ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Makan Keluarga


__ADS_3

Selvia tertawa tatkala Alvan sebut anak. Setahu Selvia anak Alvan telah tiada. Karin keguguran. Tapi Selvia tak mungkin buka kartu telah serang Karin di rumah sakit. Alvan pasti ilfil padanya mengusik isterinya yang sedang sakit. Selvia harus main cantik untuk raih simpati Alvan. Tentu tetap tampilkan Selvia yang baik dan elegan.


"Heru tertarik pada salah satu dokter di sana. Kau harus bantu dia dapatkan dokter itu. Katanya cantik mirip boneka. Heru baru kali ini menggilai wanita setelah bininya meninggal di tangan orang Arab itu. Perempuan murahan itu pantas mati. Lari dengan laki lain."


Alvan menahan nafas agar tak sembur hawa naga berapi dari mulut. Tidak ditebak Alvan tahu dokter mana yang ditaksir Heru. Di rumah sakit itu siapa lagi kalau bukan Citra yang imut mirip boneka.


Enak aja naksir bini orang omel Alvan dalam hati. Alvan sendiri belum berhasil merebut Citra kembali ke pangkuan. Mana mungkin Alvan beri akses pada Heru dekati Citra. Mimpi di siang bolong mau curi Citra darinya.


"Jangan menghujat orang yang sudah meninggal! Aku tak bisa bantu Heru. Lingga tetap pemegang saham tunggal Health Center."


"Kalau gitu kau harus punya anak secepatnya!" ujar Selvia dengan gaya manis bikin laki yang lihat jamin meleleh. Cuma sayang hati Alvan sudah penuh oleh bayangan Citra. Tidak tersisa tempat untuk tampung bayangan lain.


"Itu gampang! Aku pasti punya anak."


"Amin... tolong pertimbangkan lagi permohonan Heru! Dia cerita tadi pagi dia jadi pasien pertama dokter cantik itu. Orangnya sinis bikin Heru makin jatuh cinta. Heru tak dianggap. Coba bayangkan seorang Heru Perkasa dicueki seorang dokter kecil? Ini bener gila! Ratusan wanita antri ingin dipeluk Heru, dia malah usir Heru. Aku penasaran pada dokter itu." cerita Selvia membayangkan bagaimana sosok dokter yang digilai Heru. Pasti secantik Miss universe baru sanggup rontokkan iman Heru.


Alvan pingin tertawa terbahak ingat nada sinis Citra bila sedang menyindir orang. Alvan sudah cukup kenyang disindir Citra. Belum lagi mulut ember Azzam penuh hawa beracun.


"Tak usah ganggu para dokter. Bad mood akan pengaruhi kinerja mereka. Bilang ke Heru jangan usik dokter aku!" Alvan sengaja tekan kata dokter aku agar Selvia peka dokter itu milik Alvan.


"Dokter kamu? Emang kau pemilik dokter kecil itu? Berapa dokter milikmu di rumah sakit?" Selvia berondongi Alvan pertanyaan bertubi-tubi. Dikira Alvan sedang bercanda mengaku Citra itu miliknya. Soalnya selama ini belum pernah dengar Alvan punya affair dengan dokter. Laki itu minus skandal, justru bininya selalu bangun skandal memalukan.


"Aku mau pulang. Di rumah sudah ada yang nunggu." Alvan sengaja hindari pertanyaan Selvia mengatakan akan segera pulang.


"Karin sudah pulang dari rumah sakit?" Selvia kaget Alvan katakan di rumah sudah ada yang nunggu. Artinya Karin sudah pulih. Secepat itu Karin sehat?


"Belum...Karin masih dirawat! Beberapa hari lagi juga pulang."


"Lantas siapa menunggumu di rumah? Kau punya stok simpanan lain?"


"Yang nunggu keluarga aku dong!" ujar Alvan ambigu biar Selvia berpikir sendiri. Siapa yang tunggu Alvan.


"Oh...om dan Tante ya! Salam dari Selvia ya! Kapan-kapan aku pasti berkunjung ke rumah beliau. Silahturahmi sama orang tua!"


"Akan disampaikan! Ok...aku beres mau pulang." Alvan merapikan meja kerja sebelum tinggalkan kantor. Perangkat komputer di off untuk hindari pemborosan listrik. Kalau semua perangkat masih on bisa bengkak biaya listrik. Yang bisa hemat hendaknya memang hemat. Selagi ada tak boleh lupa masa paceklik.


Selvia ikut bangkit seakan ingin ikut Alvan pulang ke rumah. Gaya elegan Selvia tidak lekang dari bahasa tubuh Selvia. Gaya ini yang telah membius puluhan pria. Di usia menjelang tiga puluh Selvia termasuk awet karena pengaruh perawatan salon kecantikan mahal. Selvia tidak segan gelontorkan sejumlah uang untuk menjaga penampilan tetap prima. Itu lumrah bagi wanita berkantong tebal. Coba bagi wanita berkantong tipis bahkan tak punya kantong samasekali. Paling banter pakai bedak dingin produk dapur sendiri. Giling beras jadi tepung buat maskeran.


Alvan dan Selvia berjalan beriringan sampai ke depan lift untuk turun ke lantai dasar. Kali ini Alvan harus bawa mobil sendiri berhubung Untung sudah pergi menjemput Azzam dan Afifa di sekolah.


Sebelum pulang Alvan meneleponi Andi agar ikut dia pulang. Mereka searah jadi Alvan tak keberatan ajak Andi pulang bersama. Dengan adanya Andi di mobil Alvan punya alasan singgah di rumah Citra.


Selvia ikut sampai ke bawah pelataran parkir berharap ada keajaiban Alvan mengundangnya ikut ke rumahnya. Selvia tak tahu Alvan bukan pulang ke rumah sendiri melainkan rumah Citra.


Alvan tidak mungkin mengajak Selvia jumpa Citra. Alvan belum sempat cari tahu apa tujuan Selvia mengancam Karin. Karin saja berani diancam. Bagaimana kalau tahu Citra termasuk salah satu wanita Alvan. Bisa-bisa Citra dalam bahaya.


"Kau mau langsung pulang?" tanya Alvan lihat Selvia belum bergerak ke arah mobil sendiri.


"Pulang juga sendirian! Kau kan tahu aku tinggal sendirian di apartemen. Kadang aku kesepian." kata Selvia apatis.

__ADS_1


"Cari pendamping hidup dong! Jomblo jangan kelamaan!"


"Sudah ada tapi masih tahap penjajakan."


"Semoga lancar. Kuharap kau dapat jodoh baik."


"Amin..."


Dari jauh tampak Andi berlari kecil mengejar Alvan. Gaya feminim Andi belum hilang total. Berlari saja tangan masih ngondek ke atas seperti hendak terbang ke langit. Alvan melotot tak senang Andi kembali mirip banci kalengan.


Andi tiba di depan Alvan dengan nafas terengah-engah. Laki feminim itu mengatur nafas biar lancar sebelum kena semprot bos juteknya. Alvan jutek kalau Andi bertingkah aneh. Baru diajar sudah lupa.


"Kenapa tuh tangan? Mau dipaku ke langit?"


Andi melirik kedua tangannya yang masih mengacung ke atas. Terlalu semangat diajak pulang sama bos hingga lupa pelajaran utama hari ini. Pantang ngondek. Andi menurunkan tangan merapat ke pinggul kiri kanan posisi berdiri di tempat.


"Maaf pak!"


"Maaf! Ingat Azzam! Kau mau dikalahkan adik kecil? Ayok pulang!" bentak Alvan tidak keras.


"Iya pak! Maaf..." Andi memelas minta dikasihani. Alvan menghela nafas tidak tega pula. Mendidik Andi yang terlanjur jiwai karakter cewek butuh kesabaran dan waktu panjang. Tidak mungkin sehari dua hari bisa merubah laki itu.


"Iya Alvan... kasihan anak ini! Siapa namamu dek?" Selvia turut bantu Andi redakan amarah Alvan. Selvia sengaja cari muka sadar Andi orang dekat Alvan. Ingin dekati Alvan harus dekati orang sekeliling Alvan dulu. Selvia yakin Andi orang penting dalam hidup Alvan.


"Ya sudah ..naik ke mobil!" Alvan buka pintu mobil pakai kunci remote. Bunyi tuit tanda pintu susah terbuka. Andi tanpa malu masuk ke mobil Alvan. Alvan buka pintu sebelah kanan masuk untuk pegang stiur melajukan mobil.


"Hati-hati di jalan!" Selvia pura-pura ramah dengan hati sedih. Harapan Selvia diajak Alvan pulang ke rumahnya. Jumpa keluarga Alvan merupakan langkah pertama masuk ke kehidupan Alvan. Selvia yakin bisa singkirkan Karin secepat mungkin. Tanpa Karin jalan menuju ke Alvan makin terbuka.


Alvan fokus kendarai mobil menuju rumah Citra. Alvan tak sabar ingin jumpa pujaan hati dan pengisi hati. Besok Citra akan berangkat jauh. Alvan tak rela namun tak berdaya melawan panggilan tugas.


"Andi...kau telepon kak Citramu agar bersiap. Kita makan di luar saja! Ajak ibu dan kakakmu sekalian! Kita makan di restoran." kata Alvan tanpa alihkan mata dari jalanan.


"Benarkah?" mata Andi bersinar ceria diajak makan di restoran yang pasti mahal. Dinilai dari keuangan Alvan tak mungkin ajak mereka makan di warteg. Dasi Alvan bisa jatuh bila ajak keluarga makan di warteg pinggir jalan.


"Aku lagi bercanda?"


"Oh tidak pak! Segera kutelepon! Kak Citra ya!" Andi keluarkan hp dari saku celana mencari nomor Citra. "Halo...ini Andi! Koko? Mami mana?"


"Mami mandi...ada apa kak Ancur?"


"Woi ular beracun...mau disambel mulutnya? Bilangin mami kalau papi suruh bersiap! Kita makan malam di restoran mahal. Ajak nenek dan Tante Nadine kalian. Dandan yang rapi ya!"


"Emang harus pergi?"


"Harus dong anak kecil! Tak baik menolak rezeki lho! Kak Andi kan belum pernah makan di restoran mahal. Pingin gitu lho!"


"Iya deh Koko bilangin! Besok mami mau pergi tugas ke daerah gempa. Koko sih bangga punya mami punya rasa toleransi tinggi. Tuh Amei mewek minta ikut!"


"Ya Allah! Ke daerah gempa? Nggak banget! Di sana ada apa? Listrik pasti mati, rumah hancur. Tidur di tenda kali ya! Hp apa lagi. Ada signal nggak?" ngoceh Andi seakan ngerti amat situasi di lokasi dampak gempa.

__ADS_1


Alvan termenung mengakui kata-kata Andi seratus persen benar. Alvan makin tak rela Citra terjun ke daerah dampak gempa. Berapa banyak masalah bakal muncul dari sana?


"Kak..itu tugas mami! Jangan lebay deh! Mami pernah ikut kerja bakti di Wuhan waktu muncul virus Covid 19 pertama kali. Itu lebih mengerikan tapi yang namanya kita berniat bersih Allah selalu lindungi kita. Koko dukung mami!"


"Ya ampun nih bocah! Kak Andi bayangin aja udah lemes! Lhu seenak udel semangatin nyokap lhu! Apa tak kasihan mami diserbu satu batalyon nyamuk genit?"


"Kalau gitu kak Ancur ikut saja gantiin mami jadi pendonor darah buat vampir cilik itu! Darah kak Ancur manis sepet. Pasti jadi favorit."


"Amit-amit nih bocah! Mulutnya mau dimerconi ya! Kak Andi mau omong sama mami lhu tak boleh berangkat! Kak Andi takut balik sini tubuh mami bengkak kena serangan nyamuk Aedes. Omong di rumah nanti! Habis pulsa kak Andi! Daaaa.."


Andi menyimpan hp lalu menatap Alvan dari samping. Andi sedang berpikir apa Alvan tahu Citra akan pergi ke daerah rawan bahaya? Mengapa bosnya tak larang Citra berbakti di daerah berbahaya. Mungkinkah pola pikir Alvan sama dengan Azzam dukung Citra jadi relawan?


"Pak...kak Citra mau berangkat ke lokasi gempa!" kata Andi hati-hati.


"Sudah tahu...Citra tak bisa mengelak dari tugas. Dia punya tanggung jawab terhadap pekerjaannya. Kau harus belajar dari kak Citramu. Dia setia pada tugasnya. Tidak semua orang punya kesempatan bertugas. Kau juga gitu! Tak ada yang bisa bantu kamu kalau kau sendiri tak mau usaha. Mau hitam atau putih bergantung pada prinsipmu."


Andi paham Alvan sedang mendidik menjadi manusia lebih baik. Andi berjanji dalam hati akan berusaha berubah sesuai harapan Alvan. Alvan sudah berbaik hati mengangkatnya dari jurang kehancuran. Andai Andi bertahan dengan gaya feminim maka seumur hidup Andi akan terjebak dalam ilusi kosong. Berangan jadi wanita tulen cuma impian kosong tak pernah terwujud.


"Iya pak! Andi akan usaha belajar dari ketegaran kak Citra. Bapak jangan segan ketok Andi kalau khilaf!"


"Itu janjimu lho! Aku sudah bikin tiang gantungan di rooftop. Kalau kau berulah Kujamin kau akan jadi ikan asin. Kering dan bau."


Andi bergidik membayangkan ancaman Alvan. Dijemur sampai kering di rooftop pastilah menyiksa. Berapa lama dijemur baru bisa sekering ikan asin. Sebulan atau setahun. Masih adakah Andi pecicilan kalau sempat dihukum Alvan?


Andi meraba lehernya merasa kerongkongan kering kerontang tanpa air. Membayang saja terasa haus apa lagi benaran di jemur. Bisa mati kehausan sebelum kering.


"Di rooftop panas ya pak?" tanya Andi linglung.


"Tidak panas cuma menyengat!Telor ceplok di sana matang kok!" sahut Alvan tanpa melirik Andi. Andi makin horor ketakutan gosong kena pancaran sinar Surya. Lebih menakutkan dari film hantu suster ngesot.


"Andi janji takkan ke rooftop. Cukup temani kak Wenda di kantor."


"Bagus. Gimana kerjamu hari ini?"


"Masih belajar pak! Oya pak...Andi lihat ada satu data tidak sesuai dengan data di file dan di komputer!"


"Maksudmu?"


"Andi tak sengaja cocokkan file di map kak Wenda dengan data di komputer. Di map tertera uang masuk tiga milyar sekian tapi di komputer tersimpan cuma dua milyar lebih. Tadi Andi pikir file lain tapi setelah Andi cocokkan tanggalnya semua sama. Di situ ada teken bapak lho!"


"Maksudmu aku teken terima uang tiga milyar lebih tapi yang terdata cuma dua milyar lebih. Begitu?"


"Lebih kurang begitu pak! Bapak harus cek di bagian keuangan. Aku belum berani tanya kak Wenda karena belum omong sama bapak. Apa mungkin kak Wenda tidak tahu ada kesalahan fatal dalam pembukuan ini?" tanya Andi polos.


"Besok kita panggil Untung dan Wenda. Mereka yang urus semua ini. Mereka berdua harus tanggung jawab. Kau harus teliti semua laporan sebelum sampai ke tanganku. Di perusahaan sangat banyak pekerja. Kita tak tahu mana yang baik dan buruk."


"Andi bersumpah akan setia pada bapak. Satu sen uang bapak tetap hak bapak kecuali bapak ikhlas beri ke Andi."


"Aku percaya padamu!"

__ADS_1


"Terima kasih pak! Andi akan berusaha menjadi pembantu setia macam kak Untung."


__ADS_2