
Seharusnya Alvan bersyukur anaknya sekolah di sekolah punya rasa tanggung jawab tinggi terhadap keselamatan para murid.
Alvan segera turun dari mobil menemui guru pengawas agar Azzam dan Afifa diijinkan ikut dengan Tokcer. Alvan ingin perkenalkan Tokcer pada guru karena selanjutnya Azzam dan Afifa diantar jemput Tokcer.
Langkah tegap Alvan satu persatu maju sampai di depan kedua anaknya serta guru. Guru jomblo ngenes mengucap dalam hati agar sadar tidak terpesona oleh bokap kedua bocah cilik itu. Sadar semua itu hanya angan kosong berlabuh dalam pelukan sang pejantan tangguh.
"Selamat siang Bu! Maaf telah merepotkan!" Alvan menurunkan kepala beberapa senti beri rasa hormat pada guru tak lalai tugas.
"Oh tidak pak! Aku hanya jaga kedua anak kita!" sahut sang guru manis semanis air tebu. Senyum cair tidak padat.
"Terima kasih Bu! Oya perkenalkan ini supir baru aku! Mulai besok selanjutnya dia yang akan antar jemput Azzam dan Afifa. Ibu lihat baik-baik wajah orang ini! Namanya Tokcer!" Alvan perkenalkan Tokcer sebagai penanggung jawab transpor Azzam dan Afifa.
"Oh maaf dik! Tadi kukira orang tak dikenal!" guru itu spontan minta maaf telah salah sangka pada Tokcer dan Bonar.
"Bu...lihat wajah aku juga! Mungkin sekali-sekali aku yang jemput kalau Tokcer halangan. Nanti jangan dibawa ke kantor polisi kira culik kedua adik aku!" Bonar tak mau kalah maju perkenalkan diri.
Azzam dan Afifa tertawa geli lihat tampang keras Bonar berubah serius. Gaya Batak kentara mengundang senyum yang lain. Ini asli Rambo kesasar ke salon. Tampang kriminal tapi tingkah lugu.
"Kami permisi Bu! Terima kasih sekali lagi." Alvan meraih tangan Azzam dan Afifa untuk segera masuk ke dalam mobil.
Kedua bocah Alvan melambai pada guru pengawas sebelum hilang ditelan besi beroda. Sang guru membalas dengan senyum lembut seorang guru. Inilah nilai guru bermoral, tidak arogan bertugas sebagai guru pengawas. Banyak guru menyalahi jabatan menghukum murid dengan hukuman di luar batas akal sehat. Bahkan ada yang tewas di tangan sang pendidik.
Azzam dan Afifa senang saja teman Andi telah bergabung. Tokcer dan Bonar sering jadi santapan mulut beracun Azzam. Nama orang yang bagus dikasih inisial baru sesuka hati.
Azzam duduk di samping Afifa memisahkan dia dengan Alvan. Azzam belum berdamai dengan Alvan sebelum beri keputusan nasib Citra. Citra akan berdiri di mana dalam hidup Alvan. Yang pasti Azzam tak rela ada wanita lain dalam hidup Alvan. Mau Citra atau Karin bukan masalah bagi Azzam. Alvan harus memilih itu saja keputusan Azzam.
"Azzam...Afifa..papi ingin ke daerah untuk lihat kondisi mami. Papi kuatir mami di sana soalnya di sana signal hp tidak ada sama sekali. Apa boleh papi pergi?" tanya Alvan hati-hati takut kedua anaknya tersinggung.
"Jadi kami tidur sama siapa?" Afifa balas tanya. Manik mata bening Afifa berkaca-kaca menembus pandangan Alvan..
"Sama Tante Nadine. Tuh ada kak Andi lagi. Papi akan sekarang pulang bila mami sehat."
"Papi yakin pergi jumpa mami?"
"Iya...nanti papi foto dengan mami biar kalian bisa lihat kondisi mami. Hari Minggu nanti kita kunjungi mami kalau keadaan memungkinkan. Papi pergi pantau duluan." Alvan berusaha bicara selembut mungkin pada Afifa karena perasaan Afifa lebih sensitif dari Azzam.
"Pergi saja! Koko mau kirim salam untuk mami. Rekam kami dan bawa ke mami." Azzam ikut bersuara tidak cengeng macam Afifa.
"Ok...mami pasti senang lihat kalian! Ayok kita mulai!" Alvan keluarkan ponsel merekam kegiatan mereka dalam mobil.
Azzam dan Afifa saling berebutan berceloteh riang untuk beri rekaman terbaik buat mami mereka. Azzam bersyukur Alvan mau menjenguk mami mereka di daerah bahaya. Perhatian kecil Alvan sangat berarti bagi Azzam. Secara tak langsung Alvan umumkan dia lebih memilih Citra dari pada Karin. Alvan tak tahu Azzam telah beri nilai satu buat Alvan karena bersedia menemui maminya. Namun Azzam menyimpan semua itu dalam hati. Belum waktunya beritahu Alvan kalau Azzam telah beri sedikit nilai.
Alvan mengajak kedua anaknya makan siang bersama di food court terdekat. Alvan ingin menyenangkan kedua anaknya biar ada kenangan manis jelang perpisahan singkat ini. Besok Alvan sudah harus berada di kantor berhubung masih banyak tugas belum selesai.
Tokcer dan Bonar ikut ketiban rezeki makan enak. Makan di tempat mewah dan nyaman hanya mimpi kosong buat kedua lajang lapuk itu. Semoga mereka cepat tinggalkan. gelar jomblo ngenes dapat pasangan setimpal.
__ADS_1
Singkatnya Alvan mengantar kedua anaknya kepada Bu Menik. Alvan beri pesan panjang lebar pada Bu Menik rawat kedua anaknya selama dia pergi. Pergi sehari seperti hendak pergi berbulan-bulan. Satu ton pesan sambung menyambung pecah dari mulut Alvan.
Selanjutnya Alvan meneleponi Daniel minta laki itu ikut kawani dia jumpa Citra. Alvan takut tak bisa kontrol diri bila jumpa Heru di tempat. Bisa terjadi pertumpahan darah merebut cinta Citra. Alvan kenal Heru orang nekat. Dewa Yunani itu takkan mundur kecuali Citra sudah ambil keputusan memilih seseorang.
Alvan mengeluarkan hp dari saku baju jasnya. Benda pipih itu berkilauan kena pantulan cahaya kaca. Alvan mencari kontak Daniel di layar ponsel pintarnya. Sekali seret layar langsung jumpa kontak Daniel.
"Halo bro...kok lama tak berkicau?" Alvan menyapa begitu tersambung.
"Gimana mau berkicau kalau burung kena sandera!"
"Maksud lhu? Siapa sandera?"
"Ada saudara dari Amerika. Tinggal di cafe gue tak mau pergi! Anaknya nekat tak tahu malu. Tiap hari merecoki gue!"
"Sejak kapan lhu punya saudara dari Amerika? Kok nggak pernah dengar?"
"Hari ini lhu sudah dengar! Gue pingin kabur aja deh! Gue nggak sanggup tiap hari diikuti mimpi buruk. Coba lhu bayangin! Anak itu nekat tidur di ranjang gue. Gue kan laki normal...takut silap tanam bibit di lahan orang!"
"Nah! Pas banget! Gue mau ajak lhu ke satu tempat ekstra nyaman! Sudah sampai lhu pasti senang. Siap-siap gue jemput ya!"
"Benar nyaman?"
"Banget! Bawa dua potong baju dan baju dingin! Udaranya sejuk, pemandangan indah, suasana tenteram." Alvan promosi mengiringi imajinasi Daniel ke satu tempat bak surga dunia.
Daniel yang sedang mumet tentu saja tertarik pada tawaran Alvan. Terpenting sekarang melarikan diri dari anak gadis nekat di cafenya. Daniel yang konyol mati kutu dibuat cewek yang baru datang dari luar negeri. Konon katanya saudara jauh Daniel padahal Daniel tak merasa punya saudara dari Amerika. Mau usir Daniel tak tega karena anak itu masih muda dan kekanakan.
"Ok...bersiaplah!"
Alvan memberi pengarahan pada Tokcer untuk menuju ke cafe Daniel. Alvan sudah tak sabar ingin segera jumpa Citra sang maling hati. Makin ke depan Alvan makin tergila-gila pada Citra. Rindu cemburu berpadu jadi satu dalam hati Alvan. Ke mana sosok Karin di hati Alvan. Sedemikian cepatkah hati Alvan berpaling dari Karin. Alvan kecewa pada Karin lalu lampiaskan pada Citra sebagai ban serap atau perasaan itu murni muncul setelah terpisah satu dekade.
Daniel telah menunggu di depan cafe dengan ransel di pundak. Tak banyak bawaan Daniel. Seorang lelaki jarang bawa bawaan segunung bila hendak bepergian. Makin simpel makin bagus.
Daniel bergegas menyelinap ke dalam mobil begitu mobil itu berhenti. Dua sosok asing menganggu netra Daniel merasa belum kenal orang di depan mereka. Biasa supir Alvan di gempal Untung kok sekarang berubah laki muda berwajah sangar. Dari mana Alvan comot supir ala-ala tukang gebuk.
"Ini siapa ya?" Daniel tak tahan mulut untuk diam.
"Supir baru buat antar jemput Azzam dan Afifa. Aku tak mau Untung terganggu kerjanya maka kucari supir baru. Anak asuhan Azzam." Alvan perkenalkan Tokcer.
Daniel tertawa dengar anak buah Alvan termasuk anak yang dekat Azzam. Daniel tak bisa bayangkan berapa tebal kuping anak itu dengar ocehan Azzam. Daniel tak percaya kedua orang yang duduk di depan tak pernah rasakan tajamnya mulut Azzam.
"Pernah dikuliti Azzam?" tanya Daniel gatal mulut.
"Bukan dikuliti lagi tapi dicincang Azzam sampai berbentuk dadu! Kami pernah dikuliahi dari pagi hingga malam. Cuma dikasih minum air soda satu gelas. Biar perut kembung jadi tak usah makan sudah kenyang." lapor Bonar sambil nyengir kuda ingat cara Azzam nasehati mereka gara-gara berantem dengan anak muda di kampung.
Daniel dan Alvan tertawa terbahak-bahak bayangkan penderitaan Bonar dikerjain Azzam. Anak model apa Azzam itu? Berani nasehati orang lebih tua bahkan kerjain mereka.
__ADS_1
"Kalian tidak melawan mulut Azzam?" Daniel masih penasaran hubungan Azzam dengan kedua laki muda itu.
"Dilawan? Yang ada malu. Azzam dilawan. Anak itu pintar kungfu dari Shaolin. Katanya pernah berguru di gunung Shaolin selama dua tahun." sahut Tokcer tanpa menoleh ke belakang.
"Yang benar? Karangan Azzam untuk takuti kalian?"
"Tidak pak...dia memang pintar kungfu. Kami pernah lawan Azzam kok! Dia lincah dan gesit."
"Oh...Afifa?" Alvan menambah satu wawasan tentang Azzam. Ternyata anaknya juga ikut latihan kungfu selama maminya menuntut ilmu.
"Afifa tidak bisa pak! Katanya Cece di China bisa. Lebih lihay dari Azzam. Cece itu orangnya tegas tak bisa diajak bercanda. Jarang senyum walau cantik."
Alvan merasa bodoh tak tahu apa-apa tentang anaknya. Justru orang luar yang lebih kenal sifat anaknya. Papi model apa sampai tidak ngerti apapun tentang anak sendiri. Alvan ketinggalan cerita perkembangan ketiga anaknya.
"Mereka anak-anak pilihan pak! Kami sangat sayang pada mereka walau suka diisengin Azzam. Kami senang kok! Hanya Azzam dan Afifa anggap kami teman mereka. Yang lain anggap kami limbah masyarakat." Bonar suarakan kepedihan sebagai orang kalangan kelas teri.
"Maka itu kalian harus kerja yang baik agar punya masa depan. Andi sudah buka jalan kalian, terserah kalian mau jalan lurus atau belok kiri. Itu pilihan kalian sendiri." Alvan menambah sedikit nasehat agar kedua mantan preman bersedia hidup di jalan terang jauhi semua jalan hitam.
"Kami ngerti pak! Kalau kami salah jangan segan tegur. Kami orang kasar kadang suka lepas kontrol. Mohon bimbingan bapak!" Tokcer lebih intelek dikit dari Bonar dalam bertutur kata. Kalimat Tokcer lebih sopan dari Bonar. Pendidikan Tokcer jauh lebih tinggi dari Bonar yang jelas kurang berpendidikan.
"Aku sebagai kawan bos kalian cuma bisa kasih masukan kalau kalian tak ingin ditendang jauh hindari perbuatannya melanggar hukum. Aku sudah cukup lama berteman dengan bos kalian jadi ngerti bagaimana sifat bos kalian. Tak pernah ada kesempatan kedua. Ingat itu!" Daniel menambah sedikit ilmu moral agar kedua orang yang bertampang menyeramkan itu ingat apa resiko berkhianat.
"Ingat pak!" sahut Tokcer dan Bonar serempak.
"Bagus..."
Tokcer cukup ahli nyetir mobil. Mobil yang disupiri Tokcer berjalan mulus tanpa goncangan. Tokcer membawa mobil membelah jalan raya secara hati-hati. Dapat kerja bagus harus dihargai agar tetap dipakai Alvan sepanjang masa. Tokcer tahu Alvan bukan orang pelit. Di saku celananya masih tersimpan segepok uang warna merah. Tokcer belum tahu jumlahnya karena malu hitung di depan orang ramai.
Tak terasa mereka tiba di lapang helipad. Dia helikopter lebih besar dari punyaan Heru terparkir dalam posisi siaga. Untung sudah mengurus segalanya agar Alvan dan bantuan tiba dengan selamat.
Daniel melongo tak sangka diiringi naik helikopter. Alvan mau culik dia bawa ke mana? Walau kepala bermunculan ratusan tanda tanya Daniel tetap ikuti Alvan menuju ke landasan heli. Satu helikopter sarat dengan bahan makanan serta Berkotak-kotak barang yang Daniel tak tahu apa isinya.
"Apaan ini bro? Kau mau kabur ke pulau terpencil bawa stok makanan segitu banyak?" Daniel menunjuk heli yang penuh barang.
"Nanti kau akan tahu. Oya Tokcer! Kau pulang dan jaga anak-anak. Jaga mobil baik-baik! Besok antar jemput anak-anak ya! Pastikan mereka sudah masuk sekolah baru boleh kamu tinggalkan mereka. Pesan pada Andi rawat Azzam dan Afifa." Alvan beri tugas pada Tokcer. Tugasnya tentu tak jauh dari keseharian dua putera Alvan.
"Siap pak! Bonar ikut pulang?" Tokcer melirik Bonar yang mematung makin tak percaya bakal bekerja pada Alvan.
"Bonar ikut aku! Kau pulang sekarang. Jaga kedua anakku ya!"
"Kujamin pak! Permisi pak!"
"Pergilah! Hati-hati di jalan!"
"Iya pak!" Tokcer melangkah pergi menuju ke tempat dia parkir mobil. Tokcer cukup bangga dapat kepercayaan Alvan rawat anaknya dan mobil mewah. Apa kata orang kampung lihat Tokcer pulang bawa mobil mewah. Leher Tokcer panjang dikit memandang orang dari atas. Tokcer tak perlu malu menunduk pada orang lain lagi. Dia mulai belajar berjalan menuju ke arah baik.
__ADS_1
Alvan mengajak Daniel dan Bonar segera naik heli biar cepat take off dari lapangan helipad. Dua pilot heli sudah siap membawa helikopter terbang menembus menuju ke tempat tujuan.