
Viona dan ibunya pergi tanpa diantar. Heru bersyukur akhirnya ibunya menyaksikan sendiri tingkah Viona yang seperti orang tak penuh akal. Dibilang kurang waras tahu semuanya. Manusia model apa Viona kepedean tingkat dewa. Semoga wanita itu tidak balik lagi ke sini menganggu ketenangan Citra sekeluarga.
Kini di ruang tamu Citra tinggallah dua cowok saling berseteru merebut perhatian Citra. Jauh di lubuk hati Alvan berharap Citra memang keturunan dari Perkasa. Alvan bukan memandang status Citra yang bakal membubung tinggi. Namun Alvan bersyukur kalau Citra keponakan Heru maka dia tak punya saingan berat lagi.
"Yok kita berangkat!" ajak di Citra yang tiba-tiba keluar bersama anak-anak.
Ibunya Heru terkesima melihat kecantikan anak-anak Citra. Kalau memang Citra anaknya Hamka berarti itu adalah cicit- cicitnya. Ibunya Heru ini sekali memeluk anak-anak yang cantik-cantik itu. Naluri ibunya Heru bisa merasakan bahwa itu adalah keturunannya. 80% menunjukkan bahwa Citra adalah anaknya Hamka namun namun membutuhkan pembuktian selanjutnya. Jalan terakhir adalah melakukan test DNA untuk hilangkan segala keraguan.
"Sudah siap semua?" Alvan. bertanya sambil memeluk Afifa. Afifa yang memang merindukan papinya tidak segan-segan berkelanjutan pada Alvan.
Heru menelan air ludah pahit tidak tahu sama sekali kalau Citra telah mempunyai anak. Dalam pemikiran Heru Citra hanya janda muda tanpa keluarga. Apapun yang terjadi Heru mengharapkan kebahagiaan Citra. Tidak dapat mencintai Citra sebagai pasangan tapi dia dapat mencintai Citra sebagai anak. Cintanya pada citra tidak akan berubah cuma harus dibedakan antara nafsu dan kasih sayang.
"Baiklah ayo kita segera berangkat!" timpal Heru ingin segera melaksanakan test DNA agar dia tidak dipenuhi oleh keraguan.
Heru menggandeng ibunya keluar dari rumah Citra menuju ke parkiran dimana mobilnya berhenti. Sementara itu Alvan menggandeng Afifa disusul Citra dan Azzam dari belakang. di luar sana Tokcer telah siaga menunggu kehadiran keluarga bosnya untuk membawa mereka ke rumah sakit.
Mobil Heru duluan melesat pergi. Ini menjadi pukulan berat buat Heru walau ada hikmahnya. Akhirnya keluarga Perkasa menemukan titik terang keberadaan Hamka anak mereka. Cuma sayang Hamka telah tiada.
Di mobil lain Tokcer duduk gagah sebagai supir keluarga Lingga. Azzam duduk di depan bersama Tokcer. Di belakang pasangan Alvan dan Citra beserta anak gadis mereka. Mereka betul-betul seperti keluarga bahagia pada umumnya. Suami isteri rupawan dan anak-anak cantik.
"Papi ke mana? Kok tidak pamitan sama Amei?" Afifa menuntut penjelasan Alvan pergi tanpa pamitan.
Alvan mengelus pipi Afifa lalu mengecupnya penuh kasih sayang. Pertanyaan sang buah hati diibaratkan perhatian oleh Alvan. Makin Afifa tergantung padanya makin besar kesempatan membawa Citra kembali ke pelukan.
"Papi pergi lihat Opa yang sakit! Ini kita mau ke rumah sakit lihat Opa! Nanti Afifa kasih salam sama Opa ya! Dia pasti senang jumpa Afifa."
"Sama Koko juga kan?" mata bening Afifa menatap Alvan lekat-lekat ingin menembus isi hati papinya. Afifa mau melihat ketulusan di mata Alvan.
Sayang sekali mata Alvan tertutup oleh kabut kelabu. Lelaki ini merasa sangat lelah oleh kejadian yang datang bertubi-tubi. Kalau bukan mengingat dia mempunyai anak-anak yang cantik mungkin Alvan tidak akan sanggup menahan derita dalam hati. Citra dan anak-anak nyalah yang menjadi tumpuan harapan Alvan.
"Iya bersama Koko kamu dan Cece kamu yang ada di Beijing."
Afifa sangat puas dengan jawaban Alvan. Alvan tidak melupakan Afisa yang jauh di mata.
"Terima kasih Pi... Amei sayang papi."
"Papi juga sayang sama kalian semua. Semoga setelah ini kita bisa berkumpul bersama-sama setiap hari."
"Amin..." Afifa ikut mendoakan semoga keinginan papinya terwujud.
Alvan melirik ke arah Citra yang diam dari tadi. Alvan berusaha menyelami perasaan Citra saat ini. Pemikiran apa terlintas di benak perempuan muda ini. Merasa sedang bermimpi ataupun merasakan keanehan keajaiban dunia. Dari seorang anak yatim piatu mendadak menjadi bagian dari keluarga kaya raya.
__ADS_1
Alvan menjulurkan tangan menggenggam tangan Citra untuk memberi kekuatan. Alvan berjanji akan mendampingi Citra dalam suasana apapun. Alvan tidak akan membiarkan Citra melangkah sendirian. Sekuat apapun seorang wanita tetap membutuhkan pegangan untuk menyeberangi lautan masalah. Alvan siap menjadi tongkat penyangga hidup Citra.
Citra dapat merasakan kehangatan yang diberikan oleh Alvan. Kini Citra menyadari bahwa dia membutuhkan sosok lelaki ini untuk menggandengnya menyeberangi setiap titian kemelut duniawi.
"Terima kasih pak!" bisik Citra pelan.
"Ssssttt... aku ini suamimu! Aku akan tetap melindungimu dan anak-anak aku! Izinkan aku menjadi payung bagi kalian. melindungi kalian dari derasnya hujan panasnya matahari."
Tokcer tertawa dalam hati mendengar bos galak bisa juga puitis merayu nyonya bos. Tokcer tak tahu bagaimana cerita masa lalu Alvan dan Citra. Yang Tokcer rasakan bahwa Alvan sangat menyayangi keluarganya.
"Asalkan jangan jadi payung yang rusak yang bolong sana-sini!" ujar Azzam dari depan. Nyatanya racun di mulut tajam masih banyak tersisa. Sekali disemburkan tetap berbisa.
Niat Alvan hendak romantisan dengan Citra langsung dipatahkan oleh anak lajang cantik itu. Alvan tidak merasa heran dengan kalimat yang diucapkan oleh anaknya. Alvan mulai terbiasa dengan ketajaman mulut Azzam.
"Papi berjanji akan berbuat yang terbaik untuk kalian."
"Semoga begitu adanya. Jangan gara-gara bibir bergincu rusak susu sebelanga!" Azzam mengutip pepatah dengan kreasi baru.
Kalau tidak ada Alvan dan Citra ingin rasanya Tokcer tertawa berguling-guling di jok mobil. Ada saja kelakuan Azzam untuk menyudutkan papinya.
"Emang ada pepatah yang mengatakan begitu? Kok papi tidak pernah mendengar? Yang benarnya karena nila setitik rusak susu sebelanga." Alvan meralat pepatah Azzam yang menyimpang dari kata-kata sesungguhnya.
Azzam tidak menjawab sengaja membuat Alvan berpikir ulang apa makna dari kalimatnya. Bukan Azzam namanya kalau tidak membuat masalah.
"Oh Tante tadi... itu hanya salah paham. Tante itu tidak tahu kalau Afifa dan Azzam punya papi. Papi tidak akan biarkan orang itu datang mengganggu kalian lagi. Afifa tenang saja ya!"
"Iya pi jangan biarkan dia datang lagi! Amei takut kali sama tante yang galak itu."
"Papi sudah datang. Tak seorangpun boleh mengganggu Afifa dan Azzam serta mami." Alvan memeluk Afifa erat-erat menyesal tidak berada di tempat waktu kejadian terjadi. Alvan makin tak sanggup jauh dari keluarganya.
Alvan tak tahu berapa banyak Citra menanggung derita sendirian. Hari ini di depan matanya terjadi insiden serangan babi buta wanita Heru. Alvan tidak peduli apa hubungan Heru dengan Viona. Kalau Viona berani usik Citra lagi Alvan takkan tinggal diam.
Tak terasa mereka sampai juga di rumah sakit. Heru sudah menanti di halaman perkiraan bersama ibunya. Heru duluan tiba karena mobilnya melaju duluan dari rumah Citra.
Ibunya Heru mendekati Afifa dan Azzam. Perempuan tua ini ingin sekali memeluk anak-anak Citra yang sangat cantik. Ibunya Heru tidak ragu kalau itu adalah keturunan keluarga Perkasa.
"Sini sayang! Biar nek Uyut pegang kamu biar tidak jatuh!" ibunya Heru menyentuh tangan Afifa. Mata bening Afifa menatap ibunya Heru dengan takut-takut. Afifa melihat ibunya Heru datang bersama Viona marah-marah pada maminya. Wajar kalau Afifa takut padanya.
Afifa berlari ke belakang Alvan minta perlindungan. Afifa tak mau disentuh oleh ibunya. Ada sedikit kekecewaan di wajah perempuan tua itu. Tapi dia percaya bahwa dia memiliki banyak waktu untuk mencuri perhatian cicit-cicitnya itu.
"Bu maafkan Afifa! Dia masih kecil belum mengerti apa-apa." Citra merasa tak enak hati Afifa menolak sentuhan dari ibunya Heru. Kalau benar dia putrinya Hamka maka Azzam dan Afifa adalah cicitnya Ibu Heru. Tapi semuanya masih perlu.
__ADS_1
"Iya tak apa... masih panjang waktu kita untuk saling mengenal! Nanti Oma kenalkan kalian pada Opa. Beliau pasti bahagia melihat kalian."
Citra membeli senyum tipis menanggapi semangat ibunya Heru. Citra Baru memahami apa yang telah terjadi di masa lalu. Mengapa ayahnya bisa keluar dari rumah memilih hidup sederhana bersama ibunya. Jangan-jangan cerita klasik terulang lagi! orang tua tidak menyetujui mempunyai menantu dari kalangan orang biasa. Beda dengan orang tua Alvan yang tidak peduli dari mana dan siapa Citra. Mereka menyayangi Citra seperti anak sendiri. Justru Alvan yang menolak Citra demi Cinta pertamanya.
Akhirnya mereka bersama-sama masuk ke dalam rumah sakit. Afifa tidak mau melepaskan tangan Alvan takut papinya pergi lagi. Di pihak lain Citra menggandeng Azzam memasuki tempat dia bekerja.
Alvan mengiringi Citra dan Heru ke tempat pengambilan sampel darah sebelum membawa Citra menemui papanya yang sedang sakit. Status Citra dan papanya sama penting bagi Alvan. Citra hanya perlu diambil sampel darah dan selanjutnya akan ditangani oleh pihak rumah sakit.
Atas perintah Alvan semuanya bergerak cepat. Siapa berani menentang keinginan pemilik Rumah Sakit. Punya hasrat begitu artinya sedang mengajukan surat mengundurkan diri.
Azzam dan Afifa kasihan pada maminya diambil darah oleh perawat. Hati mereka ngilu melihat cairan warna merah keluar dari kulit Citra berpindah pada jarum suntik. Afifa yang pernah rasakan sakitnya diambil darah meringis ikut merasakan kepedihan di lengan Citra. Padahal sakitnya tidak seekstrim bayangan Afifa. Hanya terasa ngilu sedikit.
Citra berusaha tersenyum santai agar kedua anaknya tidak trauma melihat jarum suntik. Citra sedang membangun rasa percaya diri kedua anaknya agar punya nyali hadapi segala kemungkinan. Apalah artinya hanya melawan jarum suntik.
"Nah mami sudah selesai! Sekarang kita menengok Opa!"
Alvan menggandeng Afifa dan Azzam meninggalkan tempat pengambilan sampel darah. Alvan tidak peduli pada Heru dan ibunya. Bagi Alvan itu tidak terlalu penting. Sekarang dia cuma perlu melindungi miliknya dari incaran orang gila.
Alvan menganggap Viona termasuk kategori orang gila. Orang gila tidak perlu ditanggapi cuma perlu dihindari. Alvan harus menambah pengawalan terhadap Citra dan anak-anaknya. Kemungkinan besar Alvan tidak akan menarik ke gudang. Alvan ingin Bonar membantu tokcer mengawal Citra dan anak-anaknya.
Sejujurnya Citra masih kaku berhadapan dengan Heru dan ibunya. Walaupun secara garis besar Citra adalah bagian dari keluarga. Terlalu dini untuk mengambil kesimpulan bahwa Citra bagian dari keluarga Perkasa.
"Nak kapan kamu akan datang ke rumah Oma? Oma sudah tidak sabar membawa kamu pulang untuk berkumpul bersama-sama. Oma ingin membayar waktu kita yang hilang." ujar ibunya Heru dengan mata berkaca-kaca.
Sebenarnya Citra kasihan mendengar kalimat dari mulut ibunya Heru. Cuma sampai saat ini Citra belum bisa menerima kenyataan ini dengan tangan terbuka.
"Bu... maaf maksudku Oma.. kita tunggu hasil test DNA dulu! Kalaupun aku ini anak dari putra Oma. Aku tidak akan menuntut apapun dari keluarga kalian. Cukup aku tahu aku mah masih mempunyai keluarga. Aku sudah hidup tenang bersama anak-anak aku. Yang lain-lain aku tidak peduli."
"Benar atau tidaknya kamu ini putrinya dari anakku Hamka. aku tetap ingin menganggapmu sebagai cucu. Kujamin mulai hari ini Viona dan keluarganya tidak akan mengganggu kamu lagi. Kalau benar kamu anaknya Hamka apakah kamu mau ikut kami pulang ke rumah?"
Citra lagi-lagi dibuat bingung oleh permintaan ibunya Heru. Permintaan itu sangat sederhana tapi membawa beban yang sangat berat bagi Citra. Takutnya orang akan mengira Citra gila harta masuk ke keluarga Perkasa. Citra tak butuh semua nama besar, Citra cuma butuh ketenangan bersama anak-anaknya.
"Oma... kita bicara lain kali saja. Sekarang aku harus membantu opanya anak-anak yang sedang kena stroke. Ini tugasku sebagai seorang dokter. Kuharap kalian memahami pekerjaan aku."
"Baiklah anak! Lakukan tugasmu. Oma akan datang lagi melihatmu dan anak-anak. Jangan larang oma datang ke rumahmu ya!" minta Ibu Heru dengan mata berembun tanda akan menangis. Citra sangat tidak tega melihat raut sedih ibunya Heru. Citra bisa merasakan kerinduan hati seorang ibu pada anaknya.
"Oma bisa datang setiap saat. Rumah aku welcome untuk Oma tapi tidak untuk Viona dan ibunya. Aku tidak ingin menuai cibiran para tetangga. Mulut Viona terlalu mengerikan."
"Oma janji tidak akan mengijinkan Viona dan ibunya menginjak rumahmu. Kamu tenang saja! Oma pulang dulu ya! Oma akan kabarin opa mu bahwa telah menemukan permata yang telah lama hilang."
Citra mengangguk berharap janji Ibu Heru bukanlah satu janji kosong. Citra lelah kalau terus-terusan di rongrong oleh wanita tak punya akal sehat macam Viona.
__ADS_1
Heru dari tadi dia menyimak obrolan ibunya dengan Citra. Masih banyak PR harus dikerjakan oleh Heru. Pertama menekan Viona agar tidak mengusik Citra. Lantas menyelidiki kehidupan Hamka di masa lalu. Tentu saja harus dimulai dari keluarga Alvan. Hamka bekerja di sana tentu saja meninggalkan sesuatu yang bisa membuka tabir kehidupan Hamka.