
Gombalan Alvan merupakan obat paling mujarab untuk masa pemulihan ibu baru melahirkan. Perasaan Citra baik maka dia akan cepat pulih pasca melahirkan.
Malam hari Citra hanya ditemani Alvan karena semua sudah pulang istirahat. Kisah baru sedang tayang dalam hidup Alvan. Di keluarga sudah bertambah anggota baru. Sudah saatnya Alvan memikirkan rumah yang lebih luas untuk anak-anaknya kelak. Tak mungkin Alvan numpang terusan pada keluarga Perkasa. Alvan bersabar demi Citra dan anak-anak. Kini anak-anaknya telah lahir lebih ramai maka dia sudah harus pikir jalan mundur pindah ke rumah lebih besar.
Rumah Karin dulu belum cukup besar untuk tujuh anak. Alvan tetap harus sediakan kamar untuk Afisa walau dia jarang pulang. Kamarnya tetap harus ada walau dia berada di luar negeri.
Alvan akan pakat dengan Andi cari rumah yang lebih memadai untuk keluarganya. Kalau rumah Bu Hajjah sudah tak bisa di nego maka Alvan sudah ancang-ancang cari lokasi lain. Untuk sementara Alvan simpan niat ini dalam hati agar Citra tidak berpikiran. Wanita itu pasti tak rela tinggalkan Omanya kesepian merajut hari tua.
Seminggu di rumah sakit akhirnya Citra pulang namun bayinya belum boleh pulang sebelum capai berat badan ideal untuk bayi. Anak-anak Alvan masih harus dirawat di bawah pengawasan dokter anak.
Citra seorang dokter pasti paham prosedur dokter tangani anak terlahir belum waktu. Anak Citra tidak prematur cuma belum cukup hari. Citra tidak kuatir anaknya tidak ditangani baik. Seluruh dokter dan perawat mengharap yang terbaik untuk kurcaci Alvan untuk naikkan pamor rumah sakit sukses tangani bayi kembar empat.
Di rumah Citra diurus oleh Bu Sobirin dan orang khusus dipekerjakan oleh Alvan untuk merawat Citra. Alvan mau Citra tahu kalau dia itu berharga bagi Alvan dan anak-anak. Andai Citra minta operasi plastik untuk mengembalikan kulit perut molor akibat mengandung bayi melebih kapasitas, tanpa ragu Alvan akan penuhi tuntutan Citra. Jika perlu dibawa ke luar negeri agar dapat hasil lebih sempurna. Semua Alvan kembalikan ke Citra. Kini kata Citra adalah sabda harus dipatuhi Alvan.
Waktu terus bergulir akhirnya para kurcaci Alvan diijinkan pulang karena telah capai berat badan dekat normal. Masing-masing sudah capai dua kiloan maka sudah termasuk normal.
Dua keluarga besar ini menyambut kehadiran warga baru di rumah Citra. Kedua mertua Citra tidak ketinggalan walau Bu Dewi harus duduk di kursi roda dan tak bisa bicara. Ada suara keluar hanyalah suara sengau kurang jelas.
Bu Dewi cukup antusias mendapat cucu baru yang manis dan ganteng. Rupa anak-anak itu tak jauh beda dengan anak Alvan sebelumnya. Yang cewek sangat imut habis mirip Alvan. Keempatnya cukup panjang akan saingi Azzam dan Afisa. Yang benaran imut cuma Afifa si gadis boneka.
Keempat bayi diletakkan di stroller gandeng dua. Untuk empat bayi digunakan dua stroller. Yang warna biru dan warna pink sesuai pilihan Azzam dan Afifa. Dua bayi cowok berada di stroller biru dan ceweknya di stroller pink.
Semua tak habis-habisnya kagum pada empat malaikat kecil yang akan meramaikan hiruk pikuk dunia makin tua ini.
Citra dan Alvan saling berpelukan terharu melihat empat sosok tanpa dosa telah berada di depan mata. Mereka itu nyata ada. Bukan sekedar ilusi punya anak kembar empat alias quadruplet.
Azzam dan Afifa berjongkok di depan stroller perhatikan keempat adik mereka lebih teliti. Afifa berpikir dari sudut pandang kanak-kanak dapat teman bermain sedang Azzam punya pikiran lain. Dia sebagai abang tertua makin besar tanggung jawab mengawal adik-adik agar menjadi anak baik.
"Mereka mirip boneka ya Uyut?" kata Afifa pada Bu Sobirin yang masih belum bisa berkata saking terpesona oleh cicit sendiri.
"Iya...mereka mirip Afifa. Sudah kasih nama untuk mereka?"
"Ada...Azmi dan Azril untuk cowok sedang dedek cewek Afika dan Afira." kata Afifa bangga sudah siapkan nama untuk adik-adiknya. Bu Sobirin manggut anggap itu nama cukup bagus bisa nyambung dengan nama kakaknya.
"Gimana kalau Alika dan Alisa? Yang cowok Alfian dan Aldino?" usul Gibran punya nama sendiri pula.
Heru dan Afung saling berpandangan. Mereka juga sudah siapkan nama untuk anak-anak itu. Heru mau anak Alvan ikuti nama Gibran berawalan G. Ini tanda mereka punya darah Perkasa.
__ADS_1
"Gimana kalau Ghaffar dan Galvin. Untuk Adek cewek Giselle dan Giska?" usul Heru memikirkan rencana sendiri.
Citra dan Alvan terdiam tak tahu harus ikut saran yang mana? Semua nama bagus dan bermakna. Tak mungkin toh semua nama dipasang ke atas nama anak kembar itu.
Alvan menatap pak Jono yang sedari tadi diam. Pak Jono selaku orang paling tua dari Lingga berhak ambil keputusan gunakan nama yang mana. Pak Jono tak punya ide takut salah satu di antara mereka kecil hati usulan mereka tidak mendapat tempat.
Pak Sobirin selaku Uyut akhirnya tampil sebagai penengah agar semua senang. Inipun hanya usul dari opa Uyut karena finalnya tetap di tangan Alvan.
"Begini saja...untuk yang cowok kita gunakan nama Alfino Galvin Lingga Perkasa dan Alfian Ghaffar Lingga Perkasa. Yang cewek Afira Giska Lingga Perkasa dan Afika Giselle Lingga Perkasa. Gimana? Adil kan?" Pak Sobirin berusaha bijak memasukkan semua unsur yang diusulkan.
Heru agak kecewa nama yang dia usulkan tidak tampil di depan. Namun semua terpakai walau berdiri di tengah. Heru juga tak boleh egois mau menang sendiri. Yang mencintai bayi-bayi itu bukan cuma dia dan Afung. Seisi rumah juga sayang pada bayi itu.
Citra dan Alvan yang bingung karena nama anak mereka jadi sangat panjang. Ketiga anak Citra sebelumya sederhana cuma terdiri dua kata Azzam Lingga, Afisa Lingga dan Afifa Lingga. Ini terpakai nama besar Perkasa di belakang. Apa ini tak melukai harga diri Alvan?
"Biar kami pikir dulu! Begitu banyak usul kami kok bingung. Biarkan si kecil istirahat di kamar dulu! Nanti kita bahas lagi." ujar Citra tak bisa beri jawaban seketika. Dia dan Alvan harus berembuk lagi cari yang terbaik dari yang baik.
"Iya deh! Biar Oma bantu bawa si kecil ke kamar." Bu Sobirin mendorong stroller ke arah kamar sebelah kamar Citra yang dulunya ruang baca disulap jadi kamar bayi. Bu Sobirin tak ijinkan Citra merawat bayinya sendirian karena Citra masih perlu pemulihan dari bekas operasi.
Bu Sobirin telah sewa dua suster untuk merawat cicit dia. Tunggu Citra sudah fit barulah tanggung jawab diserahkan kembali pada Citra. Citra seorang dokter pasti lebih telaten urus anak. Namun untuk sementara Citra harus bersabar tunggu bekas operasi sembuh total.
Semua ikut masuk kamar bayi untuk melihat si kecil tempati kamar baru mereka. Empat baby bed tersusun rapi ditutupi kelambu bernuansa pink dan biru atas pilihan kedua kakak bayi. Samping tempat tidur ada lemari kecil berisi keperluan masing-masing bayi. Semua barang berjumlah empat paket. Setiap bayi punya privasi sendiri. Barang mereka tidak dicampur aduk digunakan secara bersama. Citra biasakan dari kecil pisahkan setiap milik bayi agar sampai dewasa mereka tahu arti privasi. Dari Azzam, Afisa dan Afifa sudah Citra terapkan saling hormati milik pribadi saudara sendiri.
Citra dan Alvan menghela nafas tak sangka baru awal sudah ada beda pendapat. Itu baru dari nama, belum lagi menyangkut cara didik anak. Citra takut anak-anak akan manja bila dipenuhi semua permintaan.
"Van...kau harus bijak tak sakiti orang sudah susah payah memikirkan nama anak-anak kamu." nasehat pak Jono sebelum Alvan ambil keputusan gunakan nama usulan siapa.
"Iya pa! Alvan akan coba hubungkan nama-nama itu lebih baik lagi. Papa dan mama mau nginap di sini?"
"Tak usah. Nanti sorean pulang saja. Tak enak merepotkan orang." tukas Pak Jono pengertian. Sebenarnya pak Jono itu baik cuma terkena rayuan setan maka beliau terpuruk jadi jelek. Kini otak tuanya telah sadar bahwa tak baik ikuti nafsu belaka. Akibatnya sangat berat. Dia hampir kehilangan semuanya. Masih untung ada menantu baik angkat dia dan isteri menuju ke atas lagi.
"Siapa bilang repot? Ini rumah kami ya rumah papa juga! Mama mau nginap di sini?" Citra bertanya pada Bu Dewi yang memang tak bisa bicara.
Bu Dewi menggeleng tanda tidak mau. Bu Dewi sadar keberadaan dia disitu hanya menambah repot Citra. Belum lagi harus urus empat bayi kecil.
"Ya sudah...pulangnya sorean saja! Besok Untung akan jemput kalian datang sini lagi. Papa dan mama mau dekat cucu bukan? Pahami cucu mama biar bisa akrab." kata Alvan lembut.
Bu Dewi hanya angguk. Sudah begini dia bisa apa lagi kalau bukan patuh pada omongan Alvan. Niat Alvan juga baik mau Bu Dewi akrab dengan Azzam dan Afifa. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
__ADS_1
Hati pertama bayi pulang berlalu damai. Citra dan Alvan masih pusing dengan nama bayi mereka. Semua nama bagus namun mereka harus pilih yang paling bagus. Sebenarnya Citra punya pilihan sendiri untuk nama anak lakinya yakni Azkal dan Azril seperti pilihan Afifa. Namun untuk Afika dan Afira hampir mirip kedua nama saudaranya. Afika dekat sekali dekat panggilan Afisa sedang Afira dekat dengan panggilan Afifa. Mungkin Alisa dan Alika lebih cocok. Ini baru usulan belum tentu dipakai. Masih harus debat panjang lagi dengan yang lain.
Malamnya Daniel datang dengan pasangannya yang akan segera naik pelaminan. Tinggal menghitung hari. Persiapan sudah capai sembilan puluh lima persen. Daniel mana mau lewatkan moments berharga jumpa si kecil tanpa penyekat. Dulu dia datang ke rumah sakit terhalang oleh dinding kaca karena si bayi belum boleh didekati.
Keempat bayi dipertemukan dengan om kesayangan sang papi. Daniel dan Laura sama dengan yang lain angkat salut pada hasil produksi pabrik Citra. Tampang punya nilai jual. Bayi kecil saja sudah menarik hati. Gimana besar kelak.
Daniel tak habis kagum pada bayi-bayi Alvan. Imut menggemaskan. Kalau Daniel ada bakat jadi penculik maka akan lancarkan aksi culik bayi-bayi itu untuk dibawa pulang.
"Ya Tuhan...mal cetakan lhu tajam amat! Hasilnya sungguh spektakuler!" Daniel acung jempol puji maha karya Alvan. Sudah kembar cantik-cantik pula.
"Ntar lhu cetak sendiri yang lebih dari ini! Kembar Lima kan? Pandawa Lima." gurau Alvan melirik Laura yang tersipu malu.
"Amin...Amin..." sahut Daniel cepat menyambut harapan Alvan. Semoga saja terwujud punya anak kembar juga. Tak perlu kembar Lima seperti harapan Alvan. Bisa kembar dua juga sudah menyenangkan.
"Om Daniel cocok punya banyak bayi. Malam om Daniel jaga anak sedang Tante Laura jaga siang hari. Om Daniel kan manusia kalong. Siang tidur malam berjaga." Azzam mulai debut sindir Daniel.
Daniel mendelik Azzam buka rahasianya di depan calon isteri. Alvan buka cafe sampai malam wajar selalu tidur hingga matahari sudah capek bersinar.
"Anak kecil sok tahu.!"
"Anak kecil itu tak pandai berbohong lho!" bela Azzam tersenyum cool bikin Laura gemas.
"Kalau anak lain om percaya tapi kalau kamu om ragu. Bisa mulutmu menyembur bahayakan orang. Eh Aura! Kamu jangan percaya pada anak anaconda ini! Berbahaya."
Laura hanya tersenyum tahu ini hanya candaan. Di hati bahagia ini siapa tega buang energi umbar amarah. Lihat empat bayi tertidur pulas dengan wajah innocent bikin hati adem.
"Aku tahu ..Oya Bu Dokter kapan rencana syukuran untuk dedek bayi?" tanya Laura antusias ingin lihat si kecil segera dapat aqiqah.
"Terserah pada Oma dan opa mereka! Aku hanya ikut saja."
"Biasa potong rambut setelah tujuh hari. Ini kan sudah lewat! Apa tunggu empat puluh sekalian aqiqah?"
Citra tak punya pendapat karena kurang paham tradisi orang tua. Citra serahkan pada orang tua Alvan sebagai kakek dan nenek kandung sang bayi. Keluarga Alvan yang punya hak menentukan kapan waktu terbaik untuk upacara potong rambut bayi mereka.
"Lebih baik biar orang tua yang atur. Kita yang muda ikut saja." Citra tidak terlalu harap ada upacara atau syukuran besaran. Dulu ketiga anaknya terlahir tanpa upacara apapun selain doa dari kakek Wira. Anak-anaknya tumbuh besar dan pintar. Patuh dan bijaksana. Semua berpulang pada kuasa Tuhan. Citra percaya selama kita berbuat baik Allah pasti akan balas yang lebih baik lagi.
Alvan dan yang lain setuju pada kata Citra. Biarlah orang tua Alvan dan opa Oma Citra tentukan yang terbaik. Tak ada orang tua ingin lihat anak cucu mereka menderita. Semua berharap keturunan hidup makmur dan bahagia hingga akhir jaman.
__ADS_1