ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Bahagia


__ADS_3

Citra suka janji Bonar mencerminkan lelaki sejati. Alvan masam-masam merasa tersindir. Padahal kata Citra ditujukan pada Bonar tapi Alvan yang merasa tersindir. Ini menyangkut masa lalu mereka.


"Baik...kami tunggu kelanjutan dari keluarga Iyem. Pesta akan diadakan di mana?"


"Iyem minta dilaksanakan di kampungnya. Mereka mau semua orang tahu Iyem sudah menikah."


"Bagus juga. Pokoknya kalian berembuk dulu. Sudah ada keputusan kasih tahu ke kita. Kami akan berusaha mewujudkan pernikahan yang sempurna. Kami dukung selama niatmu bersih."


"Aku akan menjadikan Iyem yang pertama dan terakhir. Cuma mungkin pestanya tidak bisa mewah. Kakak tahulah kebatasan dana aku! Iyem juga tak keberatan."


"Soal itu tak perlu kamu pikirkan! Aku akan bantu kamu soal dana. Yang penting niatmu bersih. Iyem itu sudah lama ikut aku. Sudah kuanggap saudara sendiri. Kalau kau macam-macam silahkan pindah ke kutub Utara!" ujar Alvan bernada ancaman.


Bonar hanya bisa mengangguk tak berani jawab. Alvan adalah bosnya. Kalau dia berbuat macam-macam akibatnya keluar dari perusahaan dan kembali ke jalanan. Hari-hari bercanda dengan perut kosong kembali akan menghiasi hidupnya.


"Ok...kau pulanglah ke gudang! Aku akan atur jadwal baru untukmu! Aku akan cari orang gantian jaga malam dengan kamu."


"Tokcer mau kok jaga di gudang!"


"Tak bisa...dia harus kawal anak-anak. Aku tak mau dia ngantuk di siang hari. Bahaya untuk anak-anak. Cari calon lain."


"Iya pak! Aku akan diskusi dengan Andi dan Tokcer. Aku permisi dulu!" Bonar bersiap angkat dari rumah mewah Citra. Bonar sangat lega mendapat kepastian dari bos yang sangat baik. Bos yang memahami kehidupan kalangan bawah. Bonar bersumpah akan berbuat baik pada Iyem dan menjaga aset Alvan sebaik mungkin.


Bonar pergi dengan ojek online kembali pada tugas. Citra dan Alvan tak sangka Si Iyem bertubuh subur akhirnya laku terjual. Biasa orang gendut susah dapat jodoh. Pemuda sekarang suka yang langsing dan sintal.


Selera Bonar memang lain dari yang lain. Dia memandang Iyem sebagai gadis paling menarik. Lemak di tubuh Iyem jadi daya pesona gadis itu. Hanya Bonar yang bisa definisi keindahan Iyem.


"Wah ada pesta lagi!" kata Alvan cukup senang.


"Mungkin aku tak bisa ikut ke sana dengan kondisi begini. Perutku sudah sangat berat. Rawan pergi jauh."


"Kalau itu aku setuju! Kau duduk manis di rumah saja! Biar aku yang urus. Kan ada Bu Menik dan Emak Tokcer. Mereka bisa jadi wakil dari pihak laki-laki."


"Iya kok aku lupa pada mereka! Kapan kita kunjungi mereka? Aku rindu pada mereka."


"Nanti kita pergi bersama dengan anak-anak. Sekarang kau duduk dulu! Aku ngeri lihat perutmu seperti mau jatuh saja." Alvan bergerak membimbing Citra dengan hati-hati ke sofa.


"Huusss...isinya anakmu lho mas!" Citra duduk dengan agak payah di sofa. Alvan menjadi makin iba lihat perjuangan Citra memberinya keturunan.


Apa dulu waktu hamil ketiga kurcacinya Citra juga begitu. Waktu itu tak ada orang dampingi dia lagi. Menjaga kandungan seorang diri. Alvan bersenang-senang dengan Karin hidup bak raja dan ratu.


Alvan tak seharusnya mendapat kehormatan diakui ketiga kurcaci Citra tapi fakta Alvan telah diterima dengan baik.


Dari belakang muncul pasangan baru bergandengan pamer kemesraan. Heru makin ganteng sejak mendapat bini lebih muda dari usianya. Jarak usia Heru dan Afung menyentuh dua belas tahun. Tapi Heru tampak awet muda di usia jelang empat puluh tahun.


"Makin berminyak opa Afifa!" olok Alvan melihat kehadiran Heru dan Afung.


"Harus dong! Aku datang mau konfirmasi hasil pemeriksaan Afung." Heru duduk di samping Citra tak peduli mata Alvan bersinar tajam. Kebangetan sama om sendiri cemburu. Heru sudah dapat pengganti yang tak kalah cantik.


"Aku mau tanya. Siapa yang beri vonis Afung tak punya anak?" Citra bukannya menjawab malah balik bertanya.


Heru berusaha mengingat siapa yang beri hasil lab serta menerangkan kondisi Afung. Seorang dokter wanita serta perawat muda. Mereka bicara dalam bahasa gado-gado. Bahasa Inggris campur bahasa Mandarin.

__ADS_1


"Dokter cewek berumur sekitar empat puluhan. Perawatnya seumuran dengan kamu."


"Seperti Om salah paham terhadap keterangan dokter. Kandungan Afung hanya memar perlu perawatan satu waktu. Masih bisa kok punya anak. Yang penting sabar. Allah pasti kasih jalan pada umatnya yang tawakal.""


"Benarkah? Alhamdulillah...tapi dokter itu berkata no baby!"


"Aku akan cek dokter mana berani ngasih informasi salah. Itu kejahatan sangat fatal karena ini menyangkut masa depan seseorang. Aku akan teleponi Profesor cari tahu tentang dokter yang om maksud."


"Sudah...tak usah! Kau sedang hamil cucu aku! Melahirkan mereka dengan selamat saja. Biarlah Tuhan yang tentukan kebahagiaan kami! Aku bersyukur dapat kabar ini!"


"On kamu benar Citra! Jangan bebani hidupmu dengan hal kecil! Om Heru yakin pada kebesaran Tuhan, kita terima saja. Eh mana anak-anak? Katanya ngasih les pada Oma mereka!"


"Ditahan Uyut. Nggak hilang anakmu. Uyut mereka sedang masak untuk makan malam. Uyut ajak mereka bantu."


"Bantu? Apa bukan bikin kacau?" tanya Citra tertawa geli Bu Sobirin berharap pada kedua anaknya. Tidak bikin dapur berantakan sudah syukur. Apa yang mau dibantu.


"Alah biar saja! Asal rumah kita penuh tawa. Oya Citra...kalau anakmu lahir apa kau akan kembali ke rumah sakit?"


Alvan ingin merobek mulut Heru bertanya begitu pada Citra. Alvan bukan tak tahu akal bulus Heru ingin kuasai anak-anaknya. Pura-pura niat baik pada Citra padahal ada maksud tertentu.


"Untuk tiga bulan pertama aku akan istirahat merawat bayi. Setelah itu ya harus bertugas lagi. Di rumah kan banyak anggota keluarga. Wajib dong rawat para kurcaci baru!"


"Sangat wajib...Kami akan gantian rawat mereka! Serahkan pada kami saja! Afung dan Uyut pasti akan jaga mereka dengan senang hati. Kau bisa bekerja dengan tenang. Ok?" ujar Heru penuh kemenangan. Heru melelet lidah kepada Alvan yang menahan rasa gemas. Citra belum tahu tujuan Heru merampok anak-anaknya. Lebih licik dari kancil anak nakal.


Alvan tak mungkin mengacaukan pikiran Citra dengan rencana Heru. Takutnya Citra jadi berpikiran maka itu Alvan menahan diri untuk tidak labrak Heru.


"Terima kasih om! Aku percaya Afung dan Oma akan merawat mereka dengan baik."


"Ok gitu saja rencana kita! Afung akan bantu kamu asuh anak kembar kamu! Mana tahu tertular hamil."


"Amin..."


Heru tertawa bahagia di atas penderitaan Alvan. Dia yang punya bayi tapi yang berkuasa orang lain. Logika apa ini.


Berita bahagia tidak berhenti sampai di situ. Malamnya Daniel datang bersama Laura. Pasangan aneh ini tampak makin lengket seperti magnet saling tarik menarik. Keduanya datang berkunjung antar undangan pernikahan mereka yang akan dilaksanakan bulan depan.


Daniel akhirnya takluk pada keuletan Laura mengejar cinta Daniel. Daniel luluh pada kegigihan Laura dan memilih jadikan gadis itu sebagai pasangan hidup. Semua berhak bahagia. Satu persatu orang dikenal Citra menyongsong hari bahagia. Bunga-bunga cinta bermekaran di depan hidung Citra. Kesedihan Citra selama ini telah memudar ganti kegembiraan yang takkan habis.


Hari Minggu Alvan ajak Citra dan anak-anak bertamu ke tempat Bu Menik. Rumah Citra dulu telah ditempati oleh Jasmine. Rumah itu terawat rapi dan bersih. Ntah karena Andi atau memang Jasmine anak rajin.


Bu Menik senang melihat Citra datang dalam kondisi hamil besar. Bu Menik mengira Citra sudah dekat waktu melahirkan saking besar perut Citra. Citra tertawa tatkala Bu Menik meraba perut yang membentuk gunung.


Andi segera panggil emak Tokcer dan Tokcer untuk bergabung jumpa Citra yang cukup lama tidak datang berkunjung. Mereka semua pasti kangen pada Citra dan kedua anaknya.


Semua berkumpul di rumah Andi yang telah direnovasi lebih baik dibanding dulu. Tanah di belakang telah dibangun satu ruang lagi untuk tempat tidur Andi. Selama ini kamar Andi cukup mini berhubung kekurangan ruang lega. Kini Andi punya kamar luas sehingga bekas kamar Andi dijadikan ruang terbuka.


Citra puji Andi punya selera cukup bagus bisa membangun rumah lebih baik. Seharusnya Bu Menik bangga pada Andi.


Jasmine ke dapur menyiapkan teh kesukaan Citra. Tampaknya gadis ini bergaul baik dengan Bu Menik baru dapat ijin keluar masuk rumah Bu Menik. Satu signal bagus.


"Kapan melahirkan?" tanya emak Tokcer kuatir lihat perut Citra terlalu besar.

__ADS_1


"Masih tiga bulan gitu!" sahut Citra kalem.


Bu Menik dan Emak Tokcer terhenyak dengar waktu Citra melahirkan. Perut segini masih harus tunggu tiga bulan. Lalu gimana besar tiga bulan kemudian.


"Apa bukan tunggu hari?" tanya Bu Menik penasaran.


"Mami hamil empat dedek bayi! Dulu kami kan tiga sekarang empat." Afifa yang menyahut bikin kedua perempuan tua itu kaget. Berita luar biasa.


"Kembar empat? Ya Allah..." Bu Menik merapatkan kedua telapak tangan tengadah ke atas mengucap syukur pada Allah.


"Nanti kembar Lima." gurau Azzam disambut tawa semuanya.


"Isshhh kayak anak kucing saja! Banyak amat! Tapi nenek doakan mereka terlahir sehat tak kurang apapun. Sayang nek Menik tak dapat tungguin si kecil lahiran. Nek Menik mau umroh." kata Bu Menik bangga sambil melempar senyum ke arah Andi yang sangat berbakti.


"Alhamdulillah...emak Tokcer ikut juga?" tanya Citra.


"Iya...sebagian dana dari Bonar! Ada kekurangan Bonar yang cukupi." menyahut Emak Tokcer.


Citra bersyukur masih ada pemuda berhati baik. Padahal Bonar butuh banyak uang untuk menikah tapi dia sisihkan untuk wujudkan harapan orang tua menginjak tanah suci.


"Bonar sahabat baik. Kami datang ke sini mau mengabarkan kalau Bonar dan Iyem akan segera menikah. Bonar minta kita melamar Iyem di kampungnya."


"Apa? Si Boneng mau kawin? Kok tidak lapor dulu sama pimpinan? Wah... kebangetan tuh Batak!" omel Andi kesal ketinggalan berita aktual. Seharusnya dia dan Tokcer yang paling duluan tahu karena mereka adalah tiga serangkai. Suka duka dijinjing dan dirasa bersama.


"Mungkin Bonar malu ajak kalian diskusi! Bisa gagal rencana dia bila ajak kalian diskusi." bela Emak Tokcer. Apa emak tak tahu kekonyolan anggota neon ini. Barang bagus bisa berantakan di tangan mereka.


"Ya nggak gitu Mak! Kita pasti dukung kok! Bonar tak sabar halalkan Iyem karena kesepian di gudang. Iyem mau diajak ke sana?" Andi bergumam pikir rencana Bonar boyong Iyem tinggal bersama di gudang.


"Iyem tak boleh tinggal di gudang. Biar dia tinggal di rumah Bonar saja! Di gudang semua lelaki, kita tak tahu isi hati orang. Kita tunggu kabar dari keluarga Iyem. Untuk itu kalian harus bantu renovasi rumah Bonar agar layak untuk pengantin baru." kata Citra tegas halau angan kosong Bonar bawa Iyem tinggal di gudang.


"Kakak kalian benar! Lebih baik menjaga daripada menyesal nanti. Dan kau Andi cari satu teman lagi untuk gantian jaga malam di gudang. Yang jujur ya!" timpal Alvan perkuat kata Citra.


"Betul kak! Aku setuju... yang jujur susah cari! Oya gimana kalau pak RT kita ajak kerja jaga malam. Dia kan jomblo abadi!" usul Andi teringat pada RT mereka yang pengangguran. Kerja hanya urus warga. Diajak kerja mungkin bisa menambah penghasilan.


"Cocok...dia orang lugu dan jujur! Siang hari dia bisa urus urusan warga malam hari jaga gudang gantian dengan Bonar. Besok biar kutanyakan!" ujar Tokcer merasa pak RT cocok diajak kerja. Sebenarnya Tokcer ingin bekerja di gudang tapi siapa akan jaga anak-anak Citra? Alvan telah percaya padanya maka dia wajib menjalankan tugas dengan baik.


"Bagus...kita telah temukan satu solusi! Tinggal kabar dari Iyem. Andi dan Jasmine ada rencana susul Bonar?" gurau Citra menyimpan rasa kuatir juga pada hubungan Andi dan Jasmine. Takut mereka kebablasan melangkah keluar dari rel sesungguhnya.


"Kumpul duit dulu kak! Aku mau beri yang terbaik pada Jasmine. Toh Jasmine tinggal dekat denganku! Tiap hari jumpa." Andi memberi senyum hangat pada Jasmine. Andi sudah naik level berani ungkap perasaan pada Jasmine. Semoga tulang lunak Andi tumbuh jadi tulang kokoh.


"Jangan sampai tergoda setan lho!" sambung Citra tetap kuatir.


"Setan kalah sama iman kami kok! Kak Citra tak usah kuatir kami akan aneh-aneh. Kami tahu rambu kok!" sahut Andi manis.


"Kakak pegang janji kamu. Dan kau Tokcer? Tak ingin halalkan Fitri? Fitri itu anak baik. Dia berasal dari keluarga ngerti agama." Kini sasaran Citra tertuju pada Tokcer.


Tokcer hanya tersenyum tak bisa ambil keputusan terhadap dua wanita. Natasha dan Fitri. Natasha masih rutin kasih kabar berharap Tokcer menunggu dia diwisuda. Tinggal tunggu waktu Natasha akan datang cari Tokcer. Cowok ini jadi bimbang pilih satu di antara dua. Yang mana pun tetap janjikan hari bahagia.


"Dia tak bisa pilih antara Fitri dan Natasha!" seru Andi buka kartu Tokcer.


"Natasha???"

__ADS_1


__ADS_2