ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Citra Lahiran


__ADS_3

"Ada sedikit masalah!" ujar Alvan dengan muka muram.


"Ada apa Mas?" Citra ikutan kuatir. Masalah apa lagi sedang melanda keluarga mereka. Bukankah sudah waktunya mereka mereguk kebahagiaan menanti kehadiran cucu-cucu baru yang akan segera meramaikan dunia ini.


"Ada saudara pak Kurdi numpang tinggal di rumah papa. Sekarang kondisi rumah berantakan sementara papa dan mama segera pulang. Untuk renovasi perlu waktu."


"Ya ampun pikir ada apa? Mereka bisa tinggal di sini sama kita. Bukankah kamar Cece kosong? Mereka bisa tidur di sana sampai rumah siap direnovasi. Mas..hal kecil tak usah diperbesar! Kirain apa?" rengut Citra tak anggap itu masalah besar.


Alvan ingin sekali menangis haru mendapat wanita berhati mulia seperi Citra. Bu Dewi bawa sejuta masalah buat Citra namun wanita ini masih perhatian pada mamanya yang agak culas. Air tuba dibalas air susu. Di mana lagi Alvan akan temukan isteri sebaik Citra.


Mata Alvan makin terbuka wanita model apa isterinya ini. Bidadari yang nyasar ke bumi. Kejadian ini makin buka mata hati Alvan dia tak salah pilih isteri. Penilaian kakek Wira tidak salah. Kakek bulat-bulat persembahkan sebongkah intan permata pada Alvan. Kerikil yang Alvan puja kini telah amblas ke perut bumi. Jauh dari kehidupan nyata Alvan.


"Terima kasih sayang. Kamu memang bidadariku."


"Ada sayap nggak?" olok Citra bikin Alvan makin ingin nangis. Citra tidak besar kepala dipuji oleh suami. Bagi Citra itu adalah sebagian dari tugas seorang istri. Menikah seorang lelaki bukan hanya menikah dengan lelaki itu tapi juga dengan seluruh keluarganya. Beban Alvan bisa dibagikan ke pundaknya sedikit agar bahu laki itu tidak terkoyak menahan sendirian.


"Jangan tumbuh sayap! Aku takut setelah tumbuh sayap bidadariku terbang tinggi tinggalkan aku sendiri kesepian."


"Wow...sejak kapan ada kamus pak Alvan yang ganteng kesepian. Tenang bro...masih ada satu truk cewek siap layani tuan Alvan. Apa arti emak dengan bentuk tubuh seperti gajah bengkak."


Alvan merajuk diejek oleh Citra. Laki ini memukul paha Citra pelan untuk ekspresi tak suka wanita ini ungkit masa lalu. Alvan tak tahu sifat asli wanita, mulut boleh janji menutup buku tapi sekali-kali buku tersebut bila dibuka untuk dibahas ulang. Citra juga wanita.


"Kamu bengkak kan karena aku! Pokoknya Alvan cinta Citra. Aci.."


"Aci? Apa itu? Aku cinta Indonesia?"


"Bukan...Alvan cinta Citra."


Citra tertawa terbahak-bahak merasa Alvan lucu. Ada juga sisi lucunya laki ini. Citra tak mau ingat yang buruk-buruk. Dia mesti meraih kebahagiaan bersama keluarganya.


Malamnya Afisa kirim foto dan video untuk Afifa. Afifa senang bukan main lihat kakaknya berpose sedang cium medali emas. Satu lagi prestasi Afisa di dunia senam.


Afifa perlihatkan foto Afisa pada seluruh keluarga. Semua tersenyum senang kecuali satu orang tampak tak bahagia. Orang itu adalah Gibran. Gibran bukan tak senang Afisa berprestasi tapi orang yang ikut berfoto dengan Afisa.


Dasar bule bebek. Ke mana Afisa doa ikut. Afisa bertanding di negeri Sakura dia juga muncul. Apa anak itu tidak sekolah bisa ke mana saja ikut Afisa. Tak ada yang perhatikan keberadaan Thomas di foto Afisa. Hanya Gibran yang tahu si bule ada di sekitar Afisa. Tampaknya Thomas bukan main-main mau dekati Afisa. Anak kemarin sore yang baru tumbuh. Masih jauh untuk mengenal kata cinta.


Afisa sudah tunjukkan prestasi yang makin melangit. Seluruh keluarga tentu bangga terutama Alvan dan Citra. Heru tak mau ketinggalan posting cucunya di medsos beliau. Kapan lagi pamer cucu kebanggan kalau bukan dari sekarang.


Semoga medali lain menyusul. Makin banyak medali makin angkat derajat keluarga Lingga. Cuma sayang Afisa wakili negara lain. Maunya pulang ke tanah air sumbang nama besar tempat dia dilahirkan. Afisa ini juga korban keegoisan Alvan. Andai Alvan tidak abaikan Citra tentu tidak akan melangkah jauh bersama anaknya. Tak ada yang salah. Hanya takdir permainkan nasib manusia.


Esoknya Nadine kasih kabar kalau mereka belum bisa pulang karena badai salju. Semua pesawat tidak dioperasikan karena sangat berbahaya bagi penerbangan. Tunggu badai reda baru bisa pulang.


Alvan bersyukur masih ada waktu renovasi rumah orang tuanya. Dengan demikian tak perlu merepotkan Citra tampung orang tuanya. Berkat kejadian ini mata Alvan makin terbuka siapa Citra. Wanita super mulia. Mungkin Allah ingin buka mata Alvan bagaimana sosok Citra sesungguhnya maka dihadirkan pengacau di rumah orang tua Alvan.


Hari baik bulan baik dokter menyarankan bayi Citra segera dikeluarkan walau belum penuh sembilan bulan. Kondisi Citra tak mungkin bertahan sampai sembilan bulan lagi. Takutnya terjadi hal tak diinginkan.


Maka dipilihlah hari baik untuk operasi Caesar untuk mengajak para kurcaci baru Alvan meramaikan dunia yang makin tua ini.


Seluruh anggota keluarga Lingga dan Perkasa hadir di rumah sakit kasih support pada Citra termasuk ketiga jagoan neon. Ketiga jagoan ini tidak mau ketinggalan menyaksikan keajaiban langka ini. Iyem juga turut datang menyaksikan moments bersejarah ini. Iyem sendiri sudah hamil muda berharap dapat keturunan seperti anak Citra.

__ADS_1


Dua dokter kandungan serta dua dokter anak dikerahkan oleh Alvan untuk menangani operasi Caesar ini. Alvan tak mau ada kesalahan dalam operasi ini. Harapan Alvan tentu saja Citra dan buah hati selamat sentosa.


Pak Jono dan Bu Dewi turut hadir saksikan kelahiran cucu mereka. Ceritanya Pak Jono dan Bu Dewi telah kembali ke tanah air setelah badai salju reda. Mereka akan menetap di tanah air sampai musim panas mendatang. Musim semi masih dingin maka dokter sana anjurkan Bu Dewi balik setelah musim panas.


Kondisi Bu Dewi cukup stabil cuma tak bisa bicara dan harus duduk di kursi roda. Kedua kaki belum bisa jalan jauh karena stroke berat. Apa pun yang kita lakukan tetap ada harganya. Bu Dewi telah mendapat bayaran sepadan.


Kembali pada cerita Citra akan dioperasikan. Semua bersiap mengantar Citra masuk ke ruang operasi. Citra duduk di atas kursi roda didorong perlahan oleh Alvan ke ruang operasi.


Azzam dan Afifa mencium Citra sebelum diambil alih oleh perawat. Alvan juga tidak ketinggalan meninggalkan jejak untuk jadi penyemangat Citra.


"Kau pasti kuat sayang! Semangat untuk anak-anak kita!"


"Iya mas! Titip anak-anak ya!"


"Untuk apa dititip? Mereka butuh kamu. Kami semua di sini menunggu kamu."


Citra mengangguk. Kursi roda Citra diserahkan pada perawat untuk masuk ke ruang operasi. Azzam dan Afifa melambai beri kekuatan pada Citra untuk berjuang menghadirkan adik-adik mereka ke dunia ini.


Bu Sobirin beri senyum paling indah agar cucunya tabah berjuang di meja operasi. Citra menempelkan jari ke bibir lalu lempar ke semua yang hadir. Kecupan dari Citra tanda cinta.


Perlahan Citra menghilang di balik pintu operasi yang kokoh. Lampu tanda operasi sedang berlangsung telah menyala. Yang berada di luar hanya bisa menunggu hasil terbaik dari tangan dingin dokter Hans.


Kali ini Alvan tidak cemburu lagi pada Hans. Keselamatan anak-anak lebih penting daripada cemburu tanpa dasar. Hans belum gila merayu isteri sahabat sendiri. Mencintai Citra itu hak Hans.


Tak lama kemudian Daniel datang sendirian. Calon isteri dokter Laura tak bisa ikut datang karena sedang piket gantiin Citra yang sudah cukup lama absen. Bryan dan Laura menjadi penerus Citra yang cukup kompeten. Citra turunkan semua ilmu agar diserap dua dokter muda itu.


"Sudah lama bro?" bisik Daniel tak berani lantang karena semua lagi bertapa dalam keheningan.


"Barusan...sekitar setengah jam lalu!" balas Alvan ikutan berbisik.


"Lhu sudah siap mental terima anggota baru?"


"Siap banget! Aku tak sabar mau jumpa Alvan junior. Semoga semua mirip aku." Alvan sengaja berkata demikian untuk sindir Heru yang berharap anak-anaknya ada mirip keluarga Perkasa.


"Pasti mirip lhu dong! Apa mau mirip gue?" gurau Daniel.


"Pasti dong! Maklumlah bibit kualitas super!"


"Aku mau belajar dari lhu biar dapat kembar empat juga! Cukup sekali lahiran dapat empat. Lalu tutup pabrik. Tak produksi lagi."


"Amin..sialan! Apa sih kerja di Hans? Kok lama amat? Lagi ngopi di dalam kali." omel. Alvan tak sabaran mendapat kabar dari dalam ruang operasi.


"Bukan ngopi tapi lagi main monopoli dengan anak kembar lhu di dalam. Kalah melulu maka permainan lanjut." canda Daniel hidupkan keceriaan. Semua pada tegang maka butuh penyegaran suasana.


Semua tertawa kecil dengar candaan Daniel. Daniel memang kocak suka melucu. Berbahagialah Laura mendapat Daniel sebagai suami. Tiada hari tanpa tawa.


Azzam memegang tangan Afifa yang dingin. Wajah gadis kecil ini tegang melebihi yang lain. Afifa tak sabar ingin segera akhiri panggilan Amei. Dia akan naik pangkat jadi Cece kedua dengan panggilan Erce dalam bahasa Mandarin. Panggilan Amei akan ada penerusnya. Adiknya ntah cewek atau cowok.


"Ko...lama amat ya?" tanya Afifa.

__ADS_1


Azzam menepuk punggung tangan adiknya beri ketenangan. Sebenarnya Azzam juga tegang namun anak ini sok kuat biar Afifa tidak makin galau. Kalau Azzam saja tak bisa kontrol diri bagaimana Afifa yang rapuh?


Detik berganti menit bergeser ke jam. Dua jam berlalu lampu tanda operasi padam ganti lampu biru. Tanpa dikomando semua bergerak ke arah pintu operasi menanti ada orang dari balik pintu keluar.


Klik tanda pintu dibuka. Seorang perawat menyembulkan diri bagi berita untuk menenangkan anggota keluarga yang sudah tak sabar dari tadi.


"Selamat ya! Anak-anak dan ibunya sehat." lapor perawat itu ramah.


"Laki atau perempuan?" buru Alvan tak sabar ingin tahu jenis kelamin anak-anaknya.


"Dua cowok dua cewek. Semuanya panjang-panjang. Yang paling kecil panjangnya 53 cm. Cuma berat masih agak kurang karena mereka kembar. Yang paling berat 1,8 kg dan paling kecil 1,2 kg. Tak sejauh ini mereka cukup stabil. Untuk sementara mereka harus tidur di inkubator untuk capai berat sempurna. Sekali lagi selamat ya pak!"


"Terima kasih Sus!"


"Kalian boleh tunggu di ruang rawat inap. Bu dokter akan kami bawa ke ruang perawatan. Dedek bayi bisa kalian lihat di inkubator nanti. Terimakasih." perawat itu mengundurkan diri masuk kembali ke dalam untuk menyelesaikan sisa tugas.


Daniel yang paling dekat Alvan segera memeluk sohibnya dengan riang. Moments yang paling ditunggu berakhir baik. Kini anggota keluarga Alvan bertambah empat.


Pak Sobirin juga menyalami Alvan menyusul Bu Sobirin. Sekarang mereka punya tujuh cicit. Sungguh luar biasa.


Heru ikut menyalami Alvan secara gentle. Heru harus akui kehebatan keponakan plus teman bisnisnya itu. Dua kali punya anak dapat tujuh. Aneh bin ajaib.


Afifa memeluk Azzam sambil terisak saking bahagia telah hadir adik-adik yang pasti mungil dan lucu.


"Selamat ya. Sekarang kamu sudah jadi Cece. Senang?"


"Senang ko! Apa adik kita pintar kayak Koko dan Cece?"


"Kenapa harus seperti kami? Harus seperti Amei adik Koko yang cantik dan baik hati. Amei kan pintar juga. Ranking dua."


Afifa tertawa senang mendapat pujian dari Azzam. Ketiga jagoan neon yang ikut nguping obrolan Abang adik ini terharu dengar cara Azzam menyenangkan Afifa. Giliran mereka belum tentu akan omong gitu pada Afifa. Azzam sangat bijak dan pengayom. Anak itu pantas jadi abang tertua. Dia bijak walau umur masih seuprit.


Alvan tersadar kalau masih ada orang harus menerima ucapan selamat atas terlahirnya anggota baru di keluarga. Alvan melangkah dekati kedua anaknya yang lain. Alvan merentangkan tangan minta Azzam dan Afifa masuk ke pelukannya.


Azzam malu-malu kucing melempar tubuh ke pelukan Alvan. Lain dengan Afifa langsung menempelkan tubuh ke tubuh Alvan. Semua yang menyaksikan moments indah ini ikut terharu.


"Selamat ya! Adik-adik kalian telah lahir. Azzam dan Afifa senang?"


"Senang banget...Amei akan ajar mereka belajar nanti. Mereka harus pintar kayak Koko dan Cece." celoteh Afifa riang.


Azzam hanya menarik bibir bentuk senyum tipis. Gaya cool bikin gemas orang saja. Baru umur delapan tahun sudah bikin orang tergila-gila. Bagaimana bila Azzam dewasa kelak. Berapa puluh wanita bakal patah hati bila laki itu hanya pilih satu di antara yang terbaik. Berbahagialah orang yang jadi pasangan Azzam kelak. Dari kecil anak ini sudah katakan tidak pada poligami. Azzam benci laki tak setia.


"Eh...kalian tak kasih selamat pada om Gi? Dia bertambah keponakan juga lho! Rame lagi." guyon Azzam tak ingin kucilkan Gibran yang duduk sendirian tanpa ada orang peduli padanya.


Afifa paling duluan menyapa om kesayangan itu. Afifa memeluk Gibran erat-erat. Gibran tersenyum senang akhirnya ada yang perhatikan dia. Azzam ikut memberi selamat walau tidak memeluk. Azzam laki sejati tidak sembarangan obral pelukan kecuali pada Citra dan Alvan.


"Selamat ya om! Keponakan om telah lahir. Semoga ada yang seganteng om Amei." doa Afifa tulus.


"Ada dong! Kan ada dua cowok. Yang penting baik hati tidak menyebalkan kayak seseorang."

__ADS_1


__ADS_2