ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Berdandan


__ADS_3

Profesor makin suka pada Citra yang sekarang. Ada kasih sayang dan kewibawaan tersembunyi. Waktu telah mengajar Citra menjadi manusia lebih kuat tanpa meninggalkan jiwa welas nya.


Satu persatu dokter meninggalkan meja makan untuk lanjut kembali bertugas. Yang tinggal hanya profesor dan Citra. Kini mereka bisa ngobrol tanpa gangguan pihak ketiga.


Suasana kantin berangsur sepi karena jam makan mulai habis. Tinggal beberapa dokter senior serta pengunjung dari luar. Bisa pasien yang mulai sehat atau keluarga pasien.


Profesor menatap Citra lekat-lekat mau tembus isi hati dokter muda ini. Bagi Profesor Citra itu tak ubah seperti anak sendiri. Dari pertama Citra berada di negeri tirai bambu prof lah yang membimbingnya menjadi seorang dokter yang handal. Budi baik dari Profesor terhadap Citra takkan terlupakan sepanjang masa. Sampai sekarang pun Profesor masih tetap menyayangi Citra walau telah terpisah oleh jarak.


"Kau bahagia nak?"


Citra manggut kecil tanpa ingin menyembunyikan kebahagiaan yang telah dia miliki sekarang. memiliki suami yang baik dan anak-anak yang cerdas. Apalagi yang Citra harapkan dalam hidup ini selain ingin melihat orang yang dia cintai hidup bahagia.


"Iya..aku telah menemukan apa yang kucari! Ya walau kadang terhempas gelombang badai. Tapi syukurlah semua telah berlalu."


Profesor angguk-angguk memaklumi keadaan Citra yang telah jauh lebih baik daripada dulu.


"Aku senang kau telah mendapatkan hak kamu. Besok ajaklah suami datang ke sini! Aku mau lihat langsung laki mana yang telah buat anakku hidup sengsara."


"Dia telah membayarnya. Sudah Lunas. Tak ada yang perlu kukejar lagi. Kami datang untuk lihat kondisi mertua aku serta antar Afisa."


"Bapak lega. Sangat lega. Kalau kau ingin balik ke sini setiap saat ada tempat untukmu!"


"Terima kasih..." Citra menggenggam tangan profesor sebagai tanda penghargaan atas perhatian dokter senior itu.


"Satu lagi...kau yang biayai operasi anak suster Ming kan?"


Citra mengangguk tak ingin berbohong pada orang tua. Merendahkan diri bukan berarti Citra harus bersandiwara di depan sang profesor. Terhadap orang lain Citra boleh mengelak tapi terhadap orang tua itu pantang.


"Uang suami aku!" sahut Citra jujur.


Kalau suami Citra mampu mengeluarkan dana cukup besar sudah pasti bukan orang pinggiran. Kukunya pasti runcing menancap ke bumi baru bisa berdiri lebih kokoh. Profesor makin lega Citra telah mendapat tempat berlindung yang tahan badai.


"Semoga kau bahagia nak! Jerih payah kamu sudah berbuah hasil. Bapak harap kau selalu beri kabar baik!"


"Pasti...kalau ada waktu aku pasti datang menjenguk bapak."


"Aku tak sabar tunggu hari itu tiba. Bapak harus balik praktek. Kau mau tunggu sampai sore atau langsung pulang?"


"Pulang...mungkin aku akan belanja untuk oleh-oleh keluarga di Indonesia. Waktu kami sangat sempit."


"Pergilah! Ingat janji besok bawa keluarga kamu datang jumpa bapak!"


"Pasti..."


Profesor bangkit dari kursi sambil membawa nampan berisi bekas makan beliau. Sikap disiplin yang selalu dikagumi Citra. Profesor tidak berbuat semena-mena walau jadi orang disegani di rumah sakit.


"Pak...ijinkan saya membawa nampan ini ke belakang!" Citra menahan tangan Profesor yang bergerak membawa nampan. Profesor tertawa merasakan niat tulus Citra ingin menyenangkan sang profesor.


"Iya...bawalah!" sang profesor biarkan Citra berbuat baik pada orang tua. Mungkin ini untuk bayar kebaikan profesor pada Citra selama ini.


Profesor pergi dengan langkah agak lamban. Stamina sudah tak sekuat dulu. Ibarat lampu nyaris padam di makan usia.


Citra menghela nafas iba pada profesor yang pantang menyerah pada kondisi. Seumuran beliau pantasnya bercanda dengan cucu di rumah. Bukan sibuk memikirkan penyakit orang. Tapi dasar profesor belum rela pensiun dari keahlian jadilah dia masih berada di lingkungan orang sakit.


Citra menumpuk dua nampan jadi satu untuk dibawa ke tempat cuci piring kotor. Mereka cuma perlu letakkan di tempat itu nanti ada yang datang ambil untuk dicuci.


Citra menggantung tas lewati leher agar jangan terjatuh karena kedua tangan memegang nampan. Baru saja Citra bersiap hendak pergi seseorang menahan langkah Citra.

__ADS_1


Citra mendongak kepala meluruskan mata melihat siapa begitu kurang kerjaan sengaja menghalangi langkahnya.


Citra tertawa sinis setelah lihat siapa kurang kerjaan. Orang yang paling tak ingin Citra temui seumur hidup. Orang yang jadi batu sandung Citra untuk melangkah maju.


"Yo.. akhirnya kembali juga si anak hilang!"


"Kau tak berubah dokter Wen! Masih suka jadi tembok penghalang. Sudah jadi spesialis?" kata Citra pelan tapi mengejek. Kinerja dokter Wen agak buruk membuatnya tak bisa dapat pengakuan.


Citra dianggap penyebab dia tak bisa naik level maka rasa benci pada Citra bertumpuk melebihi tinggi gunung Himalaya.


"Kau iri akhirnya aku berhasil geser kamu?"


"Iri? Nggak...aku bersyukur akhirnya kau dapat belas kasihan dari profesor! Berhubung aku pergi tak ada pengganti maka profesor berbaik hati didik kamu. Kupikir sepuluh tahun lagi kau baru lulus!" kata Citra tak kalah sinis.


"Jadi orang jangan sombong! Untuk apa kau kembali sini? Mau pamer kemampuan?"


Citra meletakkan dua nampan di atas meja agar lebih leluasa melayani Dokter Wen si tukang sirik. Citra sudah tidak di rumah sakit maka tak perlu segan bicara sedikit kasar. Terserah mau pikir apa yang penting tak lukai harga diri Citra.


"Aku kembali untuk lihat siapa yang meneruskan tempat aku? Apa seorang dokter bisa diandalkan? Jangan bikin malu bagian syaraf!"


Dokter Wen mendengus tak senang dipandang remeh oleh Citra. Harus dia akui dia belum sehebat Citra di bidang bedah syaraf tapi dia berusaha mengejar ketinggalan dari Citra.


"Kau mau kembali ambil tempatmu?"


"Tidak...aku sudah kerja di Indonesia! Aku nyaman di sana. Aku hanya datang berkunjung. Rindu pada lingkungan sini!" kata Citra menurunkan rasa ego biar tidak bawa rasa kesal pulang tanah air.


Wajah dokter Wen berubah rilex karena Citra bukan ancaman tergesernya dia. Dokter Wen yakin kalau Citra kembali dia pasti akan ambil alih tempatnya sekarang. Tempat yang dia kejar susah payah. Masak harus kalah lagi dari dokter muda.


"Kau hanya liburan?"


Citra tersenyum."Ayo duduk kita lanjutkan dendam lama kita!"


Dokter Wen menarik kursi ajak Citra duduk. Citra tidak keberatan temani Dokter Wen ngobrol karena tak ada guna ulang kisah lama. Toh mereka punya kehidupan masing-masing. Sampai kapan akan simpan dendam.


"Sudah makan?" tanya Citra ramah.


"Sudah...kau benar tak ingin balik sini?"


"Iya...aku sudah kerja di rumah sakit suamiku!" kata Citra pamer suami biar dokter tidak pandang remeh padanya.


"Suami? Bukankah kau janda?" dokter Wen besarkan matanya yang sipit. Mau dibesarkan sampai segede apapun tetap ada batas. Tetap tampak segaris.


"Yang bilang aku janda siapa? Hanya kalian yang berpikir gitu! Aku datang sini lanjut kuliah ambil gelar spesialis! Sudah selesai ya harus kembali pada keluarga. Berbakti pada keluarga sendiri." Citra terpaksa bersilat lidah untuk jaga nama baik Alvan. Tak mungkin lah Citra Lika liku keluarga yang carut marut akibat pihak lain. Semua orang ingin nampak sempurna.


"Oh gitu...maafkan aku telah berpikiran buruk! Tadi aku sangat marah kau kembali. Aku dengar dari rekan kalau kau ada di kantin dengan profesor maka aku kemari." dokter Wen bangkit bungkuk badan sembilan puluh derajat ke arah Citra sebagai mohon maaf.


"Hei..jangan gitu! Ke mana dokter Wen yang sombong?" Citra cepat-cepat menolak kata maaf dari dokter Wen yang berlebihan.


"Nah itu kamu! Belum terima maaf dariku?"


Citra tertawa lihat wanita seumuran dia itu manyun. Dokter Wen mengira Citra masih ingat dendam lama tak terima dia minta maaf. Citra bangkit dari kursi hampiri dokter Wen lantas memeluknya. Ini lebih dari sekedar memaafkan. Dokter Wen terharu pada kebesaran jiwa Citra.


"Terima kasih..."


"Aku juga minta maaf telah kasar! Aku tak lama di sini. Lusa aku sudah balik ke Indonesia! Kalau kau liburan kunjungi negara aku ya! Aku akan bawa kamu jalan-jalan."


Citra dan Dokter Wen kembali duduk rasakan suasana adem. Kucing dan tikus telah berdamai. Sia-sia dokter Wen siapkan sejumlah kata serapah untuk serang Citra. Ternyata tidak seperti yang dia bayangkan.

__ADS_1


"Berapa jam dari sini?"


"Ada dua versi ke Indonesia. Ada pesawat transit dan ada yang langsung. Kalau gunakan pesawat pribadi sekitar Enam jam lebih. Langsung dari Indonesia ke sini."


"Pesawat pribadi? Kau datang dengan pesawat pribadi?" seru dokter Wen takjub pada cerita Citra soal angkutan udara.


"Iya... punyaan suami! Aku mana punya!" Citra merendah.


"Gila ya suamimu! Bisa punya pesawat pribadi. Kaya amat! Tak kusangka kau berasal dari keluarga kaya. Kukira kau sama seperti aku dari kalangan biasa. Beginilah kalau hati kita nakal. Suka pikiran buruk pada orang!"


"Sudahlah...untuk apa pikir itu! Besok aku akan bawa suami dan anak untuk jumpa profesor sekalian pamitan mau balik ke Indonesia. Kita akan jumpa. Nanti kukenalkan suami aku."


"Ganteng nggak?"


"Kau akan lihat sendiri! Jangan jatuh cinta ya!"


"Isshhh...jumpa aja belum sudah kasih peringatan! Ok... jumpa besok! Aku masih harus praktek. Sekali maaf!" dokter Wen kembali membungkukkan badan minta maaf.


"Sudah ..nanti sakit pinggang! Pergilah! Kudoakan kau segera pegang pisau operasi!"


"Terima kasih..." Dokter Wen pergi.


Citra menatap punggung dokter Wen yang menjauh. Satu lagi ganjalan di hati runtuh. Hidup Citra makin lapang. Satu persatu masalah terhapus dari kehidupan Citra. Mentari bersinar lebih cerah lagi.


Akhirnya Citra meninggalkan rumah sakit pergi jalan ke tempat yang sering dia kunjungi dahulu. Untuk kilas balik kenangan manis selama di Beijing. Citra merasa bebas tanpa beban. Semua plong tak ada residu dalam rongga dada. Baik di Beijing maupun di tanah air semuanya telah lancar. Sampah yang halangi jalan mengalir air telah diangkat.


Citra berbelanja sedikit untuk oleh-oleh buat Fitri dan Jasmine serta ketiga jagoan neon. Iyem dan Bik Ani serta art di tempat Heru juga dapat jatah. Citra menjadi nyonya dua rumah maka dia harus adil. Tak lupa oleh-oleh untuk Karin.


Citra tak tahu berapa uang yang keluar dari kartunya Ntah kenapa Citra tak merasa sayang gunakan uang Alvan kali ini. Tak ada rasa sakit hati kuras kantong Alvan. Lelaki itu sudah banyak hambur untuk wanita lain, kini giliran dia minta sedikit untuk menyenangkan orang yang ada di hati.


Citra duluan tiba di hotel di banding Alvan dan anak-anak. Mereka yang main sampai lupa waktu. Citra pilih bersihkan badan menunggu orang-orang kesayangan pulang. Citra berdandan lebih cantik agar anggota keluarga pangling lihat Citra yang berada di negeri orang. Bisa juga tampil high class menggoda para cowok.


Tepat jam tujuh malam semua anggota keluarga pulang. Semua lengkap kecuali Heru dan Afung. Sayang Heru tidak melihat penampilan Citra hari ini. Getaran halus sisa cinta dari masa dulu pasti akan bergoyang.


Citra sengaja keluar dari kamar menyambut anggota keluarga sekaligus pamer betapa cantik dia malam ini. Azzam yang paling pertama lihat Citra berdiri di depan pintu kamar dia dan Alvan.


Azzam tertawa kecil kagum pada Citra yang tampil menakjubkan. Disusul Afifa dan Afisa barulah Gibran. Keempat anak itu mematung tak bisa berkata selain kagum.


Alvan yang datang belakang terpana sampai tak sanggup melangkah lebih dekat. Dia telah terpaku menyaksikan bidadari di alam nyata. Seorang wanita muda kenakan gaun warna cream pudar perlihatkan pinggang kecil dan dada montok. Tidak besar namun cukup menganggu netra para cowok.


"Sudah pulang?" sapa Citra lembut bikin bulu kuduk Alvan merinding. Laki ini tak sabar ingin segera tidur agar bisa merengkuh bidadari cantik di depan mata.


"Wah...bidadari nyasar! Cantik banget kakak aku! Aku jatuh cinta deh!" gombal Gibran tak peduli Azzam mendelik.


"Jatuh cinta harus pakai surat ijin dari pemilik bidadari! Bidadari ini milik aku!" Azzam berlari hampiri Citra memeluk maminya dengan manja.


Semua tertawa. Badan terasa mau copot seharian berjalan. Pulangnya dapat suguhan penyejuk mata. Rasa penat terhapus seketika.


"Cepat mandi dan kita akan makan malam!" ujar Citra kalem bikin Alvan makin gemas ingin gigit hidung mungil milik isteri tercinta.


"Kami sudah makan mi! Opa Heru yang ajak makan di restoran Jepang. Tempura, sashimi, sushi, onigiri dan udon. Kami makan itu." ujar Afifa lugu tak tahu Citra sedikit kecewa. Dia berdandan rapi untuk ajak keluarga makan malam bersama. Sayang mereka telah duluan makan.


"Oh gitu ya! Ayok cepat istirahat!"


"Ya...selamat malam!"


Masing-masing masuk ke kamar. Tinggal Citra dan Alvan masih di luar kamar. Alvan peka dengan situasi tahu isterinya sedih ditinggal makan.

__ADS_1


"Sayang...kita pergi makan ya! Aku lapar karena kurang cocok dengan makanan Jepang. Di sana aku tidak makan cuma minum teh doang! Aku ingin makan malam berdua denganmu!"


Kembang setaman langsung bermekaran di wajah Citra. Raut wajah cantik itu kembali bersinar bahagia.


__ADS_2