
Citra tiba di rumah hari sudah berganti malam. Mobil Alvan terparkir di depan pagar rumah tanda laki itu masih berada di rumahnya. Lampu di dalam rumah menyala terang benderang memberi isyarat anak-anak berada di rumah. Biasa kalau Citra telat pulang anaknya berada di rumah Bu Menik. Keduanya berada di rumah tetangga sampai Citra lepas praktek.
Kehadiran Alvan membantu atau mengacaukan keluarga kecilnya. Yang pasti Afifa akan makin lengket dengan Alvan membuat Citra sulit melepaskan diri dari ikatan pernikahan dengan Alvan.
Motor Citra tidak bisa masuk pintu pagar karena terhalang oleh mobil Alvan terparkir persis di depan pagar. Dengan berat hati Citra bunyikan klakson mobil beri signal dia telah pulang. Semoga kali ini Alvan peka bersedia keluar geser mobil beri jalan pada Citra.
Alvan keluar berdiri di pintu memantau siapa bunyikan klakson ganggu acara kumpul anak bapak. Tubuh raksasa Alvan melangkah maju setelah tahu siapa yang datang. Gerakan laki ini gesit membuka pintu pagar.
"Baru pulang?" sapa Alvan duluan.
"Iya...pasien full satu hari! Apa aku harus menjadi patung semalaman di sini?" Citra menyindir Alvan tak segera geser mobil beri jalan buat Citra masukkan motor ke dalam pagar rumah.
Alvan mulai terbiasa ucapan bernada sindiran Citra. Bicaranya lembut namun maknanya tetap mencakar wajah Alvan. Azzam dan Citra sama saja senang pojokan Alvan. Satu hari bicara manis pada Alvan mungkin akan jadi hari buruk bagi Citra. Maunya wanita itu kuliti Alvan sampai tampak daging merah. Biar iritasi dah!
Tanpa banyak bicara Alvan keluarkan kunci kontak mobil. Laki ini masuk ke dalam mobil menggeser mobil beri jalan pada Citra masukkan motor. Citra mengira Alvan akan langsung pergi setelah geser mobil. Citra sudah di rumah artinya tugas Alvan menjaga anak-anak sudah tuntas. Waktunya cabut dari rumah Citra karena hari sudah kelam. Apa kata tetangga bila tahu Citra menyimpan laki dalam rumah walaupun ada anak-anak. Orang lebih senang arahkan otak ke jalan kiri dari pada ke jalan kanan. Pikiran kotor pasti kuasai setiap pemikiran tetangga.
Dugaan Citra meleset jauh. Alvan parkir kembali mobil di depan rumah Citra setelah wanita itu selesai masukkan motor ke teras depan. Dengan santai Alvan balik ke rumah seakan itu memang rumahnya.
Citra menangkap gelagat Alvan tak berniat pergi dari rumah segera berdiri di pintu halangi laki itu masuk ke dalam. Tubuh mungil Citra tak cukup memalang pintu secara permanen terpaksa gunakan kedua tangan memegang kusen pintu kiri kanan.
Alvan tersenyum mengejek petugas pintu tidak berbobot. Kalau Alvan mau pakai satu tangan sudah bisa pindahkan Citra ke dalam rumah. Alvan biarkan Citra menikmati kemenangan beberapa menit. Mungkin itu bisa menyenangkan hati wanita yang kelihatan lelah itu. Anggap hiburan malam.
"Terima kasih pak sudah jaga anak saya! Silahkan pergi!" ujar Citra jumawa. Kepala wanita itu terangkat ke atas bikin pose arogan.
"Oh gini cara berterima kasih! Aku akan pergi kalau diijinkan Afifa."
"Tidak perlu ijin...pulang dan temui Karin! Dia lebih membutuhkan kamu." Citra tidak bergeming tetap kuasai pintu.
"Ok...Afifa...Afifa...papi pulang ya!" seru Alvan dengan sekuat tenaga. Tanpa pakai cara lengkap licik tak ada peluang masuk ke rumah itu lagi. Hanya Afifa bisa menyelamatkannya.
Afifa muncul sebelum Alvan berseru kedua kali. Gadis kecil ini tak rela Alvan pergi malam ini. Alvan sudah janji temani Afifa hingga tertidur. Jarang-jarang Afifa punya kesempatan habiskan waktu bersama sang papi.
"Papi kok pergi? Bukankah sudah janji mau bobok dengan Amei?" seru Afifa berkacak pinggang marah pada Alvan. Afifa mengira Alvan akan ingkari janji. Gadis cilik ini tak tahu Alvan kena penolakan dari sang induk.
"Papi sih mau tapi mami suruh papi pergi! Besok papi jemput ke sekolah. Afifa belajar sama Azzam saja ya!" Alvan pura-pura menyesal tidak bisa temani Afifa habiskan malam ini.
Mata Afifa beralih pada Citra. Maminya berdiri di antara pintu mirip palang pintu belum sempurna cetakan. Pintu segitu besar tapi palangnya seupil. Afifa menggeleng tak habis pikir mengapa maminya berubah kekanakan. Malam gini masih mau main palang-palangan dengan Alvan.
"Mami...ini sudah malam! Mandi sana! Biarkan papi masuk! Amei dan papi sedang ada tugas penting." Afifa berkata sok dewasa.
__ADS_1
"Tugas penting apa? Tugas biar rumah kita digerebek satu kampung?" tantang Citra tetap bertahan di posisi mengawal pintu agar Alvan tidak bisa lewat.
"Siapa berani gerebek rumah kita? Apa salah kita? Emang kita menyimpan penjahat?" Afifa tak mau mundur menantang sang mami demi sang papi.
"Kecil-kecil jadi pengkhianat. Tuh papimu di sini! Ntar RT RW datang usir papimu. Amei tak malu di rumah kita ada keributan?"
"Ya ampun nona Citra..."
Mata Citra terbelalak dengar panggilan Afifa terhadapnya. Sejak kapan bocah cilik ini ikutan Azzam kurang ajar memanggilnya dengan sebutan nona Citra. Apa Citra belum pantas menjadi ibu dari bocah bocah tengil ini?
"Woi...jaga tuh mulut! Aku ini mamimu! Orang yang melahirkan kamu! Dengar ya bocah! Orang belum tahu itu papi kalian. Mami bisa dituduh bawa laki masuk rumah. Apa kata tetangga?" semprot Citra kesal pada tingkah Afifa. Si kecil biasa kalem tak banyak tingkah kini kok berubah kasar.
Nampaknya Alvan bawa aura negatif pada anak-anak. Afifa mulai berani melawan sejak ada Alvan. Afifa merasa punya backing kuat bisa merdeka bersuara.
"Mami sayang! Tadi Amei dan papi sudah berkunjung ke rumah pak RT. Melapor kalau suami Citra sudah balik. Sama tetangga juga sudah kenalan. Ibu-ibu senang kok papi datang. Katanya papi Amei ganteng banget! Orang ganteng tak boleh terlalu lama kena angin malam. Gantengnya luntur kesambet setan genit." Afifa menerobos pertahanan Citra lewat bawah ketiak Citra. Afifa dekati Alvan yang merasa jadi pemenang kontes pria paling ganteng sedunia. Senyum licik terhias di bibir sensual Alvan.
Selama ada Afifa di samping Alvan takkan tersingkir. Afifa merupakan jimat keberuntungan Alvan. Citra tersungkur kalah total lawan laki tinggi besar itu. Ternyata Alvan duluan melangkah cari aman. Laki ini tahu Citra pasti akan gunakan alasan Alvan bukan siapa-siapa di keluarga mereka. Maka itu Alvan duluan kumpul point mengalahkan Citra.
Alvan bawa buku nikah mereka melapor kehadirannya pada ketua RT agar nama baik Citra tidak tercemar. Memasukkan laki ke dalam rumah bukanlah hal terpuji. Predikat wanita nakal langsung ditambah di atas nama Citra. Untuk hindari pandangan negatif tetangga Alvan bawa bukti nyata bahwa mereka adalah pasangan suami isteri. Siapa berani bertanya mengapa selama ini Alvan tak pernah muncul di keluarga Citra. Itu urusan internal Alvan dan Citra.
Citra tepuk tangan puji cara Alvan masuk menjadi kepala rumah tangganya. Cara lengkap pintar nan licik. Pantesan Alvan tenang-tenang saja waktu disuruh pergi. Tak disangka Alvan sudah bentengi diri dari serangan musuh cantik.
"Terima kasih pujiannya! Ayo masuk! Udara mulai dingin. Afifa kan baru sembuh sakit." Alvan turunkan badan menggendong Afifa bersatu dengan dadanya. Afifa kegirangan digendong Alvan. Kejadian langka yang tak pernah ada selama ini. Sebelumnya mereka tak punya papi maka tak ada cowok kuat sanggup gendong Afifa. Berat tubuh Afifa cukup lumayan.
Afifa mengalungkan tangan di leher Alvan lantas beri kecupan hangat di pipi papinya. Anak bapak terkekeh lewati Citra masuk ke dalam. Gawang pertahanan Citra kebobolan gol. Citra pasrah menatap Afifa dan Alvan masuk ke kamar anak itu.
Citra mengunci pintu rapat-rapat berhubung hari mulai kelam. Komplek ini jarang terjadi kejahatan, semua tetangga saling menjaga hindari munculnya kejahatan sekitar sana. Jarang terjadi bukan tak pernah. Dulu pernah terjadi perampokan berakhir sedih. Satu isi rumah meninggal dibantai perampok tak berperikemanusiaan. Tak ada yang sisa. Sejak itu warga sadar lingkungan aman. Saling membahu menjaga keselamatan sesama warga. Alhasil komplek ini jadi daerah aman minus kejahatan.
Citra melihat meja makan sudah penuh aneka lauk pauk. Siapa yang masak? Seingat Citra dia menitip Nadine urus makan malam kedua anaknya karena dia bertugas sampai sore. Kok ceritanya berubah? Berbagai hidangan lezat tersaji di atas meja makan. Makanan itu belum tersentuh artinya belum ada yang makan.
"Koko..." panggil Citra soalnya dari tadi tak tampak batang hidung si lajang.
Yang dipanggil muncul dengan wajah kusut. Azzam tampak kurang senang malam ini. Tatapan mata itu seolah sedang vonis Citra bersalah.
Citra meletakkan tas di bufet lantas meraih tangan Azzam heran tak ada cahaya di wajah lajang itu. Citra membawa Azzam ke dapur cari penyebab Azzam kurang bahagia.
"Ada apa ko?" tanya Citra lembut seperti biasa.
"Apa orang itu akan di sini selamanya?"
__ADS_1
Kekesalan Azzam terjawab sudah. Inti kusut masai Azzam berasal dari Alvan. Azzam keberatan Alvan sering datang ke tempat mereka. Jika ingin main dengan Afifa cukup gunakan waktu sore. Azzam ngerti Alvan tak mungkin datang siang karena laki itu kerja. Cukup sore tanpa harus menginap.
"Koko...dia itu benar papi kamu! Mami dan papi masih ada ikatan pernikahan."
"Kalau kalian sudah menikah mengapa dia tinggalkan kita? Apa dia berselingkuh dengan wanita bernama Karin?"
"Sayang...papimu punya alasan tersendiri! Diapun tak ingin berpisah dari kalian cuma takdir membuat papi dan mami harus pisah. Apa pun yang terjadi dia tetap papi kamu. Kita sabar setengah tahun lagi. Setelah itu kita kumpul dengan Cece di Beijing. Koko tak boleh kasar pada orang tua walau kita tak suka. Koko anak mami yang paling baik dan pintar. Amei baru sembuh sakit jadi biarkan dia bersenang dulu!"
Azzam menunduk memahami penjelasan Citra. Azzam berharap Afifa cepat move on dari sosok Alvan. Azzam tak tega lihat duka di wajah Citra dikhianati suami sendiri. Citra terlalu baik untuk laki macam Alvan. Pengkhianat dan pembohong tulen.
"Iya mi! Mami sudah lapar? Koko lapar banget! Om bilang tunggu mami pulang makan bersama."
"Jangan panggil Om tapi papi! Dia memang papi kamu." ralat Citra tak ingin Azzam jadi anak durhaka. Citra tak mendidik Azzam membenci Alvan. Baik buruk Alvan tetaplah bapak kandung anak-anak.
"Iya mi!" lirih Azzam pelan nyaris tak terdengar. Citra mengelus rambut Azzam puas pada sikap dewasa Azzam mampu berpikir rasional.
"Mami cuci tangan dulu. Kita makan! Oya...siapa yang masak?"
"Mana masak? Om Untung yang antar semua makanan. Ntah dia beli di mana?"
"Oh gitu! Syukuri saja! Panggil Amei dan papi makan bersama."
"Iya mi!" sahut Azzam patuh.
Citra membersihkan tangan sebelum makan. Lantas Citra sediakan peralatan makan untuk empat orang. Biasa ada Andi numpang makan. Sejak ada Alvan otomatis Andi tersingkir dari meja makan Citra. Orang lebih berhak telah kuasai tempat Andi.
Citra menunggu kemunculan Afifa dan Alvan. Azzam cepat balik tak sabar ingin melahap lauk yang tampak menggugah selera makan. Bagaimana tidak enak, semua hidangan berasal dari restoran mahal milik keluarga Lingga. Alvan tinggal perintah menu diinginkan. Semua segera tersaji sesuai amanah bos.
Alvan dan Afifa bergandengan dengan wajah sumringah menuju ke meja makan. Rasa kesal Azzam terbayar melihat adiknya bahagia. Azzam tak boleh egois merampas kebahagiaan Afifa. Selama Afifa bahagia Azzam bersedia menahan perasaan tak suka pada Alvan. Berkorban untuk adik kesayangan bukanlah hal memalukan. Justru Azzam bangga bisa berbuat sesuatu bikin Afifa senang.
"Makan enak!" seru Afifa girang lihat ada udang gala dimasak asam manis. Sesuai orderan Afifa. Afifa dan Azzam suka sekali makanan laut. Citra tak pernah melarang kedua anaknya makan makanan laut karena menyehatkan dibanding daging merah. Apalagi kalau makan ikan yang mengandung omega. Sangat berguna untuk kesehatan serta menambah daya ingat. Otak lebih encer bila konsumsi ikan laut.
"Ayok bismillah!" Citra memimpin acara makan keluarga.
Azzam dan Afifa berdoa sebelum makan sesuai arahan Citra. Citra ajar anak-anaknya syukuri setiap limpahan rezeki dari Allah. Rezeki itu datang dengan cara tak sama. Yang penting bersyukur tidak melupakan kebesaran Allah.
"Koko mau makan apa?" tanya Citra lihat Azzam bingung tentukan pilihan. Rasanya semua hidangan termasuk makanan kesukaan. Mulai dari ikan atau udang seperti Afifa.
"Koko mau ikan bakar itu? Koko kan pernah bilang pingin makan ikan bakar ala restoran. Tuh sudah ada! Amei ngalah ijinkan Koko makan satu ekor." Afifa sok bijak menunjuk ikan bakar kecap yang tampak sangat lezat. Ada sambal cabe hijau campur tomat muda. Makan malam mewah buat Azzam.
__ADS_1
"Koko mau itu?" Citra perkuat dugaan Afifa kalau abangnya ingin ikan bakar. Azzam angguk malu-malu kucing. Azzam bukan malu pada Afifa tapi pada Alvan. Azzam tak suka pada Alvan tapi semua bawaan Alvan dia sukai. Alvan pandai tebak keinginan Azzam. Namanya juga sesama cowok. Ditambah otak encer Azzam. Tidak sulit tebak permainan anak pintar. Azzam tak suka mainan mobilan maupun robot-robot. Itu mainan anak umum. Azzam anak luar biasa. Pencinta teknologi. Dari kecil Azzam suka kutak kutik komputer cari sesuatu menantang.