
Baru saja Heru ingin bahas hubungan Alvan dan Citra telah datang orang yang jadi topik. Sikap Alvan berani menyerobot Citra di depannya sungguh tindakan luar biasa. Alvan telah terangan unjuk gigi pada Heru bahwa Citra tak boleh diganggu.
"Jaga sikap pak Alvan! Citra itu hanya seorang wanita!" bentak Heru dengan sinar mata nyalang.
Alvan tertawa sinis merangkul bahu Citra makin rapat ke tubuhnya. Citra ingin meloloskan diri dari rengkuhan Alvan namun apa daya tenaga seorang wanita. Citra kalah tenaga.
"Citra ini ibu dari anak-anakku! Ingat itu!" ujar Alvan tegas.
Kalimat dari Alvan bagai bom atom hantam kepala Heru. Tak terlintas sedikitpun di benak Heru kalau Alvan akan membuat pengakuan dahsyat. Heru menatap Citra tak percaya omongan Alvan. Bisa jadi Alvan hanya mengaku agar Heru mundur.
Citra menunduk lemas tak bisa sangkal pengakuan Alvan. Apa yang dikatakan Alvan adalah fakta. Lelaki itu tak akui Citra sebagai isteri namun akui Citra sebagai ibu dari anak-anaknya. Apa ada perbedaan antara dua pengakuan itu. Hasilnya tetap menjurus Citra itu ada hubungan dengan Alvan.
"Benar itu Citra?" Heru butuh jawaban pasti dari mulut Citra. Heru takkan menyerah kalau Citra menggeleng. Segala upaya akan ditempuh untuk menjadikan Citra sebagai ratu satu-satunya di hati.
Harapan Heru melihat Citra menggeleng hanyalah harapan kosong. Kepala mungil Citra mengangguk iyakan keterangan Alvan. Anggukan Citra pelan namun nyata di mata.
Seluruh tulang Heru serasa rontok oleh satu gerakkan kepala Citra. Asa yang terbangun beberapa waktu ini kontan ambyar. Hati Heru bagai diiris pisau silet terluka di dalam tak terjangkau pantauan mata. Heru sangat sedih menerima kenyataan wanita yang dipujanya adalah isteri orang. Tidak tanggung-tanggung isteri pengusaha kaya saingan dalam mengumpulkan pundi kekayaan.
Alvan menatap sinis pada Heru. Alvan puas melihat Heru langsung down kena smackdown mental. Hendak merebut wanitanya tidak segampang makan nasi. Nasi boleh makan sekenyang mungkin tapi untuk mencuri hati Citra merupakan pekerjaan tabu.
"Kau sudah tahu jawabannya?" Alvan berkata lantang penuh kemenangan. Citra menggeliat resah berada dalam rengkuhan lelaki bukan muhrim. Citra tak mau gampang ditaklukkan Alvan. Citra bukan wanita murahan gila nama dan harta. Makin murah seorang wanita makin tak ada harganya.
"Sudah cukup pak Alvan! Sudahi semua kekonyolan ini. Maaf aku harus istirahat! Kalian lanjutkan sikap super Hero kalian. Aku tidak tertarik." Citra menepis tangan Alvan sekuat mungkin agar terbebas dari pelukan lelaki dalam baluran rasa cemburu itu.
Citra pergi dengan langkah besar. Wajah Citra berubah jadi kaku seperti kena lem setan. Tidak ada aura kemanusiaan. Citra sangat kesal pada Alvan dan Heru tidak hargai perasaannya sebagai wanita. Apa Citra sudah bilang akan menerima satu di antara mereka? Tidak satupun.
"Well...kau klaim Citra ibu anak-anak kamu tapi tak berarti dia wanitamu! Mana ada perempuan memanggil suami dengan sebutan pak! Dia mantan isteri atau pacarmu? Aku tak peduli masa lalu Citra gimana. Aku takkan menyerah padamu pak Alvan!" ujar Heru berusaha tenang.
Alvan memuji kejelian Heru menangkap ada ganjalan antara hubungan mereka. Heru pantas disebut raja bisnis berinsting tajam. Dengan mendengar kalimat dari mulut Citra dia sudah tahu apa yang terjadi. Alvan takkan biarkan Heru masuk terlalu jauh dalam hidup Citra. Dia harus berbuat sesuatu agar Citra makin terikat padanya.
"Coba saja! Aku tunggu seranganmu!" Alvan beranjak pergi tak ingin berdebat di malam hari. Salah-salah kena gampar setan yang tak senang wilayahnya diusik oleh pertengkaran manusia.
Alvan belum capai mesjid dua sosok dokter sok cantik datang hampiri Alvan dan Heru. Keduanya berjalan agak pincang dikarenakan sepatu mereka berhak tinggi. Jalanan tanpa aspal tentu menyulitkan mereka bergaya di depan dua dewa yang sedang berperang.
Heru dan Alvan kontan loyo dikerubuti dua sosok orang tak diharap. Orang yang jadi harapan mereka justru pergi menghindar. Yang tak diharap malah muncul mengganggu mood dua singa baru siap saling mengaum.
"Pak Alvan...pak Heru..." seru dokter Indah kemanjaan.
__ADS_1
Indah menghampiri Heru sedang satunya lagi hampiri Alvan. Kedua dokter berencana tenggelamkan dua singa dalam pesona dokter desa. Asal berani memulai harapan menjadi ratu di antara selir akan berada dalam genggaman. Indah Dan Tiba bukan dokter lugu seperti dugaan orang. Justru dokter desa jauh lebih cerdik dari dokter kota model Citra dan Melati. Mereka bekerja sepenuh hati tanpa merencanakan rancangan busuk.
Heru dan Alvan nyengir kuda terperangkap oleh dua wanita pemberani itu. Keduanya tidak malu-malu ekspresi mereka suka pada dua pengusaha sukses itu. Satu sore keduanya asyik keliaran di depan hidung Heru dan Alvan. Dapat kesempatan lolos mencari Citra kini kena jaringan dua wanita itu.
"Dari mana pak? Kami mencari bapak ke mana-mana." Tina merangkul lengan Alvan tanpa kenal kata malu. Alvan terbelalak kaget tak sangka wanita desa lebih supel dari wanita kota.
Citra mana pernah bertingkah segenit itu. Citra notabene bininya lagi. Tak pernah sekalipun Citra merendahkan diri melempar tubuh pada Alvan. Kok wanita nyalinya lebih gede dari Citra?
Heru pingin ketawa melihat Alvan mematung terkesiap dikasih kehangatan gratis. Heru yakin Alvan bukan cowok asal comot. Reputasi Alvan sangat bagus di kalangan wanita. Tak pernah ada affair Alvan dengan wanita manapun.
Indah tak mau kalah ikut memeluk tangan Heru agar jadi sejoli kedua setelah Tina dan Alvan. Berpelukan di udara dingin begini pasti akan jadi kenangan manis tak terlupakan oleh pasangan ini.
Giliran Alvan tertawa mengejek lihat Heru berusaha lepaskan tangan dari pelukan kedua tangan Indah. Indah lebih parah dari Tina. Tangan Heru diletakkan di depan persis di payudara Indah. Tak bisa dielak lengan Heru bergesekan dengan kedua benda kenyal itu.
Indah mengira Heru akan senang dapat sentuhan pepaya cap kelapa gratis. Indah makin ngelunjak goyangkan tubuh agar gesekan makin liar.
Heru menelan air saliva geli diperlakukan mesum oleh dua dokter genit. Heru bukannya senang tapi mau muntah diperlakukan tak senonoh. Orang kaya macam Heru dan Alvan tidak mungkin sembarangan umbar nafsu. Mereka orang terpandang. Skandal sekecil apapun akan merebak mengeluarkan bau keseluruhan penjuru tanah air.
"Nona dokter...di sini sepi! Ayok kita kembali ke tenda! Tak baik berpasangan di tempat sepi. Orang akan berpikiran negatif!" kata Heru gusar Indah makin merapatkan tubuh ke badan Heru.
"Betul...mari kita bergabung di tenda! Ini juga sudah malam! Kita pergi istirahat saja ya!" Alvan ikut membujuk agar kedua dokter itu menyerah mengganggu mereka.
"Yok Pak Heru! Kita berempat tidur lebih nyaman di kantor desa. Di sana ada kasur empuk. Kita tak perlu tidur di lantai dingin. Kujamin bapak akan hangat." Indah mengerling nakal bikin bulu kuduk Heru merinding.
Heru takkan terjebak di situasi konyol. Dia datang untuk bantu pengungsi serta menemani Citra. Heru bukan datang cari kehangatan wanita malam. Stok wanita Heru antri sepanjang rel kereta api. Untuk apa dokter desa yang bakal bikin masalah di kemudian hari. Heru belum gila ikuti kemauan dokter aneh macam Indah. Katanya dokter tapi kelakuan minus.
Heru dan Alvan diiring sampai dekat kantor desa. Kedua cowok kaya itu menangkap signal bahaya sedang mengincar mereka. Perseteruan harus ditunda untuk menyelamatkan harkat mereka sebagai lelaki punya moral.
Heru beri kode pada Alvan agar keluarkan ide kreatif singkirkan dua parasit numpang tenar. Heru makin jijik pada kelakuan kedua dokter itu. Baru kenal sudah berani menawarkan kasur hangat pada lelaki. Apa dipikir semua lelaki itu hamba nafsu? Heru dan Alvan masih punya akal sehat tidak bikin skandal memalukan.
"Nona dokter...begini! Kami ini harus bergabung dengan teman lain untuk tidur barengan. Kami datang ke sini untuk rasakan derita para korban. Tidak baik bila kami tidur di kasur empuk sementara yang lain tidur beralas plastik. Ini akan buat reputasi kami tercemar. Biarlah nona dokter tidur nyaman di kasur! Saya dan pak Heru akan tidur bersama di mesjid. Ya kan Her?" Alvan pura-pura ramah pada Heru padahal dalam hati masih tersimpan sisa bara api cemburu.
"Betul-betul...Kami akan malu disoroti cari enak doang!" Heru menepis tangan Indah berlari cepat dekati Alvan. Pada kesempatan ini Alvan juga melepaskan cekalan tangan Tina.
Heru segera menarik lengan Alvan agar lebih dekat. Keduanya saling lempar senyum tunjukkan mereka sahabat sejati. Di luar tampak akur tapi dalam hati saling menyerang mencari kelemahan lawan.
"Tapi pak! Kami sudah persiapkan segalanya untuk jamu bapak berdua." sanggah Indah keberatan Heru menolak tawaran mereka.
__ADS_1
"Kami berdua akan tidur bersama. Kami sudah sering tidur berduaan. Saya nyaman bersandar pada pak Alvan." Heru berkata sambil mengerling penuh arti pada Alvan.
"Maksud bapak apa? Kalian mau tidur bareng? Laki sama laki?" seru Tina kaget.
"Iya kenapa? Di sini masih banyak relawan lain. Gabung saja toh! Nona dokter cepat tidur. Besok tugas masih menanti. Ingat lho! Mulai besok kalian bertugas. Tak baik bergadang malam." kata Heru kalem sengaja bikin ulah buat kedua dokter itu menduga liar apa yang sedang terjadi. Paling mereka berpikir jeruk makan jeruk. Peduli amat mau pikir apa. Yang penting terbebas dari lintah menggelikan.
Alvan menyadari Heru sedang bersandiwara mengarah ke suatu pikiran liar. Alvan sigap merangkul pundak Heru untuk melengkapi sandiwara Heru biar tampak lebih natural.
Tina dan Indah mengatup bibir serapat-rapatnya tak bisa berkata. Bayangan hidup di rumah mewah dikelilingi puluhan dayang pupus sudah. Orang yang dianggap segagah Herkules mitos orang paling kuat ternyata penganut jeruk makan jeruk.
Heru menepuk punggung tangan Alvan dengan mesra. Heru bersikap genit seolah Alvan memang pasangan hidupnya. Lutut Tina dan Indah bergetar tak sanggup berdiri lebih lama lihat pemandangan tak lazim antara dua pengusaha kaya. Tidur seribu kali tak bermimpi akan melihat kejadian aneh.
"Oh maaf! Kami telah mengganggu waktu istirahat bapak berdua. Permisi...kami akan tidur!" Tina menyeret Indah berlalu dari hadapan kedua pengusaha kaya itu.
Mereka telah salah merancang rencana. Pikir usir dokter situ bisa menggoda dua pengusaha top dari kota. Rencana tanpa perhitungan tepat malah mendatangkan bala. Terjebak di desa kecil, mangsa empuk lepas dari genggaman. Kedua dokter itu terbenam dalam kubangan yang mereka gali sendiri. Malang tak dapat ditolak, Untung tak bisa diraih.
Heru dan Alvan tertawa terpingkal-pingkal merasakan ketegangan kedua dokter syirik itu. Sandiwara tanpa sutradara ternyata membawa hasil sempurna. Seharusnya kedua orang itu tak perlu bermusuhan. Main sinetron atau bintangi film bersama mungkin akan jadi tontonan menarik.
Heru tersadar masih saling bermesraan. Secara reflek Heru mendorong Alvan menjauh. Alvan nyaris terjungkal didorong Heru cukup kuat. Untung keseimbangan badan Alvan sangat baik tidak sempat terjatuh ke tanah.
Kemesraan yang baru berlalu raib tertiup angin malam. Tertiup buyar terbawa ke arah hutan berkumpul dengan makhluk dalam hutan.
Heru buang muka melengos pergi menuju ke mesjid. Alvan tertegun sejenak masih terbayang interaksi mereka barusan tadi. Kalau bukan karena menargetkan wanita yang sama mungkin persahabatan mereka masih bisa dipertahankan.
Sayang cupido mengarah hati mereka pada target sama. Sama-sama menyukai Citra. Alvan bukannya tak tahu Heru bukan lawan gampang dikalahkan. Lelaki itu terkenal penakluk kaum hawa. Wanita mana tidak takluk pada pengusaha kaya raya itu?
Alvan menghela nafas gundah dapat saingan kelas kakap merebut perhatian Citra. Alvan harus lebih giat mencairkan kebekuan di hati Citra. Semua ini berawal dari kelakuan tak pantas di masa lalu. Citra berubah jadi bongkahan es tak luput dari ulah Alvan.
Alvan bertanggung jawab mengembalikan Citra yang dingin ke Citra hangat. Alvan berjanji akan lebih giat mengembalikan keceriaan Citra.
Merasa cukup lama berdiri menahan terpaan angin dingin Alvan ambil keputusan ikuti jejak Heru balik ke mesjid untuk istirahat. Para lelaki tidur sebelah timur sedang para wanita tidur sebelah barat. Begitu malam tiba di tengah dibuat sekat untuk memisahkan dua jenis makhluk beda kelamin.
Sebelum merebahkan diri, Alvan mengintip Citra di belahan barat. Wanita itu telah bergulung dalam selimut tebal merajut mimpi. Bisa jadi Citra tertidur dibarengi hawa panas.
Semoga esok hari semua akan berubah lebih baik. Citra tidak marah lagi pada Alvan gara-gara berdebat dengan Heru. Alvan hanya bisa berharap hati Citra melunak.
Alvan balik ke tumpukan para relawan lelaki. Rata-rata terbawa mimpi akibat energi terkuras habis membantu menata desa yang berantakan.
__ADS_1
Alvan dengan berat hati merebahkan badan di samping Heru. Tempat itu seperti memang sengaja ditinggalkan untuknya. Andai tersiar berita dua CEO kaya raya tidur ala kadar di pengungsian apa yang akan terjadi?
Ini akan jadi berita hangat menggambarkan betapa mulia kedua pengusaha muda itu. Rating keduanya akan makin menjulang ke angkasa sebagai dewa idaman.