ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Mimpi Menghajar


__ADS_3

Citra harus hentikan Azzam bila tak mau tamunya malu dikuliahi anak kecil. Azzam pasti akan makin tajam sindir Niken bila wanita itu perpanjang waktu debat.


"Ko...sudah waktunya bobok! Ayok ambil air minum dan segera tidur! Om Gi...bawa anakmu ke kamar!" perintah Citra merasa suasana makin memanas. Alvan tidak open malah bangga anaknya tampil sebagai super hero buat Citra. Wanita model Niken sudah terlalu banyak dalam hidup Alvan. Alvan jadi mual bila harus masuk dalam dunia penuh kepalsuan ini.


"Iya kak! Ayok ko...tidur! Bangun pagi semua hawa polusi akan segera hilang." Gibran menambah sedikit bumbu biar rasanya lebih legit. Gibran juga tak mau keluarga kakaknya berantakan gara-gara orang kurang punya moral.


Azzam dan Gibran berangkul menuju ke dapur. Citra menarik nafas lega kedua anak itu tak membuat keadaan semakin chaos. Citra tidak open apa yang mau di bilang Niken. Semua berbalik pada Alvan. Pilih jalan hitam atau putih terserah Alvan. Apa dia belum kapok lewati berbagai cobaan?


"Maaf kelancangan anakku! Dia masih kecil belum ngerti apa-apa." Citra meminta maaf merasa tak enak pada tamu Daniel atas sikap tegas Azzam.


"Nggak ngerti apa-apa katamu? Dia itu terlalu ngerti maka keluar kalimat demikian. Azzam harus dibatasi baca buku tebal. Terlalu bahaya bila dia salah kaprah. Anak kecil jangan dibiarkan baca buku karangan orang-orang punya ajaran haluan keras! Berbahaya bagi mentalnya!" ujar Daniel sambil mengusap keringat di dahi. Azzam sungguh mengerikan. Dari mana dia pelajari semua hafalan tentang pandangan hidup.


"Azzam suka buku karangan Buya Hamka. Dia ada beli beberapa buku waktu kami ke toko Buku."


"Astaga naga...anak ayam sekecil gitu kau suguhi umpan segede kelereng? Bisa mati tercekik tuh bocah! Biarkan dia hidup dalam dunia fantasi anak seumurnya. Besok kau singkirkan buku-buku model gitu. Azzam belum waktunya membaca buku-buku yang berat. Umurnya lebih cocok baca buku komik ataupun sekedar main game di ponsel. Kamu Ini mah lucu! Anak sekecil kayak gini bicaranya kayak kakek berumur lanjut." ujar Daniel kuatir pada perkembangan psikis Azzam yang terlalu cepat dewasa.


Memiliki seorang anak yang bijak memang merupakan hal yang sangat baik. Namun Daniel menilai Azzam sudah melebihi ambang kedewasaan seorang anak berumur 8 tahun. hal ini sudah sangat tidak wajar.


Citra menunduk merasa apa yang dikatakan Daniel mengandung kebenaran. Apa karena melihat Citra selalu berduka selama membesarkan mereka maka Azzam prioritaskan diri menjadi seorang kepala rumah tangga. hal ini yang menyebabkan Azzam selalu ingin menjadi dewasa di atas dewasa.


"Iya kak! Aku akan perhatikan apa yang kakak katakan. Untuk sementara aku tak akan mengusik Azzam karena dia akan mengikuti ujian naik kelas. Aku tak ingin merusak mood belajar dia."


"Pokoknya Kak Daniel harap kamu perhatikan perkembangan jiwa anak kamu. Jangan biarkan dia masak sebelum waktunya!" Daniel menasehati Citra agar mengikuti perkembangan jiwa Azzam yang lain daripada yang lain.


"Oh ternyata anak kamu ini memiliki kelainan jiwa itu harus kamu bawa ke psikiater agar jiwanya bisa kembali normal ke usianya!" ucap Niken mulai paham apa yang menjadi permasalahan malam ini.


"Tidak ada masalah dengan kejiwaan anak saya. Anakku hanya memikirkan kebahagiaan keluarga tidak izinkan orang lain mengusik ketenangan keluarga kami. Dia akan melindungi kami dari tangan-tangan usil." kata Citra sambil tersenyum menepis anggapan Niken kalau Azzam memiliki kelainan jiwa. Citra tidak kuatir sedikit pun dengan perkembangan jiwa Azzam yang menurutnya masih dalam batas normal. Hanya saja Azzam selalu ingin jadi pahlawan melindungi Citra dan adik-adiknya.


Niken mangut mangut sok tahu padahal wanita ini tidak mengenal bagaimana keluarga Alvan sesungguhnya. Niken menganggap semua lelaki itu sama gampang dirayu oleh paha-paha mulus penggoda sukma.


"Baiklah! Semoga nanti pak Alvan ada kesempatan ke Amerika. Kunjungilah kami dan aku akan menjadi yang baik buat Pak Alvan. Aku akan menyuguhkan yang terbaik daripada seorang warga terhormat." Niken tetap saja membidik Alvan sebagai sasaran empuk untuk menjadi budaknya. Sebagai budak nafsu dari seorang wanita berprofesi cukup lumayan di Amerika sana.


"Semoga hari itu datang tapi aku tak janji kapan." sahut Alvan sekenanya agar Niken tidak tersinggung oleh kelakuan Azzam yang sedikit di luar batas.

__ADS_1


"Gimana kalau Pak Alvan ikut kami berangkat libur ke Bali. Kita akan bersenang-senang di sana. Kalau ingat kerja itu takkan selesai sepanjang tahun kalau kita diri sendiri tidak memiliki inisiatif untuk merilekskan pikiran." tawar Niken melemparkan pandangan penuh harapan pada Alvan.


Citra mulai merasa gerah mendengar ajakan Niken yang terlalu berani. Apa Niken lupa kalau di depan mereka ada seorang perempuan yang berstatus istri Alvan. Apakah Citra demikian tidak berharga di mata Niken? Citra hanya bisa menggeram di dalam hati. Mengumbar amarah di depan umum bukanlah sifat Citra. Kini Citra tinggal menunggu bagaimana jawaban Alvan. Kalau Alvan salah menjawab alamat tidur di teras depan. Kali ini Citra tidak akan memaafkan Alvan bila menanggapi godaan Niken.


"Maaf nona Niken... aku tidak bisa meninggalkan keluarga dan tugas. Kedua orang tuaku sakit, anak-anakku juga akan segera mengikuti ujian dan pekerjaan di kantor masih bergunung-gunung. Aku bukan orang yang beruntung bisa menikmati liburan setiap saat. Cobalah ajak Daniel! mungkin Daniel bisa menemani kalian menikmati liburan kali ini." tolak Alvan secara halus agar Niken tidak tersinggung ditolak di depan orang ramai.


Wajah Niken berubah sedikit mendengar penolakan spontan Alvan yang tidak merespon ajakan dia. Dalam hati Niken bertanya apa pesonanya telah luntur tidak mampu menjerat seorang CEO kaya raya lagi. Niken bukannya tertarik pada harta Alvan melainkan pesona Alvan sebagai seorang lelaki penuh kharisma.


"Gitu ya! Ok...aku tetap berharap pak Alvan berubah pikiran bergabung dengan kami di Bali."


Kali ini Alvan memilih tidak menjawab. dari sudut mata Alvan sudah melihat delikan mata Citra yang mulai tidak bersahabat. Ada hawa horor sedang menguap di atas kepala Citra. kalau diteruskan uap panas itu bisa menyebar ke seluruh rumah.


Daniel juga merasa keadaan mulai tidak kondusif. Dia harus segera mengambil inisiatif untuk mengiringi Niken dan temannya untuk hengkang dari rumah Citra. Ternyata mengajak Niken ke tempat Citra bukanlah jalan yang baik. Hanya menambah sakit kepala si Alvan. Daniel bukannya tidak tahu kondisi keluarga Alvan yang sedang carut marut.


"Ini sudah malam. Lebih baik kita cabut! Ayo Nata...ambil kopermu!" Daniel mengambil kesimpulan akhiri acara bertamu di rumah Citra. Niken akalnya tak jauh beda dengan Selvia. Obralan pasar loakan. Seribu bisa dapat lima.


"Satu kehidupan yang membosankan ya! Tidur cepat lalu besok bangun pergi bertugas. Apakah kehidupan kalian begini terus? Tidak hang out atau cari variasi? Gimana kalau kita hang out di pub hotel? Pak Alvan tertarik?" kata Niken sambil bergerak membusungkan dada duduk dengan tegak pamer aset mirip bola dunia itu.


"Maaf...kalian lanjutkan obrolan! Aku harus lihat anak-anak apa mereka sudah tidur belum!" Citra pamitan tanpa menunggu ijin Alvan.


Citra bangkit meninggalkan ruang tamu diiringi tatapan beberapa pasang mata. Berbagai pemikiran berkecamuk dalam alam pikiran masing-masing. Natasha bukannya tak tahu tuan rumah mulai jengah oleh usul Niken habiskan malam di pub. Natasha belum pernah lihat salah satu dari keluarga ini keluar malam.


"Ayok kita pergi Niken! Besok Kak Citra harus kerja. Tak baik kita ganggu waktu istirahat mereka." Natasha berlari kecil ke ruang tamu mengambil kopernya.


Sesungguhnya Niken lagi dengan Citra mengundurkan diri. Kesempatan gombalin Alvan terbuka lebar. Siapa sangka rintangan justru datang dari adik sendiri. Mau umbar emosi pada ketololan Natasha tapi sedang berada di tempat orang. Niken hanya bisa tersenyum pahit.


Daniel bersyukur Natasha mulai peka pada lingkungan. Sikap keras kepala tak mau tahu terkikis dari diri gadis yang telah menyusahkan dia beberapa waktu ini.


"Aku boleh main ke sini lagi?" tanya Niken.


"Tentu saja..." sahut Alvan ramah.


Kedua teman Niken terkesan pada keramahan Alvan sekeluarga. Kalaupun Citra pilih tinggalkan mereka bukanlah salah Citra melainkan Niken yang terlalu vulgar tak hargai posisi Citra sebagai ratu keluarga ini.

__ADS_1


"Kami sangat senang bisa kenalan dengan kalian. Kelak kami akan datang berlibur lagi." kata Laura lembut tunjukkan orang beradab. Tidak semua orang barat tak kenal sopan santun. Masih ada yang kenal adab.


"Dengan senang hati kami menunggu." balas Alvan juga ramah. Sebisanya Alvan tahan diri agar tidak perlihatkan ekspresi kesal. Citra sudah angkat kaki berarti bakal ada perang mulut antara mereka. Ntah jurus apa bakal dilontarkan Citra bikin rambut rontok satu persatu. Citra yang tampak lembut tapi sanggup bikin jantung Alvan berpacu dengan kuda balap. Masih syukur kalau berpacu dengan melodi. Masih ada hiburan dikit.


Intermezo singkat cobaan kekokohan Alvan terhadap keluarga. Alvan akan tergoda atau tetap teguh berjalan ke depan menggandeng anak isteri menuju terbitnya cahaya gemilang. Anggap saja uji nyali bagi Alvan.


Di tempat lain Daniel bersyukur cepat tahu akal Niken. Pertama datang Niken suguhkan tampilan profil gadis berkelas. Elegan bikin orang kagum. Daniel nyaris kena tipu daya Niken. Daniel hampir saja meletakkan angan indah pada Niken. Niken rasanya jauh lebih baik dari Natasha. Nyatanya pemikiran Daniel terbalik dengan fakta sesungguhnya. Natasha mulai berubah di detik-detik terakhir meninggalkan tanah air. Tapi Niken sudah terlalu tua untuk diluruskan ke arah lebih baik.


Dari gaya Niken berani tawarkan ajakan kepada Alvan Daniel langsung menduga kalau Niken ini sudah terbiasa dengan lelaki. Di negara barat sana hubungan intim bukanlah suatu hal tabu. bisa dilakukan dengan siapa saja selama itu menganut suka sama suka.


Alvan mengendap-endap masuk ke kamar yang hanya diterangi lampu remang-remang tanda sang pemilik kamar sudah berlayar menuju ke alam mimpi. Alvan menarik nafas lega tidak usah berdebat dengan Citra malam ini. Alvan sudah bayangkan perdebatan hangat dengan topik utama penawaran Niken. Syukurlah Citra telah duluan tidur.


Alvan menyibak selimut dengan perlahan takut membangunkan Citra. Tubuh besar Alvan perlahan menyelinap masuk ke dalam selimut. Harum khas tubuh Citra menyeruak menggoda hidung Alvan untuk menghirup keharuman itu dalam-dalam. Bau segar aroma terapi akan membantu Alvan tidur lebih lelap.


Alvan ingin sekali meraup Citra dalam pelukan namun takut kena hajar di malam ini. Kadang wanita itu susah dipahami. Salah di orang kita yang kena getah. Niken yang genit imbasnya tentu Alvan.


Alvan diam tak bergerak coba pejamkan mata menyusul Citra di alam mimpi. Dimarahi dalam mimpi bukan masalah. Kan cuma mimpi. Bangun semuanya hilang.


Di tengah Alvan mulai merem bersiap tinggal landas memasuki Awang tidur tiba-tiba ada rasa pedih mendarat di pipi. Alvan tersentak bangun langsung terduduk.


Mata Alvan mengarah ke Citra yang masih lelap. Cuma tangan wanita ini berada dekat dengannya. Kalau diukur jarak persis di posisi pipinya sewaktu dia berbaring. Apa Citra bermimpi lakukan gerakan memukul sesuatu hingga terbawa ke alam nyata?


Alvan meringis membayangkan Citra dalam mimpi sedang hajar dia. Betapa kesalnya Citra sampai terbawa mimpi. Wanita demikian yang sangat berbahaya, tidak langsung mengungkap rasa kesal di hati tapi memendamnya di dalam dada. Kalau dikumpul terus-terusan sekali meledak akibatnya sungguh luar biasa.


Alvan tidak dapat melakukan apapun selain memperbaiki letak selimut Citra agar wanita itu merasa nyaman. Alvan memberi satu kecupan di atas kepala Citra lalu merebahkan diri kembali untuk melanjutkan mimpi yang tertunda.


Baru saja Alvan melayang ingin tertidur satu tendangan telak mendarat di punggung belakangnya membuat dia terjerembab ke bawah kasur. Tendangan yang cukup kuat membuat Alvan yang tidak siaga terjatuh bagai sebongkah batu terjatuh di lantai. Suara gedebuk cukup besar karena postur tubuh Alvan yang gede.


Alvan meringis menahan sakit di bokong dan di punggung. Dari mana Citra mendapat tenaga yang segitu besar sanggup menggetarkan Alvan ke bawah lantai. Apa sesuatu yang dilakukan di bawah alam sadar mengandung kekuatan magis?


Sambil memegang pinggir kasur Alvan berusaha bangkit menahan sakit di punggung belakang. Dengan susah payah akhirnya Alfan berhasil duduk di pinggir tempat tidur. Jatuh dari tempat tidur saja membuat tulang-tulang Alvan rasa mau patah. Apa karena faktor usia? Alvan belum dikatakan terlalu tua tapi seluruh badan terasa nyeri hanya satu tendangan mau Citra.


Alvan mengusap punggungnya yang tak berdosa kena hajar istri sedang ngamuk. Lucunya Citra bereaksi di bawah alam sadar. Akibatnya cukup buat Alvan babak belur. Pertama kena gampar di pipi. Kedua kena tendang maut ala kungfu Shaolin. Sungguh apes nasib Alvan malam ini.

__ADS_1


__ADS_2