afisa mencolek Afifa yang masih lengket pada Citra.
"O iya...Amei mau peluk papi!" Afifa berlari ke arah Alvan melompat ke pelukan sang papi. Loncatan Afifa cukup ekstrim mendorong tubuh Alvan mundur selangkah.
"Wah...anak papi tambah berat! Makan apa di sana?" ujar Alvan kesulitan gendong Afifa yang memang tambah subur.
Afifa tertawa renyah menunjukkan pipinya yang makin tembem. Alvan makin gemes sampai mencium pipi itu berkali-kali. Afifa makin menggemaskan dengan tubuh makin gempal.
"Tiap hari makan hot pot. Opa juga banyak makan. Hanya om Gi kurang suka." lapor Afifa lugu.
"Oh gitu ya! Ayok kita pulang! Papi ada kejutan untuk kalian." Alvan masih gendong Afifa tinggalkan yang lain. Alvan sengaja menyiksa Heru bawa bagasi anak-anak biar tahu rasa.
"Hei...hei...opa kok ditinggal?" seru Heru bingung karena bagasi ditinggal buatnya. Hanya Azzam dan Gibran tarik koper mereka sedang punyaan Afifa dan Afisa ditinggal buat jatah Heru.
"Itu resiko jadi pengantin baru." cetus Citra sedikit ketus. Citra omong gitu ingatkan Heru dosanya bikin rencana mereka berantakan. Citra melangkah pergi sambil gandeng Afisa.
Heru mendecak kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa. Apa kata orang seorang pemilik perusahaan besar jadi porter di bandara. Heru bergerak dorong troli menuju ke mobil yang sudah menunggu. Heru meminta asistennya si Laba ikut jemput karena tahu satu mobil tak mungkin angkut mereka semua.
Afifa dan Gibran ikut mobil Heru. Afifa makin hari makin lengket dengan om Gi nya. Gibran terlalu sayang pada si kecil karena anak itu menggemaskan. Sudah cantik bikin hati selalu gembira.
Azzam dan Afisa selalu tersenyum melihat keakuran orang tua mereka. Tak ada alasan bagi Afisa musuhi Alvan. Laki itu berusaha beri yang terbaik pada keluarga sebagai penebus dosa.
Citra melirik ke belakang lihat kedua buah hatinya saling lempar senyum.
"Senang... apa kamar Cece sudah dibuat papi?"
"Sudah dong! Warna orange kan?" sahut Alvan bangga pada diri sendiri.
"Xie Xie(terima kasih)..."
"Papi selalu berharap Afisa tinggal bersama di rumah. Papi sedang buat rumah lebih besar untuk kalian. Di tempat tinggal kalian dulu. Azzam mungkin tahu rumah Bu Hajjah di simpang jalan."
"Rumah gede itu? Serem Pi... kelewat gede! Kita di rumah Uyut saja. Kita senang kok kumpul sama Uyut dan om Gi!" tolak Azzam secara halus.
Rumah tidak mesti gede yang penting nyaman. Azzam sudah menemukan tempat nyaman dan hangat. Tak ada niat pindah ke tempat lain lagi. Apa lagi sambutan Oma Uyut mereka selalu hangat. Sangat beda dengan Oma kandung mereka.
"Tapi papi ingin kita punya rumah sendiri."
"Itu juga rumah kita Pi. Uyut sudah kasih ke mami. Opa dan Om Gi juga ikhlas. Malahan opa mau perlebar biar kita enak main. Katanya nanti Koko bakal punya om atau Tante bayi. Ya kan Ce?" Azzam tanya ke Afisa.
"Papi boleh punya rencana tapi untuk sementara biar tinggal dekat Uyut. Kasihan Uyut ditinggal pergi." timpal Afisa lebih bijak.
Alvan sangat bersedih semua anaknya tidak pernah ungkit tentang orang tuanya. Di mata anak-anak mungkin orang tua nya bukanlah keluarga. Anak-anak juga tak salah karena perlakuan Bu Dewi pada anak-anak memang keterlaluan. Anak kecil tentu hanya dekat dengan orang yang punya hati hangat.
"Sudahlah! Itu cerita masih lama! Yang penting sekarang kita berkumpul. Lusa kita terbang ke Bali ya! Waktu liburan Koko dan Amei tinggal sedikit maka kita harus cepat." Citra melerai agar tidak ada perdebatan tak menyenangkan antara anak bapak.
Pertemuan kali ini hendaknya tidak diwarnai keributan. Mereka mesti bahagia bisa berkumpul lagi. Untuk apa ingat yang tidak perlu. Bikin bad mood saja.
__ADS_1
"Iya mi..." sahut Azzam dan Afisa barengan. Azzam bisa baca pikiran Citra tak ingin ada gap antara mereka.
Perjalanan selanjutnya berkesan monoton karena tak ada suara dalam mobil selain terdengar suara deru mesin serta suara AC mobil. Tak ada yang ingin buka mulut.
Keheningan berlangsung sampai di rumah. Pintu pagar memang terbuka menanti kehadiran tuan rumah. Dua satpam sudah menanti kehadiran mobil keluarga Lingga dan Perkasa. Dua raksasa bisnis yang sudah kolaborasi. Siapa sanggup lawan mereka bila sudah bersatu. Berapa banyak harta kekayaan mereka hanya mereka yang tahu.
Mobil Heru duluan sampai. Di belakang mobil Alvan. Kedua mobil langsung masuk pekarangan yang luas. Satpam segera membuka pintu mobil menanti penghuni keluar.
Afifa paling heboh senang lihat rumahnya lagi.
"Home sweet home..." seru Afifa merentang tangan menatap lurus ke rumah.
Dari dalam rumah keluar segerombolan orang berteriak riang. Suara paling gede tentu Andi lupa harus tampil macho dengan kumis tipis melintang di atas bibir.
"Amei...Koko ...Cece...ya ampun.." teriak Andi girang lihat adik asuhnya telah kembali. Saking girang laki ini lupakan adat.
Afifa berlari melompat ke arah Andi minta dipeluk. Andi hampir terjatuh kena timpa karung beras kecil. Kecil tapi berisi.
"Kak Andi...Rindu..." Afifa tak mau tahu kakaknya itu hampir habis nafas kena hantaman tubuh Afifa.
"Ya ampun Amei...kamu kok berat banget! Makan apa di sana? Dijejali busa sampai gembung gini?"
Afifa tertawa renyah perlihatkan giginya yang ompong di depan. Afifa makin lucu giginya copot satu. Andi tak dapat tahan diri untuk tidak cubit pipi chubby Afifa.
"Ayo masuk! Masa cuma berdiri di sini!" ujar Azzam kalem bak orang dewasa.
Jasmine dan Fitri terpana lihat cowok kecil luar biasa ganteng. Ternyata ini anak dari dokter Citra. Sangat pantas jadi keturunan Alvan dan Citra. Mereka memang pasangan serasi maka keturunan juga moncer.
"Selamat datang..." seru Bonar mewakili semua hadirin. Suara lantang Bonar cocok jadi ketua tim penyambutan tamu.
Semua masuk surprise ada party kecil sambut kepulangan pangeran dan tuan putri dua kerajaan kaya.
Tulisan selamat datang terhias di dinding. Di samping ada balon warna-warni persis dekor untuk ulang tahun anak-anak. Ini pasti ulah Andi dkk sambut Azzam dan adiknya dengan meriah.
Afifa melorot turun dari rengkuhan Andi takjub dapat sambutan meriah. Rasa penat naik pesawat sampai berjam-jam terbayar oleh sambutan luar biasa.
"Terima kasih ya!" kata Afifa tidak menyebut spesifik nama seseorang. Ini bukan hasil karya satu orang saja. Pasti gotong royong bersama dekor dan sediakan makanan lumayan banyak.
"Makan besar .... Ayo sikat!" Ajak Gibran tak sabaran lihat segitu banyak makanan lezat terhidang di meja. Perut jadi lapar karena kena pancingan deretan menu di meja.
"Tunggu dulu! Kayaknya kita dapat anggota baru. Belum kenalan sama anggota baru jagoan dari kampung." mata Azzam jeli lihat dua cewek baru di antara tamu. Azzam belum pernah lihat kedua perawat yang kini akrab dengan ketiga jagoan neon.
"Huusss...itu kak Jasmine dan kak Fitri! Mereka perawat yang bertugas di ruang mami. Ayo kasih salam!" Citra mendorong ketiga anaknya Salami kedua perawat yang jadi tangan kanannya.
Satu persatu anak Citra menyalami kedua kakak perawat itu. Andi tersenyum senang melihat Jasmine diterima dengan baik oleh Azzam. Untuk mendapat pengakuan dari Azzam bukan perkara mudah. Anak itu kritis tak gampang terpengaruh penampilan luar. Anggap saja Jasmine lolos seleksi awal.
"Kita makan dulu dong! Opa sungguh kelaparan." kata Heru duluan ambil piring cari makanan yang sesuai selera.
"Aduh opa..! Simpan koper dulu! Masa makan dulu!" ujar Afisa menggeleng lihat tingkah opa gaulnya.
"Nanti ada yang ambil! Opa sudah kelaparan dari dalam pesawat. Makanan di pesawat jauh dari selera opa. Ayo kita pesta!" jawab Heru tak open yang lain nonton sang opa dengan takjub. Jasmine dan Fitri terkesima lihat opa Afisa yang keren dan ganteng. Sangat disayangkan semuda ini sudah jadi opa orang.
__ADS_1
"Silahkan! Kita mulai saja! Ini hanya acara keluarga. Bukan untuk orang luar. Tak perlu banyak adat. Fitri... Jasmine... jangan malu!" Citra biarkan yang lapar duluan ambil makanan.