ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Afung Terjatuh


__ADS_3

Tokcer dibuat pusing oleh pasangan suami isteri ini. Mana yang harus dia ikuti. Duanya sama-sama orang berarti dalam hidupnya. Masak gara beberapa buah durian jadi heboh.


"Kuberikan perutku padamu saja!" kata Alvan tak sabaran cium bau gas yang baunya minta ampun.


"Lalu perutku mau dikasih ke siapa? Enak banget pindah berikut anak aku!" Citra berkacak pinggang dengan nada setinggi langit.


Tokcer terbengong dengan perdebatan di luar akal sehat ini. Sejak kapan perut bisa dikasih ke orang lain. Di mana akal sehat dua manusia ini?


"Iya juga ya! Rugi kita..." Alvan mengucek rambut tak ingat Citra sedang hamil anaknya. Gara-gara siksaan ngidam otak waras Alvan tergerus.


"Ini bagaimana kak?" Tokcer bertanya karena buah berduri itu masih berada di tangan.


"Bawa ke rumah sebelah. Jangan makan di sini! Kepalaku pusing cium bau buah aneh ini!" Alvan mengalah tak mau cari masalah dengan ibu hamil. Bukankah anak-anak adalah permintaan dia maka dia yang ngalah.


Ibu hamil selera makan berubah sedang papi ngidam sensitif segala yang bau aneh. Keduanya auto jadi orang saling bertolak belakang.


"Bawa ke sebelah Tok! Bapak kamu lagi puber kedua. Bawaan sensitif." ujar Citra pada Tokcer yang agak lega sudah ada keputusan mengenai buah itu.


"Iya kak..." Tokcer ngeloyor keluar menuju ke rumah Heru di sebelah. Semoga di sana tak ada yang alergi bau durian. Kalau tidak sia-sia dia usaha cari buah khas Asia ini.


Alvan menghembus nafas lega. Bau aneh lenyap dari hidung. Udara sekitar terasa lebih segar tanpa bau aneh. Citra tak habis pikir mengapa suaminya bisa ikutan ngidam. Sewaktu hamil Azzam dan kedua adiknya dia juga santai. Apa dulu Alvan juga begitu?


"Mas...aku mau tanya. Sepuluh tahun lalu mas ada begitu? Waktu aku hamil Azzam." tanya Citra seraya duduk di samping Alvan yang sudah tenang.


Alvan berusaha kilas balik sepuluh tahun lalu lebih tepat sembilan tahun lalu. Ada kejadian aneh tapi tidak separah ini.


"Aku ingat...aku pernah divonis asam lambung selama setengah tahun. Asal makan muntah, kepala terasa berat. Tiap hari konsumsi obat lambung. Setelah itu sembuh sendiri. Mungkin waktu itu kamu sedang hamil Azzam dan adiknya. Wah...dari dulu kontak batin aku dan anak-anak sudah terjalin!"


"Coba kalau aku teken kontrak dengan rumah sakit di Beijing. Sampai kiamat mas takkan tahu punya anak-anak."


"Lalu kamu kawin dengan orang sana. Mereka yang kuasai anak-anak aku. Enak banget tuh laki! Aku yang tanam dia yang panen. Kalau jumpa kuajak duel." kata Alvan dengan mata penuh amarah. Ntah pada siapa dia marah. Sosok yang dia pikir itu karangan imajinasi dia sendiri. Citra mana ada hubungan dengan lelaki manapun. Alvan yang punya catatan hitam.


"Mas punya calon untukku? Minta yang ganteng ya!" olok Citra sengaja bakar api cemburu Alvan. Gayung bersambut Alvan kontan merengut Citra minta cowok.


Apa ini Alvan CEO yang jadi singa bisnis mengalahkan puluhan saingan. Kok kayak anak kecil kehilangan permen.


"Nggak usah mimpi ya! Mulai besok kau tak boleh kerja lagi. Duduk manis di rumah jaga kesehatan."


"Betapa bosan mas! Boleh minta cowok ganteng temani aku biar anak kita ganteng nanti."


Alvan mendelik mencubit pipi Citra dengan gemas. Dinasehati anteng di rumah malah minta yang aneh. Citra menjerit sakit dengan suara manja. Nggak sakit amat tapi terasa pedih.


"Tega amat sama ibu hamil. Bisa dituntut kdrt lho mas! Aku akan lapor pada Azzam kalau papinya mencubit mami. Jamin disikat rata!"


"Sakit ya? Sori...kita ke kamar saja ya! Biar mas rawat di mana sakit." Alvan sok perhatian. Kalau dilihat interaksi kedua makhluk hidup ini kok berubah aneh setelah tahu Citra hamil. Satu manja dan satunya sensi. Ke depan ntah bagaimana. Ini baru permulaan hamil sudah banyak kisah. Ntah siapa ketiban sial harus menengahi dua insan ini.


Keduanya berdamai masuk ke kamar tunggu waktu magrib. Sekarang Citra telah bebas dari halangan. Selama sembilan bulan ini dia bebas sholat setiap hari. Satu berkah bagi ibu hamil. Selama masa kehamilan bisa full sholat tanpa perlu ingat waktu halangan.


Waktu makan malam semua anggota keluarga lengkap kecuali opa Oma Uyut dan opa Oma yang sedang berobat. Hari ini akan menjadi moments bersejarah bagi Azzam dan kedua adiknya. Alvan akan umumkan berita baik ini.


Alvan sengaja menunda waktu pengumuman setelah semua selesai makan agar tak ganggu selera makan satu rumah. Heru yang duluan tahu bungkam biarkan Alvan sebagai pemilik bayi jadi tukang pidato kehamilan Citra.


Selera makan Alvan sangat buruk, di lain pihak Citra bertambah selera makan. Biasa dia jaga badan agar tetap langsing. Sekarang dalam perut ada empat janin menanti asupan gizi lebih agar tumbuh lebih sehat.

__ADS_1


"Hari ini Amei mau cepat tidur karena besok ada pelajaran olahraga." Afifa sudahi makan tanpa makan buah pencuci mulut. Padahal di meja ada buah melon dingin nan segar.


"Aku harus kerjakan PR matematika!" timpal Gibran melirik Citra yang janji bantu dia. Citra tak lupa pada janji membalas lirikan Gibran dengan senyum. Senyum damai seorang kakak penyayang.


"Duduk dulu dong! Aku ada hal penting mau sampaikan pada kalian semua. Penting sekali." Alvan menahan Afifa dan Gibran agar mendengar apa yang ingin dia sampaikan. Satu pengumuman penting bagi keluarga.


"Penting? Papi mau bilang bunda Karin balik sini?" sekak Afifa dengan bibir runcing. Jelas di kecil tak suka ada orang usik kebahagiaan mereka. Mereka telah lalui hari tenang. Tak perlu campur tangan orang berhati busuk lagi.


"Huusss...kenapa Afifa pikir gitu? Ini tak ada hubungan dengan orang lain. Ini masalah keluarga kita. Papi umumkan kalau Afifa akan jadi kakak! Mami kalian sedang hamil."


Semua terdiam surprise dapat berita menggembirakan. Perlahan senyum di bibir Afifa merekah. Gadis kecil ini turun dari kursi segera memeluk Citra dengan suka cita. Akhirnya impiannya terwujud untuk menjadi kakak. Dia tidak jadi Amei lagi. Dia naik pangkat jadi Cece juga.


"Selamat ya mi! Akhirnya Amei jadi Cece. Kalau dia cewek maka dia akan jadi Amei. Aku jadi Cece. Harus ada Cece satu dan Cece dua." Afifa keluarkan luapan gembira bakal punya adik kecil.


Citra terharu mendapat tanggapan positif Afifa. Kini tinggal tunggu reaksi Azzam. Apa lajang ini juga bahagia?


"Aku jadi om lagi? Banyak amat keponakan aku! Om Gi yang kasih nama. Kali ini harus ikut nama Om Gi. Awalan G." Gibran beri sambutan positif. "Semoga cewek seperti Afifa. Imut tidak menyebalkan."


Perkataan Gibran mengarah pada Azzam yang selalu tampak serius. Gibran selalu dikalahkan anak SD itu. Dari segi apapun.


"Pasti ada ceweknya. Mereka berempat." Heru yang menyahut.


"What?" seru Azzam, Afifa dan Gibran barengan. Ketiga anak ini kaget mendengar anggota keluarga baru mereka berempat. Seperti kucing melahirkan anak kucing saja.


"Kok kaget? Kalian saja bertiga. Sekali lagi mami kalian hamil nanti jadi lima." gurau Heru seraya tertawa besar.


Semua tertawa. Secara diam-diam Citra bersyukur Azzam tidak beri reaksi negatif. Citra sudah takut Azzam belum percayakan keluarganya pada Alvan. Keraguan masih tersisa di kisi hati lajang ini. Kini tinggal kabari Afisa. Ntah bagaimana reaksi Afisa pula.


Baru saja Citra memikirkan Afisa ponsel Citra berdering ada panggilan masuk. Citra lihat panggilan dari aplikasi luar artinya dari Beijing.


"Cece...kok bukan Video call? Ini panggilan bicara."


"Angkat mi! Kasih suara biar kita dengar bersama."


Citra geser layar menerima panggilan dari Afisa. Anak itu telepon mendadak pasti karena kontak batin dengan calon adiknya. Ikatan darah yang tak dapat dibohongi.


"Assalamualaikum sayang..."


"Waalaikumsalam mi..." terdengar suara Isak Afisa di sana. Hati Citra langsung mencelos merasa tak enak. Mengapa anak kuat itu menangis.


"Tenang sayang...katakan ada apa? Cece kan anak hebat! Kuat dan tabah."


"Cece lagi di rumah sakit. Afung ie kecelakaan. Dia terhempas sewaktu latihan palang besi. Perutnya kena hantam besi. Sekarang sedang dioperasi. Papa dan mama suruh Cece kabari mami dan opa."


Barusan terima kabar gembira kini harus terima kabar buruk. Kegembiraan sesaat terhempas oleh kabar buruk dari seberang lautan.


Heru kontan pucat mendapat berita mengenaskan ini. Wajah yang semula penuh keceriaan bakal dapat cucu baru kini berubah sedih.


"Afisa...ini opa! Apa Afung ie sadar sewaktu jatuh?"


"Waktu jatuh sadar tapi dia pingsan karena perutnya sakit. Opa mau datang kan?"


"Datang. Segera datang. Besok opa datang urus visa dulu. Kabari opa setiap saat ya! Opa tunggu kabar darimu begitu Afung ie kamu selesai operasi."

__ADS_1


"Iya opa! Oma Uyut sedang kemari. Afung ie akan baik-baik saja."


"Opa harap begitu! Apa penyebab Afung ie jatuh?"


"Dia melompat terlalu jauh sehingga terhempas kembali kena palang besi. Afung ie melompat pakai tenaga berlebihan maka dia keluar dari batas sesungguhnya. Cece juga pernah tapi tidak kena palang. Cuma jatuh doang."


"Sayang ..betapa mengerikan latihan kalian! Opa sarankan kau juga tak usah latihan lagi. Pulang tanah air gabung sama saudaramu saja." ucap Heru kuatir Afisa alami kecelakaan kayak Afung. Orang tua di mana saja sama memikirkan nasib anak. Takut terjadi hal buruk di luar dugaan.


"Cece akan hati-hati opa! Nanti Cece kabari lagi kalau Afung ie sudah keluar dari kamar operasi. Opa harus datang ya!"


"Pasti datang. Kalau bukan terkendala visa opa berangkat malam ini. Pokoknya opa minta Afisa terusan kasih kabar ya!"


"Iya opa...kasihan Afung menjerit kesakitan! Dia menangis keras sebelum pingsan."


Hati Heru ikut berdarah ingat kata Afisa kalau Afung menangis sedih. Heru ikut terluka dengar isterinya terluka cukup parah. Harus marah pada siapa? Ini murni kecelakaan tunggal tanpa ada yang curang.


Yang lain tak dapat menyembunyikan rasa prihatin. Siapa tak sedih dengar ada anggota keluarga mengalami hati buruk.


"Opa ..opa...masih dengar?"


"Iya dengar sayang! Afisa harus jaga Afung ie ya! Tunggu opa datang!"


"Pasti...kami semua di sini kok! Tunggu hasil operasi. Cece tutup dulu ya! Tuh Oma dan opa Uyut sudah datang! Mereka kan tak bisa bahasa lokal. Biar Cece jadi translator!"


"Baiklah! Afisa anak baik kok! Opa bangga padamu!"


"Iya opa assalamualaikum..." Afisa mematikan ponsel tergesa-gesa. Mungkin hendak sambut orang tua Heru datang jenguk menantu mereka.


"Waalaikumsalam..." gumam Heru terhenyak lunglai di kursi. Azzam mengambil air putih berikan pada opanya agar tenang.


Gibran kalah cepat dari Azzam. Di sini terbukti Azzam jauh lebih cerdas dari Gibran. Lajang kecil ini cepat paham situasi harus ke mana melangkah. Opanya butuh penenang hati di saat sulit gini. Mau ke sana terhalang surat dokumen. Kalau masalah transportasi tak ada kendala. Ada dua pesawat jet siap antar jemput mereka.


Tak mungkin Heru menerobos masuk negara orang tanpa dokumen resmi. Bisa dianggap ilegal masuk negara orang.


"Om...Afung itu orang kuat dan gigih. Kecelakaan ini takkan buat dia kapok. Kita berdoa saja. Mas...besok tolong urus visa kilat! Berapa pun biaya harus mas bayar agar cepat kelar." Citra berkata pada Alvan.


Dalam kondisi linglung gini Heru bisa apa? Otaknya pasti buntu tak sanggup diajak berpikir jauh. Jangan pikir jauh, yang dekat saja mungkin tak terjangkau.


"Baik...mas akan langsung ke kedutaan Tiongkok! Om Heru harus tabah. Kita doa bersama untuk kesembuhan Afung. Kalau Citra tak hamil aku kawani om berangkat. Tapi .."


"Kau jaga rumah dan perusahaan aku! Laba akan laporkan semua padamu dan kau tinggal pikir yang terbaik. Aku akan bawa Afung pulang sini setelah pulih nanti. Dia tak perlu tanding lagi. Kurasa Afisa juga harus berhenti. Kita bayar berapapun sanksi batal kontrak." ucap Heru tanpa aura cerah.


"Biarlah Cece selesaikan pertandingan ini! Nanti baru kita pikir lagi. Apa pun kita kerjakan ada resiko. Bukan hanya dari senam. Olahraga apapun ada resikonya. Kita doa bersama saja. Ayok Om Gi! Kita kerjakan PR! Koko dan Amei belajar dulu sebelum tidur. Berdoa ya sebelum tidur!"


"Iya mi.." ketiganya segera bangkit melaksanakan perintah Citra. Berita buruk dari Afisa buat gairah yang tadinya berkobar besar kini padam. Ingatan tertuju pada Afung yang sedang berjuang lawan rasa sakit.


Di ruang makan tinggal tiga orang dewasa saling berdiam diri. Mereka tenggelam dalam alam pemikiran masing-masing. Mengapa harus ada kabar buruk di antara kabar bahagia. Cobaan apa lagi hinggap di keluarga. Apa cobaan untuk mereka belum berakhir?


"Om... percayalah Afung sangat kuat! Kecelakaan kecil ini tak bisa membuatnya terkapar." Citra berusaha membujuk Heru agar tidak terlalu bersedih.


"Kecelakaan kecil harus operasi?"


"Aku dokter om! Kadang bisul saja harus operasi untuk bersihkan darah kotor di dalam daging. Tidak semua operasi mengerikan. Aku tukang operasi orang lebih ngerti."

__ADS_1


"Kau jamin Afung tidak ada bahaya jiwanya?"


"Insyaallah...kalau fatal tak mungkin papa dan mama Cece minta anak itu yang telepon."


__ADS_2