
Alvan beruntung dapat pegawai baik macam Andi cs. Mereka utamakan kesetiaan dari pada segala materi menyesatkan.
"Baik...aku akan gaji kamu sesuai hasil kerjamu! Dan kau Tokcer...yang rajin agar bisa nabung. Tinggalkan dunia kalian yang amburadul. Mumpung masih sehat kumpulkan uang sebanyaknya. Untuk bekal di hari tua. Kita tidak selamanya mampu berkarya karena semua orang ada batasnya." Alvan menasehati kedua pegawainya.
"Iya pak! Kami akan berusaha jadi yang terbaik!" sahut Tokcer anggap nasehat Alvan itu sebagai kompas bagi jalan mereka menuju ke arah tepat.
"Bagus..."
Kenderaan melaju kencang mempelajaran raya menuju ke kantor. Alvan sudah tidak sabar ingin menyelesaikan masalah kantor yang sangat berbelit. Untuk sementara Alvan tidak ingin membongkar kebusukan Selvia untuk mencari lebih jauh kelompotan Selvia. Bisa jadi masih banyak Selvia Selvia lain berbuat curang di perusahaan.
Maka itu Alvan merasa memerlukan Andi untuk menyelidiki semua pemasukan dan pengeluaran kantor. Ini untuk menjamin tidak terjadinya kecurangan di kemudian hari.
Di Rumah Sakit Citra Baru saja menyelesaikan operasi kecil pasien. Hari ini pikiran Citra sangat jernih karena merasa telah menjadi seorang wanita seutuhnya. Pengalaman bersama Alvan semalam menumbuhkan rasa percaya diri di hati Citra. Dia tetap seorang wanita yang membutuhkan belaian kasih sayang seorang lelaki. Keangkuhannya selama ini hanyalah menutupi sisi lemah dia gara-gara kelakuan Alvan di masa lalu.
Selesai operasi citra menyempatkan diri menjenguk Karin di ruang rawatnya. Sebenci apa pun Citra pada Karin dia tetap seorang dokter yang mengutamakan keselamatan pasien. Kalau menuruti emosi rasanya Citra ingin menyuntik Karin agar bungkam selamanya tapi itu bukan gaya Citra.
Sebelum mengetuk pintu ruang rawat Karin Citra menarik nafas dalam-dalam agar terlihat tenang. Bagaimanapun Karin adalah rivalnya di dalam kehidupan Alvan.
Citra mengetuk pintu dengan yakin semua akan baik-baik saja. Tidak ada jawaban dari dalam membuat Citra nekat menggeser pintu dorong agar bisa masuk.
Di dalam Citra melihat pembantu Karin tertidur di sofa sementara Karin terlihat kuyuh di atas tempat tidur dengan tatapan mata kosong. Wanita itu tidak tidak tidur tapi melamun nih sesuatu yang tampak sangat mendalam.
Rasa iba di hati Citra muncul setelah melihat kondisi karya yang sangat jauh dari kata oke.
"Kak...." panggil Citra perlahan takut mengejutkan Karin.
Karin menggerakkan kepala ke arah orang memanggilnya. Begitu melihat Citra datang Karin buang muka. Karin marah pada Citra itu wajar karena Citra hadir kembali di antara dia dan Alvan.
"Mau tertawai aku?" tanya Karin tanpa nada keras. Tampaknya Karin sudah menyerah terhadap hidup ini.
"Astaga kak...kok omong gitu? Aku harap kakak semangat melawan penyakit! Kalau kakak begini terus maka penyakit kakak yang menang!" Citra makin mendekati Karin. Karin mendengus kencang anggap Citra sok baik hati. Dalam hati Citra tentu bersorak lihat Karin tak berdaya di rumah sakit.
"Tak usah urus aku!"
"Aku dokter...kami harus urus semua pasien. Kakak harus semangat bila tak mau diejek Selvia. Selvia pasti bahagia lihat kakak hancur. Itu kan kemauan wanita itu?" pancing Citra mau tahu apa reaksi Karin bila bawa nama Selvia.
Pancingan Citra berhasil. Karin kontan bangun duduk begitu nama Selvia hadir di antara mereka. Tampaknya Karin sangat geram mendengar nama itu. Nafasnya sampai terburu mengingat semua keburukan Selvia padanya. Karin bukannya tidak tahu siapa yang telah berbuat curang di belakangnya.
"Mau apa lagi wanita setan itu?"
"Kak.. begitu banyak kejadian melingkari hidup kalian. Maunya Kakak lupakan yang sudah-sudah dan buka lembaran baru. Berjuanglah melawan penyakit kakak setiap penyakit akan sembuh sendiri bila penderita bersemangat. Aku tidak akan menutupi keburukan Selvia. Semalam keluarga Selvia datang ke rumahku dan menyerang aku dan Alvan. Banyak kisah terungkap semalam. Tapi aku tidak peduli apa yang dikatakan oleh keluarga Selvia. Sekarang semua tergantung pada Kakak sendiri. Ceritakan sejojonya pada Alvan! Apa yang telah terjadi di masa lalu kalian karena Selvia telah menipu uang perusahaan Alvan dalam partai besar."
Karin menatap Citra dengan wajah tidak percaya. Kebusukan apalagi yang dilakukan Selvia merugikan Alvan?
__ADS_1
"Apalagi yang dia lakukan pada Alvan?"
"Kudengar dia mencuri uang perusahaan sampai beratus-ratus miliar. Sekarang dia sedang ditahan di kantor polisi maka satu persatu kejadian terungkap termasuk masalah Zaki."
"Aku dan Selvia itu teman kuliah. Kami sama-sama nakal dan brengsek. Kami ingin hidup mewah maka kami melakukan beberapa perbuatan kotor termasuk menjadi piaraan bos-bos besar. Lalu secara tidak sengaja kami berkenalan dengan Alvan dan Daniel. Lalu aku berpacaran dengan Alvan Selvia juga tertarik pada Alvan namun Alvan memilih aku. Aku tinggalkan kehidupan yang kotor menjadi pacar Alvan yang baik. Selvia selalu menerorku akan buka aibku pada Alvan. Dia bermain manis dengan cara masuk ke perusahaan Alvan sebagai pegawai dan aku tidak tahu mengapa tiba-tiba dia telah menjadi wakil Alvan. Lalu muncullah kamu diantara pertikaian kami! Ku puji kesabaran Selvia meraih cinta Alvan."
Citra menyimak cerita Karin tanpa menyela. Biarlah Karin ungkap semua ganjalan dalam hati agar semua lebih jelas. Tidak ada kebohongan antara mereka lagi.
"Semula aku mengira Alvan mencintaiku dengan tulus. Di mulut selalu mengatakan menyayangi aku tapi jauh di dalam lubuk hatinya tersimpan nama seseorang yang tidak pernah kuduga. Setiap kami melakukan hubungan bukan namaku yang disebutnya melainkan nama seseorang yang tertanam jauh di dalam lubuk hatinya. Aku sakit hati namun tidak berdaya. Aku yang salah telah masuk ke dalam hidup Alvan." Karin bercerita dengan linangan air mata. Mata buram Karin menatap Citra tanpa daya. Citra melihat luka di mata itu.
Citra mengutuk Alvan kelewatan pada dirinya dan Karin. Ternyata masih ada wanita lain di hati suaminya. Citra menyesal terlalu cepat menyerah pada Alvan. Kalau tahu Alvan seburuk itu maunya tendang laki itu ke tong sampah.
"Kak...tak kusangka kau juga sangat menderita karena Alvan. Kukira hanya aku yang hidup menderita selama sepuluh tahun ini. Aku pergi demi kebahagiaan kalian karena jujur aku mencintai Alvan. Aku cukup bahagia lihat Alvan bisa bersatu dengan cintanya. Cinta suci tidak harus memiliki tapi bahagia melihat orang yang kita cintai hidup senang.
"Aku salah menilai kamu Citra! Tak kusangka kau banyak berkorban untuk kami! Aku yang syirik tak tahu diuntung. Punya suami baik masih huru hara di luar sana. Ini karmaku!" Karin menertawai kebodohan sendiri terlalu pede pada cinta Alvan. Tak disangka dalam hati Alvan tersimpan nama wanita lain.
"Kak...maukah kakak lupakan masa lalu? Bangkit lawan penyakit kakak! Penyakit Aids itu tidak menakutkan seperti yang digembar gemborkan. Yang penting kesehatan tetap stabil dan minum obat. Kakak bisa hidup normal seperti orang lain. Satu lagi..kakak tak boleh terluka, kalau darah kakak terkena orang yang juga terluka maka orang itu akan tertular." Citra menjelaskan perihal penyakit Karin dengan sabar.
"Alvan pasti jijik padaku! Dia jarang menjenguk aku!"
"Kak...lelaki itu egois...mereka hanya mau yang sempurna tanpa melihat salah sendiri! Seperti kata kakak dia masih menyimpan nama wanita lain. Bukankah Alvan itu manusia buangan juga?" Citra makin berani menggenggam tangan Karin.
Karin melirik genggaman Citra seraya mengangkat kepala ke atas menahan cairan bening tak jatuh ke pangkuan. Karin puji ketulusan Citra. Kalau wanita pasti sudah mencakar Karin hingga tak berbentuk.
"Kau tak mau tahu siapa nama wanita itu?"
Karin tak tahu harus bahagia atau bersedih jumpa madu seperti Citra. Karin tak tahu hati Citra terbuat dari apa sanggup menerima orang yang pernah kulitin dia sampai terluka luar dalam.
"Citra...kau tak takut padaku? Aku akan celakai kamu?"
"Takut...sangat takut apalagi aku telah punya anak. Hidup mereka tergantung padaku! Cuma aku yakin hati kakak tak sejahat itu. Kita semua telah petik hikmah dari karma masing-masing. Aku siap pergi lagi bila kakak merasa aku merampas kebahagiaan kakak."
Karin menggeleng, "Orang yang dicintai Alvan itu kamu! Setiap malam dia ngigau namamu! Aku makin sakit hati padamu tapi kau sudah menghilang. Aku tak bisa lampiaskan dendam di hati. Rivalku saat itu hanya Selvia. Kami saling menjatuhkan di luar sepengetahuan Alvan. Semua hancur setelah kehadiran Zaki. Zaki itu suruhan Selvia."
Hati Citra tercekat dengar pengakuan Karin. Sungguh di luar dugaan Citra kalau orang yang telah merajai hati Alvan adalah dirinya. Bagaimana mungkin itu terjadi? Sepuluh tahun lalu Alvan selalu menghinanya sebagai kacung dan anggap Karin sebagai ratu di atas ratu.
"Kak...kau salah paham perasaan Alvan. Cintanya untukmu. Percayalah!"
"Alvan sendiri tidak menyadari telah jatuh cinta padamu. Setelah kau pergi di kayak orang gila mencarimu. Aku menghadangnya dengan segala upaya. Aku egois waktu itu. Aku dikalahkan oleh seorang anak supir."
Pengakuan Karin sama dengan cerita kakek Wira. Karin menghalangi Alvan jumpa Citra pakai ratusan trik licik sampai mereka benar-benar terpisah oleh lautan maha luas. Haruskah Citra menambah porsi dendam dalam hati? Karin telah merenggut kebahagiaan dia dan anak-anak.
Citra mengatur nafas agar tidak terbawa amarah. Cara Karin terlalu licik, tapi Karin juga tak salah melindungi diri sendiri dari wanita yang ancam posisinya.
__ADS_1
"Semua telah berlalu...kakak cepat sembuh agar bisa istirahat di rumah! Secara umum kakak sehat namun kakak tak boleh lengah tinggalkan obat. Alvan akan datang menemui kakak!"
"Kalian telah bersama lagi?" tanya Karin meminta kejujuran Citra.
Citra masih pertimbangkan kejiwaan Karin maka memilih berbohong walau tahu itu dosa. Berbohong demi kebaikan mungkin dosanya akan diperkecil oleh Tuhan.
"Dia datang untuk lihat anak-anak! Kalau kakak mau aku akan bawa anak-anak jumpa bunda mereka."
"Kau ijinkan anak-anak kamu panggil aku bunda?" Karin besarkan mata takjub pada ketulusan Citra padanya. Anak-anak nyaris kelaparan karena dia masih dapat penghargaan menjadi bunda.
"Kalau tidak panggil bunda harus panggil apa? Mau dipanggil nenek?" gurau Citra ingin ambil hati Karin agar jangan patah arang. Secara tak langsung Citra berperan pada kehancuran Karin. Karin bisa begini karena kesal Alvan asyik ingat Citra. Itu menurut pengakuan Karin sendiri.
"Ya Allah Citra...aku ingin mati saja menanggung dosa padamu! Sudah begini kau masih beri aku penghormatan. Aku tidak pantas jadi bunda anak-anak Alvan." Karin menangis tersedu-sedu. Citra tak tahu itu tangis palsu atau tulus dari lubuk hati. Citra sudah berusaha lakukan yang terbaik sebagai seorang manusia.
Citra memeluk Karin tidak takut Karin mengidap penyakit HIV. Naluri kemanusiaan yang meminta Citra melakukan hal terbaik untuk seorang pasien. Tangis Karin makin menjadi di dalam pelukan Citra. Karin tak menyangka Citra memiliki jiwa sangat mulia. Kalau saja dulu dia berpikiran waras membiarkan Citra masih berada di sisi Alvan mungkin ceritanya akan berbeda dengan hari ini.
"Cup...cup...malu tuh dilihat pembantu kamu!" Citra menoleh ke belakang melihat Iyem terbengong menyaksikan drama antara dua wanita. Satu dokter dan satunya lagi pasien. Iyem tidak mengenal Citra maka tidak berpikir panjang apa yang telah terjadi.
"Citra...aku mau pulang! Urus agar aku pulang ke rumah! Di sini aku makin tertekan!"
"Baik...aku akan urus kamu pulang tapi ingat! Harus semangat dan tetap minum obat! Pantang menyerah!"
"Terima kasih..."
Citra menghapus air mata Karin ikut lega wanita telah bisa menguasai diri. Karin terbelenggu oleh rasa bersalah di masa lalu. Memisahkan Alvan dari cinta sejatinya dan kini terima karma sangat menyakitkan. Karin tak tahu bagaimana penilaian Alvan pada dirinya.
"Istirahat sambil menunggu aku selesaikan prosedur cek out! Nah nona...benahi seluruh pakaian nyonya kamu? Kalian akan pulang! Nyonya sudah sehat!"
"Oh benarkah?" mata Itu berbinar tidak usah nginap di rumah sakit yang membosankan. Selama merawat Karin di rumah sakit Iyem malah tambah gemuk akibat makan tidur.
"Benar dong! Aku akan kasih tahu pak Alvan agar jemput kakak pulang!" Citra menepuk bahu Karin hendak melangkah keluar.
"Citra...maukah kamu datang ke rumah menjenguk aku?" Karin bertanya sebelum Citra pergi.
Citra tak langsung jawab mengingat kenangan buruk di masa lalu. Menginjak rumah milik Karin sama saja membuka luka lama. Citra berusaha mengikis rasa sedih di hati dengan berbuat baik.
"Kita lihat nanti kak!"
"Artinya kau masih marah pada aku! Kau mengangkat aku, apa kau akan banting aku lagi?"
"Aku akan usaha kak! Kita semua butuh waktu untuk berenung. Aku akan balik bila semua telah beres. Istirahat ya!" ujar Citra lembut.
"Aku tunggu kamu! Hatiku lega telah membuat pengakuan. Kau harus memaafkan aku!"
__ADS_1
"Pasti kak! Aku permisi..." Citra segera angkat kaki dari ruang rawat Karin.
Citra masih syok dengar pengakuan Karin kalau selama ini orang yang dicintai Alvan ternyata dirinya. Mengapa Alvan menyimpan cinta itu dalam di lubuk hati. Membiarkan cinta itu mengendap tidak timbul ke atas?