ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Daerah Bencana


__ADS_3

Heru mulai ngerti tujuan Viona ikut ke daerah bencana. Wanita yang berada dalam lingkup dunia Maya selalu ingin cari perhatian dari netizen. Biar dicap wanita punya hati mulia. Biar makin top dapat job segunung.


Heru sudah terlanjur ijinkan Viona ikut berpartisipasi ke daerah bencana. Seorang lelaki tak mungkin menjilat ludah sendiri. Omongan yang sudah keluar dari bibir tak mungkin ditarik lagi. Sudah terbayang di pelupuk mata Heru masalah yang bakal hampiri dia.


Untung Viona pergi belanja cari apa yang diinginkan. Heru tidak peduli apa mau Viona. Tujuannya bukan urus Viona hendak pansos. Tujuan Heru murni jenguk Citra dan bantu warga tertimpa musibah bencana. Wanita model Viona sudah terlalu banyak seliweran di depan Heru. Mereka hanya ingin jadi nyonya Heru hidup dalam gelimang harta. Apa mereka punya cinta tulus? Itu bukan satu pertanyaan tapi pernyataan. Wanita model Viona hanya kenal tenar dan harta berlimpah. Cinta urusan belakang.


Waktu bergulir cepat tak terasa hari mulai jatuh ke ufuk barat tanda matahari sedang berkemas untuk istirahat. Jam kantor akan berakhir sekitar satu jam lagi. Yang merasa punya keluarga tentu saja senang karena akan segera berkumpul dengan keluarga di rumah.


Heru melirik jam mahal di tangan menunjukkan waktunya berangkat. Heru harus ke tempat di mana pesawat helikopter nya berada. Orang kaya macam Heru punya transportasi udara efisien bukan hal baru. Uang bukan soal bagi orang kaya, yang penting hati terpuaskan oleh segala nafsu duniawi.


Bagi kalangan bawah tak terpikir punya transportasi mahal gitu. Bisa punya motor sudah puji syukur tak terhingga.


Heru membereskan berkas-berkas di meja lalu menyimpannya dalam laci terkunci. Setiap berkas penting tetap jadi rahasia perusahaan. Heru sangat teliti dalam hal menyangkut perusahaan. Heru tidak lengah macam Alvan terlalu percaya pada karyawan.


Percaya boleh namun tetap harus diwaspadai agar tak terjadi kekeliruan dalam berbisnis.


Merasa file sudah aman Heru memanggil Laba untuk segera berangkat ke helipad di mana helikopter Heru di parkir. Dalam hati Heru semoga Viona tidak datang mengacaukan rencananya jumpa Citra.


Harapan tinggal harapan. Begitu Heru menginjak lantai dasar kantor sambutan suara Viona gema riang penuhi udara lantai terbuka. Viona berlari kecil mendapatkan Heru. Detak sepatu high heels Viona bagai irama pengiring langkah Viona.


Heru memejamkan mata kesal harapannya tidak terkabul. Viona bersikukuh ikut tour ke daerah yang asing bagi mereka. Mungkin dalam bayangan Viona daerah itu akan banyak pemandangan indah. Bisa berfoto untuk pamer di medsos.


"Sayang...siap berangkat? Aku bawa asistenku ya!" Viona meraih lengan Heru merapatkan ke tubuhnya.


"Viona...heli sudah sarat bahan bantuan! Kau bawa asisten lagi. Ini sangat berbahaya buat penerbangan kita. Gini saja! Besok saja kau ikut bila bahan makanan sudah terkirim ke sana! Heli kosong maka kau bisa leluasa bawa siapapun."


Viona cemberut memilin bibir tak terima ditolak Heru. Wanita mahal macam dia mana mungkin hidup tanpa asisten. Siapa akan urus makan dan minum dia? Baju dia siapa yang akan ganti.


"Nggak...ini kesempatan buat rekaman Viona ikut partisipasi dalam bencana alam. Ok...aku pergi sendiri bersama yayang!"


"Tak boleh bawa banyak barang ya! Cukup tas kecil. Kita ke sana bukan piknik. Ingat itu!"


Viona besarkan mata tak terima Heru mau pangkas bawaannya berupa tiga koper. Alat-alat make up, pakaian aneka model serta suplemen untuk jaga kesehatan. Viona tidak rela bila barangnya ditinggal satu potong pun. Semua harus diangkut.


"Yang...mana bisa ditinggal pakaianku? Aku pakai apa di sana? Itu semua barang berguna!" Viona merengek menunjuk tiga koper warna silver terparkir rapi dekat pintu masuk kantor. Heru menelan ludah merasa kerongkongan kering kerontang kena hembusan angin panas dari mulut Viona.


"Vi... mengapa kau tak mau ngerti? Aku pergi bukan untuk jalan-jalan. Kau hanya bikin aku tambah pusing. Bisa nggak kau dewasa dikit?" Heru mulai hilang kata sabar dari dada. Viona sungguh keterlaluan buat moodnya jadi buruk. Heru tak pernah kasar pada cewek namun tak suka diintervensi oleh cewek manja. Buang waktu saja bujuk cewek berantena pendek macam Viona.

__ADS_1


"Aku akan telepon Tante Ririn bilang yayang marah padaku!" Viona keluarkan jurus maut mengancam Heru pakai mama Heru.


"Telepon saja! Kasih tahu aku menolak kau ikut ke daerah. Jangan coba pancing emosi aku Vi! Aku bisa lembut dan aku bisa kasar." kata Heru tak suka diancam wanita. Heru cukup beri toleransi pada Viona karena wanita itu kerabat jauh mamanya. Mamanya memang berniat jodohkan Viona dengan Heru namun Heru anggap Viona hanya gula-gula pemanis harinya.


Viona terdiam dapat kecaman Heru. Baru kali ini Heru bicara keras padanya. Jelas sekali amarah tergantung di wajah Heru. Batas kesabaran Heru telah karam oleh sikap manja Viona.


"Yang...maaf! Aku kan cewek butuh semua peralatan rias. Gimana kalau kulitku gosong?" Viona merubah nada suara lebih rendah takut memancing emosi Heru. Salah omong kena semprot lebih fatal.


"Jangan ikut! Aku kan sudah bilang. Sana bukan tempat piknik. Relawan di sana bahkan tak makan tidur bantu warga dalam kesusahan. Kau masih sempat pikir alat make up kamu? Hatimu di mana?"


Viona menunduk pura-pura sedih kena marah Heru. Mata Viona memerah tak terima dimarahin Heru. Viona bukan sedih karena ditegur Heru tapi sedih Heru tak sayang padanya. Kelembutan Heru selama ini sirna berganti tampang keras penuh amarah.


"Yang...aku ikut! Jangan marah ya! Aku bawa satu koper saja. Boleh ya?"


"Terserah..." ketus Heru meninggalkan Viona sendirian di lantai dasar. Viona terpaksa mengejar langkah panjang Heru menuju ke parkiran mobil.


Di sana sudah ada Laba dan supir pribadi Heru. Laba sudah menyiapkan semua pesanan Heru termasuk roti susu untuk dokter tercinta. Citra orangnya sederhana, tak ada guna Heru beri emas permata. Mata Citra takkan berubah hijau oleh tumpukkan emas permata.


"Urus perempuan itu! Pastikan cuma bawa satu koper. Lebih tinggalkan saja!" Heru masuk ke dalam mobil biarkan Laba urus Viona.


Di tangan Laba wanita cantik itu takkan berkutik. Laba bukan orang ramah bisa diajak basa basi. Laba asisten Heru merangkap pengawal jago karate. Viona tak bisa bermanja pada Laba yang tak punya perasaan.


Laba melirik sepatu mahal Viona tanpa komentar. Laba lebih suka Viona rasakan bagaimana nyaman pakai sepatu model gitu di daerah bencana. Laba tak sabar lihat tampang Viona menyesal sok elite terjun ke daerah porak poranda diguncang gempa.


"Bawa dua koper ya!" pinta Viona coba negosiasi dengan Laba.


"Mana yang perlu itu dibawa!" sahut Laba tanpa nada hangat.


Viona merutuk dalam hati masih ada cowok tidak luluh pada Viona. Biasanya asal Viona minta puluhan cowok siap bertekuk berlomba memenuhi hasrat hati Viona.


Laba ini robot menyamar manusia kali. Tidak punya perasaan dan hati. Masak cewek secantik Viona dicuekin. Viona curiga Laba ada kelainan jiwa tak suka cewek. Laki normal takkan mampu tolak pesona Viona.


"Semua perlu mas! Boleh semua ya!" bujuk Viona belum kalah dalam kancah debat.


"Satu saja atau kami tinggal." kata Laba tanpa toleransi secuil pun. Sikap pengawal cool. Tak rugi Heru gaji mahal Laba untuk jadi asisten. Laba dapat diandalkan.


"Isshhh...sama saja! Bawa satu saja berisi pakaian! Lotion tabir Surya jangan tertinggal." Viona tak punya pilihan selain patuh. Makin membantah malah ditinggal pergi oleh Heru.

__ADS_1


Asisten Viona menyerahkan satu koper agak besar pada Laba. Laba bergerak cepat bawa kopernya ke bagasi belakang. Laba tahu Heru bukan orang sabar menanti hal tak penting. Dalam catatan Heru wanita model Viona tidak penting. Jadi beban saja.


Viona masuk ke mobil Heru dengan sikap manis. Sikap kucing jinak disayang majikan. Demi mendapat cinta Heru gunung siap didaki, laut siap diarungi. Siapa tak bermimpi jadi ratu satu dinasti kaya tanah air. Heru sudah tampan, kaya raya dan baik. Wanita mana tak bermimpi jadi ratu di hati Heru.


"Sayang...maaf ya!" Viona bersikap manja menyandarkan kepala di bahu Heru cari lirikan mata Heru. Heru menatap lurus ke depan tunggu Laba masuk mobil. Viona sama sekali tidak menarik perhatian Heru. Ada sosok mungil berwajah imut telah menanti Heru di lokasi bencana gempa.


Akhirnya helikopter warna abu hitam mengudara angkut tiga penumpang plus satu pilot menuju ke lokasi di mana Citra bertugas. Di belakang helikopter sarat dengan sembako dan selimut untuk para korban. Bawaan Heru tidak terlalu banyak namun cukup membantu di saat genting ini.


Viona memeluk erat lengan Heru sepanjang jalan di udara. Tak ada yang bersuara karena dengungan suara baling-baling helikopter sangat berisik. Bicara juga takkan terdengar kecuali pakai full power. Heru malas berteriak buang energi mengganggu pita suara. Dia butuh suara lembut untuk bicara dengan dokter favorit.


Satu jam lebih terbang akhirnya tim Heru tiba di lokasi. Daerah berbukit jauh dari pantai. Daerahnya rusak cukup parah karena dari udara tampak tak banyak bangunan tersisa. Semua nyaris rata dengan tanah. Tenda-tenda darurat hiasi lapangan olahraga anak muda pedesaan.


Hati Heru terenyuh bayangkan nasib korban gempa. Mereka kehilangan harta benda bahkan nyawa keluarga serta sanak saudara. Kalau alam sudah unjuk gigi siapa sanggup melawan. Itu peringatan dari Yang Maha Kuasa agar umatnya tidak takabur melupakan kewajiban sebagai umat beragama dan berbuat dosa. Hari ini giliran orang pedesaan merasakan murka alam. Besok giliran kita. Siapa pun tak bisa beri jawaban atas murka alam. Kita yang harus sadar diri jauhi segala larangan agama. Tak peduli agama apa pun. Yang namanya berbuat dosa tetap ada karma.


Helikopter Heru mendarat di tempat terbuka agak jauh dari tenda pengungsian. Sapuan angin baling-baling helikopter bisa rontokkan tenda bila mendarat terlalu dekat. Pilot helikopter punya takaran sendiri di mana harus mendarat.


Kehadiran helikopter Heru cukup menarik perhatian para pengungsi. Daerah mereka terisolasi menyusahkan bantuan masuk ke situ. Bantuan dari darat hanya bisa dibawa melalui motor. Itu memerlukan waktu cukup panjang untuk capai lokasi karena longsor cukup panjang. Hampir separoh jalan tertutup tanah gunung menimbun jalan menuju ke pedesaan. Bantuan tercepat melalui udara. Itupun baru sekali antar para medis ke sana.


Beberapa lelaki hampiri helikopter cari tahu siapa yang datang. Dilihat dari lambang helikopter bukanlah dari pihak pemerintah. Ntah dari pihak mana berbaik hati bersedia mencapai lokasi mereka yang sangat terpencil.


Siapa pun orangnya pasti dermawan berhati mulia. Orang demikian dibutuhkan membagi suka bagi orang tertimpa bencana.


Heru dan Laba turun duluan disambut orang tua berpeci hitam. Bapak-bapak berpeci itu mengulurkan tangan menyalami Heru dan Laba walau belum kenal siapa dermawan yang datang. Heru menyambut uluran tangan orang tua berpeci dengan sopan. Heru perlihatkan wibawa seorang pemimpin perusahaan raksasa. Walau wajahnya sedikit kaku Heru tetap berusaha bersikap ramah.


"Selamat datang pak! Saya Hasan kepala kampung sini!" pak tua itu perkenalkan diri tak luput dari rasa kagum pada sosok berkharisma di depan.


"Oh pak Hasan...perkenalkan saya Heru Perkasa! Kami datang beri sedikit bantuan. Silahkan bapak ajak anggota turunkan bahan makanan dan selimut. Kami akan berbuat semampu kami salurkan bantuan untuk warga bapak."


Wajah pak Hasan berubah cerah dengar ada bahan makanan. Daerah mereka memang mulai krisis makanan karena bantuan dari pemerintah belum sepenuhnya tiba. Mereka mengganjal perut dengan apa yang ada agar jangan ada yang jadi korban kelaparan.


"Terima kasih pak Heru! Aku wakili warga sini ucapkan terima kasih. Mari kita istirahat di tenda! Atau kita duduk dekat mesjid. Hanya itu bangunan selamat walau ada kerusakan bagian belakang." ajak pak kades pada Heru. Pak tua ini mempersilahkan Heru dengan mengulur tangan kanan.


"Terima kasih....Oya Laba! Bantu warga turunkan bahan makanan! Catat keperluan vital warga agar besok bisa kita antar ke sini." Heru memberi instruksi pada Laba perhatikan nasib para warga. Heru ingin berbuat lebih setelah saksikan kehancuran warga. Kini warga hanya bisa mengharap bantuan untuk menyambung hidup.


"Terima kasih banyak pak Heru. Aku akan minta pemuda sini bantu bongkar bahan makanan."


Heru mengangguk tanpa bermaksud membanggakan diri berjasa membantu warga ketimpa bencana. Ada rasa puas bisa berbagi pada mereka yang membutuhkan. Uang Heru tidak sia-sia keluar dari dompet, ini jauh lebih bermanfaat dari membiayai para cewek shopping barang mewah di mal.

__ADS_1


Heru dan pak kades berjalan meninggalkan tempat berhenti helikopter. Keduanya berjalan menuju ke tenda pengungsi yang rata-rata dihuni oleh wanita-wanita dan anak kecil. Kondisi mereka cukup memprihatinkan tidur hanya beralas plastik ala kadar. Semua tampak lesu tak bersemangat. Satu kali hentakan alam merampas separuh nyawa para korban.


Tidak terluka namun kehilangan harta benda sama saja merengut separoh hidup para warga. Ke depan ntah bagaimana menyambung hidup masih jadi tanda tanya besar.


__ADS_2