
Citra diam saja tak mau berkata apapun tentang pengakuan Alvan. Sejauh itu Citra tak suka Alvan dekat dengan kedua anaknya. Apes banget jumpa Alvan di saat Citra telah hidup tenteram bersama kedua anaknya. Afifa main demam segala membuka jalan Alvan masuk ke tengah mereka.
"Mami...Amei hui hao ma?( Mami..adik bisa sehat kan?)" ujar Azzam dalam bahasa Mandarin fasih. Kecemasan jelas terpapang di wajah lajang itu.
"Ik thing hui hao chi lai. (Pasti akan sembuh)" balas Citra tak kalah fasih.
Alvan dan Daniel salut pada Citra didik anak multi bahasa. Wanita yang dianggap hanya kacung ternyata lebih sukses dari Karin yang konon katanya anak orang kaya. Mana yang baik dan buruk kini terungkap.
"Kak Daniel dan Pak Alvan terima kasih sudah bantu kami. Silahkan kalian pulang! Kami bisa jaga Afifa." Citra mengusir Alvan dan Daniel secara halus.
"Kita tunggu perkembangan Afifa. Hatiku tak tenang bila tak lihat Afifa turun panas." Alvan menolak pergi sebelum yakin Afifa turun panas sampai suhu badan normal.
"Kami bisa jaga Afifa!" tegas Citra melirik Afifa yang masih berada di ranjang ruang IGD. Citra mau tunggu hasil lab jelaskan apa penyebab gadis mungil naik demam. Virus Covid 19 atau hanya penyakit musiman anak-anak. Hasil lab akan jelaskan penyebab Afifa demam.
Citra cari termometer digital model kekinian untuk periksa suhu tubuh anaknya. Termometer air raksa model jaman mulai ditinggal para dokter. Sekarang serba canggih. Tinggal tempelkan di dahi sang anak akan keluar hasil berangka digital.
Citra lekatkan benda pengukur suhu ke kening Afifa sambil mengerut kening. Hampir 39 derajat. Sangat panas untuk ukuran anak-anak. Citra perintahkan suster kompres kepala Afifa agar tak menyerang syaraf otak. Sebenarnya Citra cukup tegang dan gelisah. Namun sebagai dokter Citra harus tenang.
Alvan merasa ada yang tak beres dengan Afifa segera hampiri Citra. Wajah wanita itu pucat menahan perasaan. Sebagai seorang ibu dari anak sakit pastilah akan sedih lihat kondisi anak. Citra juga dokter rumah sakit, kalau dokter panik gimana nasib pasien.
"Ada apa dengan Afifa?" buru Alvan ikut tak tenang.
"Demamnya makin tinggi. Koko pulang dulu sama Kak Ance! Anak kecil tak baik lama di rumah sakit. Patuh sama nenek ya!" Citra targetkan Azzam untuk pulang.
"Koko sini sampai Amei bangun!" tegas Azzam.
"Om antar pulang aja ya! Adikmu akan sembuh kok! Ada mami mu jaga dia! Kau pulang saja!" Daniel membujuk Azzam agar tak menambah beban Citra.
Azzam menggeleng tegas. Tampak sekali kewibawaan Azzam walau umur masih muda. Tegas seperti Alvan. Semua gen Alvan menurun pada Azzam. Alvan bangga bila betul Azzam anak kandungnya. Secara kasat mata tak diragukan Azzam anak Alvan tapi masih perlu test darah maupun pengakuan Citra.
"Ya sudah..Koko duduk di sana sama kak Ance! Yang anteng ya! Mami cari dokter anak dulu." Citra berkata sambil pergi dari ruang IGD cari rekan sesama dokter untuk analisa sakit Afifa. Afifa perlu dokter spesialis anak untuk tangani rekam jejak penyakit Afifa.
Alvan segera dekati Afifa. Laki itu merana kening Afifa yang belum sadar. Panas membara. Anak sekecil Afifa mana sanggup menahan demam sangat menggila. Mengapa Citra tak jaga Afifa dengan baik padahal dia seorang dokter. Alvan menyesali keteledoran Citra lengah jaga Afifa.
Alvan keluarkan hp hubungi Hans agar datang ke IGD bantu Citra tangani anak cantik milik dokter cantik. Alvan ingin sekali klaim itu bayi-bayinya namun takut salah kaprah buat Citra makin menjauh. Masih banyak perbincangan harus hadir antara mereka. Ke mana Citra selama ini dan mengapa pergi tanpa kabar. Bawa lari anak-anaknya pula.
"Halo..gue di IGD! Datang sekarang!"
"Siapa sakit?"
"Datang saja! Kau akan tahu siapa sakit? Segera! Urgen nih!"
"Siap!"
Alvan melihat dari jauh Citra datang bersama seorang dokter paro baya. Alvan kenal dokter anak Pak Budi. Hampir separoh dokter di rumah sakit dikenali Alvan karena dia pemiliknya. Tapi Alvan kecolongan kehadiran Citra tidak terdeteksi radar Alvan. Mereka harus bertemu dalam suasana tak menyenangkan. Alvan divonis mandul. Dan Citra yang harus tangani penyakit Alvan. Harga diri Alvan terkoyak karena penyakit sialan itu.
Pak Budi mengangguk hormat pada Alvan lalu memeriksa Afifa yang masih tertidur. Ntah pingsan atau tertidur. Gadis mungil itu tutup mata dengan nafas sedikit berburu. Pak Budi memeriksa Afifa dengan telaten mengingat Afifa anak Citra teman sejawat yang ramah.
"Anak ini kayaknya kena demam berdarah! Mana hasil lab? Lihat hasil trombosit dan Hb darah!" Pak Budi mencoba menebak penyakit Afifa. Hasil lab belum ada belum bisa dipastikan Afifa seratus persen kena demam berdarah akibat gigitan nyamuk.
__ADS_1
"Sus...coba lihat hasil lab! Ambil sekarang!" perintah Citra mulai panik. Demam berdarah bukan penyakit dianggap remeh. Sudah banyak nyawa melayang sejak munculnya pandemi penyakit itu. Rata-rata menyerang anak kecil.
"Kompres terus...drip Norages!" perintah Pak Budi untuk pertolongan pertama.
"Tadi sudah kukasih Paracetamol!" ujar Citra cepat.
"Itu sudah tak banyak bantu Dokter Citra. Cairan infus dipercepat agar dia tak dehidrasi. Tak usah panik! Kayak tak pernah lihat anak sakit? Yang lebih parah bisa selamat. Omong-omong mana bapak anak-anak? Kok kamu sendiri?"
Citra melirik Alvan yang sedari tadi menyimak tak ikut campur obrolan kedua dokter rumah sakitnya. Disinggung soal bapak anak-anak Alvan maju ke depan tak tahu malu tebalkan muka.
"Afifa anakku Pak Budi..." Alvan mengaku dengan mulus. Pak Budi melongo sesaat lalu tersenyum. Ntah apa yang dipikirin dokter senior itu. Yang penting Afifa punya orang tua lengkap.
Citra buang muka malu pada dokter senior di rumah sakit. Selama ini Citra terlalu pelit bagi cerita tentang keluarganya. Sekali terbuka luar biasa. Nyatanya Citra ada hubungan dengan pemilik rumah sakit yang kaya raya.
Tak lama suster bawa hasil lab Afifa. Suster itu serahkan hasilnya pada Pak Budi yang lebih paham tentang penyakit anak. Wajah dokter sedikit berubah waktu lihat hasil laporan lab Afifa.
"Sudah kuduga DBD...Hb turun dan trombosit juga turun. Harus transfusi darah. Apa golong darah anak ini?"
"AB Rhesus negatif." lirih Citra pelan nyaris tak terdengar.
"Apa? AB Rhesus negatif? Ya Tuhan...kenapa kau beri darah aneh pada anak ini? Di mana mau cari darah langka itu? Yang miliki Rhesus negatif kebanyakan keturunan orang barat." Pak Budi syok dengar golongan darah Afifa.
"Coba cari di PMI dulu suster! Azzam juga golongan darah sama tapi dia belum boleh donor darah." kata Citra putus asa.
Azzam yang dengar namanya disebut untuk donor darah langsung maju dengan dada membusung. Lajang itu merasa pantas beri darah untuk adiknya karena dia lebih tua.
"Nak...kau belum bisa jadi pendonor. Kami akan cari darah lain untuk adikmu!" bujuk Pak Budi ramah tak mau mengecewakan Azzam yang berani korbankan diri untuk adik.
"Kalian lupa masih ada aku! Aku bapaknya pemilik darah sama. Ab negatif..." Alvan maju menengahi kebuntuan soal darah.
Kini Alvan tak perlu test DNA sudah berani pastikan kedua anak itu anaknya. Afifa butuh darahnya sekarang ini. Alvan sebagai bapak wajib menyelamatkan nyawa anaknya.
"Maaf lupa ada Pak Alvan? Ok..kita ke ruang unit transfusi darah! Mungkin cukup sekantong. Silahkan pak!" Pak Budi bersyukur Afifa dapat pendonor langsung orang tua sendiri. Ini akan kurangi resiko infeksi akibat darah kurang cocok. Kalau orang tua sendiri bisa menekan turun tingkat resiko efek kurang cocok.
Daniel saksikan interaksi ini dengan hati menciut. Ternyata Alvan memang benar bapak dari anak-anak Citra. Mungkinkah Alvan akan rela beri Citra padanya setelah mereka punya anak-anak begitu cantik. Ditambah Karin bikin ulah. Makin jauh angan Daniel membawa Citra ke pelukan.
Daniel bukan orang egois cari untung sendiri. Merampas kebahagiaan orang lain bukan gayanya. Kalau memang Citra kembali pada yang berhak Daniel akan ikhlas asal Alvan bisa memberi kasih sayang pada keluarganya.
Hans datang setelah Pak Budi dan Alvan pergi ke UTD. Hans terbelalak lihat Citra berduka di ruang IGD. Dokter yang dia kagumi sedang menekuni wajah anak cantik di brankas.
"Siapa sakit Bu Citra?" tanya Hans hati-hati.
"Anakku.." sahut Citra singkat.
Hans hanya bisa berkata Oh tak paham mengapa tiba-tiba muncul anak-anak dalam kisah hidup Citra. Selama bekerja di rumah sakit tak pernah dengar Citra ungkit masalah keluarga. Tak disangka wanita yang dia sangka masih muda itu punya anak sudah besar.
"Apa sakitnya?"
"DBD...harus transfusi darah. Trombosit dan Hb sangat rendah." jelas Citra pelan.
__ADS_1
"Tunggu apa lagi! Cari darah sekarang! Sus...coba stok darah untuk anak Bu Citra!" seru Hans sok sibuk.
Suster yang diminta Hans cari darah Afifa hanya bisa menunduk. PMI saja tak ada stok darah langka Afifa apalagi rumah sakit.
"Darah anak ini Ab Rhesus negatif dok!" sahut suster tak berani menantang kepala rumah sakit.
"What??? Kenapa kebetulan banget! Tadi Alvan telepon ada di sini. Darahnya Ab negatif. Mana dia Dan? Dia harus donor untuk anak Bu Citra!"
"Tenang bro! Alvan sedang donor darah untuk anaknya." sahut Daniel menyadarkan Hans tak usah cari muka di hadapan Citra. Gugur sudah rencana indah Hans jadi pendamping Citra yang imut. Dia yang duluan kenal Citra legowo terima kekalahan.
"What??? Anak ini anak Alvan? Kok bisa?" Hans kaget sampai tak sadar berteriak di ruang yang penuh orang sakit. Hans norak ngak ketulungan tak bisa jaga image dokter senior.
"Ya bisalah! Citra ini bini pertama Alvan. Karin hanya bini siri." kata Daniel syok terapi mental Hans.
Kejutan demi kejutan hampiri Hans. Hans tak sangka Alvan menahan Citra karena ada tujuan tertentu. Semula Hans kira hanya untuk obati penyakit Alvan. Ternyata jauh dari dugaan Hans. Alvan menahan Citra karena anak-anak dan status Citra sebagai bini Alvan.
"Tapi statusnya janda."
"Belum janda bro! Masih ada lakinya. Tuh lihat! Salah satu kecebong Alvan." Daniel menunjuk Azzam yang berdiri tak jauh dari brankas tempat Afifa dirawat.
Mata Hans diberi tayangan profil miniatur Alvan berdiri gagah melindungi adiknya. Hans tak bisa berkata-kata lagi. Fakta sudah di depan mata tak guna melawan lagi.
Citra tutup mulut rapat-rapat lebih fokus pantau kondisi Afifa. Sekali-kali Citra ganti kain kompres Afifa agar cepat turun panas. Pipi Citra tak semerah tadi lagi. Citra cek lagi suhu tubuh Afifa. 38.5 derajat celsius. Ada penurunan dikit walau masih panas.
"Koko pulang ya sama kak Ance! Amei sudah aman kok! Nanti malam tidur sama Kak Ance atau Tante Nadine. Mami di sini jaga Amei. Koko anak baik tak menyusahkan mami kan?"
"Apa Amei akan selamat?"
"Pasti...ini sudah turun panas! Nanti transfusi darah sudah sehat. Pulang ya!" bujuk Citra lembut.
"Apa boleh tunggu Amei bangun? Koko langsung pulang kalau Amei bangun." tegas Azzam tak ingin dibantah.
"Baiklah! Begitu Amei sadar kau pulang sama Kak Ance! Janji?"
"Janji...xie-xie (terima kasih ) mami!"
Citra berusaha beri senyum manis untuk hangatkan hati Abang yang tak tega lihat sang adik menderita. Ikatan batin anak kembar sungguh luar biasa. Ketiga anaknya saling menyayangi satu sama lain. Afisa jauh di mata tapi tak luput dari rasa kangen pada kedua saudara kembarnya. Tiap malam mereka video call saling tukar cerita. Mereka selalu riang celoteh kisah keseharian masing-masing. Seakan tak ada jarak antara mereka.
Tak lama Alvan dan dokter Budi balik ke IGD untuk lihat kondisi Afifa. Pak Budi menulis resep obat untuk Afifa untuk di suntikkan ke cairan infus. Beberapa jenis obat harus di suntikkan untuk tingkatkan sel darah dan menambah imun tubuh. Citra paham semua itu. Citra dokter syaraf sedang Pak Budi dokter anak maka Citra wajib ikuti anjuran Pak Budi.
Hans menatap Alvan kurang senang temannya itu main rahasia siapa Citra. Tak seharusnya Alvan rahasiakan status Citra padanya. Hans terangan suka pada Citra. Ini memalukan mengakui cinta pada bini orang. Tapi Hans tahu hubungan Citra dan Alvan ada masalah. Hubungan mereka tak harmonis maka Citra matian ingin hindari Alvan.
"Pindahkan anak ini ke ruang perawatan! Obat diberi sesuai jadwal. Lima jam lagi darah siap dipakai. Aku akan pantau langsung perkembangan anak manis ini." Pak Budi beri instruksi pada suster dan Citra pindahkan Afifa ke ruang rawat inap.
"Terima kasih Pak Budi...Afifa tak ada bahaya kan?" tanya Citra memastikan Afifa dalam kondisi stabil.
"Asal dirawat tepat semua akan aman! Pak Alvan istirahat dulu! Ada pusing atau mual?"
"Tidak...tak masalah asal anakku selamat. Beri ruang terbaik di rumah sakit ini! Aku mau anakku nyaman."
__ADS_1