
Profesor tampak sangat senang jumpa mantan muridnya yang telah berkibar. Sang profesor tak tahu bagaimana jatuh bangunnya Citra selama berada di tanah air. Kalau boleh memilih Citra ingin meninggalkan semuanya tetapi masih ada yang tak dapat lepaskan yakni Alvan. Cinta dan kasih sayang Citra pada Alvan sangat tulus dan tidak akan goyah dimakan oleh waktu. Hanya itu yang membuat Citra bertahan berada di samping Alvan yang penuh dengan kemelut.
"Aku akan hubungi kamu setelah dapat waktu yang tepat. Dalam berapa hari ini aku sangat sibuk karena ada seminar tentang spesialis kita dengan dokter dari Eropa."
Citra sudah bayangkan makan malam yang gagal karena dalam 2 hari ini dia harus balik ke tanah air. Azzam dan Afifa serta Gibran harus segera kembali ke bangku sekolah. Mereka bertiga tidak boleh bolos terlalu lama.
"Hari Minggu pagi kami sudah harus pulang. Senin anak-anak sudah harus balik sekolah."
Sang profesor kaget tak tahu Citra tak bisa lama berada di negeri ini. Sang profesor mengira Citra akan lama di sini dampingi mertua berobat. Dugaan profesor meleset jauh.
"Secepat itukah? Bukankah kamu baru tiba? Kan sayang buang ongkos pulang pergi hanya untuk bernafas sebentar di sini."
Citra tertawa kecil. Apa yang dibayangkan profesor tidak seperti bayangan laki tua itu. Mereka datang dengan pesawat pribadi milik keluarga Lingga. Bebas ongkos cuma berat di ijin mendarat serta bayar parkiran pesawat yang harga cukup luar biasa.
"Suami aku punya pesawat pribadi. Kami datang dengan pesawat milik keluarga suami aku."
Profesor angguk-angguk mirip ayam lagi ngantuk. Dalam hati pak tua ini pasti kagum pada nasib Citra punya suami kaya raya. Sebagai orang tua profesor hanya berdoa semoga Citra mendapat cahaya terangi hidupnya.
"Syukurlah kau mendapat hak kamu! Kamu tak usah kuatir, aku akan rawat mertuamu semampu aku. Untuk sembuh seperti sediakala mungkin sangat jauh dari kemungkinan tapi kita usaha. Kita doa bersama ya! Kau harus temani aku makan siang nanti. Banyak uang ingin kutanyakan." Profesor berkata serius seakan ada ganjalan di hati. Citra tak tahu apa yang akan dikatakan profesor namun wanita ini yakin tak jauh dari kedokteran juga perihal kesehatan mertuanya.
"Tentu...aku akan di sini sampai siang. Ada yang bisa kubantu?"
"Dengan statusmu apa yang bisa kau lakukan saat ini? Kau mana boleh obati orang tanpa ijin kerja. Kalau aku ya berharap kau bergabung di sini lagi."
Satu harapan yang mustahil. Alvan mana keluarkan surat ijin buat Citra melangkah jauh dari jangkauan mata dia. Citra mana tega tinggalin Alvan di saat lelaki itu sedang butuh dukungan.
"Suami aku pasti tak ijin aku di sini!" sahut Citra langsung mematahkan keinginan lelaki tua itu.
Profesor maklum keadaan Citra sudah beda dengan dulu. Kini dia punya tanggung jawab terhadap keluarga.
"Iya...kau tunggu di luar ya! Hari ini harus menyusahkan kamu menunggu hingga jam makan."
"Aku melakukannya dengan suka rela. Silahkan bapak kembali bertugas! Aku tunggu di luar." Citra tahu diri sadar masih ada pasien sedang menunggu Profesor.
Citra segera angkat kaki dari ruang praktek Profesor. Baru saja Citra keluar dua pasien gantiin Citra konsultasi dengan dokter senior itu.
Citra memutar kepala memuji ketelatenan profesor di bidangnya. Usia sudah cukup senja namun semangat tak ubah anak muda. Masih bersemangat perjuangkan nasib pasien.
Citra jalan-jalan sendirian kelilingi rumah sakit mengenang kenangan lama pernah bertugas di sini. Banyak kisah terukir di sini. Suka duka campur aduk jadi satu menemani Citra lalui hari-hari.
Citra sengaja melihat tempat dia praktek dulu. Dokter mana gantiin dia di ruang penuh kenangan. Citra melihat di depan pintu ruangan tertera nama dokter Wen.
Citra tertawa kecil ingat dulu bagaimana dokter Wen kerjain dia sampai menjurus fitnah. Tapi semua telah berlalu. Semua telah berdiri di posisi masing-masing.
Citra tak berani masuk takut dokter itu ada pasien. Sebagai dokter Citra tak mungkin langgar kode etik. Lebih baik lanjutkan perjalanan keliling rumah sakit. Ini lebih menyenangkan dari pada keliling tempat wisata. Bagi Citra ini melebihi tempat wisata bisa mengenang kenangan indah bertarung menyelamatkan nyawa pasien.
"Dokter Xiao Ci?" tegur seseorang memaksa Citra putar kepala sekaligus badan.
"Suster Ming?" seru Citra riang jumpa dengan kepala suster rumah sakit.
Citra tak dapat menahan diri untuk tidak memeluk tubuh wanita yang lebih tua darinya. Citra memeluk wanita itu erat-erat melepas ruang rindu biar lebih lega.
__ADS_1
"Benarkah itu kamu?"
"Ada siapa lagi kalau bukan aku?"
Suster Ming menjauhkan badan Citra dari pelukan untuk melihat Citra lebih jelas. Citra tampak lebih kurus namun makin cantik. Pancaran bola mata Citra tidak kosong kayak dulu. Mata itu lebih berbinar penuh kilauan bintang.
"Kau kurus tapi makin cantik. Kau balik sini?"
"Tidak kak...aku datang jalan-jalan! Bagaimana anakmu? Apa sudah sehat?"
"Ya gitulah! Mau operasi jantung butuh biaya besar. Kau tahu penghasilan kami. Suami aku hanya supir taksi dan aku ya seperti ini!" suster Ming berkata dengan nada pesimis.
Anak suster ini terlahir dengan kelainan jantung. Bertahun berobat hanya bertahan hidup. Tanpa sentuhan pisau operasi anak itu hanya menunggu waktu. Citra sangat paham kondisi suster itu karena pernah jadi teman seperjuangan.
"Operasi lah! Aku yang akan biayai operasi anakmu!" ujar Citra yakin. Citra memang tak punya uang sebanyak itu tapi Alvan punya. Alvan tak mungkin menolak permintaan Citra menolong teman. Selama ini Citra tak pernah minta lebih dari Alvan. Mungkin kali ini permintaan Citra terberat.
"Xiao Ci kau serius? Itu bukan jumlah kecil! Aku bukan tak tahu bagaimana perjuanganmu membesarkan anak."
Citra menepuk bahu temannya sambil tersenyum. Tak mungkin Citra pamer punya suami kaya raya. Cukup beri janji akan membantu.
"Aku dapat rezeki nomplok. Uangku banyak sekarang. Kau kasih nomor rekening kamu biar kukirim uangnya. Kau langsung konsultasi dengan dokter jantung agar lakukan tindakan secepatnya!"
Suster Ming masih tak percaya omongan Citra. Begitu gampang Citra beri uang pada teman tanpa minta jaminan apapun. Dari mana Citra dapat uang sebanyak itu.
"Kau tak bercanda?" tanya suster dengan suara bergetar. Hari yang dia tunggu datang juga. Dari langit turun malaikat berhati emas mengangkat beban di pundaknya. Beban terbesar selama hidup.
"Isshhh sejak kapan suster Ming jadi cerewet! Mana rekening mu?"
Citra juga mau uji bagaimana perasaan Alvan kepada Citra. Percaya sepenuhnya atau ragu pada kesetiaan Citra.
Citra mengajak suster Ming menuggu di tempat lebih sepi menanti balasan Alvan. Laki itu akan cerewet tanya ini itu atau langsung kirim permintaan Citra. Ini juga ujian bagi Alvan seberapa tebal kasih sayangnya pada Citra.
Kedua wanita ini mencari tempat bebas dari kerumunan manusia untuk menanti hasil kiriman Alvan. Kedua duduk di sudut rumah sakit sambil saling menguatkan. Citra butuh pengakuan Alvan sedang suster Ming butuh dana operasi anaknya.
Ting. Ponsel suster Ming berbunyi. Di situ tertera masuk sejumlah dana lumayan besar. Mata suster nyaris keluar lihat berapa uang dikirim Citra untuk anaknya. Sudah melebihi batas biaya operasi.
"Xiao Ci..ini terlalu banyak!" ujar Suster Ming dengan mata berkaca-kaca. Nyawa anaknya akan terselamatkan. Dia tak perlu was-was kapan anaknya akan pergi tinggalkan dia lagi.
"Ini untuk anakmu! Bukan untukmu! Ayok kukawani daftar anakmu masuk meja operasi! Kali aja dapat korting karena kamu pegawai sini!"
Suster tak dapat menahan tangis. Air mata yang bergantung di bawah mata turun juga basahi pipi. Ibu mana tak bahagia anaknya ditolong malaikat dari bumi.
Suster Ming memeluk Citra tuangkan air mata dan rasa syukur tak terhingga. Lama tak jumpa sekali jumpa dapat hadiah tak ternilai.
Citra tak ingin berlarut dalam kesedihan suster Ming. Setiap detik berlalu ada maut bagi penderita kelainan jantung.
"Ayok kita pergi mendaftar! Biar sore nanti sudah bisa dibawa ke sini. Uang itu gunakan seluruhnya untuk pengobatan anak kamu! Itu yang dari suami aku!" cerita Citra jujur agar suster tak pikir macam-macam. Mereka kan cuma tahu Citra seorang janda dengan tiga anak. Tak ada yang jadi penopang biaya hidup wanita muda ini. Suster Ming surprise Citra menyebut suami.
"Suami? Kau telah menikah?"
"Dari dulu aku sudah menikah maka punya tiga anak. Kami telah kembali bersama setelah jumpa. Salah paham antara kami sudah usai. Aku akan bawa dia jumpa kalian. Kalau mau berterima kasih jangan padaku tapi padanya! Ayok kita mendaftar."
__ADS_1
Sama seperti profesor. Suster Ming ikut lega Citra telah menemukan tempat bersandar. Kehidupan Citra telah ada jaminan. Suster Ming menduga suami Citra bukan orang biasa. Citra minta ditransfer sejumlah uang langsung dikasih tanpa ada konfirmasi. Alvan begitu percaya pada Citra maka tidak akan bertanya apapun.
"Apa dia ayah dari anakmu?"
Citra mengangguk iyakan pertanyaan suster Ming.
"Baguslah! Bagaimana pun aku berterima kasih kau percaya padaku. Aku harus jumpa suamimu ucapkan terima kasih. Mari kita bayar deposit biaya operasi! Aku mau kamu yakin uang itu untuk anakku!"
"Siapa yang tak percaya padamu?" Citra menarik tangan Suster Ming melapor pada dokter jantung bahwa anak suster Ming sudah siap dioperasi.
Hati Citra makin berbunga telah menebar kebaikan di saat orang mengalami kesusahan. Kehadiran dia di negeri ini tidak sia-sia karena telah membantu orang dalam kesusahan. Berhasil atau tidaknya operasi semua tergantung pada Tuhan Yang Maha Esa. Kita berusaha tetapi yang menentukan tetap Yang Di atas.
Langkah Citra terasa lebih ringan setelah angkat suster Ming dari keterpurukan. Ini merupakan moments bahagia bagi Citra. Kini tinggal lapor pada Alvan untuk apa uang sebanyak itu.
Sebelum pulang ke hotel Citra janji makan siang dengan profesor. Janji adalah hutang. Citra wajib penuhi janji dengan dokter senior itu. Citra sengaja menunggu Citra di depan ruang praktek profesor. Biarlah sang profesor menyelesaikan tugas baru bersenang dengan Citra.
Satu jam menunggu Profesor muncul juga tanpa ganti pakaian seragam dokter yang notabene warna putih abadi.
Citra segera bangkit dari bangku menyambut sang dokter senior itu. Profesor tertawa lebar salut pada Citra tidak abaikan janji dengan laki tua.
"Mari dokter cantik! Aku yakin satu rumah sakit iri padaku gandeng kamu. Isteri aku di surga pasti cemburu padamu!"
"Ach bapak .." Citra tersipu dipuji dokter tua itu. Beriringan mereka menuju ke kantin mencari makan.
Beberapa perawat dan dokter yang mengenal Citra berseru girang lihat Citra berada di rumah sakit. Mereka mengira Citra akan kembali praktek di situ. Dulu Citra pernah janji akan balik setelah setahun praktek di tanah air. Waktu itu telah tiba.
"Dokter Xiao Ci...selamat pulang!" beberapa dokter menyalami Citra.
Citra kewalahan menyambut salaman dari rekan seprofesi dulu. Semua antusias lihat Citra kembali berada di lingkungan rumah sakit. Semua pada bergabung makan satu meja dengan Citra.
Profesor Go merasa terganggu tapi apa daya. Citra bukan miliknya seorang. Citra juga milik seluruh rekan rumah sakit.
"Kau akan kerja sini lagi?" tanya salah satu dokter muda begitu senang lihat Citra.
"Tidak...aku datang jumpa profesor! Ya sekalian jumpa kalian!" kata Citra tak urung ikut senang.
"Nah...kalian dengar Xiao Ci datang jumpa aku tapi kalian ikut bikin kacau! Kapan kami bisa bicara?"
"Aduh prof Go! Kami kan juga rindu! Kudengar Xiao Ci biayai operasi anak suster Ming. Apa benar? Wah sudah kaya kamu ya!" kata dokter lain bernada iri sedikit dibumbui sindiran.
"Itu hanya gosip! Aku hanya temani suster Ming mendaftar! Lain tidak." Citra merendah tak mau tunjukkan kekuasaan suaminya. Takutnya muncul gosip baru melukai nama baik Citra. Mulut manusia itu lebih berbahaya dari racun sianida. Satu kata mengundang sejuta kritikan.
"Lha ..suster sendiri ngaku anaknya operasi kamu yang bantu! Dapat ikan kakap ya!"
"Ya aku bantu beri dukungan moral dan bantu dia bicara dengan dokter jantung. Itu kan juga bantu. Sudah jangan pikir aneh-aneh! Kita makan dulu. Waktu makan siang akan segera berakhir."
Kata-kata Citra sangat manjur tutup mulut para medis yang usilnya minta ampun. Anak kawan dapat bantuan bukannya bersyukur malah dijadikan lahan gosip. Sungguh tak punya empati.
Profesor puji kerendahan hati Citra. Profesor yakin Citra telah beri uluran tangan pada suster Ming tapi tak mau mengaku. Serendah apapun sebutir berlian dia tetap akan berkilauan. Bahkan berada di atas lautan. Cahayanya akan tembus menantang matahari.
"Mutiara tetap mutiara." gumam Profesor yang hanya bisa didengar diri sendiri.
__ADS_1
Citra menyantap makanan yang diambil dari kantin. Profesor yang bayar pakai kartu makan. Mereka tak perlu bawa uang kontan. Cukup isi dana di kartu makan biaya makan dipotong dari kartu.