
Bu Sobirin memahami keinginan Citra untuk tidak tampil menjadi pusat perhatian. Citra bukanlah selebritis yang mencari ketenaran dia hanya seorang dokter milik orang sakit. andaikata gerak-gerik Citra diperhatikan oleh media maka ruang gerak Citra menjadi sempit.
"Baiklah kalau memang itu keinginanmu sayang! Oma akan bicara dengan Opa agar pesta kita cukup hari ini."
"Terima kasih Oma." Citra kembali memeluk Bu Sobirin dengan hati bahagia. Di antara tekanan yang diberikan oleh keluarga Lingga Citra mendapat kehangatan dari keluarga Perkasa.
Alvan menjadi malu sendiri melihat interaksi antara Citra dengan Bu Sobirin. Andaikata mamanya bersedia lebih lama sedikit pada Citra maka semua tidak akan terjadi kekacauan. Alvan harus menelan kekecewaan kepada Bu Dewi. Entah kapan mamanya itu akan sadar bahwa Citra adalah yang terbaik buatnya.
"Sekarang kalian pergi bersih-bersih. Kita harus segera bersiap karena tak lama lagi saudara kita akan datang satu persatu." Bu Sobirin mengusir Citra dan Alvan secara halus untuk mempersiapkan diri menyambut keluarga mereka.
"Iya Oma..." Citra bangkit menuju ke kamar barunya diikuti oleh Alvan dari belakang.
Alvan harus bicara banyak dengan Citra agar tidak salah paham dengan maksud mamanya. Alvan sama sekali tidak tertarik usul mamanya untuk menikahi Kayla. Siapa Kayla Alvan tidak kenal cuma hanya tahu nama saja. Bagaimana mungkin akan menikahi wanita yang hanya dikenal nama saja. Ini merupakan lelucon abad kekinian.
Kini dalam kamar hanya ada Citra dan Alvan. entah mengapa suasana berubah menjadi canggung. Padahal sebelumnya hubungan mereka telah membaik dan telah saling menerima. Ini semua gara-gara Bu Dewi tidak bijak masuk terlalu jauh ke dalam kehidupan anak menantunya.
"Citra.." panggil Alvan memeluk Citra dari belakang. Citra gerakan tubuh pembahasakan bahwa Citra menolak pelukan Alvan.
Alvan tidak putus asa oleh penolakan istrinya. Citra harus tahu perasaan Alvan yang sesungguhnya. Tidak ada wanita lain dalam hidup Alvan selain Citra dan anak-anak. Sudah saatnya Alvan menata hidupnya yang terlanjur hancur.
"Mas... aku bingung! Apakah aku harus membiarkan kamu menjadi anak durhaka atau aku egois merebut Mas dari tangan Mama Mas?" ujar Citra dengan nada datar. Dalam hati Citra memang tersimpan batu ganjalan yang sangat besar.
"Percayalah... Mas akan mengaturnya sebaik mungkin. Tidak ada anak durhaka dan suami penghianat. Mas bersedia melakukan apapun untuk pertahankan kamu dan anak-anak." Alvan menarik Citra untuk duduk di ranjang baru mereka. Alvan mendudukkan Citra di atas pahanya. Tangan laki ini melingkar di pinggang Citra memeluk wanita erat-erat tak ingin berpisah.
Maunya Citra juga begitu. Hidup tenteram tanpa permusuhan atau pergolakan dalam keluarga. Sedih bila harus diceburkan dalam masalah terusan. Setiap manusia ada batas limit kesabaran.
"Mas... hidup aku menjadi begini semua berawal dari mas. Di saat hidupku telah mapan dan tenang Mas muncul kembali memberikan sejuta masalah buatku. Kadang aku terlalu lelah Mas! Mengapa kita tidak akhiri saja hubungan yang tidak sehat ini."
Alvan tidak percaya dengan omongan Citra yang bernada putus asa. Begitu gampangkah Citra melepaskan perjuangan yang baru mereka mulai.
"Mas mohon kamu bersabar! Mas takkan biarkan kita berpisah lagi. Mas rela kehilangan semuanya tapi tidak ikhlas kehilangan kalian. Kalau kau ingin pergi maka Mas ambil keputusan ikut ke mana kamu pergi. Mas akan bekerja layak suami umum nafkahi anak isteri. Tidak perlu segala kemewahan."
"Lalu perusahaan peninggalan kakek?" Citra cukup kaget Alvan bersedia lepaskan semuanya demi mereka. Alvan ingin membuktikan cinta sucinya agar Citra tahu bahwa tak ada yang lebih penting dari mereka.
"Biarlah diurus papa dan mama! Mungkin mama bisa alihkan pada keluarga di Banjar. Mereka juga pebisnis handal. Aku mencintaimu sayang! Jangan pernah berpikir tinggalkan aku!" Alvan menyandarkan kepala ke dada Citra tanda menyerah pada wanita ini.
Citra tertegun tak tahu harus bagaimana hadapi situasi carut marut. Citra tidak dapat membohongi diri sendiri kalau dia memang menyayangi Alvan. Tetapi di sisi lain Citra juga tak boleh egois membiarkan Alvan mengantarkan kedua orang tuanya. Cinta mereka sedang mendapat ujian berat. Kini tergantung pada citra sanggup tidak lulus daripada ujian ini.
"Mas... Apakah ada cara meluluhkan hati Mama?"
"Mas akan bicarakan dengan Amang. Mungkin Amang yang bisa membuka hati Mama agar berlapang dada menerima kamu dan anak-anak."
"Baiklah mas! Aku akan menunggu bagaimanapun hasil keputusan dari mama. Jangan karena kami Mas menjadi anak durhaka terhadap orang tua!"
__ADS_1
"Jangan ngomong begitu sayang! Kalian adalah pelita dalam hidupku. Tanpa kalian jalanku akan gelap gulita. Aku tak ingin kehilangan kalian untuk kedua kali." Berkali-kali Alvan utarakan maksud hatinya tidak akan mundur selangkah pun menghadapi mamanya.
Citra mangut setuju dengan niat Alvan. Citra pun ingin melihat sampai di mana keteguhan Alvan menjadi seorang anak dan seorang suami. Di mana kaki Affan akan berpijak tetap Citra hargai. Cinta yang tulus tidak hanya ingin memiliki tapi melihat orang yang kita cintai berbahagia.
"Ya sudah! Mas mandi dulu! Aku akan membereskan pakaian agar dapat disusun ke dalam lemari. Aku akan menyediakan pakaian Mas! Mas mandi saja." Citra melepaskan diri dari pelukan Alvan untuk membereskan pakaian yang belum tersusun ke dalam lemari.
Pakaian Citra tidak terlalu banyak karena Citra bukanlah orang yang menggila fashion mahal. Seluruh penghasilan Citra terfokus pada pendidikan anak dan biaya hidup sehari-hari. Tak ada dalam kamus Citra bersenang-senang untuk diri sendiri tapi mengabaikan pendidikan anak.
Ada sebagian ibu-ibu lebih suka berbelanja jor joran untuk tampil mewah tanpa peduli pada masa depan anak-anak. Citra bukanlah kategori Ibu egois yang mementingkan diri sendiri.
Alvan masuk ke kamar mandi dengan perasaan lega. Kalau Citra telah bersedia bersabar maka Alfan tidak akan kehilangan orang yang dia cintai. Semoga ada jalan bagi Alfan untuk meluluhkan mamanya menerima Citra.
Di rumah Citra dan Alvan persiapkan diri untuk berpesta dengan keluarga Perkasa. Untuk sejenak Citra tak punya kesempatan memikirkan keburukan Bu Dewi. Citra terlalu bahagia berkumpul dengan keluarga yang menerimanya dengan lapang dada. Ditambah lagi kehadiran Afisa bergabung dalam pesta ini lengkaplah sudah kebahagiaan Citra.
Di salah satu sudut rumah sakit. Tampak Bu Dewi gelisah di luar ruang rawat suaminya. Pak Jono telah tidur berkat obat penenang dari Citra. Citra sengaja beri obat penenang agar pak Jono bisa istirahat.
Bu Dewi susah hati karena dengar hukuman untuk Kayla tetap berlanjut. Bu Dewi malu pada keluarga di Banjar tak berhasil membantu bebaskan Kayla dan mamanya. Segala cara telah dia tempuh namun tak berhasil membuat Alvan berubah pikiran.
Wanita tua ini mengeluarkan ponsel untuk hubungi seseorang. Bu Dewi klik salah satu kontak dari sekian nomor.
"Halo... assalamualaikum Abi! Kelihatannya rencana kita gagal total. Anakku Alvan tidak bersedia mencabut tuntutan. Bahkan dia akan membuat Kayla dan mamanya seumur hidup berada di penjara. Bagaimana ini?"
"Abi juga bingung... itu salah Kayla dan mamanya terlalu jahat. Dari mana rencana muncul ingin menghabisi nyawa Citra. Maunya mereka bermain cantik merebut hati Alvan. Dengan demikian kita bisa bersama-sama. Tak ada yang akan curiga hubungan kita."
"Dewi... hanya kamu yang aku cintai. Aku menikahi Mama Kayla karena kamu meninggalkan aku. Aku sama sekali tidak mencintainya. dan sekarang suamimu sedang sakit. Bukankah makin terbuka jalan bagi kita untuk bersama lagi?"
"Maaf Abi...! Aku pernah berbuat dosa menghianati Mas Jono. Aku tidak akan mengulangi hal yang sama lagi. Aku mau membantu Kayla dan mamanya karena merasa bersalah pada mereka. Abi tunggu saja kabar dari aku! Aku akan berusaha segala upaya membebaskan Kayla dan mamanya."
"Terima kasih niatmu Dewi! Aku sangat berharap kita dapat melewati hari tua bersama. Apa kesempatan itu masih ada di sisa hidup kita?"
"Jangan pikir yang bukan-bukan lagi Abi! Sekarang kita pikirkan cara membebaskan Kayla dan mamanya. Itu saja! Abi tunggu kabar dari aku ya. Assalamualaikum.." Bu Dewi mematikan ponsel tanpa menunggu balasan dari seberang sana.
Lama Bu Dewi memegang ponsel itu dengan kepala pusing. Dengan cara apa lagi dia harus membantu Kayla dan mamanya. Mengancam Alvan dengan tameng Citra sudah tidak berhasil. Alvan bahkan rela kehilangan semuanya demi anak isteri.
Tiba-tiba terlintas di benak Bu Dewi sosok lain yang juga sangat berarti bagi Alvan. Sosok yang jadi ratu di dalam keluarga Lingga. Ini jalan terakhir Bu Dewi membantu Kayla dan mamanya bebas. Tanpa ragu Bu Dewi cari kontak Karin. Ya Karin. Terminal terakhir bagi Bu Dewi ancam Alvan.
"Halo..." kata Bu Dewi tanpa ramah tamah pada menantu terbuang.
"Ya assalamualaikum...ma! Ada apa ya?"
"Nggak usah sok suci! Aku sudah tahu semua dosa mu!"
"Ya...aku memang telah bersalah dan telah petik hasilnya. Apa yang ingin mama katakan? Ikut mencaci aku?"
__ADS_1
"Aku bukannya hanya ingin mencaci kamu tapi ingin melempar kamu dari keluarga Lingga!"
"Terserah...Alvan sudah berjanji takkan biarkan aku hidup menderita! Aku lebih percaya pada omongan Alvan."
"Kau jangan terlalu bangga dulu! Sekarang ada Citra dan anak-anak! Kalau kau ingin hidup aman bantu mama singkirkan Citra. Mama jamin takkan usik hidupmu."
"Citra? Apa tujuan mama ganggu wanita sebaik Citra? Buang jauh niat buruk mama! Apa mama kira aku tak tahu kekakuan mama yang khianati papa? Ingat...sepuluh tahun lalu mama pernah tour dengan seorang lelaki ke Jepang! Aku nampak semuanya tapi aku bungkam."
"Jangan fitnah ya!" Bu Dewi merasa jantungnya nyaris copot Karin mengetahui rahasia yang dia tutup rapat sekian tahun.
"Fitnah? Aku punya bukti kuat! Mama bilang tour dengan ibu-ibu arisan tapi nyatanya hanya berdua dengan laki itu. Aku juga di Jepang waktu itu. Aku punya foto moments mesra kalian."
"Kau..."
"Aku apa? Aku bejat? Asal mama tahu ya! Kalian Lingga semua bejat. Termasuk suami yang kau banggakan!"
"Apa maksudmu?"
"Nggak Alvan, papa dan mamanya semua manusia bejat. Apa kita duduk bersama buka dosa masing-masing? Aku akui aku salah telah goda Alvan membuatnya melupakan Citra. Aku menyesal tapi aku tidak menyesal telah khianati mama dan Alvan berhubungan dengan papa. Asal mama tahu anak yang kukandung bukan anak Alvan tapi anak papa." ujar Karin merasa sudah waktunya buka aib keluarga yang hebat di mata orang.
"Apa?"
"Ya ..aku dan papa sudah berhubungan cukup lama. Setelah aku hamil aku berhenti. Aku telah berhasil memiliki keturunan Lingga. Sayang Tuhan tidak meridhoi anak hasil perselingkuhan paling menakutkan. Aku kehilangan segalanya karena arogan. Mama puas sudah dengar cerita ini? Ma..." Karin memanggil Bu Dewi yang telah terdiam.
Bu Dewi terkulai layu terjatuh di lantai. Bu Dewi tidak menyangka di keluarganya terjadi banyak hal bejat. Dari awal dia berselingkuh dengan bapaknya Kayla yang merupakan pacar pertamanya, lalu Alvan selingkuh dengan Karin dan terakhir pak Jono selingkuh dengan Karin. Dunia apa ini? Mengapa keluarga Lingga menyimpan banyak kisah bejat?
Bu Dewi jatuh pingsan setelah dengar cerita Karin. Bu Dewi tak menyangka semua makin berantakan. Rencana mau minta bantuan Karin menyingkirkan Citra malah mendapat kisah full tragedi. Itulah hasil orang berhati gelap. Sok suci padahal satu badan penuh belatung maksiat. Bu Dewi tidak terlepas dari karma telah galang niat busuk dalam hati.
Entah berapa lama Bu Dewi pingsan sampai ditemukan perawat yang lewat. Heboh satu rumah sakit mamanya bos rumah sakit ditemukan pingsan di koridor rumah sakit.
Pertolongan pertama di berikan oleh pihak rumah sakit sebelum hubungi Alvan. Alvan adalah orang paling pertama harus tahu kejadian ini.
Di tengah kegembiraan pesta Alvan menerima kabar dari rumah sakit. Hati Alvan membeku menerima kabar tak sedap ini. Tanpa buang waktu Alvan mencari Citra yang dikuasai oleh sanak saudara. Mereka berebutan kenalan sama salah satu pewaris Perkasa. Mengenal Citra merupakan jalan memuluskan rencana ke depan. Berdasarkan sifat Citra yang lembut dan baik pasti akan mudah minta bantuan dalam segala hal.
Citra sedang duduk dikelilingi ibu-ibu dan perempuan muda. Gelak tawa bergaung di rumah pak Sobirin. Semua ceria termasuk ketiga anak Citra. Ketiganya senang jumpa keluarga yang ramah-tamah. Berbeda dengan Oma mereka yang judes dan sadis. Sama anak kecil saja tidak mau mengalah.
Alvan beri kode pada Citra untuk tinggalkan obrolan para ibu-ibu. Citra melihat ada pancaran sinar aneh di mata Alvan maka minta ijin sebentar pada ibu-ibu yang ramah.
"Aduh ..tak boleh pisah sebentar pun!" olok salah satu famili Heru.
"Sebentar...mungkin ada hal penting!" Citra ijin temui Alvan.
Alvan menggamit tangan Citra lalu berbisik pelan keadaan Bu Dewi. Citra tersentak kaget tak sangka terima berita duka. Di sini mereka berpesta pora sementara mertuanya sedang berjuang melawan maut.
__ADS_1
"Kita ke sana mas! Aku minta ijin pada Oma dulu ya!"