ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Nasib Karin


__ADS_3

Karin dibawa ke ruang lain untuk dilakukan pemeriksaan lebih detail. Alvan dan Untung terpaksa menanti di luar tak diijinkan masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Alvan habis akal harus melakukan apa terhadap Karin. Otak Alvan buntu tak bisa diajak kerjasama hasilkan satu ide terbaik.


Alvan melirik jam tangan mahal di tangan menunjukkan pukul sembilan malam. Apa Citra dan anak-anak sudah tidur? Alvan sudah berjanji pada Afifa akan datang malam ini. Bisa dibayangkan betapa kecewa putri cantik itu. Belum apa-apa Alvan sudah ingkar janji. Apa kelak Afifa akan tetap percaya padanya?


Alvan keluarkan hp meneleponi Citra agar tak terjadi salah paham lebih dalam antara mereka. Dasarnya Citra sudah tak percaya pada Alvan, sekarang umbar janji pada anak seketika itu juga ingkar.


"Halo... assalamualaikum..." ujar Alvan tersambung nomor Citra.


"Waalaikumsalam..."


"Anak-anak sudah tidur?"


"Belum...lagi main sama Andi! Main monopoli...ada apa pak?"


"Aku mau minta maaf tak bisa datang malam ini."


"Oh tidak apa...kami di sini tak harap bapak datang! Urus saja urusan bapak. Anak-anak lupa tuh pernah dijanjikan!"


Alvan menangkap nada sinis dalam alunan irama suara Citra. Sangat sinis mengucilkan nilai Alvan di mata Afifa dan Azzam.


"Karin masuk rumah sakit. Anaknya bermasalah."


"Oh...apa sudah ditangani?"


"Sedang diperiksa. Kau mau mengerti posisiku?"


"Kenapa aku harus mengerti? Antara kita tak ada hubungan apapun. Bapak urus saja keluarga bapak. Tanpa bapak hidup kami juga bahagia."


"Citra...tak bisakah kau ramah sedikit padaku? Aku lagi bingung kau tambah beban di pundak."


"Itu urusan bapak! Nasehatku hubungi ayah biologis anak Karin. Baik buruk itu anaknya! Dia mesti tahu apa yang sedang terjadi. Satu lagi pak! Anak itu tak bersalah, jangan judge anak sebagai terdakwa! Dia juga korban keserakahan nafsu manusia bermoral tipis. Bapak jangan ganggu keluarga kami lagi! Kita sudah punya kehidupan masing-masing."


"Apa aku harus hubungi ayah anak itu? Bukankah mencoreng muka aku?"


"Kalau bapak tak mau merasa bersalah di kemudian hari hubungi ayahnya. Kita pikir kemungkinan terburuk. Bisa saja bapak dituduh iri hati membunuh anak dalam kandungan Karin. Hindari masalah selagi masih ada kesempatan. Muka tercoreng bisa dibersihkan. Hati terluka tak ada obat."


Alvan tergugu diserang Citra dari samping. Citra menasehati sekaligus menyampaikan luka di hatinya belum sembuh walau sembilan tahun berlalu. Citra mungkin masih dendam padanya atas semua hinaan yang dia berikan di masa lalu. Alvan kelewat angkuh kerdilkan nilai Citra yang hanya anak seorang supir.


"Terima kasih nasehatmu! Tolong sampaikan maaf papi untuk Afifa! Besok aku akan usaha datang."


"Tidak perlu. Urus saja Karin sampai fit. Semoga cepat sehat. Hubungi dokter Hans!" Citra mematikan telepon sepihak.


Untung melirik Alvan pura-pura tak dengar percakapan antara Alvan dan Citra. Rasa kagum Untung pada Citra makin menebal. Citra tidak seperti wanita lain mengejar Alvan. Padahal di tangan Citra ada kartu truf bisa menjerat Alvan kapan saja. Citra justru abaikan kartu mati Alvan tidak tertarik masuk ke dalam kancah percintaan Alvan. Alvan tidak berharga sama sekali di mata Citra. Pasaran Alvan terhempas hingga ke titik nol.


Alvan menyimpan ponsel ke saku seraya mengusap wajah yang bak benang kusut. Kegalauan Alvan berlipat ganda. Persoalan Karin belum dapat titik terang kini dicueki Citra. Ternyata tidak gampang jadi suami baik juga papi idaman anak.


Ada orang suka poligami sampai beberapa isteri. Dua isteri saja bikin Alvan kelimpungan. Satu pembuat onar dan satunya jadikan dia orang asing. Bagi Citra mungkin Alvan ini alien dari luar angkasa. Makhluk mitos hanya ada dalam imajinasi anak-anak. Ada tapi tak berwujud.


Alvan teringat kata-kata Citra memintanya hubungi ayah biologis anak Karin. Artinya Alvan harus hubungi papanya kasih tahu kondisi terkini kandungan Karin. Benar kata Citra. Andai terjadi sesuatu pada kandungan Karin bisa jadi Pak Jono mengira Alvan sengaja membunuh anak Karin karena gelap mata. Otomatis akan timbul dendam baru di hati pak tua itu.


Senakal apa Pak Jono tetap ayah kandung Alvan. Alvan tidak membenci Pak Jono hanya benci sifat buruk papanya gila perempuan. Pakai alasan dijebak padahal memang itu maunya.

__ADS_1


Alvan menghela nafas dalam-dalam sebelum ikuti saran Citra. Beri kabar pada musuh dalam selimut merupakan tugas terberat Alvan. Hebatnya musuh itu bapak kandungnya. Bapak bejat bangsa karnivora. Pemakan segalanya.


Tangan Alvan bergetar sewaktu klik nomor kontak Pak Jono. Semoga anjuran Citra adalah solusi baik menunjukkan jiwa kesatria Alvan.


"Halo...papa ke rumah sakit sekarang!" Alvan to the point begitu tersambung pada Pak Jono.


"Siapa sakit Van?"


"Karin... kandungannya bermasalah! Sebagai bapak anak itu papa harus tahu."


Mata Untung terbelalak dengar kata-kata Alvan. Berita ini terlalu pedas di telinga. Setan apa merasuki Pak Jono dan Karin tega khianati Alvan. Pantas saja Alvan uring-uringan berapa hari ini. Tak disangka Alvan memendam kepedihan mendalam. Siapa tak sakit hati dikhianati orang terdekat. Parahnya yang lakukan papa kandung sendiri. Untung geram serta kesal pada Karin. Kapan wanita itu akan berubah jadi wanita bisa diandalkan Alvan. Pemabuk, tukang hambur uang, kini dapat predikat baru tukang selingkuh. Karin pantas dapat piala sebagai wanita paling kurang ajar sedunia.


"Ada apa dengan bayinya? Kau paksa dia aborsi?"


"Pak Jono yang terhormat.. Karin itu pemabuk, tiap malam gonta ganti pasangan. Apa aku yang harus tanggung jawab? Anaknya tidak berkembang menyebabkan infeksi. Datang saja dengar penjelasan dokter. Satu lagi. Aku tak sebejat kalian. Aku masih punya hati nurani. Terserah mau datang atau tidak. Aku sudah kasih tahu."


"Alvan... kau makin kurang ajar pada papa! Aku ini papamu. Punya sopan santun dikit."


"Oya? Pantaskah papa keluarkan kalimat ini? Yang kurang ajar siapa? Yang main gila siapa? Asal papa tahu hanya iblis sanggup mangsa anak sendiri."


"Alvan...jangan kelewatan! Papa tahu papa salah. Kalau waktu bisa diputar papa juga mau balik tak pernah ada kejadian ini. Tapi Karin terlanjur hamil. Papa bisa apa?"


"Bisa apa? Bisa cari kesempatan bikin anak lain. Sudahlah! Alvan pusing." Alvan matikan ponsel tiru gaya Citra tidak mau tahu perasaan orang di seberang sana.


Untung iba pada Alvan. Sudah jatuh tertimpa tangga. Tidak tanggung-tanggung tangganya terbuat dari besi baja. Beratnya berton-ton menimpa Alvan sampai babak belur. Tapi sebagai seorang asisten Untung tak berhak ikut campur urusan rumah tangga. Ranah Untung hanya soal pekerjaan kantor dan sedikit masalah pribadi. Yang ribet kayak gini Untung tak berani melangkah masuk. Yang dipertaruhkan sangat gede. Salah-salah kehilangan pekerjaan.


Alvan ikuti semua saran Citra. Alvan bermaksud meneleponi Hans dokter kandungan berpengalaman. Alvan lebih percaya pada hasil pemeriksaan Hans dibanding dokter lain. Hans mana berani gegabah bila menyangkut urusan keluarga Lingga. Cari makan atas nama Lingga. Ceroboh berakhir kehilangan segalanya.


"Halo...maaf ganggu Hans!"


"Urgent banget! Datang dan lihat Karin!"


"Kenapa dia?"


"Yang dokter aku atau kamu? Aku suruh kamu datang periksa dia." Alvan hilang kontrol. Bawaan pingin umbar amarah saja.


"Sori bro! Sewot amat! Kenapa tak besok saja? Besok kita cek semua." Hans belum tahu Karin demam tinggi. Dokter ini masih mengira Alvan ajak Karin ke rumah sakit hanya sekedar cek up biasa.


"Karin demam tinggi dodol! Kau pikir aku suka keliaran di rumah sakit malam gini?"


"Oh maaf! Kukira cek biasa. Minta dokter jaga turunkan panasnya dulu. Aku otw..."


"Cepat!" bentak Alvan berang.


"Iya... temperamen amat!"


Alvan menyudahi sambungan telepon dengan dokter tak peka. Andai tak ada yang urgent tak mungkinlah Alvan bawa Karin cek up malam gini. Dokter spesialis sudah pada pulang. Alvan bukan tak tahu hal itu.


Selanjutnya Alvan berdiam diri. Laki ini tak bisa berbuat apapun membantu Karin. Kini semua berpulang pada kebesaran Allah. Kandungan Karin bisa dipertahankan atau harus disudahi. Alvan tak punya kuasa menjadi penentu.


Alvan jahat sekali bila berdoa agar anak itu tak punya harapan lihat dunia. Benar kata Citra, anak itu tak berdosa. Yang salah orang yang membuat dia ada. Anak itu tak minta harus hadir di antara kekacauan para orang tua. Tapi dia terlanjur ada maka mau tak mau harus diakui.

__ADS_1


"Maaf pak!" Dokter yang menangani Karin sudah keluar dari ruang USG. Dokter muda itu membuka masker sebelum bicara dengan Alvan. Ntah dia sudah tahu siapa Alvan atau karena hargai keluarga pasien.


"Ya dok? Gimana?" buru Alvan cari tahu kondisi Karin.


"Sama seperti dugaanku. Janin dalam kandungan ibu tadi sudah meninggal. Kondisinya hancur. Haris segera dioperasi agar tak merusak dinding rahim."


"Maksudnya?" Alvan belum ngerti maksud dokter itu. Maklumlah pebisnis diajak diskusi soal kesehatan. Tidak nyambung.


"Begini pak! Kita belum tahu apa penyebab janin dalam kandungan ibu ini rusak. Istilahnya janin itu sudah meninggal dalam kondisi hancur. Maka itu ibu demam karena ada sedikit infeksi pada rahim. Harus diambil tindakan operasi keluarkan janin yang meninggal."


Alvan melongo bingung baru tahu janin dalam perut bisa meninggal dalam kandungan. Bukankah Karin baru cek up bersama orang tuanya sebelum kejadian? Mengapa tiba-tiba sudah lain cerita. Apa waktu itu dokter spesialis kandungan tidak detail cek kandungan Karin.


"Tapi dia baru cek up tak lama ini. Semua ok."


"Begini pak! Mungkin waktu cek up janin masih ada. Janin dua bulan belum ada denyut jantung maka kita tak tahu bagaimana pertumbuhan. Inilah pentingnya kontrol kandungan setiap bulan. Kita harus tahu bagaimana perkembangan janin. Ini hasil USG!" dokter itu mengeluarkan selembar foto hitam putih bikin puyeng. Alvan tak tahu apa isi foto. Yang ada hanya bayangan hitam putih.


"Di mana anaknya?"


"Ini...kalau janin sehat dia seperti biji kacang. Bapak lihat ini seperti pecahan daging! Itulah janin yang rusak. Untuk menyelamatkan nyawa ibunya kita harus kuret janinnya."


"Baiklah! Aku diskusi dengan dokter Hans dulu."


"Silahkan! Untuk sementara ibu kita bawa kembali ke IGD menanti keputusan bapak. Permisi."


Kenapa persoalan tambah ribet. Pakai acara operasi segalanya. Sesuatu yang diawali dengan niat jelek hasilnya pasti akan jelek. Karin sudah dapat hukuman setimpal dengan kecurangan yang dia perbuat. Alvan bukan mendoakan Karin tertimpa nasib sial. Karma itu datang sendiri. Siapa menanam dia akan menuai.


Alvan dan Untung balik ke bagian IGD sesuai instruksi dokter tadi. Di situ telah masuk pasien lain. Ada satu kecelakaan jalan raya dan satunya sesak nafas. Berada di rumah sakit mata disuguhkan pemandangan miris. Tak ada yang datang dengan senyum sumringah.


Yang nangis, yang merintih tahan perih, yang menjerit tahan rasa sakit. Itu jadi keseharian di rumah sakit. Alvan teringat Citra bekerja di situ. Seberapa kuat mental Citra menyaksikan pemandangan menyedihkan ini. Jiwa Citra pasti sudah terlatih kuat maka sanggup berhadapan dengan pesakitan aneka ragam.


Alvan dan Untung menunggu di bangku panjang khusus untuk keluarga pasien. Alvan hanya bisa menunggu dokter Hans beri masukkan. Nyawa Karin harus diselamatkan terlepas dari kesalahan fatalnya. Itu urusan belakangan.


"Alvan..."


Alvan mendongak. Pak Jono telah tiba menyambangi Alvan minta penjelasan. Kecemasan tak luput dari wajah pak tua itu. Wajar dia cemas karena anak di perut Karin anak Pak Jono. Calon penerus keluarga Lingga harapan Jono dan Karin.


"Cepat amat? Ngebut ya!" ejek Alvan tak bersahabat.


"Papa tak mau ajak ribut. Bagaimana kondisi anaknya?"


"Harus dikeluarkan karena sudah meninggal. Tanya langsung pada dokter saja."


Wajah keriput Pak Jono berubah pucat dengar kabar tak sedap ini. Tak disangka kabar dari Alvan bukan isapan jempol. Pertama Pak Jono mengira Alvan iseng menakuti dia. Nyatanya berita itu benar.


Tubuh Pak Jono kontan lemas nyaris jatuh ke lantai. Untung cepat menangkap papa bosnya sebelum menyentuh lantai dingin rumah sakit. Alvan melirik sinis tidak iba pada Pak Jono.


Untung mendudukkan Pak Jono di bangku agar laki tua itu tenang. Berita ini cukup memukul jiwa Pak Jono. Angan punya pewaris dari darah daging Lingga sirna sudah. Tak mungkin Pak Jono lanjutkan perselingkuhan dengan Karin untuk dapat keturunan selanjutnya. Alvan pasti akan bunuh dia.


Dokter Hans datang tak lama berselang. Tanpa menemui Alvan maupun Pak Jono dokter ini langsung lihat hasil diagnosa penyakit Karin. Sebagai dokter kandungan Hans tahu apa yang terbaik untuk pasien. Janin Karin memang tak bisa diselamatkan. Jalan terakhir harus diangkat janinnya.


Setelah yakin keterangan penyakit Karin barulah Hans menemui Alvan. Hans hati-hati menangani isteri siri Alvan. Tak boleh ada kesalahan. Sejujurnya Hans lebih suka Karin tetap hamil biar Alvan terikat pada wanita itu. Dengan demikian takkan ganggu Citra lagi. Citra bisa merdeka cari pasangan hidup lain. Di sinilah Hans akan muncul sebagai super Hero mewarnai hidup Citra dengan cinta sejati.

__ADS_1


"Maaf sedikit terlambat! Kalau kalian setuju malam ini juga Karin saya tangani. Mungkin tak perlu operasi cukup pengangkatan janin yang rusak."


"Apa penyebab janin bisa meninggal?" tanya Pak Jono curiga ada sabotase terhadap janin Karin. Pak tua ini curiga campur tangan Alvan pada kehancuran janin Karin.


__ADS_2