ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Alvan Sakit


__ADS_3

Profesor angguk maklum. Sang profesor benaran lega lihat Citra telah hidup damai. Tak ada yang perlu dia kuatirkan lagi.


"Pergilah! Aku akan rawat mertuamu sebaik mungkin. Katakan pada suamimu bahwa orang tuanya akan baik saja di sini?"


"Akan kusampaikan pak! Terima kasih sudah susah payah rawat mertua aku!"


"Itu tugas dokter! Hati-hati di jalan ya!"


Citra bergerak memeluk sang profesor di bawah tatapan mata Alvan. Kalau Alvan cemburu pada dokter senior ini sudah kebangetan. Orang tua sudah senja mana mungkin masuk dalam kategori incaran Citra. Yang lebih ok seperti Heru dan Daniel tak masuk buku Citra apalagi kakek tua ini.


"Selamat tinggal...aku doakan kalian sekeluarga selalu dapat berkah dan lindungan Tuhan."


"Terima kasih." Citra menjauhi profesor diikuti seluruh keluarga Citra.


Langkah Citra terasa ringan telah memenuhi semua janji. Datang sebentar ke Beijing membawa kebaikan. Bagi Alvan mungkin hanya seujung kuku uangnya tapi bagi mereka yang butuh menjadi nyawa.


Waktu selanjutnya dihabiskan jalan dan belanja. Tak ada waktu lagi kunjungi daerah wisata karena waktu sangat singkat. Ntah berapa banyak duit kucur dari kantong Alvan untuk biayai belanjaan anak-anak. Hebatnya Citra tidak minta apapun. Alvan berkali menawarkan beli sesuatu namun ditolak Citra.


Singkat waktu keluarga Alvan pulang tanah air minus Heru dan Afisa. Heru masih ingin bersama Afung sedang Afisa murni harus kembali pada sekolah dan latihan untuk sambut pertandingan musim dingin nanti.


Mereka berempat mendarat dengan sempurna di bandara tanah air. Kehidupan rutin telah sambut mereka. Hari pertama tiba tak ada kegiatan berat karena masih perlu waktu untuk istirahat. Hari kedua baru seru karena jagoan neon datang tagih oleh-oleh. Yang paling sibuk tentu Andi. Si cowok tak puas-puas minta hadiah walau sudah dapat jatah. Jasmine sang kekasih yang malu lihat betapa tamak pacar kesayangan.


Untunglah Azzam dan Afifa tidak heran pada kelakuan Andi. Mereka sudah maklum sifat lebay Andi. Bukan sehari dua hari bersama Andi. Dari suka pakai daster hingga transformasi menjadi cowok tulen sampai detik ini.


Citra dan Alvan biarkan saja para anak-anak sibuk dengan oleh-oleh. Alvan lebih senang berada dalam kamar bersama Citra untuk merasakan betapa indah berada dalam pelukan wanita yang tepat. Kalau bisa tak usah berpisah sedetikpun.


Di luar sana para remaja bercanda riang bagi oleh-oleh sedang dalam kamar Alvan bercinta riang dengan Citra. Rasanya tak bosan mereguk karunia Tuhan tentang keindahan cinta tepat.


Tokcer dan Bonar ingin sekali cekik Andi yang dinilai tamak. Asal Azzam keluarkan satu barang langsung direbutnya termasuk minyak wangi mahal yang rencananya buat para cewek. Laki lebay ini merampas tanpa peduli delikan mata yang lain..


"Kayaknya malam ini akan ada pembunuhan secara terbuka." ujar Tokcer agak kesal jatah Fitri pindah ke paper bag Andi.


"Aku dukung! Kita buat barbeque daging orang rakus." timpal Bonar ikutan jengkel pada banci insaf itu. Duit sudah banyak masih tamak.


Jasmine agak malu lihat tingkah Andi yang memalukan. Dia yang cewek tidak setamak Andi sikat semua kado. Gibran yang pro ke Tokcer ikutan kesal pada Andi. Azzam dan Afifa tidak keberatan Andi berbuat semaunya karena bagi mereka Andi adalah Abang sendiri.


"Aku bantu multilasi orang rakus. Kita potong kecil-kecil lalu kita buat sate umpan ke kucing liar di jalanan." Gibran ikut ambil bagian bully Andi.


Fitri dan Iyem cekikan merasa lucu lihat Andi diserang dari berbagai arah. Andi santai saja tak ambil peduli ocehan yang dia anggap angin lalu. Yang penting oleh-oleh paling banyak.


"Kak Andi bagi kenapa? Emang semua bisa dipakai?" Jasmine bersuara geram pada kenorakan Andi.


"Bisa dong! Tiap hari bisa ganti parfum mahal. Hidung orang kantor fresh cium bau Andi terganteng."


"Jamin semua pada pilek cium bau tong minyak wangi berjalan. Jasmine...suamimu itu ada stress nya! Kamu hati-hati ya! Kalau bulan purnama dia akan makin menggila. Melolong kayak serigala hutan." Tokcer berkata serius seolah itu kata nyata.


Andi langsung berkata pinggang menantang Tokcer. Gayanya persis emak kemalingan jemuran.


"Lhu pikir gue siluman serigala ya? Dasar...orang gendeng! Eh Fit...laki itu kalau Jumat Kliwon berubah jadi Buto ijo lho! Hati-hati kamu! Bisa dimakan kamu. Dan kau Iyem...suamimu itu mantan kolor ijo! Kalian dua yang harus hati-hati pada mereka dua. Aku Andi si ganteng mana mungkin berubah jelek."


"Sudah...sudah...sesama siluman tak usah ribut! Kak Andi yang ganteng. Kasihan dong kak Fitri jatahnya masuk tas kak Andi! Dia kan harus tampil fresh layani pasien. Beri satu parfum cewek untuk kak Fitri." bujuk Azzam lembut. Hadapi Andi tak perlu tegang urat. Cukup sedikit rayuan dan bujukan.

__ADS_1


Andi tampak ragu berikan permintaan Azzam. Parfum milik Fitri harumnya segar wewangian bunga. Padahal parfum itu tak cocok untuk cowok karena tertulis untuk cewek.


Jiwa feminim Andi belum 100% keluar dari tubuhnya. Masih ada sisa khodam feminim terjebak dalam tubuh Andi.


Andi mengalah mengeluarkan satu kotak kecil warna putih. Dengan berat hati si Andi serahkan pada Fitri. Gerakan Andi sangat lamban seakan tak rela barang itu pindah tangan. Tokcer tak sabar segera merebut kotak itu serahkan pada Fitri. Tokcer memang belum secara resmi mengakui Fitri sebagai pacar karena terkendala janji pada Natasha. Cuma Tokcer selalu beri perhatian lebih pada Fitri.


Andai Fitri salah paham itu bukan salah gadis perawat itu. Tokcer yang tarik ulur menunggu Natasha yang masih rutin kirim kabar pada Tokcer. Tokcer yang dilema antara dua wanita. Soal kelembutan dan akhlak tentu saja mirip Fitri karena Natasha produk negara barat yang sedikit lebih terbuka. Semuanya berpulang pada tokcer sendiri akan memilih yang mana menjadi pendamping hidup.


"Kak Andi keren...seorang pria sejati takkan menyakiti cewek. Kak Jasmine pasti bangga pada Kak Andi. Ya kan kak?" Azzam angkat Andi supaya berikan barang yang bukan haknya dengan ikhlas.


Jasmine mengangguk. Ada rasa lega Andi tidak ngotot pertahankan barang yang bukan haknya. Keadaan agak aman tidak tegang lagi. Bonar dan Tokcer menarik nafas lega tak perlu jadi tukang jagal teman sendiri.


"Ko..Amei sudah ngantuk! Amei tidur duluan ya! Besok kita sudah sekolah. Good night everybody!" Afifa tak bisa menemani para konco lebih lama karena matanya telah kirim signal harus istirahat.


"Iya... tidurlah! Koko akan segera datang." Azzam ijinkan Afifa pergi dari teras tempat mereka selalu kumpul bersama.


"Kita pamitan juga ya! Tak enak ganggu waktu tidur kalian! Besok kalian sudah harus balik sekolah. Terima kasih untuk hadiah kalian." Tokcer duluan bangkit tahu tak boleh kacaukan jadwal tidur anak-anak majikan. Tugasnya melindungi anak-anak itu. Bukan bikin onar.


"Ok...selamat malam!" sahut Gibran juga ingin cepat tidur. Gibran ingin Videocall dengan Afisa karena dari kemarin tak sempat ngobrol dengan keponakan tercinta itu.


Ketiga jagoan neon pamitan bawa cewek masing-masing kecuali Iyem harus tetap di situ. Bonar beri senyum termanis untuk Iyem sebagai pengantar tidur cewek bertubuh gempal itu. Acara bagi oleh-oleh bubar tanpa insiden.


Azzam dan Gibran segera kembali ke kamar masing-masing. Merajut asa baru songsong esok lebih cerah.


Sebulan berlalu sejak pulang dari Beijing. Hari berjalan tenang tanpa kejadian bikin emosi turun naik. Semua mulus kayak jalan tol.


Pagi itu Alvan tampak agak kusut seperti kurang tidur. Badannya agak meriang. Wajahnya sedikit pucat buat Citra agak kuatir. Sebagai dokter Citra merasa ada yang tak beres dengan suaminya. Wanita ini memeriksa kondisi suaminya sebelum berangkat kantor.


Setelah urus anak-anak ke sekolah, Citra kembali merawat bos besar Lingga. Laki itu tak berdaya tertidur di atas kasur mahal.


Citra bawakan secangkir teh untuk segarkan pikiran suaminya. Alvan merengek manja minta dipeluk oleh Citra. Bocah tua nakal. Sudah tua berlagak anak kecil.


"Minum teh mas biar segar!"


"Aku mau kamu peluk! Baumu bikin tenang. Bukan teh bikin tenang!"


Citra menggeleng tak habis pikir. Lelaki segarang Alvan ada juga masa manjanya. Persis gaya Afifa lagi kurang enak badan.


Citra duduk dipinggir ranjang angkat kepala Alvan pindah ke dadanya. Alvan bersandar pada dada Citra merasakan betapa damai di situ. Kedua tangan Alvan melingkar di pinggang Citra persis anak SD lagi merindukan sang ibu.


"Kau agak gemuk lho sayang!" ngoceh Alvan mengelus sesuatu yang kenyal yang menempel di pipinya.


"Gemuk apaan? Aku sedang kurangi makanan lemak kok! Dari mana gemuk."


"Tuh pegang sendiri. Kayaknya batok ini tambah gede." Alvan meraup benda ajaib milik Citra dengan satu tangan. Citra mencubit tangan Alvan yang usil. Katanya kurang sehat tapi otak masih mesum.


"Tangannya mau masuk meja operasi? Akhir-akhir ini tangan aku makin ahli pegang pisau operasi. Jamin sukses potong tangan usil!" Citra menepis tangan Alvan yang makin usil. Citra kesal tinggalkan tugas demi jaga suami nyatanya bukan sakit benaran melainkan kumat penyakit iseng.


"Sadis amat! Eh..aku kok pingin makan air tahu seperti yang kita minum di Beijing."


"Macam saja! Di mana bisa beli minuman itu?"

__ADS_1


"Minta Tokcer cari! Aku tak percaya tak ada di sini."


"Aku bisa buat tapi ribet. Harus beli kacang kedelai dulu."


"Biar kusuruh Untung cari! Air tahu kan?"


"Iya...pasti ada tapi kita tak tahu di mana jual. Itu minuman sehat yang ada di mana-mana. Ada kemasan botol siap saji tapi rasanya beda dengan yang homemade."


"Biar kusuruh Untung cari! Kau minta Tokcer cari!" titah Alvan kayak pingin sekali minum minuman sehat itu.


Citra tak ingin mengecewakan suaminya segera memesan Tokcer cari minuman dari hasil olahan kacang kedelai. Alvan kembali berbaring mengusir rasa tak nyaman di tubuh. Seluruh badan terasa pegel dan bawaan malas bergerak. Rebahan di ranjang merupakan kegiatan paling menyenangkan.


Untung lebih sigap dari Tokcer. Tak butuh waktu lama minuman itu telah diantar ke rumah. Ada yang hangat dan ada yang dingin. Terserah mana yang cocok selera.


Citra hidangkan dalam dua versi tergantung Alvan pilih yang mana. Satu gelas berisi susu kedelai dingin dan satunya susu kedelai hangat.


Alvan bersorak norak girang keinginan hati tercapai. Laki ini minum seteguk yang dingin lalu beralih ke hangat. Citra tertawa geli lihat suaminya yang biasa gagah perkasa berubah jadi anak TK.


Alvan menyeruput susu nabati itu dengan nikmat. Minuman itu terasa sangat nikmat melewati kerongkongan.


"Enak?"


"Enak tapi lebih enak yang di Beijing. Lebih gurih." sahut Alvan perhatikan dua gelas minuman itu silih berganti. Panas ataupun dingin tetap nikmat.


Tiba-tiba Alvan merasa perutnya berputar terasa mual. Rasanya ada sesuatu mendesak ingin keluar dari perut. Tanpa dapat dikontrol Alvan memuntahkan susu tadi basahi lantai kamar. Laki ini muntah berkali-kali sampai habis nafas.


Citra auto panik berteriak panggil Bik Ani. Dia seorang dokter tapi begitu jumpa keluarga sakit dia lupa statusnya sebagai penyembuh orang sakit.


"Mas...kau tak apa?" Citra memegangi Alvan agar jangan jatuh. Kalau jatuh Citra tak sanggup angkat tubuh segede kingkong itu.


"Perutku berputar...aku mau mati ya?" Alvan bicara ngawur saking pusingnya dia.


"Kita ke rumah sakit mas! Takut mas keracunan susu kedelai. Aku cari taksi dulu. Tunggu anak buah mas lama nanti." Citra tidak menanti jawaban Alvan segera cari taksi.


Alvan mengurut kepala sendiri yang terasa berat kena palu godam raksasa. Sekali kena hantam pusing tujuh keliling.


Bik Ani dan Iyem segera bersihkan bekas muntahan Alvan. Kamarnya menjadi bau asam akibat muntahan Alvan. Bik Ani buka jendela agar bau tak sedap segera keluar.


Citra membantu Alvan ganti pakaian bersih agar bau asam bekas muntah tidak menempel di tubuh Alvan. Alvan bukan sembarangan cowok yang boleh tampil asalan di muka umum. Dia seorang CEO perusahaan raksasa.


Sambil tunggu taksi Citra meneleponi Heru kabarkan keadaan Alvan yang mendadak drop. Sekarang ini Heru lah orang tua mereka. Semua harus lapor pada om sekaligus opanya para kurcaci.


Heru tak kalah panik minta Citra segera bawa Alvan ke rumah sakit. Dia segera ke rumah sakit padahal dia baru saja tiba di kantor. Alvan adalah suami dari keponakan artinya juga termasuk keponakan dia. Heru harus pandai jadi orang tua menjaga seluruh keluarga.


Citra membawa Alvan dengan taksi online ke rumah sakit. Dalam perjalanan Alvan merintih kepala pusing dan perut terasa kembung masuk angin. Sumpah mati Citra hampir putus nyawa saking takut lihat kondisi suaminya.


Padahal Citra terbiasa lihat orang sakit. Yang lebih parah telah berkali dia jumpai tapi giliran Alvan sakit dia seperti lupa dia dokter.


"Perutku seperti naik kapal laut kena badai dahsyat!" keluh Alvan memegangi bagian perut.


"Sabar ya sayang!"

__ADS_1


__ADS_2