ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Isteri CEO


__ADS_3

Pak Heru membuka mulut pasrah disuapi dokter muda yang cantik. Wanita berpenampilan mewah itu terkesima melihat CEO kaya itu seperti kucing manis di tangan dokter cantik nan imut itu.


Pak Heru seperti orang bodoh mau saja di suap Citra tanpa protes makanan rumah sakit tak enak. Dokter Rahma dan laki berpakaian necis tersenyum simpul saksikan pemandangan langka ini. Pak Heru yang angkuh tak berkutik di bawah kendali dokter muda itu. Tanda-tanda apa pula ini?


Wanita mewah itu manyun lihat Pak Heru jinak sama sang dokter. Tak ada kata protes keluar dari mulut sexy itu. Sia-sia usaha dia datang rawat Pak Heru. Tak ada penghargaan sedikitpun dari laki macho itu.


Akhirnya makanan berpindah seluruhnya ke perut pasien nakal. Citra mengambil tisu membersihkan mulut pasien dari bekas makan. Sikap Citra murni pengabdian seorang dokter. Tak ada niat lain selain lihat pasien cepat sembuh biar bisa pulang rawat di rumah.


"Ok..sekarang bapak duduk sebentar lalu tidur. Bapak akan tidur sampai pagi karena kami ada beri obat penenang. Aku permisi dulu! Jaga kesehatan dan ikuti semua nasehat dokter." Citra beri tatapan tajam mengancam Pak Heru agar tak bikin onar lagi.


"Aku belum minum..." ujar Pak Heru cari perhatian lagi.


"Itu ada bini bapak! Silahkan ibu kasih minum bapak! Setengah jam kemudian boleh tidur. Anak kecil tak baik bergadang larut malam." Citra tak open wajah kesal Pak Heru disamakan dengan anak kecil.


"Apa Bu dokter piket?"


"Tidak... istirahatlah! Permisi." Citra langsung pergi tak peduli kekesalan Pak Heru tak dapat menahan Citra lebih lama.


Rahma ikut keluar merasa lega tugasnya yang terakhir terlaksana sempurna. Kini Rahma bisa pulang dengan tenang ganti shift sama dokter lain.


Rahma mengantar Citra ke kamar sebelah di mana Afifa di rawat. Keduanya sama-sama lega. Kewajiban seorang dokter telah terpenuhi.


"Citra... benaran kamu sudah berkeluarga?" Rahma tanya ulang cari info tepat agar jangan salah kaprah.


"Benar...yok masuk lihat anakku! Kena DBD..."


"Dokter Budi?" Rahma bertanya apa anak Citra ditangani sepesial anak handal itu.


"Iya...yok masuk! Assalamualaikum..." Citra menggeser pintu agar terbuka.


Sebagai rekan kerja Rahma tak enak menolak ajakan Citra jenguk anaknya. Citra sangat disukai sesama dokter karena tak sombong walau sangat cakap dalam bidangnya. Citra siap membantu sesama dokter tak peduli tingkatan.


Dokter Rahma kaget melihat ada sosok tegap duduk di sofa sambil main ponsel. Dokter Rahma tentu kenal siapa yang duduk di sana karena Rahma sudah lama mengabdi di rumah sakit ini. Cuma Rahma tak sangka orang yang di maksud Citra adalah owners rumah sakit.


"Kenalkan...ini papinya anak-anak!" Citra sengaja bilang papi anaknya bukan suami. Status mereka belum jelas maka Citra tak berani bikin kesimpulan status mereka.


"Pak Alvan? Lho? Citra ini..."


Alvan tinggalkan ponsel di meja berdiri pamer tubuh tinggi menjulang.


"Aku suami Citra papi anak kecil ini!" Alvan berkata dengan gagah tak grogi sedikitpun.


Citra buang muka malu diakui sebagai isteri. Isteri dari mana? Dari Hongkong? Alvan sudah jatuhkan talak otomatis bukan suami isteri lagi.


"Wah... Citra hebat sembunyikan statusnya sampai tak ada yang tahu. Wah..anak Pak Alvan cantik sekali. Mirip boneka. Semoga cepat sembuh ya!"


"Terima kasih dokter Rahma. Tolong jaga Citra untukku selama dia bertugas di sini. Aku tak bisa dua puluh empat berada di sampingnya."

__ADS_1


"Pak Alvan tak perlu kuatir! Citra dokter favorit sini! Lihat pasien sebelah! Patuh di tangan Citra! Kami sudah kewalahan layani orang kaya itu. Sama Citra seperti anak ayam ketemu induk." dokter Rahma tertawa lebar ingat Pak Heru patuh sama Bu dokter cantik ini.


"Oya? Artinya Citraku idola semua pasien?"


Citra mau muntah Alvan klaim dia milik Alvan. Kalimat memuakkan cari masalah.


"Iya..ok Pak Alvan...aku pamit! Sudah ganti shift. Besok aku datang lagi! Anak cantik ini akan segera sembuh. Jujur aku omong baru kali ini lihat anak secantik ini!"


"Mereka kembar tiga." ucap Alvan bangga pamer keperkasaan sebagai lelaki sejati. Andai saja dokter Rahma tahu laki yang sedang banggakan anak itu bermasalah dengan alat reproduksi anak mungkin akan meragukan cerita lelaki ini.


"Hebat...yang lain mana?" Rahma mencari anak yang diakui Alvan ke sekeliling ruang. Tak ada gelagat ada orang lain selain mereka.


"Abangnya sedang dijemput. Sebenarnya anak kecil tak baik di rumah sakit tapi abangnya bersikeras harus jumpa adiknya. Dia akan tiba sebentar lagi." Alvan masih bercerita dengan bangga. Laki itu tak tahu di sana masih ada Citra yang gregetan Alvan pamer anaknya. Padahal Citra sebisanya tutupi kehidupan pribadi agar jauh dari gosip.


Tak disangka gara Afifa masuk rumah sakit jalan hidupnya berubah total. Semua petugas di rumah sakit akan kenal dia sebagai isteri Alvan. Ntah isteri pertama atau isteri muda. Citra yakin pegawai situ juga kenal Karin. Siapa yang jadi isteri utama dan siapa pelakor.


"Aku jadi penasaran dengar cerita Pak Alvan. Berita ini muncul terlalu mendadak. Aku jadi bingung."


"Bu dokter...waktunya ganti shift! Ayo bikin laporan dulu! Besok bisa datang lagi!" Citra mendorong Rahma keluar dari ruang rawat Afifa. Semakin lama Rahma berada di situ makin panjang drama Alvan. Citra tak tahu apa tujuan Alvan umumkan hubungan mereka. Dulu bagi Alvan punya bini macam Citra itu aib besar. Kini sok pahlawan siarkan dokter Citra itu isteri pemilik rumah sakit.


"Oh iya lupa! Kaget sih kamu ini nyonya Alvan. Ok deh! Pamitan.." dokter Rahma tak bisa bergosip lebih lama karena waktu pertukaran shift para dokter tiba. Sebelum pulang Rahma wajib serahkan tugas pada dokter pengganti untuk lanjutkan tangani pasien.


Berbeda dengan rumah sakit lain. Di rumah sakit lain dokter spesialis tidak kena shift malam. Mereka hanya bertugas siang hari. Di tempat Citra kerja berbeda metodenya. Semua dokter wajib gantian shift walaupun dia dokter spesialis. Ini untuk menjaga adanya urgensi. Dokter umum tetap ada namun tetap ada dokter spesialis.


Rahma meninggalkan ruang rawat Afifa dengan tergesa. Jam bergerak cepat tak menanti orang malas. Maju tak pernah mundur. Yang malasan makin tertinggal jauh.


Citra ambil alat ukur suhu. Masih panas namun tak sepanas tadi. DBD tak bisa sembuh dalam satu dua hari. Penyembuhan DBD butuh fase demi fase. Biasa hari ketiga akan mengalami fase kritis. Waktu itu panasnya akan capai puncak. Di situlah butuh perhatian ekstra.


"Gimana? Sudah turun?" Alvan berdiri di belakang Citra ikut lihat hasil dari alat ukur digital itu.


"Sudah mendingan! Bapak mau makan silahkan!" Citra melengos menjauhi Alvan. Risih dekat-dekat dengan sumber penyakit. Takutnya tertular virus menyebalkan.


"Kamu yang harus makan! Aku sudah makan bubur belanga langsung. Lidahku terbakar sampai tebal gini?" Alvan menjulurkan lidah yang memerah. Citra lirik sekilas pakai ekor mata. Lidah itu memang terbakar kena bubur panas. Rasanya pasti perih.


"Biar aku cari obat dulu!" Citra berniat keluar cari obat untuk lidah Alvan.


"Tak usah...kamu makan dulu! Lalu pergi bersihkan badan. Anak kita sedang sakit rentan terserang penyakit lain. Lebih baik kau ganti pakaian. Untuk berjaga-jaga." Alvan sok bijak nasehati Citra.


Citra tak membantah. Apa yang dikemukakan Alvan itu fakta. Afifa sedang kurang sehat. Imun tubuhnya sedang menurun. Gampang terserang virus lain.


"Aku tak bawa baju!" ketus Citra tak bersahabat.


"Aku suruh Untung beli pakaian untukmu. Mungkin dia lagi dalam perjalanan kemari."


Citra merasa tak enak harus merepotkan laki yang cuma suami dalam kertas. Dalam kehidupan nyata mereka bukan siapa-siapa. Alvan punya keluarga yang harus dijaga perasaan. Citra tak mau menyakiti hati perempuan lain karena tahu bagaimana rasa sakit dibodohi.


"Tidak usah pak! Aku pulang saja kalau Azzam dan Ance sampai sini. Aku bisa pulang sendiri." ucap Citra tegas tak mau tanam budi pada Alvan. Hutang budi paling sulit dibayar.

__ADS_1


Alvan tergugu saksikan kegigihan Citra menolak semua kebaikannya. Sejauh mana sakit hati Citra padanya sampai anggap dia orang paling menjijikkan. Hati Alvan tercubit terasa perih diabaikan Citra. Sayap Citra telah tumbuh sudah mampu terbang tinggi ke langit capai tujuan. Begini rasanya tak dihargai.


Bertahun Citra kecap rasa itu kini giliran Alvan mencicipi rasa tak sedap itu. Sungguh tak enak.


"Ini sudah malam. Tak baik seorang wanita jalan sendiri."


"Dari dulu aku jalan sendiri. Tak dibantu orang lain maka tak ada yang perlu berubah. Bapak boleh pulang kalau keberatan berada di sini."


"Ya ampun Citra...kapan aku ada bilang keberatan? Afifa darah dagingku. Dia sakit aku juga sakit. Aku tak menolak kehadiran anak-anak. Malah aku bersyukur punya anak darimu. Darah dagingku. Kau tahu masalahku. Kecil kemungkinan dapat keturunan lagi. Apa aku harus menolak anakku?"


"Cis...jangan harap aku ijinkan kamu bawa anak-anak! Bapak boleh melihat mereka tapi tak boleh kenalkan mereka pada keluarga bapak. Ini demi keselamatan mereka!" nada Citra semakin sinis.


Alvan tahu maksud Citra kalau Alvan tak boleh kasih tahu keluarganya tentang anak-anak karena takut pada Karin. Wanita macam Karin sanggup lakukan apa saja untuk jaga wilayahnya tak kena usik.


"Mereka berhak hidup layak. Mereka pewaris Lingga. Kau tak ingin kaburkan status anak-anak kan?"


"Aku tak ingin warisan apapun. Aku bisa besarkan mereka walau tidak mewah. Anakku sudah biasa hidup sederhana. Kami tak minta apapun dari bapak asal bapak biarkan kami hidup tenang." ujar Citra pelan agar Alvan paham maksud hatinya. Sedikitpun Citra tak harap warisan dari keluarga Lingga. Jangan pikir harta bisa butakan mata hati Citra.


"Citra...kenapa kau berubah keras?" desis Alvan takjub perubahan Citra. Wanita ini berubah kuat tak seperti dulu lemah gampang diinjak.


"Aku berubah karena terlalu kenyang ditekan. Aku harus kuat demi anak-anak. Mereka adalah denyut jantungku. Mereka tak ada maka jantungku akan berhenti."


Alvan terdiam tak mampu berbalas kalimat dengan Citra lagi. Alvan memang salah telah lewatkan banyak kesempatan berharga demi seorang wanita tak punya moral. Sejuta kali menyesal takkan kembalikan masa yang telah hilang. Alvan cuma punya satu jalan yaitu biarkan Citra dan anak-anak hidup tenteram. Untuk bayar penyesalan Alvan.


"Baiklah! Tapi janji ijinkan aku menjenguk mereka termasuk Afisa!" Alvan mundur cari strategis baru curi hati anak-anak. Kuncinya pada anak-anak.


"Terima kasih pengertian bapak. Apa bapak tak mau pulang? Kasihan Kak Karin! Dia juga butuh bapak."


"Tidak perlu kau risaukan. Di rumah ada pembantu. Malam ini aku di sini jaga Afifa."


Citra tidak tanya mengapa Alvan rela tinggalkan bidadari kesayangan untuk Afifa. Mungkin Alvan sadar dia takkan bisa punya anak lagi maka ingin dekati Afifa. Citra takkan segampang itu serahkan kedua anaknya pada Alvan. Karin bukan sosok bisa diajak bicara baik-baik. Citra kenal sifat buruk Karin bila sedang kalap. Tak ada logika dalam benak wanita itu. Segala cara dihalalkan asal dia puas.


Citra masuk ke kamar mandi sangat mewah. Tak jauh beda dengan dekorasi hotel bintang lima. Ada bathtub dan shower serta kloset duduk otomatis. Terlalu berlebihan untuk orang sakit.


Citra bersihkan wajah dan cuci tangan termakan kata Alvan kalau dia harus bersih dari kuman agar tak tularkan pada Afifa.


Citra gunakan handuk yang tergantung di hanger untuk keringkan wajah. Handuk rumah sakit dipastikan steril bebas bakteri. Citra tahu kinerja pegawai rumah sakit yang ketat. Rumah sakit swasta pelayanan jauh lebih bagus dari RS negara. Pasien harus rogoh kocek agar dapat di rawat di rumah sakit yang baik. Biaya rumah sakit swasta jauh lebih mahal karena pemilik butuh dana besar untuk bayar biaya operasional.


Citra keluar dari kamar mandi rasakan lebih segar. Cuma sayang Citra tak bawa baju ganti untuk bersihkan diri lebih sempurna. Citra menolak niat Alvan beli baju ganti agar tak makin tanam budi pada laki itu.


Alvan yang duduk di sofa main hp melirik Citra sekejab. Wanita tetap cantik tanpa make up. Cantik alamiah. Kenapa baru sekarang mata Alvan terbuka lihat kelebihan Citra. Ke mana laki itu simpan mata beberapa tahun berselang. Citra muda dan tetap seperti anak SMA. Karin seumuran Alvan. Tingkatan sangat jauh dengan Citra.


"Kau tak makan? Jaga kesehatan biar kuat jaga Afifa! Kalau kau sakit gimana Afifa dan Azzam?" tegur Alvan harap Citra tidak lupa jaga diri sendiri. Bukan cuma Afifa butuh maminya. Azzam juga butuh perhatian maminya.


"Iya pak!" Citra akui kebenaran kata Alvan. Dia harus sehat untuk rawat Afifa. Kesehatan Afifa segalanya bagi Citra. Susah payah besarkan anak tentu dengan harapan semua anaknya berhasil jadi orang.


Alvan buka makanan yang dibawa Untung. Ada nasi putih plus aneka lauk dan nasi goreng. Semua tampak bangkitkan selera.

__ADS_1


__ADS_2