
Tak mungkin Bu Dewi operasi otak lagi cari di mana syaraf yang bermasalah. Resikonya terlalu besar. Citra tak berani ambil resiko minta Bu Dewi operasi sekali lagi. Sekarang tergantung nasib Bu Dewi. Kalau Allah meridhoi maka dia akan sembuh walaupun tidak sesempurna dulu.
Citra kembali ke ruang tamu untuk bergabung dengan keluarga. Ketiga anaknya masih enggan mendekati Oma mereka yang tak pernah menggores luka di hati mereka. Sebenarnya Alvan sangat sedih melihat anaknya menjauhi mamanya. Itu salah Bu Dewi sendiri menekan anak-anak begitu berjumpa. Anak kecil berpendapat dengan apa yang dilihat oleh mata mereka.
Justru Oma dari Perkasa menjadi Oma favorit mereka. Afifa tidak ingin lepas dari Oma uyutnya itu. Mereka lengket bak amplop dan perangko. Dalam hal ini siapa yang harus disalahkan.
"Malam ini kita makan malam bersama! Aku dan Afung telah memesan restoran untuk mengundang keluarga Afung dan keluarga kita." ujar Heru sok jadi bos. Memang dia yang harus jadi bos karena ini memang acara dia. Ini kesempatan langka bisa berkumpul tiga keluarga besar. Dari pihak Afung, Alvan dan Heru. Semua lengkap maka wajib bikin acara penyambutan.
"Oma bisa ikut?" tanya Afifa lugu melirik Bu Dewi hanya bisa diam. Bukan diam tapi memang tak bisa bicara. Apa ini hukuman bagi orang yang mulutnya terlalu kejam pada cucu sendiri?
"Oma di rumah sama Tante Nadine." kata opa Jono lembut.
"Oma harus ikut. Kan semua datang. Oma bisa datang dengan kursi roda. Tak mungkin Oma ditinggal sendiri" si kecil tak tega lihat sang Oma muram durja. Bu Dewi tersingkir secara tak langsung karena penyakitnya. Afifa tampil sebagai pahlawan bagi sang Oma. Gadis kecil ini merasa tak adil Bu Dewi tidak ikut. Sakit kan masih bisa bergerak.
Bu Dewi yang muram sedikit terhibur diperhatikan cucu. Di saat begini baru timbul rasa sesal telah tersesat oleh nafsu Angkara. Keluarga mereka terbentuk dari pengkhianatan demi pengkhianatan. Soal materi mereka memang tidak kekurangan namun mereka kurang pesan moral. Dari suami, isteri dan anak berkhianat. Maka mereka harus alami derita yang dibuat sendiri.
Masih untung dapat menantu berhati emas macam Citra angkat mereka dari lembah penuh maksiat.
"Iya...Oma ikut!" Alvan senang Afifa beri perhatian pada mamanya walau kedua kakaknya belum beri respon positif. Alvan percaya seiring waktu Azzam dan Afisa pasti akan terima Oma mereka.
Sesuai jam ditentukan Tiga keluarga beramai menuju ke restoran mewah yang dipesan Afung. Afung sudah tidak segan gunakan uang Heru untuk keperluan yang pasti-pasti. Bukan untuk dihambur-hamburkan. Afung bukanlah orang kaya yang tidak menghargai uang, wanita ini justru sangat menghargai setiap yang di keluar dari kantong Heru. Kepunyaan Heru kelak akan menjadi kepunyaannya juga maka harus dijaga sebaik mungkin.
Keluarga Afung terdiri dari tujuh orang. Ibu Afung, Abang Afung dan anak isteri serta kedua orang tua angkat Afisa. Dari pihak Heru lebih ramai karena tergabung dua keluarga besar.
Restoran yang dipilih lumayan mewah. Mereka pilih private room agar tidak terganggu oleh tamu lain. Mereka sudah cukup heboh. Di tambah tamu lain pasti makin semarak. Maka itu Heru rela bayar lebih mahal untuk dapat privasi.
Orang tua satu meja sedang yang muda satu meja. Makanan dijamin halal mengingat banyak yang muslim. Afung sendiri sudah harus pantang makan makanan haram ikuti agama Heru.
Tak banyak interaksi dalam obrolan karena tidak ketemu dalam bahasa. Satu bahasa Indonesia dan pihak satu bahasa Mandarin. Hanya yang paham saling tukar cerita.
Pesta sederhana berakhir hambar. Tidak terlalu istimewa karena kendala bahasa. Anggukan dan gelengan kepala jadi gerakan paling sering diadakan di malam ini. Walau gitu semua puas simpan kenangan sendiri.
Alvan bawa anak-anak pulang ke hotel sedang Heru kawal yang lain pulang ke tempat masing-masing.
Hari ini semua lelah. Sudah duduk Tujuh jam di pesawat membosankan harus ikuti acara makan malam lagi.
Malam ini semua pasti nyenyak terbuai mimpi. Hal sama dilakukan Citra dan Alvan. Keduanya segera memanjakan tubuh di kasur empuk hotel. Hanya numpang tidur harus bayar berjuta-juta. Bagi orang yang kurang mampu pasti akan bilang pemborosan. Uang berjuta bisa dijadikan uang belanja berbulan. Jikalau suruh Citra bayar segitu mahal kontan bilang no.
Suhu ruang kamar Citra dan Alvan disetel sangat dingin. Bergulung dalam selimut merupakan jawaban terbaik untuk melawan suhu dingin. Lebih hangat lagi berpelukan dengan orang tercinta. Seperti yang dilakukan Citra dan Alvan. Keduanya berbagi kehangatan.
"Sayang...kau bahagia begini?"
"Bahagia...andai tak ada lagi orang usil maka hidup kita aman tenteram. Aku sangat lelah ikut konflik dalam hidup mas!"
Alvan merasa bersalah telah bawa Citra dalam kancah permainan orang tak bertanggung jawab. Makhluk dengan hati tulus macam Citra tentu asing dengan trik kotor lawan. Untung Citra punya anak-anak cerdik lindungi Citra dari tangan jahil.
"Mas janji tak ada lagi konflik. Kita jauhi mereka yang kurang waras. Mas akan urus orang lindungi kamu dari keusilan orang jahat. Mas tak mau kebahagiaan kita terkoyak lagi. Mas bersumpah kepadamu tidak akan melirik wanita manapun selain kamu dan anak-anak."
"Jangan bersumpah Mas! kita ini manusia biasa yang tidak luput dari kata dosa. Saya percaya Mas akan menjaga kepercayaan yang aku berikan pada mas."
"Terima kasih sayang...mas lega lihat semua membaik. Besok kita bawa anak-anak jalan ke mana?"
__ADS_1
"Mas dan om Heru saja bawa anak-anak dan keempat orang tua kita. Aku mau jumpa seorang kawan lama di rumah sakit tempat mama dirawat. Aku mau menimba ilmu dari beliau."
"Laki atau perempuan?"
"Laki dong! Masak isteri mas tak ada yang naksir. Ada juga yang suka." gurau Citra bikin Alvan keki.
Alvan menurunkan kepala menggigit leher Citra saking gemas dipermainkan. Sedikitpun Alvan tidak ragu kesetiaan Citra. Kalau dia mau berselingkuh tak perlu tunggu sampai Alvan muncul. Dari dulu sudah bisa dia lakukan.
"Ganteng?"
"Banget...siapa yang lihat pasti langsung beri point sepuluh!"
"Sempurna...mas tak percaya ada orang ganteng melebihi mas. Di matamu mas yang paling ganteng kan?"
"Isshhh pede amat! Gantengan profesor Go dong! Lipatan mata tiga lapis. Mas cuma selapis kan?"
"Kamu ini memuji orang atau ngejek orang? Mana ada orang lipatan mata tiga lapis? Emang Alien?"
"Ya ada...tuh profesor senior yang otaknya selicin batu giok! Umurnya delapan puluh lima tahun. Dokter syaraf jempolan."
Alvan tertawa dengar cowok pujaan Citra sudah sepuh. Apa masih doyan cewek dengan usia hampir tenggelam.
"Mas ngalah kalau kau jatuh cinta padanya!"
"Yang benar? Profesor ada anaknya lho! Dokter juga cuma spesialis penyakit dalam. Jomblo sejati."
"Aku cabut kataku! Kau cuma boleh jatuh cinta padaku. Ok? Sekarang tidur sebelum burung cucak Rowo terbangun."
"Tidur!" Citra menyusupkan kepala ke dada Alvan cari tempat nyaman untuk berlayar ke pulau kapuk.
Alvan tak tahu Citra ingin cari dokter yang tangani mertuanya untuk konsultasi mengenai pita suara Bu Dewi. Kerusakan sampai di tahap apa. Apa ada kemungkinan sembuh? Setahu Citra pita suara rusak oleh stroke sangat jauh dari kesembuhan. Bisa sembuh pun bicaranya akan cadel.
Citra belum berani bicara dengan Alvan sebelum jumpa profesor yang tangani Bu Dewi. Citra akan bicara bila sudah ada kepastian.
Seusai sarapan Heru dan Afung bawa seluruh keluarga tour ke Forbidden City. Untuk pergi ke tempat lebih jauh keempat orang tua mana sanggup jalan. Padahal Alvan ingin jalan ke Great Wall yang berada sekitar 80 km dari pusat kota Beijing. Hanya orang berstamina bagus sanggup berjalan sepanjang Tembok China itu.
Afung dan Afisa jadi guide kawal keluarga telusuri situs peninggalan jaman kerajaan Ming dan terakhir kerajaan Chin. Situs terawat baik walau waktu berganti.
Keluarga sedang tour Citra pergi ke rumah sakit di mana dia pernah praktek dulu. Tujuan Citra tentu saja cari kepastian tentang penyakit mertuanya.
Rasa kangen pada tempat dia menghabiskan waktu beberapa tahun mengalir di dalam relung hati Citra. Di sana Citra mendapat banyak pelajaran dari dokter-dokter yang handal. Sayang Citra telah terlanjur janji pada mendiang kakek Wira untuk mengabdi di rumah sakit yang telah ditentukan oleh kakek. Ternyata kakek telah mengatur Citra bekerja di Rumah Sakit milik keluarga tanpa sepengetahuan Citra. Kakek tahu suatu saat Citra pasti akan bertemu dengan Alvan di rumah sakit ini dan ternyata dugaan kakek tidak meleset. Rencana kakek telah sukses mempertemukan pasangan suami istri ini. Citra dan Alvan kini telah bersatu atas doa tulus dari kakek Wira.
Citra menginjak rumah sakit yang telah dia tinggalkan hampir setahun. Tak banyak perubahan selain pasien makin banyak. Citra kenakan masker sesuai protokol rumah sakit. Apa lagi lagi wabah pandemi covid begini. Pihak rumah sakit lebih ketat kawal pengunjung untuk patuhi peraturan rumah sakit.
Citra langsung ke ruang praktek profesor Go. Citra sudah hafal tempat kerja profesor yang masih aktif walau usia sudah senja. Tenaga profesor dibutuhkan maka tidak diijinkan pensiun. Cuma profesor tidak boleh ikut pegang pisau operasi mengingat faktur usia. Takut tremor tangan juga psikis yang kadang suka turun naik.
Citra mengintip lihat ada pasien di sana. Sepasang suami isteri sedang konsultasi kepada profesor Go. Citra tahu diri tak berani masuk. Dia bukan petugas medis maupun pasien. Tak boleh sembarangan masuk. Citra bukan tak tahu peraturan itu.
Kesabaran Citra sedang diuji. Wanita ini menunggu dengan tabah. Dia yang penting maka mesti melatih kesabaran.
Akhirnya pasangan itu keluar meninggalkan sang profesor. Citra sengaja menyembulkan kepala di depan pintu ruang praktek Profesor. Laki tua itu menurunkan kacamata lihat siapa sedang buat ulah menarik perhatian dia.
__ADS_1
Lama profesor itu melihat ke arah pintu yang tidak tertutup. Mungkin sedang mengumpulkan ingatan siapa orang iseng itu. Maklumlah daya tangkap signal sudah melemah. Tidak segahar signal kekinian.
"Xiao Ci..." seru sang profesor dengan suara serak khas orang tua.
Signal telah tepat arah. Ingatan profesor telah pulih ingat siapa yang datang. Citra tidak ragu masuk karena pas tidak ada pasien.
Profesor merentangkan tangan minta tubuh Citra berlabuh. Citra tanpa ragu berlari ke pelukan orang yang dia anggap bapak sendiri.
Profesor menepuk punggung Citra berkali-kali ungkap rasa rindu pada mantan muridnya. Ada keharuan menyebar ke seluruh pelosok tubuh. Dari ujung rambut hingga mata kaki.
"Akhirnya kau datang..." ujar Profesor terbata-bata.
"Iya pak...aku datang jenguk si orang tua! Apa kabar?"
"Baik...dan kau bagaimana? Mana cucu-cucu aku?" Profesor menarik Citra duduk di salah satu kursi tanpa melepaskan pegangan tangan. Andai Alvan melihat kemesraan Citra dan profesor pasti akan berpikiran negatif.
"Mereka pergi jalan sama papi mereka."
Profesor Go tertegun dengar Citra sebut papi. Seingat profesor Citra single fighter. Melangkah sendiri mencapai kesuksesan.
"Kau sudah jumpa suami kamu?"
"Sudah...kami telah bersama lagi. Semua salah paham telah teratasi."
Sang profesor manggut kecil tanda senang Citra menemukan kebahagiaan. Semua orang tua selalu berharap anaknya mendapat kesejahteraan. Citra telah bersatu dengan suami berarti Citra telah bahagia.
"Bu Dewi yang bapak rawat itu mamanya suami aku! Aku datang mau tanya tentang kesehatan mama mertua aku!"
Profesor melepaskan tangan Citra duduk di kursinya menarik nafas. Citra paham ada masalah berat baru sang profesor bertingkah aneh. Dia orang blak-blakan tak pandai simpan rahasia tapi ini beliau tampak gundah.
"Sejujurnya aku salut padamu berhasil selamatkan jiwa mertuamu. Kerusakan jaringan otaknya sangat fatal. Yang pasti dia kehilangan suara. Itu tak bisa diperbaiki lagi. Dan kamu sudah lakukan yang terbaik. Sekarang hanya usahakan dia bisa jalan lain tak ada lagi. Suaranya permanen hilang."
Kepala Citra terasa membesar dengar vonis pakar syaraf itu. Kalau Profesor sudah tak sanggup apa lagi Citra. Berhasil membawa pulang nyawa mertuanya sudah Alhamdulillah. Kasus Bu Dewi kebanyakan berakhir kematian.
"Tidak ada harapan sedikitpun?" Citra masih berharap sang profesor mengangguk. Sayang harapan itu angan kosong Citra. Sang profesor menggeleng. Citra merasa tulang belulang lemas.
Betapa berat cobaan untuk Bu Dewi. Seumur hidup tak bisa berbincang dengan anak cucu bahkan suami. Apa guna kehidupan demikian? Bu Dewi tak ubah orang bisu.
"Aku boleh akupuntur?"
"Silahkan! Mungkin ada keajaiban dari Yang Maha Kuasa. Aku tidak melarang semua teknik pengobatan asal dilakukan secara benar. Aku mau jumpa suami dan anak-anak. Aku rindu pada mereka."
"Baik...besok aku bawa mereka kemari!"
"Jangan! Besok kita makan bersama! Aku undang kalian satu keluarga."
"Baik...bapak kirim alamat kami akan datang!"
"Aku rindu pada cucu-cucu aku."
"Baru ini Afisa ada bertanding. Dia dapat dua emas satu perak. Dia belum puas prestasinya."
__ADS_1
Profesor tertawa bangga kenal anak-anak Citra yang cerdas dan pintar. Mereka merupakan calon penerus bangsa yang kompeten.