
Heru agak tenang sedikit dengar pernyataan Citra. Citra seorang dokter pasti tahu apa yang telah terjadi walau tidak berada di tempat.
Kepala boleh pusing namun Citra harus tepat janji bantu Gibran kerjakan PR. Citra pamit sebentar untuk ke kamar Gibran bantu si lajang selesaikan tugas sekolah. Semua penting bagi Citra. Adik dan anak sama penting. Tak ada yang lebih dan kurangnya.
Heru terpuruk dalam kesedihan karena isteri berada dalam bahaya. Jarak membuat Heru tak berdaya untuk segera hadir di sisi Afung. Mereka terpisah oleh ribuan mil.
Rasa pusing di kepala Alvan hilang berganti kecemasan melihat Om dari istrinya sangat sedih memikirkan nasib istrinya. Alvan juga tak berdaya membantu Heru karena terhalang oleh peraturan administrasi masuk satu negara. Kalau bukan terhalang oleh masalah dokumen mungkin malam ini juga Heru telah terbang ke Beijing. Mereka mempunyai angkutan pribadi yang bisa mengangkut mereka kapan saja.
Alvan terpaksa menemani Heru di ruang tamu menunggu kabar dari Beijing. Detik-detik menunggu itu sangatlah membosankan namun itu adalah fakta yang tak dapat dihindari.
Lewat tengah malam telepon Heru berbunyi. Kali ini mereka yang di Beijing langsung telepon ponsel Heru karena tahu Citra dan anak-anak tak bisa diganggu kalau sudah lewat tengah malam.
Secepat kilat Heru mengangkat panggilan dari nomor asing yang masuk ke dalam ponselnya.
"Halo assalamualaikum...ini mama Her!"
"Waalaikumsalam...gimana Afung ma? Apa sudah siap operasi? Sudah sadar?"
"Ya ampun...kamu ini tanya atau menodong?"
"Maaf ma! Aku sangat kuatir pada Afung."
"Untuk saat ini tak ada masalah lagi! Dia selamat. Lebih baik kamu luangkan waktu ke sini! Dia pasti butuh support dari kamu."
"Aku urus visa dulu baru bisa berangkat."
"Tak ada yang perlu kamu kuatirkan. Semua aman terkendali kok! Gimana keadaan di rumah?"
"Semua juga baik! Syukurlah isteri sudah selamat! Kapan mama ada rencana pulang sini?"
"Mama sih pingin segera pulang tapi mama harus tunggu Afung sehat dulu. Mertua Citra masih lama di sini. Mama rasa kami pulang duluan."
"Maunya begitu karena Citra sedang hamil lagi."
"Alhamdulillah...mama tambah cicit lagi? Sudah berapa bulan?"
"Itu aku kurang tahu. Alvan dan Citra yang tahu. Anak mereka kembar lagi. Kali ini di luar akal sehat. Kembar empat."
"Ya Allah...yang benar? Apa ada anak kembar empat? Satu saja sudah dapat apalagi empat."
"Begitulah kata dokter yang memeriksa Citra! Mereka seperti keluarga kucing sekali lahir banyak-banyak."
Tertawa derai Bu Sobirin terdengar lepas ikut senang cucunya hamil lagi. Keluarga mereka yang dulunya sepi akan segera bertambah anggota lagi. Bu Sabirin sudah tidak sabar ingin cepat-cepat pulang ke tanah air untuk mengurus ibu hamil di rumah.
"Mama akan segera pulang untuk merawat ibu hamil dengan 4 anak kecil di dalam perut. Mama akan mengabari keluarga Alfan dan papa kamu. Mereka pasti akan senang mendengar berita ini."
"Kamu juga. Kami juga baru tahu hari ini karena Alvan yang mabuk. Citra tak masalah tapi papi anak-anak yang mabuk hamil. Rasanya aneh. Isteri hamil kok suami yang ngidam."
"Ada kok...itu tandanya ikatan batin anak bapak sangat erat. Mama sangat tidak sabar ingin segera pulang. Kamu harus segera datang untuk merawat istrimu. Dia butuh kehadiran suaminya di saat dia sedang rapuh."
"Siap ma...Heru akan datang secepat mungkin. Papa dan mama juga jaga kesehatan."
"Pasti dong? Mama kan akan segera bertambah cicit lagi. Kali ini mama yang harus rawat langsung cicit mama. Mama sudah rindu bau bayi di rumah."
"Selamat ya ma jadi buyut dari tujuh cicit. Aku rasa anak mereka pasti cantik dan ganteng."
__ADS_1
"Harus dong! Ok mama mau pulang karena papa di rumah. Kau tak usah kuatir tentang isteri kamu."
"Iya ma... assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam..."
Heru menyimpan ponsel dalam saku celana. Ada rasa tenang mengalir dalam hati mendengar isteri dalam kondisi stabil. Bu Sobirin bisa tertawa besar pasti tak ada masalah besar pada diri Afung.
Alvan yang sudah ngantuk tetap setia dampingi om isterinya dalam suasana sedih. Saling mendukung dalam keluarga adalah hal indah tak tak terlaksana dalam setiap keluarga. Sering kali terjadi perang saudara dalam keluarga hanya untuk memuaskan ego masing-masing. Tak ada yang mau mengalah.
Lingga dan Perkasa adalah salah satu contoh keluarga yang pantas dapat acung jempol. Mereka saling mendukung bila ada kemelut. Semua jadi ringan dijinjing bersama. Bersatu jadi satu kekuatan dahsyat.
"Woi...pergi tidur! Kayak kucing kehilangan mangsa. Tikusnya sudah kabur tuh!" Heru mencolek Alvan yang terduduk hampir hilang titik fokus. Kedua jendela hati nyaris padam dimakan waktu.
"Oh...tikusnya sudah ngantuk. Sudah tidur..." gumam Alvan sudah hilang sasaran. Di mata Alvan om isterinya sudah berubah jadi tikus karena asyik bahas tikus.
Heru tertawa geli lihat CEO keren yang selalu tampil necis kini tak ubah seperti anak kecil lupa daratan. CEO juga manusia biasa walaupun uang setinggi gunung.
"Pergilah tidur tikus!"
"Iya.." Alvan bangkit dari sofa agak sempoyongan menuju ke kamarnya. Heru perhatikan dari jauh suami keponakannya menghilang dari pandangan.
Heru puji jiwa sosial Alvan. Dia sudah cukup kaya tapi di depan keluarga dia tidak tunjukkan kuku berlagak sok besar. Justru Alvan tampak takut pada Citra dan Azzam. Ini efek dari rasa bersalah pada anak isteri.
Heru balik ke rumahnya di sebelah rumah Citra. Heru pulang dari depan tak mau gunakan pintu belakang yang terhubung dua rumah. Heru tak pernah main ke belakang rumah karena itu daerah kekuasaan para ibu-ibu. Heru seorang pemimpin keluarga mana sempat periksa ruangan bagian belakang.
Pagi menjelang, cahaya fajar masih samar-samar menampakkan diri di ufuk timur. Makhluk hidup penghuni bumi satu persatu unjuk diri lakukan aktifitas rutin. Burung wajib berkicau memanggil setiap penghuni rumah tinggalkan tempat tidur. Ayam berkokok jadi alarm alami bagi mereka yang terlelap oleh buai mimpi.
Citra terbangun penuhi panggilan alam dari makhluk bersayap. Betapa damai diberi kesempatan menikmati pagi lain selain pagi kemarin. Sekarang Citra punya tanggung jawab baru yakni merawat janin di perut agar tumbuh sehat. Mereka harus terlahir ke dunia seperti anaknya yang lain.
Citra melihat suaminya masih lelap akibat tidur terlalu telat menemani Heru menunggu kabar dari Beijing. Citra belum tahu apa hasil dari operasi Afung. Apa pun hasil maunya yang terbaik.
Citra segera bersihkan diri dari sisa muka bantal. Terkena air dingin seluruh badan terasa segar. Segala penat-penat sirna seketika.
Citra kembali ke tempat tidur membangunkan Alvan untuk sholat subuh. Laki ini maunya makin taat beragama karena telah mendapat anugerah sangat besar dari Tuhan.
"Mas..." panggil Citra lembut dekat kuping Alvan.
Alvan buka mata yang masih berat. Seraut wajah cantik berada dekat sekali dengan wajahnya. Harum segar odol mints terlintas di hidung Alvan.
"Cepat sekali bangun? Dedek bayi mungkin masih tidur." kata Alvan belum berencana pindahkan tubuh dari ranjang.
"Sudah subuh papi...sebentar lagi adzan!"
"Rasanya baru tidur sudah pagi. Mas masih ngantuk sekali."
"Sudah ada kabar dari Afisa?"
"Kayaknya sudah. Mas kurang jelas mereka ngobrol apa. Yang penting om kamu sudah bisa ngejek mas."
Citra ikut lega dapat berita bagus walau belum akurat. Heru bisa bercanda adalah satu tanda bagus. Paling tidak tidak terlalu fatal.
"Syukurlah! Hari ini mas urus visa om ya! Usahakan dia bisa berangkat secepatnya."
"Tenang...satu hati mas bereskan! Jaman ini uang jadi mesin penggerak nomor satu. Kau di rumah saja ya! Mas tak ingin kamu capek."
__ADS_1
"Aku di rumah sakit sampai setengah hari. Janji tidak akan pegang pisau operasi. Cuma kontrol orang sakit saja. Di rumah juga bosan."
"Mas tarik Bonar jadi supir pribadimu ya! Kau tak boleh pergi sendirian."
"Tak usah...mas perlu Bonar di gudang. Cukup Tokcer saja. Dia bisa jemput aku sebelum anak-anak pulang sekolah. Mas.. tak ada yang berubah walau aku hamil. Aku bisa aktifitas selama hati-hati. Mas tak perlu kuatir. Dulu aku sendiri hamil tiga anak, sekarang ada kalian. Apa yang mesti ditakuti?"
Alvan tersenyum membelai pipi cantik di depan wajahnya. Alvan bangga punya isteri mandiri. Citra telah memberinya segala nikmat dunia. Dari urusan ranjang hingga keturunan. Semuanya sempurna. Di mana Alvan akan cari wanita model Citra lagi.
"Mas percaya...mas ke kamar mandi dulu. Kamu sudah bau harum sedang mas bau semuanya." Alvan turun dari tempat tidur baru sadar tak sempat ganti baju tidur. Saking ngantuk lupa ganti pakaian.
"Kau lihat suamimu ini? Lupa segalanya kalau ngantuk!" Alvan menunjuk pakaian kaos mahal dan celana berbahan tebal sebagai baju tidur.
"Sekali boleh gitu tapi lain kali jangan! Tak baik pakaian luar di bawa ke tempat tidur. Takut ada kuman."
"Baiklah nyonya! Siapkan baju ke kantor! Mas harus ke kantor hari ini. Semoga hari tak ada perut Komidi putar."
"Mas nggak usah ingat isteri sedang hamil. Lakukan aktifitas seperti biasa. Fokus pada pekerjaan jadi tak ingat rasa mual."
"Ok...nanti coba mas praktek." janji Alvan seraya masuk kamar mandi.
Citra berdoa semoga hari ini suaminya tidak terkapar gara morning sick parah. Untung Citra tidak alami morning sick parah. Dia perlu asupan gizi lebih dari biasa karena ada empat bayi harus dapat nutrisi cukup.
Sambil menunggu Alvan bersihkan tubuh, Citra rapikan tempat tidur serta lipat selimut agar kasur kembali rapi. Itu bukan tugas baru untuk ibu rumah tangga. Dari dulu hingga sekarang Citra tetap kerjakan tugas bereskan tempat tidur.
Sekarang lebih mending ada pembantu. Dulu semua Citra kerjakan sendiri. Itu belum cukup masih harus cari kerja sampingan untuk biayai hidup anak-anak walau kakek Wira ada meninggalkan sejumlah uang.
"Sayang ..jangan capek!" tiba-tiba Alvan sudah di belakang memeluk pinggang Citra yang masih rapi. Tak lama lagi akan melar akibat diisi bocah-bocah titipan Tuhan.
Citra memutar badan menghadap suaminya. Citra harus mendongak baru bisa menatap lurus ke mata Alvan. Alvan terlalu jangkung untuk Citra yang tinggi satu meter limapuluh delapan.
"Terima kasih suamiku sayang. Aku cuma rapikan tempat tidur. Berpakaian dulu biar bisa sholat bersama. Anak-anak pasti sudah bangun."
Alvan mengangguk mengambil baju yang sudah diletakkan Citra di pinggir ranjang. Pagi ini setelan kemeja warna biru langit dengan pas warna biru tua. Celana senada dengan warna jas. Pakaian rapi untuk seorang CEO. Alvan hanya ambil kemeja dulu tanpa jas karena waktu ke kantor masih ada jarak beberapa jam ke depan.
Keduanya segera keluar menuju ke ruang sholat. Di situ sudah ada Afifa sedang baca ayat suci sambil menunggu waktu sholat.
Citra senang sekali anaknya paham tugas seorang muslimah dicintai Allah. Azzam dan Gibran belum tampak batang hidung. Citra menduga kedua lajang itu baru bangun belum turun dari atas. Hanya Afifa duluan tiba di ruang sholat.
Alvan dan Citra tak mau ganggu kekhusyukan Afifa baca ayat-ayat suci. Keduanya pilih tunggu di ruang keluarga sampai adzan berkumandang.
Citra melangkah ke dapur bikin teh hangat untuk suaminya. Teh bisa bikin mood seseorang agak baik di saat resah. Semoga Alvan terhindar dari siksaan ngidam aneh hari ini.
Alvan menatap penuh penghargaan pada Citra telah peka akan kebutuhan suami. Harum teh saja telah buat perasaan Alvan lebih nyaman. Belum diminum telah datangkan sensasi adem.
"Terimakasih..."
"Sama-sama...minum mas! Mumpung masih hangat."
Alvan meraih cangkir dari tangan Citra bawa ke arah bibir. Laki ini tiup sebentar agar tidak membakar mulut. Alvan menyeruput teh hangat dari Citra perlahan menikmati minuman itu.
Citra perhatikan tingkah Alvan dengan senyum manis sangkut di bibir. Alvan makin ganteng di mata Citra sedang Citra makin cantik di mata Alvan. Klop lah perasaan sesama bucin.
Azzam dan Gibran turun dari atas telah rapi dengan busana untuk sholat. Baju Koko plus peci putih ala orang naik haji. Keduanya ganteng dengan ciri khas masing-masing. Azzam ganteng khas Lingga sedang Gibran khas Perkasa mirip dewa Yunani.
Alvan meletakkan cangkir berjalan ke tempat ambil air wudhu. Adzan telah berkumandang memanggil umat Islam menunaikan sholat pertama di pagi ini. Semua bersiap-siap mengadu pada Ilahi.
__ADS_1
Alvan bersiap menjadi imam bagi seluruh keluarga. Keluarga sakinah yang sebentar lagi akan tambah makin ramai.