
Di tengah percakapan anak ibu pintu rumah di ketok dari luar. Citra beri kode pada Afifa tetap di tempat, dia yang akan keluar buka pintu.
Pintu terkuak memunculkan dia pria sejati milik Citra. Azzam menyalami Citra menempelkan tangan maminya ke jidat. Lantas Citra lakukan hal sama pada Alvan. Klop sudah keluarga samawa.
"Langsung makan ya! Mami sudah sediakan cumi balado kesukaan Koko! Tidak pedas kok!"
Azzam berlari meninggalkan Alvan dan Citra begitu dengar menu makan mereka malam ini. Azzam suka semua masakan Citra. Hampir semua masakan Citra jadi favorit.
"Cumi mengandung kolesterol tinggi lho!" kata Alvan menyerahkan kain sajadah pada Citra.
"Sekali-kali tidak apa! Mas juga boleh makan asal pakai takaran. Yok!" Citra duluan jalan menyimpan sajadah sembahyang ke tempat semestinya.
Alvan bergabung dengan kedua anaknya di meja makan. Kedua bocah itu sudah tak sabar ingin mulai mengisi perut dengan menu andalan malam ini. Balado cumi. Dari tampilan cukup menggoda selera. Gimana rasanya sampai di lidah. Apa sama menariknya dengan tampilan? Alvan harus buktikan sendiri keahlian masak isterinya.
Citra menyendok nasi ke piring anggota keluarganya satu persatu. Kegiatan lumrah bagi seorang ibu. Di mana-mana tugas seorang isteri melayani anak dan suami. Sebelumnya Alvan tidak ada maka Citra hanya layani Azzam dan Afifa.
Acara makan malam berlangsung ceria. Semua menyukai masakan Citra. Lezat cocok di lidah. Kalau Citra pensiun dari dokter masih ada pekerjaan lain menunggunya. Jadi koki di restoran Alvan.
"Mami...Koko boleh tambah?" Azzam menyodorkan piring minta nasi tambah. Dengan senang hati Citra memenuhi permintaan Azzam. Anak masa pertumbuhan butuh gizi lebih. Makan makanan sehat tidak dibatasi selama perut masih bisa terima.
"Amei juga mau?" tawar Citra pada Afifa yang masih mengunyah cumi yang menurutnya alot.
"Amei tidak mau nasi. Amei minta tambah omelet telur saja! Rasanya enak tidak pedas."
Alvan yang bergerak mengisi piring putrinya. Alvan menikmati peran sebagai seorang papi. Begini rasanya punya anak isteri dalam arti sebenarnya. Bukan istri dalam nama. Alvan akan segera umumkan status Citra pada khalayak agar Citra tak dianggap perempuan tak benar. Kelakuan Viona dan Selvia membuka mata Alvan kalau Citra butuh pengakuan resmi.
"Wah...Koko kenyang nih! Kok jadi malas ya?" Azzam mengelus perutnya yang sarat dengan nasi dan lauk.
"Kokonya aja malas. Amei kok ngak malas! Masih ada pr harus dikerjakan. Koko harus bantu Amei ya!"
"Aduh Mei... Koko bener-bener kekenyangan. Tunggu sebentar lagi kenapa?" Azzam masih mengelus perut buncitnya.
"Mei biarkan Koko istirahat sampai nasinya turun ke bawah. Koko juga kok rakus amat sih?" Citra menengahi agar kedua anaknya tidak beradu mulut di meja makan.
"Aduh mami! Makanan itu buat dimakan. Dibiarkan tersisa kan sayang! Mendingan pindah ke perut Koko!"
"Iyalah terserah Koko! Ayo kalian pindah ke keluar biar mami bersihkan meja!" Citra mengusir mereka yang telah kekenyangan.
"Perlu bantuan papi nggak?" Alvan sok rajin menawarkan diri untuk membantu Citra membereskan sisa bekas makan mereka.
"No...no... kalian keluar saja! Ntar bukannya membantu malahan memberantakkan."
Alvan meringis malu sadar Citra meragukan keterampilan tangannya. Belum pernah sekalipun Alvan mencuci piring. Tahunya hanya makan dan pergi.
Alvan membawa kedua anaknya menuju ke ruang tamu. Di sana mereka bisa ngobrol dengan lebih leluasa. Alvan tentu saja ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak agar lebih mengenal sifat kedua anaknya.
Apa kesukaan Afifa ada Azzam harus Alvan pelajari. Agar kelak Alvan tidak salah melakukan hal yang tidak diinginkan oleh kedua anaknya. Afifa langsung bergelayut manja pada Alvan. Gadis kecil ini duduk di atas paha papinya sambil mengalungkan tangan ke leher Alvan.
Alvan tak dapat menahan rasa gemas pada kelucuan putri bungsunya.
"Anak papi mau lapor apa?"
__ADS_1
"Bukan lapor Pi tapi pemberitahuan! Sebelum ujian kita ada acara liburan keluarga. Setiap murid harus datang bersama orang tua masing-masing. Amei pingin ikut! Papi dan mami harus datang."
"Pasti...kita pergi bareng! Kelas Koko juga ada?"
"Ada Pi..tapi peserta harus bayar uang penginapan. Padahal cuma tenda camping. Masa harus bayar." sungut Azzam mulai dengan gaya kakek berusia lanjut.
"Sayang papi... sekolah tak mungkin biayai semua pengeluaran yang sangat banyak. Mungkin dengan fasilitas lengkap. Makan, tenda dan semuanya. Emang berapa setiap peserta?"
"Seratus ribu Pi!" Afifa yang sahut.
"Itu sudah murah bila dapat makan. Mereka kan sewa tenda, transportasi...itu semua butuh biaya! Kita pergi...besok papi pergi mendaftar untuk kalian! Ok?"
"Apa mami bisa pergi? Mami selalu gunakan alasan tugas rumah sakit."
"Papi yang akan atur. Kita pasti pergi. Kalau liburan kita pergi ke Beijing jemput Afisa. Ok?"
Kening Azzam berkerut dengar Alvan ingin jemput Afisa. Afisa sedang membangun masa depan di sana, sangat disayangkan kepintaran Afisa harus berhenti di tengah jalan. Pulang ke tanah air belum tentu bisa berkarier sebagus di sana. Azzam tidak setuju Afisa diajak pulang tanah air.
"Cece belum bisa pulang Pi! Dia sedang berada di puncak keemasan. Karier Afisa sedang bagusnya di sana. Pelatihnya juga bukan orang lain. Koko rasa biarkan Cece lanjut sekolah di sana." tukas Azzam.
"Tapi dia juga anak papi."
"Cece takkan ingkari itu. Cuma sayang kalau karier dia terhenti begitu saja!" bantah Azzam.
"Di sini dia bisa lanjutkan hobbynya. Papi dukung selama itu positif."
"Papi belum tahu Afisa. Dia itu tidak setengah-setengah kalau belajar. Koko rasa dia lebih tepat di sana karena pelatihan di sana ketat. Cece sudah banyak dulang emas. Semua orang tahu kalau senam di sana lebih bagus."
Tok tok tok bunyi pintu diketok orang dari luar. Azzam menatap pintu yang terkunci dari dalam. Siapa gerangan yang datang bertamu malam-malam begini. Dugaan Azzam ketiga jagoan neon itu yang datang. Siapa lagi tidak tahu diri datang bertamu malam-malam hari.
Tanpa ragu Azzam membuka pintu untuk tamu Yang tak diundang. Azzam sudah berniat mengeluarkan lidah beracunnya untuk omelin jagoan neon tukang kacau.
Sayang seribu sayang yang datang bukan jagoan neon melainkan segerombolan orang-orang yang asing bagi Azzam. Azzam mematung tidak mempersilahkan orang-orang itu masuk karena merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Siapa yang datang nak?" tanya Alvan merasa heran mengapa Azzam tidak bersuara.
Azzam bukannya menjawab malah masuk ke dalam. Mulut si lajang terkunci rapat tak ingin bahas siapa tamu mereka. Alvan terpaksa bangkit gantiin Azzam terima tamu.
Alvan kaget melihat rombongan yang datang malam ini. Sungguh di luar dugaan Alvan rombongan keluarga Perkasa bertandang ke rumah Citra. Mereka datang dalam rangka apa? Soal Citra atau soal Selvia.
Sebagai manusia berakal sehat Alvan terpaksa mempersilahkan tamu-tamunya masuk. Dalam sekejap ruang tamu Citra dipenuhi orang-orang keluarga Perkasa. Sofa Citra yang sederhana sampai tak mampu menampung tamu-tamu tak diundang. Terpaksa ada yang harus rela berdiri di tempat lapang. Dihitung-hitung mungkin ada delapan orang.
"Azzam dan Afifa ayok masuk kamar! Belajar ya!" Alvan mengusir kedua anaknya secara halus. Alvan tak ingin anak-anaknya terlibat konflik keluarga yang takkan berkesudahan.
"Iya Pi...bertamu di rumah orang hendaknya hormati Tian rumah. Di mana bumi diinjak di situ langit dijunjung." kata Azzam sebelum meninggalkan ruangan. Azzam hanya ingin ingatkan tamu-tamu agar sopan di rumah orang. Dari bawaan orang-orang itu tak ada kesan baik.
"Ya ampun cicit aku...mulutnya tajam! Ini eyang Uyut nak!" ibu Heru gemas melihat Azzam yang bijak. Azzam hanya tersenyum tipis lalu ajak Afifa masuk ke kamar.
Ibu Heru tak sabar ingin mencubit mulut kecil Azzam. Mulut sekecil itu bisa keluarkan kalimat menohok kuping. Cocok jadi keturunan keluarga Perkasa.
"Maaf kalau boleh aku bertanya? Ada apa datang rame-rame ke sini?" Alvan masih berusaha sopan dan tenang. Setiap tamu yang datang tetap harus dihormati.
__ADS_1
Alvan sendiri tidak kebagian tempat duduk sehingga terpaksa berdiri bersama-sama yang lain.
"Begini lho Van! Kami minta maaf telah datang beramai-ramai ke sini. Mungkin tak usah dijelaskan kamu sudah ngerti maksud tujuan kami ke sini. Tadi kami ke rumahmu katanya kamu tidak ada. Maka itu kami langsung ke sini." Heru mewakili seluruh keluarga untuk berbincang dengan Alvan.
Yang lain berdiam diri memberi kesempatan pada Heru untuk menjernihkan masalah dengan Alvan.
"Oh iya... untuk sementara aku tinggal bersama istri dan anak-anakku."
"Aku ngerti... tujuan kami ke sini adalah mengenai Selvia. Sebelumnya kami sekeluarga minta maaf atas kesalahan Selvia pada perusahaan kalian. Kami bersedia mengembalikan semua dana yang telah diambil Selvia dari perusahaan. Dan di sini kami memohon agar kamu mencabut tuntutan atau Selvia. Selvia sangat stres ditahanan kepolisian."
Alvan sudah menduga kalau keluarga ini datang untuk Selvia. Tak mungkin Heru akan tinggal diam melihat saudaranya terjerat hukum. Mereka juga punya power cukup besar, cuma sayang Selvia terbukti menggelapkan uang perusahaan cukup banyak.
"Dana yang diambil Selvia memang seharusnya dikembalikan kepada perusahaan tetapi yang dilakukan oleh Selvia sudah sangat keterlaluan. Kepercayaan yang kuberikan telah disalahgunakan."
"Selvia melakukan semua itu karena dirimu Alvan. Selvia sangat mencintaimu sehingga rela berbuat apapun asal bisa dekat denganmu. Seharusnya kau pertimbangkan perasaan Selvia kepadamu. Dengan ikhlas menyerahkan Selvia kepadamu untuk jadi istri kedua ketiga nggak masalah. Yang penting Selvia hidup bersamamu." tiba-tiba seorang perempuan berpenampilan mewah berdiri menyuarakan isi hati Selvia.
"Maaf Bu... Aku bukan orang brengsek yang mengumpulkan wanita-wanita. Aku sudah cukup puas memiliki Citra dan anak-anak. Mungkin Heru kenal siapa aku?" Alvan agak tersinggung dianggap pria hidung belang yang suka mengumpulkan wanita-wanita cantik. Alvan sudah kapok dengan wanita-wanita yang selalu berpenampilan wah. Buntutnya bikin pusing kepala.
"Maaf Van... dari dulu Selvia memang terobsesi kepadamu maka dia bersedia bekerja di perusahaanmu. Kami sama sekali tidak tahu dia mengambil uang perusahaan untuk membeli saham di perusahaanmu. Itu dia lakukan agar bisa lebih dekat denganmu."
Alvan tertawa sinis mendengar penjelasan Heru. Penjelasan yang sangat tidak masuk akal membeli saham perusahaan dengan mencuri uang perusahaan. Itu namanya maling berdasi.
Ibunya Heru tidak tertarik pada perdebatan soal Selvia. Perempuan tua ini lebih tertarik untuk melihat Citra yang merupakan cucunya. Masa bodoh dengan Selvia. Mau masuk penjara atau masuk neraka bukan urusannya.
"Citra mana nak Alvan?" tanya ibu Heru menyela percakapan mengenai Selvia.
"Citra ada di dapur Bu! Lagi beres-beres..." Alvan menyahut sopan mengingat kemungkinan besar Citra adalah cucu nenek tua itu.
"Apa boleh aku masuk?"
"Oh silahkan! Citra akan senang jumpa ibu."
"Hei mbak...kita lagi selamatkan Selvia kamu malah sibuk sama perempuan nggak benar itu! Dia telah merebut Alvan dari Selvia." seru wanita wah tadi.
"Selvia anakmu...Citra cucu aku! Aku bela cucu aku...Aku bahkan punya cicit. Kamu cucu aja tak punya...Terserah kalian mau ke penjara, ke Raja Ampat, ke Nusakambangan. Itu urusan kalian!" sahut ibu Heru berniat jumpa Citra.
"Kok mbak jadi pengkhianat? Citra itu telah merusak hidup anakku... keponakan kamu! Dan lagi Citra belum tentu cucu kamu! Hasil test kan belum keluar."
Ibu Heru berkacak pinggang Citra dianggap perusak cinta Selvia. Orang anak Citra sudah segede gaban artinya Citra duluan hadir dalam hidup Alvan. Yang ada Selvia sedang meracuni perusahaan cucu mantunya.
"Aku ini seorang ibu. Insting aku katakan Citra adalah anak Hamka. Aku datang ke sini bukan mau jadi pengacara tapi mau jumpa cucu dan cicit aku! Kalian lanjutkan kapan Selvia disidang! Aku mau ke dapur jumpa cucu aku!" Ibu Heru ngeloyor pergi tak ambil pusing soal Selvia.
Heru menggeleng tak mampu melawan mulut ibunya yang kadang tak bisa di rem. Pakai minyak rem produk Amerika juga tak mempan. Mau blong ya blong saja. Ini ada mirip Azzam. Kalau sudah nyerocos kadang suka nyakitin.
"Mbak edan..." rutuk adik kandungnya alias ibu Selvia.
Alvan suka sikap ibu Heru yang ceplas-ceplos mirip Azzam. Mungkin sifat ini diwariskan ibu Heru kepada Azzam. Citra mewarisi darah keluarga Perkasa makin mendekati titik temu.
"Gimana nak Alvan? Kami sudah merendahkan diri memohon kamu bebaskan Selvia dan nikahi dia! Ini cek dua ratus lima puluh milyar. Kami bayar tunai." Ibu Selvia mengeluarkan selembar kertas kecil berisi tulisan tangan serta tanda tangan.
Alvan menerima cek itu karena itu memang hak dia. Selvia telah mencuri uang perusahaan cukup lama. Mungkin nominalnya melebihi yang dibayar keluarga Selvia.
__ADS_1
"Bu cek ini aku terima. Aku akan hitung berapa uang yang telah diambil Selvia sekalian aku beli kembali saham Selvia. Cuma satu yang harus ibu ingat! Aku Alvan tidak akan menikahi Selvia."