ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Malam Romantis


__ADS_3

Citra masih bercerita tanpa diminta Heru. Heru memilih jadi pendengar baik. Mendengar sepenggal cerita hidup Citra di malam berangin membuat suasana romantis bagi Heru. Citra lain dari yang lain. Wanita makin ingin jauhi Heru makin mengundang rasa penasaran Heru untuk dekati Citra.


"Aku terjangkiti virus covid tapi cepat pulih karena dapat pertolongan tepat waktu. Bapak dengar ceritaku?" Citra melirik Heru yang diam dari tadi. Siluet Heru kena terpaan cahaya api obor bagai dewa beneran turun dari langit. Lelaki itu demikian macho menyiratkan sosok teguh mencuri hati para wanita.


"Aku dengar...tak kusangka cewek semungil kamu punya daya tahan lebih kuat dari lelaki. Aku salut."


"Itu tugas seorang dokter. Waktu kita angkat sumpah jadi dokter kita sudah terikat janji. Mau menghindari juga malu pada janji sendiri. Bapak tidak dingin?" Citra tak tega lihat Heru hanya kenakan kaos lengan panjang tidak begitu tebal.


"Dingin dikit! Aku tak pandai bohong katakan tidak dingin. Oya...apa di matamu aku sudah tua hingga harus dipanggil bapak? Aku keberatan dianggap tua. Gini-gini masih mampu nafkahi bini." protes Heru kurang puas dipanggil bapak oleh Citra. Seganteng gini serasa jadi kakek tua.


Tawa lirih Citra menjawab protes Heru. Citra bukan anggap Heru tua tapi itu satu penghormatan pada Heru sebagai orang lebih berkuasa. Tidak mungkin Citra panggil Heru dengan sebutan nama atau Abang. Nanti dikira panggil Abang becak.


"Bapak salah sangka. Aku hanya hormati posisi bapak. Apa mau kupanggil nak?"


"Jangan! Ntar dikira punya ibu tiri muda belia. Gimana panggil mas Heru. Adem sedap di kuping!"


"Bapak orang Jawa?"


"Iya...dari Solo. Mau ya panggil mas. Nggak tulen juga tak apa, yang penting mas." gurau Heru berusaha hangatkan malam dingin. Kalau diijinkan ingin rasanya Heru bawa Citra ke pelukan rasakan betapa hangat bila bersama. Sayang Heru belum makan nyali harimau jadi tak berani.


"Baik mas Heru..."


Heru mengurut dada berkali merasa adem dalam hati dapat panggilan demikian merdu. Kata mas Heru laksanakan siraman air surga meresap lembut ke dalam relung kalbu. Maunya tiap hari Citra berada di sisinya mengeluarkan panggilan itu. Hidup Heru pasti sempurna ada penyemangat hidup.


"Terima kasih sayang!"


"Lho kok sayang? Emang aku ini pacar mas Heru?"


"Sekarang bukan tapi nanti siapa tahu. Aku ini orangnya kreatif maka latihan mulai dari dini biar kelak tidak gagap mulut."


"Hhuuu..ngarep..."


"Jelas...aku ini lelaki pantang menyerah. Niatku baik kok! Membangun keluarga sakinah mawadah warahmah."


"Emang sudah ada calon? Manekin bonyok itu?" Citra teringat pada Viona. Apa Heru sedang latihan pacaran agar punya nyali lanjutkan hubungan dengan Viona. Citra bayangkan betapa apes hidup Heru bila menyunting wanita tak punya hati macam Viona. Namun Citra tak mau jelekkan orang memilih membatin dalam hati tentang Viona. Heru yang berhak tentukan masa depan sendiri.


"Idihhh nih orang nggak peka!" sungut Heru dalam hati. Dari tadi dia ajak Citra ngobrol untuk klik cari kecocokan. Wanita ini malah bawa alur cerita ke belahan lain. Sia-sia Heru berkorban melawan angin demi kejar Citra.


"Aku sedang mengejar calon aku! Kamu dukung ya! Doain aku berhasil dapatkan wanita pujaan ku!"


"Pasti diaminkan! Pantang mundur lho mas!"


"Itu pasti...besok aku balik kota sekalian antar pasien. Helikopter akan antar segala kebutuhan sini. Laba akan atur semuanya. Kau ada titipan?"


"Tidak terima kasih. Semua kebaikan bapak akan kucatat dalam hati. Semoga suatu saat aku punya kesempatan balas jasa baik bapak."


"Nah bapak lagi! Nih ubanku tumbuh seratus helai. Aku cepat tua bila dipanggil bapak lagi." Heru mewek tak senang Citra lupa lagi beri panggilan sejuk di dada.

__ADS_1


"Sori mas tulen...suka lupa!"


"Gitu dong! Tulangku serasa muda lagi. Kalau kau panggil bapak Tulangku langsung osteoporosis. Keropos semua."


Tawa Citra berderai di tengah kegelapan malam. Hati Citra terhibur oleh joke-joke kecil dari Heru. Ternyata Heru memang lucu orangnya. Bukan sekedar konyol doang. Heru cukup menghibur Citra di kala kesunyian gini.


"Terima kasih sudah datang mas! Maunya mas ikut lomba pelawak. Siapa tahu masuk final."


"Huusss...apa kata anak buahku bila tahu bosnya seorang pelawak! Tidak ada yang takut padaku lagi. Seorang bos harus cool di depan anak buah. Kita tak boleh biarkan anak buah berdiri di atas kepala kita. Aku bercanda hanya denganmu! Kau sangat misterius membuatku ingin menggali siapa dirimu!"


"Aku?" Citra menunjuk batang hidung mancung sambil tertawa kecil, " Aku dokter Citra spesialis urat dan syaraf. Bukan dokter sarap ya! Jangan salah pengertian!"


"Ngerti Bu dokter?"


"Ngomong-ngomong gimana luka mas? Ada enakan?"


"Alhamdulillah sudah membaik. Tinggal tunggu buka benang. Aku tunggu kamu yang lakukan. Aku lebih nyaman ditangani oleh dokter cantik."


"Gombal...nggak ada uang receh tuh!"


"Tidak perlu uang cukup perhatian dokter. Udara makin lembab. Kita balik ke mesjid? Kau harus istirahat. Besok masih banyak tugasmu! Aku akan terbang pagi sekali agar sembako dan bahan lain cepat tersalurkan. Kau harus jaga diri jangan kecapekan ya!"


"Aku tahu batas kemampuan fisik aku mas! Ayok kita balik! Nanti manekin mas mencari."


"Aku minta maaf atas kelakuan Viona. Besok dia akan kubawa pulang. Yok!" Heru bangkit duluan mengulurkan tangan membantu Citra bangkit dari bangku kayu. Citra menatap tangan Heru yang besar. Betapa nyaman berada dalam genggaman telapak tangan kokoh itu. Sekelebat terlintas sosok tinggi besar dalam benak Citra. Sosok Alvan papinya anak-anak. Laki itu seolah sirna dari ingatan Citra setelah bersama Heru. Heru lebih pandai menarik perhatian Citra dengan tingkah konyolnya. Beda dengan Alvan yang agak kaku.


Citra ambil keputusan besar memasukkan tangan mungil ke dalam genggaman tangan besar Heru. Heru menarik Citra mendekat padanya agar terhindar dari udara dingin. Senyum kemenangan bertengger di sudut bibir Heru. Langkah pertama sukses mencuri perhatian Citra. Semoga langkah selanjutnya makin mulus.


Keduanya berjalan beriringan tanpa melepaskan gandengan tangan. Satu tangan Citra lain membawa roti pemberian Heru. Sayang kalau ditinggal karena di saat gini setiap makanan terasa sangat berharga. Sekilas keduanya seperti sejoli sedang memadu kasih. Awal pertama pegang tangan baru berlanjut ke tahap lebih mesra. Heru memupuk harapan indah bisa lalui tahap demi tahap capai puncak sukses merajai hati Citra.


Sebelum sampai depan pintu mesjid secara reflek Citra menarik tangan dari genggaman Heru. Citra tak ingin bangun image buruk di daerah baru terkena bencana. Orang akan mengira dia dokter genit menggoda dermawan. Orang mana tahu Heru datang karena Citra.


"Pergilah tidur! Masuk kelambu ya!" ujar Heru lembut sebelum berpisah pergi ke tempat tidur masing-masing. Heru dapat tempat dengan kelompok para cowok sedang Citra bergabung dengan para wanita. Viona juga tidur di lantai mesjid beralas karpet tebal. Viona tak bisa protes karena itulah fasilitas terbaik di masa sekarang.


Citra masuk ke dalam kelambu di mana adanya Melati. Dokter itu sudah duluan menyambut mimpi saking lelah urus korban yang terluka. Citra juga cukup lelah maka cepat terbuai menyusul Melati menyongsong fajar. Tugas baru sedang menanti mereka.


Kicauan burung liar membangunkan para penghuni pengungsian. Panggilan tugas sudah menanti. Citra tertidur sangat nyenyak sampai melewati sholat subuh. Rasa penat luar biasa menguras seluruh tenaga Citra maka dia tertidur kayak kayu mati. Diangkat lalu dilempar ke sungai mungkin takkan terasa.


Citra cepat-cepat bangun seraya mencolek Melati yang masih ngorok halus. Kalau Citra menganggap diri kebablasan ternyata ada yang lebih parah. Melati lebih lupa daratan sampai matahari sudah tinggi masih keluarkan suara dengkur halus.


"Mel...bangun!" bisik Citra pelan di kuping Melati.


"Aku masih ngantuk ma...tidur lima menit lagi!" Melati malah ngelindur tak jelas. Ntah apa yang ada di otak gadis ini. Pikir tidur cantik di rumah. Lupa diri di mana dia berada.


"Nona Melati...bangun! Giliranmu piket!" seru Citra bikin Melati buka mata. Mata Melati masih belum bersinar normal. Cahayanya buram belum jelas sudah bangun atau masih tidur.


Muka bantal Melati terlalu berat untuk dilawan suara pelan Citra. Citra sudah kerahkan nada tertinggi dari pita suaranya namun tak mampu pengaruhi kesadaran Melati. Citra menatap Melati dengan putus asa. Tak ada obat bagi tukang tidur.

__ADS_1


Citra melirik ke kelambu sebelah berisi perawat cewek yang juga terkapar hilang energi. Keempat perawat itu bagai batere hilang daya setrum. Soak total.


"Mel...tuh pak Heru datang tuh! Apa lhu tak malu?" Citra terpaksa jual nama Heru untuk syok Melati.


Nama Heru punya daya jual cukup tinggi. Begitu terdengar nama mengandung magic kelima anak gadis itu meloncat bangun bagai kena aba-aba komando.


Mata mereka mencari sosok yang didengungkan Citra. Tak ada sosok bagai dewa Yunani itu. Yang ada hanya dipan pasien serta beberapa relawan laki masih molor menyambung mimpi di saat matahari mulai perlihatkan cahaya keemasan. Sinar matahari masih ramah tidak membakar kulit.


Melati mendecak jengkel kena prank Citra. Dewa Yunani idola baru mereka ternyata hanya rekayasa Citra agar mereka bangun.


"Kualat lhu!" Melati melempar selimut ke arah Citra disambut tawa derai Citra.


"Mimpi apa lhu? Kok senyam senyum dalam tidur?"


Melati mengacak rambut tanpa dosa di kepala. Mahkota tak bersalah jadi korban salah sasaran. Maunya kesal pada Citra ganggu mimpi indahnya. Melati bermimpi semalaman dia berada dalam dekapan dewa Yunani nyasar ke bumi itu. Mimpi indah itu buyar gara-gara keisengan Citra bangunkan dia.


"Pengacau..." omel Melati meraih kembali selimutnya. Tangannya sibuk melipat barang andalan pengusir hawa sejuk itu. Selama mereka masih di sini mereka sangat membutuhkan selimut.


Citra ikutan melakukan kegiatan serupa dengan Melati. Merapikan tempat tidur masing-masing sebelum lakukan kegiatan cerminkan jiwa pemilik tempat. Citra dan Melati tentu saja berlomba jadi panutan bagi yang lain karena mereka dokter yang notabene harus lebih bersih dari yang lain.


Mereka gantian mandi persiapkan mental menyambut tugas baru. Harapan para medis tentu tak ada pasien sakit parah. Bukan mereka malas layani orang sakit tapi berdoa semua pengungsi di beri kesehatan.


Pagi ini Citra berpakaian santai. Kaos lengan panjang dan celana jeans karet. Sekilas dilihat Citra bukan dokter spesialis melainkan anak remaja sedang tumbuh dewasa. Citra terlalu imut dibilang berusia dekat tiga puluh tahun. Di mata semua orang Citra tak lebih anak gadis berusia belasan tahun.


Melati menatap Citra iri hati tanpa terselip rasa dengki. Melati cuma iri Tuhan karuniai kecantikan alami sempurna pada Citra. Tanpa perlu berdandan dia telah nampak cantik. Pagi ini Citra ceria mirip gadis muda sedang jatuh cinta. Segar bagai bunga baru dipetik dari kebun.


Para medis keturunan Hawa itu berjalan ke dapur umum cari sarapan pagi untuk menambah energi bertempur dengan semua bibit penyakit.


Pagi ini sarapan mie rebus tanpa telor. Ayam pada kaget kena goncangan gempa ngambek ogah bertelur sebelum mental mereka kena fisioterapi. Itu gurauan Melati sewaktu lihat hanya ada mie instan direbus gitu saja.


Citra anggap gurauan Melati hanya hiburan. Penyegar suasana kaku. Citra tak menangkap bayangan Heru di sekitar dapur. Apa laki itu sudah berangkat pagi sekali. Semalam Heru sudah bilang akan berangkat pagi sekali tapi mengapa pasien tidak diangkut sekalian. Apa Heru lupa atau laki itu akan minta helikopter balik jemput pasien.


Dugaan Citra keliru. Dari jauh tampak sosok idola Melati datang diiringi dayang full make up. Langkah Heru sangat gagah dalam balutan kaos warna cerah cetak dada bidang tanpa lemak lebih. Laki itu pantas digilai karena memang sangat sexy mengganggu adrenalin para cewek.


Melati mencolek Citra yang baru makan satu suap mie instan di piring plastik. Melati ntah ingin katakan apa tapi bibir dokter muda itu tak bersuara. Hanya tangannya asyik mencolek Citra ekspresikan rasa kagum.


Heru berhenti persis di depan Citra perlihatkan senyum maut yang merontokkan iman cewek. Melati tak sanggup makan lagi. Jiwanya melayang terbawa kegantengan Heru.


"Baru bangun?" tanya Heru ntah persis pada siapa. Di situ cuma ada Melati dan Citra. Artinya pertanyaan itu ditujukan pada Melati ataupun Citra.


Citra mengangguk kecil beri kesempatan pada Melati untuk jadi juru bicara. Citra tahu Melati tergila pada laki itu. Jadi beri waktu pada Melati interaksi dengan Heru.


"Iya pak! Baru bangun." sahut Melati malu-malu kucing Persian. Kucing manis berbulu lebat.


"Iya aku maklum. Kalian kan capek bekerja. Aku akan segera berangkat. Apa pasien kalian sudah siap dibawa ke rumah sakit di kota?"


"Apa boleh kami sarapan sebentar pak? Akan kami persiapkan segala data pasien." Citra panik karena belum bikin data pasien bakal dipindah ke rumah sakit lebih lengkap peralatan medis.

__ADS_1


Heru tersenyum melihat wanita incarannya diserang kepanikan. Tak ada niat Heru mengusik sarapan Citra. Heru hanya ingin lihat kecantikan alamiah Citra di pagi hari.


__ADS_2