ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Heru Pacaran


__ADS_3

Alvan menghela nafas menahan sakit. Citra enak-enakan bermimpi sedang dia nelangsa menahan tendangan. Tak ada jalan lain selain lanjutkan tidur. Kali ini Alvan tidak meminta bermimpi apapun. Nanti bermimpi malah jumpa Citra di dalam mimpi sedang praktek kungfu Shaolin. Yang jadi korban tetap dia.


"Tidur yang nyenyak sayang! Jangan ngingau lagi ya! Suamimu sudah babak belur." bisik Alvan pelan takut bangunkan Citra.


Alvan tak tahu di balik selimut Citra tersenyum licik. Wanita ini puas sudah berhasil kasih pelajaran pada Alvan agar jangan coba-coba genitan dengan wanita lain. Ini baru peringatan awal. Peringatan dini sebelum terjadi tsunami tendang lebih dahsyat. Dijamin Alvan bakal tenggelam tak mampu berkutik.


Citra puas lantas menghanyutkan diri ke alam tidur. Alvan telentangkan badan tak mampu bergerak lagi. Badan cenat-cenut dihajar Citra. Biarlah sakit yang penting istrinya tidak terganggu tidurnya.


Adzan subuh dari mesjid sayup-sayup terdengar sampai ke telinga Citra. Wanita ini segera bangun seraya menyibak selimut menuju ke kamar mandi. Citra membersihkan diri sebelum bangunkan Alvan untuk ikut sholat berjemaah dengan anak-anak.


Yakin sudah tampil wangi Citra segera hampiri Alvan untuk ajak suaminya ikut sembahyang subuh. Keimanan seorang muslim sering diuji pada sholat subuh. Acap kali umat melewatkan sholat pertama di awal hari. Waktu subuh memang waktu paling nikmat lanjutkan mimpi. Apalagi kalau udara dingin. Makin malas bangun untuk berkeluh kesah pada Allah SWT.


"Mas...bangun!" Citra mengguncang bahu Alvan sekuat mungkin untuk salurkan sisa rasa kesal yang belum habis dikeluarkan.


Alvan mengintip isterinya dengan sebelah mata. Sebelah lagi dibiarkan tertutup. Jujur Alvan merasa berat untuk bangun. Seluruh tubuhnya masih sakit akibat kena tendangan bebas Citra. Badan segede traktor itu terhempas ke bawah lantai buat tubuh gaban itu serasa mau rontok. Itu akibat malas olahraga. Sedikit kena tendangan kaki mungil langsung terkapar.


"Sholat mas..." ujar Citra senang lihat Alvan menderita.


"Minta Adzan tunda sebentar. Mas kurang enak badan."


"Lha..semalam masih semangat ngobrol sama orang barat. Matanya berseri-seri diajak liburan." ejek Citra puas Alvan terkapar. Dalam hati Citra bersyukur telah beri pelajaran pada laki genitnya.


"Ya ampun Nyonya aku! Siapa lagi yang senang liburan sama orang bule bau keju. Masih enakan cium bau melati dari tubuhmu."


"Masa sih? Bukankah Pak Alvan yang terhormat menerima undangan dari fans baru untuk berlibur ke Amerika?"


"Kapan kamu dengar aku terima undangan dari perempuan genit itu? Kau cemburu ya?" goda Alvan bersemangat Citra mulai bereaksi pada wanita-wanita yang kerubuti Alvan. Semula Alvan pikir Citra tidak serius cinta padanya. Mana ada cinta tanpa di bumbui penyedap rasa merek cemburu.


"Siapa cemburu? Aku cuma tak mau ada bibit penyakit baru beredar di rumah ini. HIV baru berlalu apa tuan raja dipertuan agung pak Alvan mau bawa penyakit berbahaya masuk ke dalam rumah?"


"Panjang amat gelar aku! Mungkin kamu lupa tambahkan suami bidadari cantik Citra." Alvan bangkit untuk memeluk Citra. Rasa ngantuk Alvan tersingkir berkat Citra ungkit soal Niken. Alvan tak ingin terjadi salah paham antara dia dan Citra. Ketenangan mulai menyelimuti keluarga mereka. Semoga tak ada halangan melintang di jalan mereka.


Alvan memeluk Citra dari belakang menciumi leher Citra yang sudah harum. Harum yang selalu Alvan sukai.


"Percayalah padaku! Seribu Niken takkan bisa mengganti kamu di hatiku. Aku sudah lelah berlayar. Kau dermaga terakhirku." janji Alvan.


Hati Citra bagai disiram air surgawi. Janji tulus dari mantan playboy. Semoga bukan asal bunyi untuk merayu Citra. Merayu di mana memerlukan Citra untuk urus orang tua dan anak-anak.


"Biarkan aku percaya untuk sementara ini! Kita sholat yok! Anak-anak pasti sudah menunggu kita. Mas harus jadi duri tauladan bagi anak-anak. Pergilah berwudhu!" Citra melepaskan kedua tangan Alvan yang melingkar di pinggang.


"Iya...kau duluan!"


"Aku wudhu di luar sana. Mas bersihkan diri saja! Aku tunggu di ruang sholat ya!"


Alvan mengangguk bahagia. Pagi yang indah walau badan masih sakit. Rasa sakit tidak seberapa bila dibanding kehangatan keluarga. Alvan harus makin mawas diri bila masih ingin Citra selalu di samping. Sedikit dia tergelincir tamatlah kisah cintanya dengan Citra. Imbasnya kehilangan buah hati yang luar biasa.


Ketiga anak muda sudah menunggu di ruang sholat. Gibran yang jarang sholat kini tertular rajin sembahyang. Gibran malu harus kalah dari keponakannya yang selalu tampil dengan nilai plus. Masa seorang om kalah dari anak kecil. Gibran yang beranjak remaja perbaiki image ugalan jadi anak baik untuk beri contoh teladan bagi ketiga keponakan.

__ADS_1


Siap sholat Citra mengajak ketiga anak muda di rumah baca ayat suci Al-Quran. Azzam dan Afifa cukup fasih sedang Gibran masih butuh bimbingan. Citra berjanji pada diri sendiri untuk membimbing Gibran untuk menjadi muslim sejati. Bukan muslim dalam status.


Pagi ini semua tampak ceria. Opa dan Oma juga semangat ikut bergabung nikmati sarapan. Seharusnya beginilah suasana keluarga sehat serta waras. Jauh dari konflik.


Gibran paling semangat karena pagi ini ada hidangan nasi goreng seafood kesukaannya. Pagi ini Citra yang siapkan sarapan berhubung hari masih cukup pagi. Masih banyak waktu habiskan waktu di dapur. Sejak pindah ke rumah baru belum pernah sekalipun Citra memasak di rumah.


"Wah ..wangi amat!" kata Gibran menarik bangku duduk di samping keponakan imutnya.


"Ini kesukaan Amei om! Nasi goreng is the best!"


Gibran mencolek pipi chubby Afifa dengan gemas. Kedua pipi gadis kecil itu makin berkembang minta dicubit.


"Selera Amei sama dengan om! Om juga doyan nasi goreng seafood. Artinya darah om banyak mengalir dalam nadi Amei."


"Kita tidak transfusi darah bagaimana darah om mengalir ke dalam tubuh Amei. Om ini suka bohong." kata Afifa belum ngerti maksud Gibran untuk katakan kalau darah Perkasa lebih dominan dari darah Lingga.


Semua tertawa dengar keluguan Afifa. Kecerdasan Afifa tidaklah sehebat Azzam. Azzam bukan cuma cerdas tapi melebihi batas cerdas. Boleh dibilang Azzam anak jenius.


"Iya...Amei mirip om Gi!" timpal Azzam supaya Gibran makin naik daun.


"Gitu ya? Kalau gitu Amei harus makin sayang sama om. Tua nanti biar Amei urus om." ucap Afifa sok hebat bisa merawat Gibran di hari tua.


Andai mereka dewasa kelak pasti cerai berai menapaki takdir masing-masing. Punya keluarga sendiri serta penerus untuk lanjutkan marga.


"Oya..kapan opa dan Oma berangkat?" tanya Pak Sobirin teringat rencana berangkat ke Beijing.


"Heru ntah kapan pulangnya? Sampai hari ini dia tidak ada kabar." keluh Bu Sobirin teringat anaknya yang antar cucu di Singapura.


Semua mata mengarah ke tubuh Bu Sobirin yang dipenuhi rasa kuatir Heru tidak pulang-pulang ke tanah air. Sedang apa laki itu di Singapura sampai lupa pada tugas dan orang tua.


"Uyut tak usah kuatir. Opa Heru asyik pacaran sama Afung Ie. Besok mereka datang. Hari ini pertandingan terakhir. Cece dapat dua medali emas satu perak. Cece nangis dapat perak. Mama sudah bilang tak apa dia masih nangis." lapor si centil Afifa. Gaya bicaranya bikin orang gemas.


"Ya Tuhan ..prestasi segitu bagus masih nangis? Cengeng amat!" ujar Gibran sesali mental Afisa rapuh. Medali perak juga satu prestasi lumayan. Bagi Gibran itu sudah menjawab tantangan seorang atlet.


"Om nggak tahu sifat Cece. Dia itu mau emas melulu. Emas kan mahal."


"Bukan gitu sayang! Cece bukan persoalkan emasnya mahal tapi prestasi. Cece mu itu mau jadi yang terdepan. Nanti mami teleponi Cece. Apa iya opa Heru pulang besok?"


"Iya...Opa balik bawa Afung Ie dan seorang atlet lain. Mereka kan dapat liburan selama seminggu setelah tanding."


"Cece ikut pulang?"


"Tidak ..Cece ikut mama pulang ke Beijing! Cece harus balik sekolah karena mereka juga mau ujian mid test. Amei minta Cece ke sini ikut opa tapi Cece bilang tak bisa. Dia tunggu kita di Beijing. Katanya Koko dan Amei boleh ikut sekolah awal tahun nanti." cerita Afifa tanpa merasa berdosa bikin yang hadir sport jantung.


"Afifa dan Azzam juga mau sekolah di Tiongkok? Gimana Uyut kalian tinggalkan?" protes Bu Sobirin tidak setuju kedua cicit-cicit ikut kabur ke negeri orang. Seluruh keluarga ada di tanah air masak harus sekolah sampai seberang lautan.


Alvan hilang selera makan dengar rencana Afisa ajak kedua saudaranya ikuti jejaknya jadi murid di negeri tirai bambu. Bukankah rencana itu telah dihapus Citra, mengapa diungkit lagi.

__ADS_1


"Sayang...kalian tetap sekolah di sini! Cukup Cece di sana. Kasihani Uyut kesepian tanpa kalian. Uyut kan sudah tua." bujuk Citra agar pagi cerah ini tidak ternoda oleh beban pikiran. Citra sudah lihat perubahan wajah Alvan. Laki itu langsung pucat dengar kedua anaknya akan menyusul Afisa.


"Mami kalian benar...kalian adalah permata Uyut. Uyut belum bisa kehilangan kalian."


Azzam mengatup mulut erat tak ingin berspekulasi tentang hari ke depan. Masih banyak yang harus dipertimbangkan rencana lanjut sekolah di Tiongkok. Lebih banyak yang terluka bila mereka benaran pergi. Azzam harus ambil jalan terbaik agar semua tercover. Tak ada yang terluka.


"Ujian dulu! Buktikan prestasimu Mei! Cepat makan! Nanti terjebak macet." Azzam sudahi cerita yang menguras kesedihan di hati orang tua.


Alvan memuji kepekaan Azzam. Tidak rugi menanam bibit di rahim Citra hasilkan buah unggul. Harus pakai kalimat apa untuk ungkap rasa salut pada anak sulung Citra itu.


"Iya ko..."


Tak ada yang berkata lagi. Kata-kata Azzam seperti mantra sakti bungkam mulut orang satu meja makan. Semua patuh pada Azzam habiskan nasi goreng olahan Citra. Sungguh lezat goyang lidah.


Bu Sobirin tak sangka punya cucu sejuta talenta. Sudah cantik, pintar dan ibu rumah tangga baik. Klop Alvan dapat isteri bernilai tinggi. Itu rezeki Alvan.


Tokcer sudah siap mengantar ketiga majikan kecil ke sekolah. Tokcer tak sabar ingin cepat antar ketiga anak itu ke sekolah agar bisa ke bandara antar Natasha berangkat ke Bali. Ini adalah pertemuan terakhir. Selanjutnya ntah kapan baru bisa jumpa lagi. Syukur kalau Natasha ingat padanya. Takutnya tiba di Amerika semua bayangan Tokcer kena delete dari memori Natasha. Tokcer pasrah saja jalani hubungan baru yang masih rapuh ini.


Citra membantu Afifa memakai sepatu. Azzam lebih mandiri bisa urus diri sendiri. Azzam sudah bisa andalkan diri sendiri mempersiapkan segala sesuatu tanpa bebani Citra. Cukup Afifa saja yang manja.


"Hari ini terakhir sekolah. Senin sudah ujian. Simak semua pesan guru ya! Peralatan apa akan dibawa untuk ujian." pesan Citra pada Afifa. Afifa tidaklah segesit Azzam dalam berpikir. Afifa tetaplah Afifa yang culun.


"Iya mi..."


Citra berikan tas Afifa pada Tokcer agar dimasukkan ke dalam mobil. Pekerjaan rutin ini telah Citra lakoni sejak ketiga anaknya mulai kenal bangku sekolah. Hanya Afifa butuh perhatian lebih. Azzam dan Afisa jauh lebih mandiri.


"Kak..." panggil Tokcer ragu memulai niat hati.


"Ada apa?" tanya Citra pelan.


"Selepas antar Koko dan Amei, apa aku boleh ke bandara?"


"Mau antar Natasha?" tebak Citra menebak jitu tujuan Tokcer. Citra bukan orang buta tak lihat kedekatan Natasha dan Tokcer. Natasha banyak dapat masukkan positif dari mantan preman itu. Tokcer berhasil mengarah Natasha ke arah lebih baik maka Citra tak melarang Tokcer berteman dengan gadis bule itu.


Tokcer mengangguk, "Iya kak!"


"Tok...kakak bukannya larang kami berteman. Kita berteman dengan semua orang tapi jangan berharap lebih. Kultur kita berbeda. Kamu takkan bisa ikuti cara hidup mereka yang seperti burung bebas di angkasa."


"Kami berteman kak! Nata akan segera pulang ke Amerika untuk lanjutkan kuliah. Kapan jumpa lagi kita tak tahu."


"Bagus kalau kau berpikir begitu! Ya sudah kau boleh pergi tapi jangan lupa jemput adikmu! Mereka kan pulang cepat hari ini."


"Beres kak! Terima kasih...aku pergi dulu.. assalamualaikum.." Tokcer berjingkrak riang dapat lampu hijau boleh ke bandara antar teman tapi mesra itu. Wajah Tokcer yang biasa kusam kini berseri-seri dapat lotre nomor satu.


Citra ikut senang dapat menebar aura bahagia pada Tokcer. Citra bukan tak dukung hubungan Tokcer dan Natasha. Hubungan mereka berkalang banyak pembatas. Dari segi kepercayaan, dari budaya, dari kultur yang jauh dari kata malu dan segan. Natasha kurang hargai tata krama suka nyelonong pembatas. Tokcer belum tentu bisa toleransi semua perbedaan ini. Semoga mereka memang hanya sebatas teman. Tak lebih dari itu.


Citra balik ke kamar temui Alvan yang bersiap berangkat ke kantor. Alvan telah mengenakan busana resmi seorang CEO. Jas warna biru gelap dipadu kemeja biru muda plus dasi warna dongker. Satu paduan selaras. Sentuhan terakhir minyak wangi khas lelaki. Minyak wangi seharga jutaan. Bukan model minyak pelet kebanggaan engkong Tokcer.

__ADS_1


__ADS_2