
Alvan sengaja tak mau ekspos anaknya dulu takut ada tangan jahil merusak kebahagiaan Citra dan anak-anak. Alvan tak percaya pada Pak Jono dan Karin. Dari awal niat keduanya busuk, pakai cara kotor bodohi Alvan.
"Bersiaplah berangkat ke Jogja! Tunggu aman baru balik sini! Kalau ketahuan papa masih hubungan sama Karin lepaskan mama aku! Aku takkan tinggal diam lihat kalian merajalela. Apa papa bangga hamili menantu? Mau buktikan papa lebih hebat dari Alvan?"
"Bukan itu maksud papa nak! Ini demi kedamaian keluarga kita! Papa sangat mencintai mama kamu. Papa tidak mau kehilangan mama."
Alvan mendengus sinis. Betapa munafik laki yang disebut papanya. Naik ke tubuh menantu masih berani bilang cinta pada Bu Dewi. Cinta atas nafsu setan?
"Apa Alvan mesti percaya?" kata Alvan geram. Alvan ayunkan langkah meninggalkan Pak Jono tak peduli tatapan memelas dari laki tua itu. Pak Jono harus membayar mahal atas semua yang telah dia perbuat.
Ntah ada rasa penyesalan ngak di hati pak tua itu? Berulang kali naik ke tubuh menantu dengan alasan cari penerus. Alasan menjijikkan. Manusia bermoral tai kucing. Bau busuk.
Alvan melarikan mobil balik ke kantor. Masih banyak pekerjaan menumpuk di kantor. Masalah pribadi terpaksa disisihkan dulu demi masa depan kantor. Alvan masih punya banyak waktu hakimi dua musuh dalam selimut. Alvan berjanji takkan beri point enak pada Pak Jono kendatipun dia itu papanya. Yang salah tetap salah.
Alvan langsung ke kantor disambut Untung yang sudah menanti dari tadi. Banyak file harus disetujui Alvan sebelum dilaksanakan. Untung mana berani sembarangan ambil keputusan tanpa persetujuan big bos. Hidup mati satu perusahaan tergantung keputusan final bos. Untung bukan apa-apa mengambil keputusan. Dia hanya asisten menjalankan perintah bos.
Begitu Alvan masuk ruang kantor setumpuk map sudah berada di depan meja. Belum hilang pusing pada papanya kini tambah pula pusing soal kerja. Alvan yakin keramas nanti rambutnya bakal rontok segumpal. Lama kelamaan botak klimis.
Untung berdiri di depan meja Alvan menanti instruksi selanjutnya dari mulut bosnya itu. Alvan membuka map satu persatu cari yang paling urgent ditangani. Semua sama penting. Gara-gara Alvan temani Afifa di rumah sakit sejumlah kerja terbelangkai.
Alvan tak menyalahkan Afifa karena Alvan sendiri suka rela temani anaknya selama sakit.
"Bikin kopi kental tanpa gula!" ujar Alvan tanpa memandang wajah Untung. Mata Alvan fokus pada setiap lembar kertas dalam map kerja. Lebih baik teliti ketimbang menyesal nanti.
"Siap pak!" Untung sigap keluar dari ruang Alvan menuju ke pantry. Alvan tak suka kopi buatan orang lain. Untung sudah tahu takaran kopi Alvan maka dia selalu turun tangan sendiri seduh kopi bosnya.
Pintu ruang Alvan diketok orang dari luar. Tanpa angkat kepala Alvan langsung jawab.
"Masuk!"
Wewangian aroma segar mencubit hidung Alvan agar melihat siapa yang datang. Wewangian cukup familiar di hidung Alvan.
"Baru datang?" suara lembut Selvia memanjakan kuping Alvan.
"Iya....antar mamaku ke bandara!"
"Oh..Tante ke mana?" Selvia ambil tempat duduk di depan Alvan. Selvia selalu tampil modis elegan. Tak usah diragu kalau Selvia wanita terpelajar bertalenta bagus.
"Ke Kalimantan. Ada pesta di sana. Bagaimana presentase kemarin? Berhasil?"
Selvia bukan menjawab malah tertawa kecil. Alvan meletakkan map heran pada sikap aneh Selvia. Ada hal lucu dalam pekerjaan mereka. Bisnis dijadikan lelucon?
"Ada yang lucu?" tanya Alvan lagi.
"Salah satu investor kita Heru Perkasa. Dia baru akan kerja sama bila kau ijinkan dokter pujaannya masuk daftar wanita pilihan. Heru benar tergila pada dokter di rumah sakit kamu."
"Apa kalian kira masa depan seorang dokter jadi taruhan di meja bisnis? Heru sakit jiwa."
"Saya heran apa sih hebatnya dokter itu? Heru belum pernah tergila-gila pada seorang wanita sejak bininya meninggal. Dia rela tinggal lebih lama di rumah demi kejar dokter muda yang sangat cantik katanya. Mirip peri kecil. Aku harus jumpa dokter itu."
Leher Alvan terasa tercekik dengar laporan Selvia. Dokter muda incaran Heru tak lain isterinya sendiri. Alvan ingin minta Selvia hentikan karangan tak bermutu Heru. Enak saja naksir milik orang lain. Alvan saja berusaha meraih Citra kembali ke pelukan. Mana mungkin beri ijin pada Heru dekati Citra.
Alvan menang banyak karena punya andil atas anak-anak Citra. Alvan bapak biologis Azzam dan Afifa. Siapapun tak bisa membantah fakta sesungguhnya.
__ADS_1
"Sudahlah Sel! Abangmu itu kan playboy kambuhan. Jangan kacaukan konsentrasi kerja dokter di rumah sakit. Cari saja bidadari lain!" Alvan akhiri cerita bikin sakit kuping ini.
Selvia tertawa manis. Setiap gerak gerik Selvia mencerminkan wanita elite. Teratur sedikit dibuat-buat minta perhatian. Kalau ada cowok tipis iman pasti nyangkut pada pesona Selvia. Alvan akui aura pesona Selvia namun Alvan tidak tertarik karena ada Karin dan Citra. Alvan bukan cowok brengsek tukang kibuli cewek. Dalam hidup Alvan cuma ada Citra dan Karin. Wanita manapun takkan mampu menarik Alvan dalam lingkaran setan percintaan tak sehat.
Karin yang bodoh tak hargai kesetiaan Alvan. Avan sudah belain lepaskan Citra demi bersatu dengan cinta pertamanya. Balasan Karin sungguh menyakiti kalbu Alvan.
"Aku tak janji. Heru sudah bilang akan kejar dokter muda itu walau apapun rintangan."
"Kalau dia punya suami?" pancing Alvan lihat reaksi Selvia. Mungkin Heru sudah selidiki latar belakang Citra. Menurut desas-desus Citra itu janda muda. Penyebab Citra bercerai tak ada yang tahu karena Citra tertutup soal pribadi. Hanya beberapa dokter tahu Citra isteri Alvan sejak Afifa masuk rumah sakit. Itupun segera dibungkam Alvan agar jangan ada sensasi merusak nama baik Citra.
"Dia janda...Heru bilang suaminya buta ceraikan sebongkah berlian tulen. Hanya suami buta tak melihat keaslian batu permata. Suami bodoh tentu pilih sebongkah batu sungai yang tampak di mana-mana."
Alvan mengutuk Heru dalam hati. Berani sekali Heru mengumpat dirinya di belakang layar. Heru tahu apa tentang hubungannya dengan Citra. Orang membayangkan betapa bodoh lelaki ceraikan perempuan bertalenta bagus. Apa perempuan yang dipilih sebagus Citra atau punya power lebih hebat.
Alvan hanya bisa ngomel dalam hati. Sekali dia keseleo lidah bisa terbongkar siapa sesungguhnya laki tolol ceraikan Citra. Alvan akan makin jadi bahan tertawaan bila kebusukan Karin terbongkar ke publik.
"Lupakan soal Heru! Ada apa kau ke sini?" ketus Alvan memendam rasa jengkel pada Selvia dan Heru. Sok tahu padahal tak tahu apapun.
"Oh hampir lupa! Kita punya meeting dengan investor dari China. Masih diskusi soal kemarin."
"Baiklah! Siapkan translator!"
"Ok...Hari Senin kita meeting di hotel X. Oya...besok ada acara ngak? Aku ada rencana main golf bersama Pak Kasimura."
"Aku ada acara sendiri. Kau temani saja klien dari Jepang itu. Lain kali aku akan gabung."
"Masalah Karin?" tebak Selvia seolah tahu masalah yang menjerat Karin.
"Karin tak ada masalah. Dia di rumah. Dia kurang sehat."
"Baiklah! Aku pamit...aku selalu ada bila kau perlukan." Selvia mengerling penuh arti pada Alvan. Hanya Selvia ngerti makna tujuan kerlingan. Alvan tak tertarik semua pesona dari Selvia. Ada yang lebih menarik dari puluhan wanita cantik.
Selvia pergi diganti Untung bawa secangkir kopi panas. Asap tipis mengepul dari cangkir menyebar aroma sedap kopi. Semoga secangkir kopi ini mampu menjernihkan pikiran Alvan biar lancar.
"Kembali ke mejamu! Kalau perlu aku akan panggil. Oya...Si Andi mau kerja! Kau atur posisinya untuknya. Bantu dia buat surat lamaran kerja! Dia orang lugu."
"Siap pak! Mungkin bisa bantu Wenda."
"Terserah kamu saja!"
"Ya pak!" Untung meninggalkan Alvan sendirian.
Alvan pusatkan pikiran pada pekerjaan. Malam ini Alvan ingin habiskan waktu bersama Azzam dan Afifa. Syukur kalau Citra ijinkan Alvan nginap di rumahnya walau kemungkinan itu tipis. Berharap kan tidak dosa.
Waktu bergulir tak terasa sore mulai jatuh. Karyawan perusahaan Alvan satu persatu meninggalkan kantor menuju ke rumah masing-masing. Alvan masih betah selesaikan pekerjaan karena besok hari Minggu tidak masuk kantor. Alvan ingin selesaikan agar besok bisa bersantai dengan kedua anaknya.
Untung menanti Alvan selesai kerja dengan sabar. Sebelum Alvan pulang Untung juga tak mungkin pulang. Sebagai asisten Alvan harus siaga dua puluh empat jam. Di mana ada kesulitan bos di situ ada uluran tangan Untung.
Di tengah keheningan ruang kerja Alvan tiba-tiba ponsel Avan berbunyi. Ekor mata Alvan melirik layar ponsel cari tahu siapa yang telepon. Alvan berharap Citra telepon tagih janji pada anak-anak. Sayang seribu sayang harapan Alvan tinggal harapan.
Di layar ponsel tertera nama Iyem.
"Halo...ada apa Yem?"
__ADS_1
"Ini lho tuan! Nona Karin muntah-muntah dan menggigil. Badannya panas. Kami takut."
"Baiklah! Kalian tenang. Cari taksi bawa dia ke rumah sakit. Aku menyusul ke sana."
"Tapi pak!"
"Ya ampun. Sebentar tuan sebentar pak. Ada apa sebenarnya?"
"Nona aneh sekali. Mukanya pucat sekali."
"Makanya kusuruh kalian segera bawa ke rumah sakit. Tunggu aku datang satu jam lagi. Gini saja! Minta satpam ambil mobil langsung antar sekarang. Aku tunggu di sana."
"Iya pak!"
"Kunci rumah ya!"
"Iya pak!"
Alvan menghela nafas. Apa yang dia takuti mulai terjadi. Karin terserang demam walau belum pasti penyebab wanita itu naik panas. Bisa karena stress, bisa dari aksi virus HIV mulai menyerang imun tubuh Karin. Semoga hanya demam biasa. Sebenci Alvan pada Karin masih tersisa rasa sayang. Sejelek apapun Karin telah tercipta kenangan manis bersama perempuan itu. Tidak gampang dilupakan begitu saja.
Alvan memanggil Untung lewat telepon manual kantor. Belum kering air ludah Alvan sosok yang dipanggil sudah berada di depan hidung Alvan. Untung asisten kelas satu. Agungkan motto siaga satu.
"Ya pak!"
"Siapkan mobil kita ke rumah sakit!"
"Afifa sakit lagi?" seru Untung kaget.
"Karin demam. Bik Ani dan Iyem sudah antar dia ke sana. Kita ke sana sekarang."
"Oh..." Untung menarik nafas lega karena bukan Afifa kumat sakit. Untung tidak tega lihat gadis mungil yang mirip boneka ditusuk jarum infus lagi." Kita berangkat sekarang. Aku segera siapkan mobil! Oya..apa bapak tidak makan dulu?"
"Tidak usah...kita langsung ke rumah sakit!" Alvan merapikan pakaian bersiap perlihatkan profil pemilik rumah sakit. Kali ini sebagai suami dari selebgram ternama. Bukan sebagai papi Afifa lagi. Orang di rumah sakit akan bingung bila dijelaskan status Alvan yang ribet.
Alvan dan Untung dalam perjalanan ke rumah sakit. Untung pegang setir dengan tingkat kewaspadaan full. Kenderaan tidak sepadat siang hari memuluskan laju kenderaan menerobos jalan aspal. Alvan tutup mulut rapat-rapat tenggelam dalam alam pikiran sendiri. Alvan tetap berharapan Karin tidak terjangkiti virus mengerikan itu. Mau dibawa ke mana wanita itu bila terdeteksi terpapar virus HIV. Alvan sudah pasti tak mau satu rumah dengan Karin. Alvan tidak munafik takut tertular.
Alvan dan Untung duluan sampai karena rumah sakit lebih dekat kantor. Rumah Alvan berada di kompleks perumahan jauh dari bising kenderaan. Alvan sengaja pilih komplek tenang karena tak mau setiap saat dengar deru bising kenderaan lalu lalang.
Alvan segera masuk ke rumah sakit cari dokter piket tangani Karin. Alvan persiapkan segala kemungkinan terburuk bila Karin memang demam karena virus.
Para dokter utama sudah pada pulang. Tinggal dokter piket menjaga di IGD dan beberapa dokter spesialis dapat jatah piket. Alvan kurang kenal dokter-dokter muda yang jaga ruang IGD. Mungkin juga mereka tak kenal Alvan sebagai pemilik rumah sakit. Hanya dokter senior tahu siapa pemilik rumah sakit.
Tak lama kemudian Untung masuk bersama Karin yang di baringkan di brankas rumah sakit. Karin digiring ke IGD untuk diobservasi apa penyakit Karin.
Avan terenyuh lihat betapa pucat Karin. Bibirnya memutih ntah apa penyebab. Alvan kurang paham ilmu pengobatan hanya bisa menduga-duga penyebab Karin drop total.
Mata Karin terpejam antara sadar tidak sadar. Alvan teringat kondisi Afifa tak jauh beda dengan kondisi Karin saat ini. Sudah begini rasa iba Alvan menyeruak di dada. Alvan tak tega lihat Karin drop sampai tak sadar diri.
"Siapa keluarga pasien?" seorang dokter muda mencari orang yang bertanggung jawab terhadap pasien yang sedang sekarat.
"Saya..." Alvan maju mengakui diri sebagai keluarga pasien.
"Begini pak! Untuk sementara kami curiga kandungan ibu ada masalah. Lebih baik kita ambil tindakan selanjutnya lihat kondisi bayi. Kami curiga bayinya tidak berkembang menyebabkan infeksi pada kandungan. Kami minta ijin ambil langkah selanjutnya."
__ADS_1
"Oh silahkan! Yang terbaik saja."
"Terima kasih pak! Sebaiknya bapak daftarkan ibu di bagian administrasi!" kata dokter itu simpatik. Keramahan yang diharap Alvan. Tidak sia-sia pekerjakan dokter berwatak ramah. Baik pasien maupun anggota keluarga tidak tertekan oleh nada-nada arogan para medis.