
Citra mengedik bahu belum tahu rencana Alvan ke depan. Citra bukan orang bodoh tak ngerti kalau Alvan bermaksud mencuri simpatik kedua anaknya. Kedua anak itu keturunan Alvan, darah daging Alvan. Keadaan Alvan tak punya banyak pilihan. Mencari perhatian anak-anak atau adop anak lain bersama Karin. Citra sudah pasti tak mau jadi duri dalam daging Karin. Tak ada yang perlu sakit hati lagi. Cukup Citra rasakan di masa lalu.
Alvan baru saja selesai rapat bersama para pejabat tinggi di perusahaan. Semua berjalan lancar sesuai keinginan. Di sini Selvia memberi kontribusi cukup besar. Wanita ini memang macan bisnis. Semua sempurna di tangan wanita itu. Alvan harus akui kepiawaian Selvia melobi proyek.
Alvan kembali ke ruang kantornya ditemani Untung asisten setia. Untung sangat lega karena hasil rapat membuahkan komitmen positif bagi perusahaan. Tidak sia-sia dia kerja keras berapa hari ini. Tanpa Alvan dia berhasil siapkan materi dibantu Wenda sekretaris Alvan.
Di dalam ruang kantor Alvan sudah ada satu sosok wanita bertampang kuyu. Lingkaran hitam hiasi wajah Karin tanda kurang istirahat. Biasa Alvan akan bersedih bila melihat isterinya berantakan. Tapi kini rasa iba itu berubah jadi benci. Cinta Alvan yang besar dibayar pengkhianatan luar binasa. Ya binasakan hati Alvan sampai terluka tanpa keluar darah.
Karin songsong Alvan begitu laki itu masuk ruang. Dengan sikap manja Karin berusaha menempelkan kepala di dada bidang itu. Andai Alvan tak tahu kelakuan Karin mungkin dengan senang hati terima sikap manja Karin.
Alvan mendorong Karin menjauh dengan sikap jijik. Berapa banyak laki pernah nikmati tubuh wanita yang jadi isteri sirinya itu? Puluhan bahkan ratusan. Sakit hati Alvan ingat betapa binal Karin bercinta dengan laki bukan suami.
Karin tertegun ditolak Alvan. Laki itu tak pernah menolaknya, mengapa hari ini tingkah Alvan lain dari biasanya. Wajah suaminya kaku tak ada pancaran cinta seperti biasanya. Apa yang diketahui Alvan tentang pesta gilanya.
"Sayang...ada apa?" hati Karin mencelos lihat Alvan biarkan dia berdiri sendirian ditengah ruang. Laki itu dengan tenang duduk di kursi singgasana tanpa komentar.
"Untung...kau keluar dulu! Jangan masuk sebelum kupanggil!" ucap Alvan datar tanpa perlihatkan emosi. Alvan sedang menahan diri untuk tidak meledak di depan Untung. Dia adalah bos perusahaan besar. Kewibawaan merupakan kunci kehormatan seorang pemimpin.
"Ya pak!" Untung tahu diri segera undur diri. Si gempal sudah bayangkan bakal ada yang kena semprot amarah Alvan. Dia pergi merupakan jalan tepat.
Karin masih mematung di tengah ruang. Sambutan Alvan di luar dugaan Karin. Semula Karin sudah bayangkan Alvan akan memeluknya penuh kerinduan setelah beberapa hari tak bersama.
"Sudah puas hambur uang?" tanya Alvan setelah yakin Untung sudah pergi.
"Sayang marah karena itu? Aku cuma ajak beberapa teman rayakan kehamilanku! Cuma party kecil." Karin mencoba bertingkah manja hendak dekati Alvan.
"Duduk di sana! Badanmu bau alkohol. Kau tahu aku benci alkohol." Alvan menyetop langkah Karin berjalan ke arahnya. Alvan benar jijik dekat Karin. Karin tak ubah limbah bau busuk harus dienyahkan.
Karin terpana tak sangka Alvan tega menolaknya. Di mana tatapan memuja yang selalu berbinar di mata laki itu. Ada apa dengan Alvan.
Karin meringsut pelan capai sofa lalu duduk manis. Kini Karin tak punya daya selain patuh. Karin butuh uang Alvan untuk bayar biaya pesta yang gila-gilaan. Bayar uang sewa hotel, bayar makan minum dan gigolo untuk bersenang-senang.
"Sayang...aku minta maaf bila salah! Aku hanya terlalu bahagia bisa hamil setelah tujuh tahun menjadi isterimu. Aku cuma undang teman sesama selebgram. Tidak macam-macam kok!" ujar Karin pura-pura lugu. Wajah tanpa dosa dipasang untuk meluluhkan hati laki itu.
"Aku bilang apa? Kalau kau keluar rumah tak usah pulang lagi. Kau dengar perintahku?" bentak Alvan kencang. Di luar Untung pasti dengar suara Alvan yang menggelegar. Paling asisten itu pura-pura tak punya kuping ikut dengar.
"Maaf sayang! Aku suntuk di rumah. Ini bawaan anakmu ingin kumpul rame-rame bareng teman."
"Anak? Jangan bawa anak tak jelas itu!" Alvan kembali perdengarkan suara keras.
__ADS_1
"Anak tak jelas? Apa maksudmu? Kalau kau ragu anak ini anakmu kita bisa test DNA." tantang Karin tersudut.
"Test DNA? Asal kau tahu mengapa kita belum punya anak. Aku lelaki mandul. Anak siapa dalam perutmu hanya kau yang tahu."
Karin terhenyak kaget sampai berdiri dari sofa. Di luar dugaan Karin kalau Alvan memang bermasalah. Karin sudah menduga namun cepat dia tepis karena dia pernah mengandung anak Alvan walau akhirnya keguguran.
"Kau bohong. Aku sudah pernah hamil sekali, ini kedua kali. Duanya anakmu."
"Dasar pembohong. Aku sudah cek kalau aku tak punya bibit setelah kecelakaan itu. Ingat kejadian empat tahun lalu? Kau pergi tanpa kabar bersama temanmu? Aku tabrakan. Di situ syaraf selangkanganku putus. Sekarang jujur padaku atau kau pergi sejauh mungkin dariku!" kini nada suara Alvan menurun.
Karin menghela nafas merasa ketangkap basah serong dengan laki lain. Tak disangka nasibnya sedang apes. Kebohongannya terbongkar cepat. Masa jaya Karin akan segera berlalu. Menganggap diri adalah ratu hati Alvan akan segera tamat. Cinta Alvan yang besar bikin Karin pede berbuat semaunya.
"Sayang...mungkin dokter salah. Terbukti ini ada anak kita. Jangan dengar ocehan orang tak jelas! Mulai detik ini aku janji takkan keluyuran lagi. Aku akan fokus menjaga kehamilan ini. Umur kita sudah tak muda. Mungkin ini satu-satunya harapan kita. Aku sudah berumur tiga puluh lima. Ini kehamilan terakhir. Maafkan aku ya!" bujuk Karin berusaha bentengi diri dengan keculasan ganda.
"Karin...selama ini aku buta tak melihat sampah di rumah. Kini mataku terbuka. Kesabaranku sudah habis. Kau mau jujur atau kubawa bukti kebejatan kamu. Minum di bar, bercinta seperti binatang di pub. Nginap di hotel bersama laki lain. Apa kau kira aku selamanya buta?"
Kaki tangan Karin berubah kaku. Alvan dengan lancar menyebut satu persatu dosanya. Semuanya ada fakta. Karin memang melakukan semua itu. Kebusukan Karin tercium Alvan secara jelas. Karin tak bisa mengelak lagi. Kari yakin Alvan punya bukti baru berani menyerangnya.
"Maafkan aku sayang! Ini semua bawaan bayi! Aku tak mau pergi tapi bayi ini seolah memaksaku." ujar Karin terselip rasa sesal. Semoga hati Alvan terbuka mau memaafkan dia. Alvan budak cintanya. Tak gampang Alvan lupakan kisah cinta mereka yang berumur puluhan tahun.
"Cari bapak anak itu! Untuk apa cerita padaku! Jangan lupa kau ini isteri siri! Aku bisa ceraikan kamu tanpa perlu sidang. Cukup satu kata."
"Alvan...kau sadar apa yang kau ucapkan? Kau tak perlu tahu siapa bapak anak ini. Dia ada hubungan darah denganmu. Kita sudahi pertengkaran tak bermanfaat ini. Aku akan di rumah mulai detik ini."
"Kau yakin minta aku tuntut tanggung jawab bapak anak ini? Keluargamu akan hancur. Nama keluarga Lingga akan dicemoohi seluruh dunia." sahut Karin tak kalah sinis.
"Maksudmu?" mata Alvan membesar diancam Karin. Mengapa keluarga Lingga terbawa dalam aib Karin. Sesungguhnya apa yang terjadi?
"Anak ini adikmu. Anak dari tuan Jono Lingga. Bapak yang kamu hormati telah hamili aku."
Seluruh badan Avan bergetar diberi tahu Karin siapa bapak dari anak di kandungan Karin. Berita ini seperti petir menyambar persis di depan mata Alvan. Panas membakar hati. Karin tertawa sinis penuh kemenangan. Posisinya kuat tak terkalahkan. Alvan pasti tak berkutik setelah tahu anak siapa di perutnya. Pantas Karin pede test DNA.
Alvan tak mungkin bongkar perselingkuhan bapak dan isterinya. Bagaimana nasib mamanya bila tahu bapaknya telah main gila dengan menantu sendiri. Keluarganya bisa hancur oleh perzinahan ini. Alvan benar pusing memikirkan cara kotor Karin untuk bertahan jadi nyonya besar di rumahnya.
"Kau benar-benar ****** tak tahu malu. Kau pikir kau akan bertahan dengan kecurangan besar ini?"
"Aku sudah menang. Atau kau mau aku bicara dengan mama soal bayi ini? Aku punya rekaman percintaan panas kami. Bapakmu cukup hot walau sudah tua. Tapi kamu tetap the best. Sekarang buka blokir kartu aku. Aku mau bayar sewa hotel pesta semalam. Aku segera pulang sambut suami tercinta." Karin tertawa renyah merasa di atas angin telah kuasai Alvan atas aib bapaknya. Karin merasa kepintarannya tidak terbuang sia. Sekali gerak dia kuasai seluruh aset keluarga Lingga. Anaknya kelak pewaris tunggal kekayaan Lingga. Karin akan punya uang tak terbatas. Bisa hambur duit sesuka hati.
"Dasar ******..." rutuk Alvan menyesal telah mencintai ular berbisa. Bisanya telah meracuni seluruh keluarga. Papanya yang jarang bicara bisa kena perangkap wanita murahan itu.
__ADS_1
"Aku pergi dulu sayang! Jangan lupa buka blokir kartu aku! Atau aku pergi jumpa papa minta uang lebih banyak."
Karin pergi dengan tawa lebar. Wanita itu berubah jadi nenek sihir bertampang seram di mata Alvan. Karin berubah seratus delapan puluh derajat. Ke mana perginya Karin yang cantik menawan hati. Alvan terngiang kata kakek Wira kalau Karin bukan wanita baik-baik. Perkataan mendiang kakek terbukti sudah. Puluhan tahun Alvan hidup bersama ular berbisa. Bisa telah menyebar ke seluruh keluarga.
Alvan menggebrak meja dengan hati membara. Penyesalan datang terlambat. Andai Alvan menerima Citra gadis pilihan kakek mungkin hidupnya tidak belangsak tragis. Citra menjauh, Karin berulah. Alvan tak dapat keduanya. Pada akhirnya Alvan sendirian.
Menata hati untuk bersama Karin tak mungkin terjadi lagi. Alvan terlanjur jijik pada wanita itu. Belum lagi penyakit mematikan sedang berkembang dalam diri wanita itu. Semoga saja Pak Jono tidak terinfeksi virus HIV tukaran dari Zaki ke Karin. Alvan harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan keluarganya. Kalau Pak Jono kena otomatis mamanya akan terpapar virus itu. Lebih baik menjaga dari sekarang ketimbang hancur semua.
Alvan memanggil Untung jemput Azzam di sekolah. Alvan sudah janji pada Citra akan jemput Azzam maka wajib ditepati. Kepercayaan Citra padanya memang sudah sirna. Ini waktunya Alvan kembalikan kepercayaan itu. Alvan tak boleh salah langkah di sekeliling Citra. Taruhannya kehilangan lebih besar.
Alvan harus selesaikan masalah dengan bapaknya tanpa perlu melukai hati mamanya. Papanya harus diberi pelajaran berharga tega khianati anak dan isteri. Kakek Wira tak pernah salah menilai orang. Mengapa bangku presiden direktur tak sampai ke tangan papanya. Seharusnya yang jadi pemimpin adalah Pak Jono namun kakek Wira memilih wariskan pada Alvan. Rahasia apa ada di tangan kakek tak percaya pada anak sendiri.
Sebelum pergi Alvan meneleponi Citra beri kabar tak bisa gabung makan siang. Alvan harus cegah kemungkinan buruk lebih parah. Seluruh keluarga Lingga bisa punah terserang virus HIV bila tak ditangani cepat.
Benda pipih warna hitam di tangan Alvan. Tanpa ragu Alvan klik kontak diberi inisial mami. Citra maminya anak-anak. Pantas sandang gelar mami kesayangan.
"Halo...maaf ya Citra! Aku tak bisa makan siang bersama. Azzam sudah kusuruh jemput sama Untung. Makan siang kalian akan kuminta Untung antar ke sana. Azzam dan Untung yang pergi beli. Untung akan kawani kalian sampai sore."
"Tak usah repot pak! Antar Azzam saja sudah boleh. Afifa sudah membaik. Bapak tak perlu kuatir. Sini aman." terdengar nada bersahabat Citra. Suara persis sembilan tahun lalu. Lembut membuai Sukma. Inilah yang dibutuhkan Alvan saat ini. Suara lembut pengusir galau.
"Syukur anakku sehat. Apa sudah bangun?"
"Sudah...tadi minta pup dan pipis. Dia tanya bapak."
"Oh...bilang pada Afifa papi ada sedikit kerja. Malam ini pasti datang tidur bersamanya. Kalau kau butuh sesuatu bilang saja sama Untung. Dia akan kerjakan semuanya."
"Tidak perlu apapun. Kalau bapak sibuk jangan dipaksa! Pergunakan waktu bapak sebaik mungkin. Aku takkan bawa lari anak-anak."
Alvan tertawa dengar betapa kesalnya suara Citra. Citra pasti sedang menyindir Alvan yang menahan Alvan menahan dokumen pentingnya sebagai dokter. Citra tak berkutik tanpa dokumen kesarjanaan sebagai dokter.
"Aku percaya. Tunggu aku! Aku pasti datang."
"Terserah!"
"Judesnya berkibar! Salam untuk buah hati aku ya!"
"Iya..." hubungan putus tanpa menanti jawaban Alvan.
Hati Alvan terobati ingat anak-anaknya. Mungkin itulah obat mujarab mengobati luka di hati Alvan. Dulu Alvan lukai hati Citra demi Karin. Balasannya Karin main gila dengan beberapa laki. Parahnya melibatkan orang tua Alvan. Alvan bingung harus mulai dari mana menegur sang papa yang bejat. Menantu sendiri digarap melampiaskan nafsu. Di mana akhlak iblis bertopeng manusia itu? Mungkin iblis tak sebejat itu. Mertua dan menantu berzinah bodohi keluarga.
__ADS_1
Alvan kecewa berat terhadap Karin dan papanya. Sungguh memalukan bila skandal ini tersiar ke mana-mana. Nama besar keluarga Lingga dipertaruhkan. Martabat tinggi yang terbangun sejak dulu remuk diinjak nafsu bejat dua insan tak berotak.
Alvan angkat ponsel teleponi Pak Jono yakni papa Alvan. Alvan tak sanggup bicara hadapan dengan laki yang disebut papa. Hati Avan terlalu sakit ingat kebejatan Pak Jono tega bersetubuh dengan mantu.