
Alvan menelan air saliva dalam-dalam dengar suara yang sangat dalam. Masih kecil sudah pancarkan aura seorang pemimpin. Gimana kelak anak ini kalau dewasa? Dijamin jadi manusia berguna kalau terdidik baik.
"Kami datang mau cari Bu dokter." ujar Alvan merasa kerdil berhadapan dengan anak kecil bertubuh jangkung itu.
"Mami sudah keluar. Sorean baru pulang. Om silahkan datang lagi sore nanti."
Daniel gemas sekali lihat gaya bossy anak yang dipanggil Azzam itu. Dewasa bukan pada waktunya.
"Hmm..kami boleh tunggu?" tanya Daniel cekatan.
"Silahkan! Tunggu saja sampai mami kami pulang! Cuma jamnya ngak tentu. Jam mami itu suka molor."
"Boleh kami tunggu dalam rumah?"
"Tidak...duduk di teras saja! Kita belum kenal maka wajib waspada. Sekarang kan banyak pedofil mangsa anak kecil. Ya kan kak Ancur?" Azzam mencolek pinggang laki setengah jadi sambil kedipkan mata.
"Ingat ya anak kecil! Kak Ance bukan Ancur. Mulut kok beracun banget! Kalau bukan ingat mami mu ku rujak mulutmu."
Nyata makhluk jadian itu namanya Ance. Dasar Azzam usil dipelesetkan jadi Ancur. Kelihatannya Azzam itu termasuk anak usil suka menggoda orang.
Alvan dan Daniel mati kutu dibuat Azzam. Baru kenal beberapa menit sudah di skak mat anak kemarin sore. Dilanjutkan bisa menelan kekalahan makin tragis.
"Kami orang baik-baik nak! Apa tampang kami ada tampang kriminal?" Daniel memutar badan minta perhatian Azzam dan Afifa. Mata Belo Afifa ikut berputar ikuti gerak tubuh Daniel. Daniel kontan jatuh hati pada keimutan Afifa yang mirip Citra. Rupa mirip Alvan namun bentuk tubuh punya Citra.
"Tampang tak bisa dijadikan patokan om! Semua orang jahat takkan tulis aku penjahat di wajah. Om berdua duduk manis di teras saja. Jangan macam-macam karena di sini terpasang cctv!" ancam Azzam layak orang dewasa.
"Kau benar Zam. Kak Ance kok jadi curiga setelah kau bilang." Ance sok pintar ikutan pasang wajah detektif. Azzam tersenyum perlihatkan gigi yang depannya ompong. Ganteng-ganteng giginya habis disikat permen.
Alvan dan Daniel tertawa geli saksikan lajang ganteng tetap anak kecil sejuta akal. Berdebat hanya permalukan diri sendiri. Lebih baik patuh sambil mengorek keterangan dari mulut-mulut kecil tapi berbisa itu.
Alvan dan Daniel terpaksa duduk manis di kursi rotan yang memang cuma ada sepasang di teras. Kursi dan mejanya terlihat masih baru. Cat rumah juga kelihatan belum lama dicat. Belum ada yang terkelupas. Tampaknya Citra belum lama tempati rumah ini. Pindahan dari mana keluarga kecil ini. Siapa suami Citra saat ini.
"Dek...tamu tak disuguhi minuman?" tegur Daniel coba ajak interaksi dengan kedua anak kecil itu.
"Tunggu mami pulang! Mami sudah pesan tak boleh sembarangan terima tamu. Kalau om haus minta tolong kak Ancur beli minuman! Pakai duit Om karena kami masih kecil tak punya duit." ujar Azzam sok dewasa.
"Azzam...kak Ance...bukan Ancur! Kakak sumpal mulutmu pakai beha baru tahu rasa." Ance merajuk hentakkan kaki ke lantai sambil komat kamit tak senang nilai kewanitaannya di ambyar Azzam si iseng.
"Ko...yang sopan! Mami bilang tak boleh nakal." si mungil nan jelita berkata dengan suara kecil halus.
Azzam mengelus kepala si mungil dengan lembut. Sikap Abang yang patut dapat acung jempol. Pada orang lain Azzam bersikap tegas namun pada adiknya sangat mengayomi.
"Koko tidak nakal Fifa! Koko cuma berjaga. Koko kan harus lindungi kamu. Kamu masuk ke dalam rumah nenek saja biar Koko dan Kak Ancur tungguin om-om ini. Masuklah!" Azzam mendorong Afifa masuk ke rumah tetangga mereka.
Dari sebelah Alvan puji jiwa pemimpin Azzam. Sekecil ini sudah bertanggung jawab pada sang adik. Sungguh mengagumkan. Citra berhasil didik anak-anak menjadi manusia siap guna.
__ADS_1
"Nona Ance bisa bikinkan kami kopi? Beli juga boleh...kami bayar." Daniel kembali lancarkan serangan pada Ance. Ance bisa jadi kunci petunjuk siapa orang tua Azzam dan Afifa.
"Kopi? Ok...tak usah bayar deh! Azzam sini saja! Fi...ayok ikut kakak ke dalam. Sini mulai panas! Nanti kamu demam kena panas." Ance menggandeng tangan mungil Afifa masuk ke dalam rumahnya.
Alvan ingin menahan Afifa agar jangan masuk. Gadis kecil itu sangat indah bak boneka hidup. Hidung Bangir, bibir mungil dan mata sebulat kelereng. Karunia Tuhan yang sempurna. Panca indera Afifa sempurna terpasang di wajah mungil itu.
"Zam...adikmu cantik ya!" Alvan basa basi.
"Cantik dong! Siapa dulu abangnya?" Azzam menepuk dada bangga menjadi Abang dari seorang Puteri cantik.
"Kamu juga ganteng."
"Iya lah! Kami kan kembar. Aku duluan lahir setengah jam dari Afifa. Ada Afisa selisih sepuluh menit dariku. Kami kembar tiga."
Alvan dan Daniel melongo. Wanita semungil Citra hamil anak kembar tiga. Kok bisa? Apa tubuh itu sanggup tampung tiga beban berat.
"Afisa mana?" pancing Alvan makin tertarik pada kehidupan pribadi Citra. Wanita itu sungguh makhluk luar biasa. Jadi dokter sukses punya ekor cantik dan ganteng. Karma baik diterima wanita itu.
"Afisa masih di Tiongkok. Tak bisa pulang sini karena ikut kejuaraan senam lantai di sana."
"Kamu sekolah kelas berapa?"
"Aku kelas tiga dan Afifa kelas dua."
"Katanya kembar kok beda kelas?"
"Berapa umurmu nak? Kecil kok pintar."
"Delapan tahun."
Alvan dan Daniel saling berpandangan. Anak-anak Citra berumur delapan tahun artinya mereka lahir setelah Citra pergi. Apa mungkin Citra langsung menikah dengan orang lain setelah pisah. Kemungkinan lain adalah itu anak-anak Alvan dan Citra. Citra pergi dalam keadaan hamil. Alvan tak menampik telah bercinta dengan Citra gara-gara obat perangsang. Ntah siapa isengi Alvan sampai tega merengut mahkota Citra.
"Azzam ngobrolnya sini! Kami bukan orang jahat. Mami mu tak ajar kamu kurang ajar pada orang tua kan?" Alvan mencoba menurunkan tingkat kewaspadaan Azzam. Cara Citra didik anak itu sudah bagus, hindari orang yang baru dikenal untuk jaga dari segala kemungkinan buruk.
"Aku percaya kalian datang tanpa niat buruk. Cuma aku belum pastikan apa tujuan om ke sini. Jelas masih harus waspada."
Daniel tertawa ngakak melihat betapa tajamnya lidah Azzam. Sifatnya mirip sekali Alvan, tegas tak bertele-tele. Daniel tak percaya kalau Azzam tak ada hubungan dengan Alvan. Sekali lihat Daniel ngerti Azzam dan Afifa ada hubungan dengan Alvan. Tinggal tunggu pengakuan Citra siapa bapak anak-anaknya.
"Dari mana kamu duga kami bukan orang jahat nak?" Daniel coba test kepintaran Azzam. Anak lajang itu benar kelihatan sangat cerdas. Jidat tinggi calon profesor masa depan.
"Gampang...kalau Om berniat buruk takkan bela tunggu mami kami. Mau culik kami bukan orang kaya. Tebusan sudah pasti sedikit. Aku cuma heran sama Om cari mami alasan berobat. Alasan sangat lemah. Di rumah sakit masih penuh dokter lebih hebat dari mami. Tak mungkin bela datang hanya cari seorang dokter cantik." Azzam beri analisa berdasarkan cara pikir dia sendiri. Gaya Azzam bikin Daniel gregetan. Anak kecil sok dewasa.
"Menurutmu kami datang untuk apa?" pancing Daniel memuji analisa Azzam sangat tepat.
"Wah...tak baik bergosip di belakang mami aku. Lebih baik kusimpan sendiri apa yang kupikirkan. Tentang masa lalu."
__ADS_1
Alvan terhenyak tak sangka anak kecil di sebelah rumah ini punya IQ sangat tinggi. Umur boleh muda tapi pola pikir kayak kakek tua. Citra kasih makan apa anak-anaknya sampai punya otak selicin belut.
Si Ance muncul membawa dia cangkir kopi panas. Laki feminim itu tak berniat masuk rumah Citra demi jaga keamanan kedua anak tetangganya. Ance menyayangi Afifa dan Azzam sebagai adik sendiri walau si Azzam suka usilin dia.
Ance mengangsurkan minuman itu lewat pagar pemisah dua rumah yang tak terlalu tinggi. Daniel segera sambut tahu tak punya harapan pancing ketiga orang itu seberang ke rumah sendiri. Sikap hati-hati anak-anak itu merupakan hal baik. Ibu mereka jarang di rumah mestilah berjaga diri dari segala kejahatan. Citra beruntung punya tetangga sebaik Ance walau orangnya sedikit aneh. Laki ngak perempuan juga bukan.
Daniel menata dua cangkir kopi itu di atas meja kecil di antara kursi rotan. Asap mengepul dari balik cangkir menggoda orang untuk cicipi harum minuman berwarna gelap itu.
"Minum bro! Kau masih ada meeting penting pagi ini. Apa rencanamu?"
"Aku bingung...aku merasa anak-anak itu bagian dari tubuhku. Kau lihat Azzam? Persis aku di masa kecil. Orang bodoh sekalipun bisa lihat betapa mirip kami." gumam Alvan pelan takut di dengar anak-anak di sebelah.
"Kukira urat peka lhu putus! Kita harus dapat sampel darah Azzam atau sampel rambut Afifa untuk pastikan siapa bapak mereka. Kalau aku sih tak perlu test tahu itu darah daging lhu! Lihat dekik di pipi Afifa! Warisan lhu!"
Alvan tak menampik omongan Daniel. Azzam seratus persen mirip dengannya sedang Afifa Warisi lesung Pipit darinya. Azzam bertubuh tinggi besar tak sesuai umurnya yang baru delapan tahun. Orang yang tak tahu pasti mengira Azzam umurnya lebih dari sepuluh tahun. Afifa kecil mungil macam Citra. Saudara kembar yang sangat timpang. Saudara kembar tapi profil tubuh bagai langit dan bumi.
"Kita balik sore saja. Akan kusuruh Untung ambil berkas Citra dari Hans. Gue takut Hans berkhianat."
"Tepat...test DNA juga tak boleh diketahui dokter gadungan itu. Gue takut dia cerita semua pada Citra. Sekarang lhu boleh tenang. Sudah ada penerus walau masih harus berjuang. Berjuang untuk anak-anak bukan untuk induk mereka. Induknya jatah aku! Lhu urus saja ayam liarmu biar jinak!" Daniel tersenyum ngejek biar Alvan menyesali perbuatan meremehkan Citra di masa lalu. Punya sebongkah emas tulen memilih segumpal batu sungai.
"Tega amat lhu omong gitu! Apa lhu pikir gue tak punya perasaan? Citra susah payah besarkan anak-anak gue rebut gitu saja? Gue masih punya hati. Gue takkan ganggu Citra walau anak-anak itu anakku. Gue cuma butuh kepastian."
Daniel tepuk tangan puji kebesaran jiwa Alvan tak berniat pisahkan Citra dari anak-anak walau terbukti dia bapak anak-anak kembar itu. Daniel tak keberatan besarkan anak-anak Alvan kalau Citra mau dengannya. Daniel harus berjuang untuk rebut perhatian Citra.
"Good bro! Jalanku makin lapang. Doakan gue ya!"
"Mau lhu! Yok kita cabut! Kita kembali sorean. Meeting gue tak bisa ditunda."
"Ok...Woi...anak ganteng! Kami balik dulu! Sore kami balik. Anak kecil tak boleh keluyuran bila tak ada orang tua di rumah. Baik-baik sama Kak Ance kalian." Daniel balik badan mengarah pada Azzam dan Ance yang masih nyangkut di teras rumah Ance pantau gerak gerik mereka.
"Jangan balik sini om! Kalau memang datang berobat ke rumah sakit saja. Waktu yang telah berlalu takkan kembali. Maju terus ke depan tak perlu balik ke belakang." suara Azzam terdengar keren tak ubah seperti orang dewasa memahami situasi.
Alvan merasa dadanya kena bogem mentah. Sakit tanpa luka. Kalimat yang keluar dari mulut Azzam seolah pesan lisan untuknya. Anak ini banyak ngerti persoalan. Siapa yang ajar dia omong gitu. Citra telah buka kartu atau otak anak ini sekilat otak si jenius Albert Einstein.
Daniel tak bisa sembunyikan tawa lihat Alvan terpesona oleh himbauan Azzam. Mau tak mau Daniel memuji insting Azzam yang luar biasa. Citra makan apa waktu hamil bisa produk anak sepintar Azzam. Brilian dan cerdas.
"Anak kecil sok tahu." desah Alvan kesal dikuliahi anak kecil. Baru kali ini Alvan jumpa anak setegas Azzam. Mengayomi keluarga walau umurnya masih seumur jagung. Anak itu dewasa belum waktunya.
"Terserah om mau omong apa! Fakta tidak selalu hasilkan akhir sesuai harapan. Kusarankan jauhi keluarga kami. Kami tidak mengemis walau miskin." sinis nada suara Azzam. Lagi-lagi dada Alvan kena pukulan kedua kali. Azzam seperti ingin beri peringatan pada Alvan untuk tidak melukai hati keluarga yang harus dia lindungi. Mereka sudah bahagia saat ini. Tak perlu campur tangan orang lain termasuk Alvan.
Azzam seperti mengetahui sesuatu tapi lajang itu tidak utarakan secara jelas. Lajang itu bicara secara samping untuk beri tahu Alvan maupun Daniel mereka tak butuh orang lain.
"Anak kecil tahu apa? Bilang pada mamimu kami akan balik. Jangan suka main kabur!" ujar Alvan berusaha tenang. Masa kalah gertak lawan anak kemarin sore.
"Menghindari predator ganas lebih baik dari pada tempatkan diri dalam bahaya. Om lihat kura-kura? Dia akan sembunyikan diri dalam rumahnya bila ketemu bahaya. Kita juga harus gitu cuma kami tidak kabur hanya menghindar untuk lindungi diri sendiri. Silahkan pergi dan jangan datang lagi!" Azzam berkata pelan namun tak bersahabat.
__ADS_1
Ance terdiam melihat betapa keren Azzam melawan orang asing yang ingin jumpa Citra. Azzam seperti menyimpan rasa tidak suka pada dia orang itu terutama pada yang paling ganteng di jangkung.