ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Alvan si Singa


__ADS_3

"Ada atau tidak kehadiran Citra aku takkan memilihmu sebagai isteri aku! Selama ini mungkin kau tak tahu berapa besar uang yang kukeluarkan untuk menunjang penampilanmu? Kau oplas di Korea, belanja barang mewah. Aku kau kira aku tak tahu? Selama aku masih mampu aku tidak persoalkan tapi kelakuan kamu pagi bikin aku makin muak!" Heru berkata mengeluarkan semua unek-unek di dalam hati yang telah disimpan lama. harus sengaja berdiam diri untuk melihat sampai di mana tingkah Viona mencoba menguasai hidupnya. Nyatanya Viona kebablasan melukai perasaan Citra yang dia kagumi.


"Heru... tante tidak menyangka kamu akan bicara seperti itu pada Viona. Kami sudah sepakat menjodohkan kalian agar tali persaudaraan kita tidak putus. Apa artinya uang segepok untuk menunjang penampilan Viona? Tanya pada mamamu bagaimana hasil rapat keluarga?" ujar ibu Viona belum menyerah menyodorkan Viona pada Heru.


"Itu kan kaliannya rapat apa urusan sama aku? Memangnya Viona mau menikah dengan keluarga? Silakan saja pilih salah satu dari keluarga kita pokoknya bukan aku orangnya!" tegas Heru tetap pertahankan ego sendiri. Heru bukan egois tapi ingin menata hidup lebih baik di kemudian hari. Wanita model Viona tidak cocok dijadikan istri, hanya cocok dijadikan pajangan. Kayak manekin hidup.


Citra menghela nafas tak tahu harus ngomong apa lagi. Dua anak Citra mulai gelisah karena perut mereka mulai keroncongan menunggu sarapan pagi yang telah disediakan oleh maminya. Afifa mencolek Azzam berkali-kali sambil menunjuk perutnya.


Azzam mengerti kode yang telah diberikan oleh adiknya. Afifa ingin katakan bahwa dia sudah sangat lapar. Perut mereka tidak bisa diajak kompromi ikutan berembuk masalah orang dewasa.


Azzam gantian mencolek Citra memberi kode pakai ekor mata ke arah Afifa. Sebelah tangan Azzam mengelus perut isyaratkan bahwa mereka lapar. Citra tersadar kalau kedua anaknya tengah menanti sarapan pagi yang telah dia siapkan.


"Koko ajak Afifa dan kakak-kakak pergi sarapan dulu! Nanti mami menyusul." bisik Citra pelan di kuping Azzam.


"Iya mi!" sahut Azzam gembira terbebas dari suasana tidak kondusif ini. Azzam sangat tidak suka kehadiran orang-orang mengganggu ketenangan keluarganya. Biasanya rumah mereka tenang adem tanpa ada kebisingan. Sekarang kok berubah menjadi ajang pertarungan memperebutkan seorang lelaki."Kak...kita makan dulu yok!"


Ketiga konco Azzam tentu dengan suka rela ikut ke dapur menggasak masakan Citra yang terkenal lezat.


Ibu Heru perhatikan satu persatu makhluk jenis jantan berpindah ke belakang. Mata ibu Heru lebih tertuju pada dua anak yang sangat cantik. Terutama Afifa mirip boneka hidup. Kalau itu anak Citra berarti itu cicitnya. Senyum di bibir Ibu Heru merekah, tak disangka dia telah mempunyai cicit yang cantik-cantik.


"Apa mereka anak-anak kamu?" tanya ibu Heru lembut pada Citra.


"Iya Bu...mereka kembar tiga!" sahut Citra tak kalah lembut.


"Wow kembar tiga? Kok cuma dua? Satu lagi mana?"


"Ada di Beijing masih sekolah di sana. Dia atlet senam jadi tak bisa ikut pulang."


"Oh...sekarang maukah kamu jujur pada kami apakah ayahmu Hamka?" tanya ibu Heru dengan harapan kita bersedia membuka jati diri ayahnya yang sesungguhnya.


"Ayahku memang bernama Suroso dan ibuku memang Inge. Ayah dan ibuku tidak pernah menceritakan dari mana mereka berasal. Kami hidup bahagia karena ayah dan ibu saling mencintai. Cuma sayang mereka tidak berumur panjang. Soal anak ibu yang bernama Hamka Aku benar-benar tidak tahu."


"Baiklah nak! Ibu tidak akan memaksamu cuma Ibu memintamu jujur apakah di dada kiri ayahmu ada tompel berwarna hitam? Bertahun Ibu hidup dalam penyesalan. Bu ingin sekali bertemu dengan anak ibu yang bernama Hamka. Kalaupun dia sudah meninggal Ibu ingin tahu di mana kuburannya."


Citra merasa bimbang untuk menjawab. Kalau dilihat dari ciri-ciri yang diceritakan ibu itu hanya memang Hamka namun Citra masih dipenuhi keraguan untuk menjawab dengan lugas. Keluarga Perkasa terkenal sangat kaya. Kalau Citra jujur nanti dikira Citra ingin ikutan menjadi orang kaya.


"Citra.. Mas Heru harap kamu menjawab dengan jujur benar atau tidaknya ayahmu itu adalah abangku hanya kamu yang tahu. Cuma kumohon kamu berkata sesuai hati kecilmu. Apa kamu tega mengecewakan hati seorang ibu yang merindu anaknya siang malam." Heru ikut menimpali melihat keraguan Citra untuk menjawab. Jauh di lubuk hati Heru mengharap jawaban Citra mengatakan tidak. Heru masih memiliki angan indah untuk menjadikan Citra sebagai pendamping hidup.


Citra menatap Ibu Heru dengan letak-letak seolah ingin menembus isi hati ibu tua itu. Citra kasihan juga melihat bagaimana kerinduan seorang ibu pada anaknya karena Citra juga seorang ibu.


"Benar tompel itu memang ada di dada kiri ayahku! Bentuknya tidak bulat tapi berbentuk oval." akhirnya Citra menjawab sesuai kata hati kecilnya.

__ADS_1


Heru merasa kedua lututnya lemas tak sanggup menerima kenyataan bahwa Citra itu adalah keponakan kandungnya. Harapan untuk hidup bersama Citra sampai hari tua pupus sudah. Namun Heru tak kalah mendapat kenyataan keturunan abangnya masih ada.


Lain reaksi Heru lain pula reaksi ibunya. Viona dan ibunya tak kalah bahagia karena Citra tak mungkin menjadi istri dari Heru. Berarti kesempatan dia untuk berdiri di samping Heru cukup besar.


"Kau anak Hamka berarti cucu aku! Namamu siapa nak?" Ibu Heru segera memeluk Citra untuk luapkan emosi seorang ibu yang telah menemukan pelita hati. Hamka telah tiada tapi meninggalkan seorang putri yang cantik jelita. Sekilas dilihat Citra mempunyai kemiripan dengan Heru. Wajah Heru yang mirip dewa Yunani itu ada sedikit menurun pada Citra.


"Namaku Citra Ayu Suroso"


Citra gugup tiba-tiba dipeluk ibu tua yang anggap Citra cucunya. Citra belum yakin sekali pada cerita Heru dan ibunya. Mendadak muncul tokoh lain dalam hidupnya cukup membuat Citra syok. Citra tak sangka masih ada keluarganya di dunia ini. Citra hanya tahu dia hidup sebatang kara sejak kepergian ayahnya. Tidak tanggung-tanggung dia keturunan dari keluarga kaya raya.


"Panggil aku Oma nak! Nanti Oma bawa kamu pulang untuk buktikan bahwa ayahmu memang Hamka anak kami. Dan itu adik ayahmu Heru! Mereka saudara kandung." Ibu Heru tak puas-puas memandangi wajah cantik Citra warisan dari garis keluarga ayahnya. Pantas saja Citra cantik ternyata memang datang dari garis keluarga terpandang.


"Oma..." lirih Citra masih malu-malu kucing.


Heru tak mau kalah merentangkan tangan meminta Citra masuk ke pelukannya. Heru bersedih kehilangan pujaan hati namun sebagai gantinya dia memiliki seorang keponakan multi talenta. Heru tak berhasil memeluk Citra sebagai isteri namun dia berhasil menemukan permata yang hilang selama ini.


Citra melabuhkan tubuh ke pelukan lelaki yang sedarah dengan ayahnya. Boleh dibilang Heru pengganti ayahnya yang telah meninggal.


Heru memeluk Citra erat-erat. Tak lupa Heru hadiahkan kecupan di ubun kepala Citra untuk rasakan keindahan menjadi seorang om dari anak abangnya.


Keduanya tak sadar sepasang mata menatap pelukan Heru pada Citra dengan pandangan membunuh. Sosok tinggi besar masuk ke dalam rumah menarik Citra dari pelukan Heru. Setelah Citra terlepas bogem mentah mendarat di wajah dewa Yunani Heru. Heru terpental jatuh ke lantai dipukul oleh Alvan yang tiba-tiba muncul.


Alvan tidak dapat menahan emosi layangkan bogem mentah ke wajah Heru. Itu belum memuaskan kemarahan Alvan. Betapa berani Heru ganggu wanitanya, Citra bukan hanya sekedar wanitanya tapi ibu dari anak-anaknya.


"Pak Alvan..." Citra memeluk Alvan dari belakang tak ijinkan Alvan maju hendak memukul Heru untuk kedua kali.


"Kau mau bela lelaki mata keranjang ini? Kau ingat apa statusmu? Kau isteri aku! Isteri Alvan Lingga..." teriak Alvan kalap.


Citra makin kencang memeluk Alvan walau tahu tenaganya tidak sekuku kekuatan Alvan. Heru tertawa mengejek walau tubuhnya terhempas ke lantai. Heru bukannya marah malah bersyukur Citra telah berada di tangan tepat. Reputasi Alvan sangat baik tanpa skandal. Tak ada gosip Alvan terlibat dengan wanita manapun. Kehidupan Citra terjamin bila lakinya Alvan.


"Bangun kau pengecut.. berani di saat aku tak ada!" Alvan marah garang tidak memaafkan Heru walau gerakkannya melemah karena tak mau melukai hati Citra.


Ibu Heru segera membantu anaknya bangun sambil melontarkan tatapan penuh kobaran amarah kepada Alvan. Situasi makin tak menentu setelah kehadiran Alvan. Laki tak terima kehadiran Heru di rumah Citra.


Dari dapur muncul gerombolan anak muda berdiri mematung melihat keributan di ruang tamu. Afifa sedikit ketakutan menyaksikan wajah bengis Alvan. Selama bersama Alvan belum pernah Afifa lihat Alvan semarah ini.


"Papi..." seru Afifa menyadarkan Alvan dari kesilapan berbuat kasar. Alvan melemaskan otot yang terlanjur mengeras karena emosi. Panggilan Afifa bagai siraman air dingin menguyur kepala Alvan menjadi adem.


"Anak papi..." Alvan menyambut Afifa ke pelukan padahal dia masih di peluk Citra dari belakang. Acara pelukan keluarga di tengah amukan badai ganas sedikit menurunkan hawa panas.


"Papi kenapa marah? Amei takut."

__ADS_1


"Maafkan papi kelepasan! Afifa masuk ke kamar dulu ya! Papi ada sedikit urusan. Azzam... ajak adikmu masuk kamar!" kata Alvan selembut mungkin agar Afifa tidak kaget.


"Iya Pi..." akhirnya Azzam bersedia memanggil Alvan papi. Sebutan om berganti sebutan papi yang diharap Alvan pagi siang malam.


Azzam mendekati Afifa dan membawanya pergi dari ruang tamu. Azzam paham Alvan tak ingin anaknya melihat kekerasan di sekitarnya. Alvan memang papi jempolan memikirkan yang terbaik untuk anaknya.


Melihat Azzam dan Afifa hilang di balik pintu kamar Alvan kembali menghadap Heru yang telah berdiri tegak. Ibu Heru berdiri di samping Heru takut Alvan main kekerasan lagi.


Sementara di samping Alvan telah ada Citra mengawal Alvan agar tidak gunakan tinju selesaikan masalah.


"Sudah kuingatkan kamu jangan ganggu keluarga aku! Citra sudah punya suami yakni aku Alvan. Kau tidak kapok ya!"


"Kau salah paham Van! Citra ini anak Abang aku! Aku ini Omnya Citra! Artinya Citra ini anakku!" Heru mencoba jelaskan duduk perkara mengapa mereka berpelukan.


Giliran Alvan melongo sampai mulut terbuka lebar. Nyamuk-nyamuk nakal sedang intip cari kesempatan nyelonong ke dalam mulut pria berkharisma itu.


Viona menatap Alvan tanpa kedipkan mata. Kalau Heru mirip dewa Yunani maka Alvan mirip Herkules dalam mitos. Sudah ganteng gagah lagi. Kini Viona menyesal telah mengejar Heru, maunya dia kejar Alvan. Jadi isteri ketiga juga tak masalah asal bisa merebahkan diri di dada bidang Alvan. Dada yang janjikan kedamaian.


"Apa maksudmu? Citra anak abangmu? Artinya Pak Suroso itu abangmu?" Alvan belum ngeh di balik cerita ini.


"Abangku bernama Hamka Perkasa. Anak sulung keluarga Perkasa. Dia menghilang hampir tiga puluh tahun. Nyatanya dia sudah meninggal. Yang tinggal hanya anaknya yakni Citra."


Alvan mengatup mulut kencang masih tak percaya di dunia ada kejadian demikian ke betulan. Alvan perlahan menyadari betapa miripnya Heru dengan Suroso supir kakeknya. Bahkan Suroso jauh lebih ganteng dari Heru. Maka itu Citra bisa secantik bidadari. Ternyata Citra berasal dari trah garis keturunan orang hebat. Tak heran Citra memiliki kecerdasan melebihi orang kampung umumnya.


"Apa benar Citra?" nada suara Alvan berubah lembut tidak garang kayak tadi.


"Aku juga baru tahu hari ini pak! Viona datang menyudutkan aku dan ibu ini melihat foto ayah bilang itu foto anaknya. Ciri yang disebut ibu ini memang ciri khas ayah." Citra berkata lirih takut Alvan ngamuk lagi. Ternyata kalau lagi ngamuk Alvan berubah sangat mengerikan.


"Untuk lebih yakin test DNA saja! Itu lebih akurat!" nimbrung Andi dari balik pintu gerbang dapur. Ketiga konco itu ketakutan menyaksikan keganasan bos mereka. Kini Tokcer dan Bonar mengerti mengapa Andi lebih takut pada Alvan dari pada ibunya. Di balik sifat lembut Alvan tersimpan keganasan tersembunyi.


Sekali terekspos sungguh luar biasa. Heru yang gagah perkasa bukan lawan Alvan. Sekali sambar Heru terkapar ke lantai. Gimanalah kalau mereka bertiga kena high five Alvan. Masuk liang lahat atau ruang ICU rumah sakit.


"Cocok...besok kita lakukan test DNA! Aku sih tidak ragu Citra itu keponakan aku tapi untuk menjawab kecurigaan kita maka sebaiknya lakukan test DNA." Heru setuju usul Andi. Andi beri solusi jitu untuk hilangkan semua kecurigaan.


Andi ingin sekali tepuk dada banggakan otaknya makin encer sejak kerja di kantor Alvan. Mungkin keseringan kena AC sejuk maka seluruh syaraf Andi berfungsi lebih baik. Andi cengar-cengir bikin Tokcer dan Bonar iri hati. Rasanya ingin jitak lelaki bertulang lunak itu.


"Kau bersedia Citra?" tanya Alvan selembut salju. Halus dan sejuk.


Citra mengangguk untuk menyakinkan diri dia masih punya keluarga. Citra tidak bermimpi menjadi bagian dari keluarga kaya itu. Cukup tahu masih ada keluarganya di dunia ini. Ini sudah memuaskan Citra.


"Baiklah! Hari ini juga kita lakukan test! Kebetulan Citra harus ke rumah sakit. Papaku sakit!" cerita Alvan tidak menyembunyikan kalau Pak Jono sakit.

__ADS_1


__ADS_2