
Azzam hanya tersenyum kecil lihat pijaran bangga dari mata Alvan. Ternyata banyak yang Alvan tidak ketahui tentang anak-anaknya. Azzam menyimpan segudang talenta. Satu persatu kepintaran Azzam terpapang di depan hidung Alvan. Kesemua banggakan Alvan sebagai papi dari Azzam.
Alvan pamitan keluar sebentar. Alvan harus menemui Bu Dewi dan Pak Jono untuk kasih kabar mereka telah pindah di sekitar rumah Perkasa. Sejelek apapun Bu Dewi tetaplah ibunya Alvan.
Suasana rumah Lingga makin suram sejak Pak Jono jatuh sakit. Tak ada pancaran cahaya kehidupan. Lama Alvan berdiri di depan rumah orang tuanya. Ke mana kemegahan Lingga yang bertatah di dunia bisnis bertahun-tahun. Akankah kemegahan Lingga runtuh di tangannya? Semua ini bermula dari kesalahan di masa lalu terkurung dalam pesona Karin.
Alvan menata hati agar tenang bicara dengan Bu Dewi tentang perpindahan Citra ke tempat Bu Sobirin. Alvan terpaksa ikut karena sayang pada keluarganya. Alvan rela turunkan gengsi demi Citra dan anak-anak. Tak ada yang lebih berharga dari Citra dan anak-anaknya saat ini. Alvan bersedia korban segalanya untuk bersatu dengan Citra.
Alvan melangkah masuk ke dalam rumah di sambut oleh pembantu rumah. Suasana rumah sepi tak jauh beda dengan kuburan. Jangan suara, ******* nafas makhluk hidup pun tak terdengar.
"Bik...di mana papa dan mama?" tanya Alvan pada penjaga rumah.
Jangankan tuan rumah, pembantu saja suram. Sinar redup mata pembantu tua itu bikin hati Alvan makin miris. Ini karma siapa sedang hujani rumah ini.
"Ada dalam kamar...tuan sedang kurang enak badan! Sudah dua hari tidak keluar kamar." lapor si bibik murung.
"Terima kasih Bik! Biar aku datangi mereka." Alvan ayun langkah ke kamar yang tertutup rapat. Kedua orang tuanya pasti di dalam menghitung kesalahan masing-masing.
Alvan mengetik pintu pelan tunggu reaksi dari dalam. Lamat-lamat Alvan mendengar orang membuka gerendel pintu.
"Alvan..." seru Bu Dewi gembira anaknya mau datang jenguk mereka yang makin lesu.
"Apa kabar ma?" Alvan masuk seraya menyalami Bu Dewi.
"Kayaknya papamu kurang sehat. Sudah dua hari batuk pilek."
Alvan melirik ke tempat tidur jumbo papanya. Lelaki itu terbaring tanpa daya. Habis batere.
"Kenapa tidak telepon Alvan? Kan bisa minta Citra datang."
"Janji mau datang urus papamu tapi sampai sekarang tak pernah muncul. Menantu apa itu,?" sungut Bu Dewi mulai cari kesalahan Citra lagi. Kadang Alvan bosan dengar omelan mamanya tentang Citra. Tidak bosan kecilkan nilai Citra.
"Ma...kau tahu jelas mengapa Citra segan ke sini? Ini gara-gara mama asyik hujat dia. Kita bawa papa ke rumah sakit agar dapat perawatan lebih baik." Alvan hampiri papanya tanpa menunggu jawaban Bu Dewi.
"Papa tak mau...dia cuma ingin cucunya. Kenapa kau tak bawa anak-anak kamu pulang sini? Mama akan rawat mereka."
"Sayang sekali mama terlambat. Citra dan anak-anak sudah tinggal di tempat pak Sobirin. Mereka menerima Citra sebagai emas permata sedang mama? Mama hanya bisa ingat gundukan emas dan uang sementara keluarga Perkasa tawarkan kasih sayang. Citra tentu cari tempat nyaman untuk anak-anak."
Bu Dewi mendecak marah pada Alvan yang bela Citra terusan. Tak bisakah Alvan hargai perasaan Bu Dewi yang kalut gara saudaranya masuk penjara. Bu Dewi merasa terbebani karena usul dia ingin jodohkan Alvan berakhir dengan rencana kejahatan.
"Citra juga boleh pulang sini asal dia bersedia cabut tuntutan."
Alvan menoleh tajam ke arah Bu Dewi. Dalam keadaan gini masih berani menawarkan syarat pada Citra. Kalaupun Citra memaafkan mereka Alvan takkan bebaskan manusia berhati keji.
"Ma...Alvan yang tuntut mereka! Bukan Citra...Citra pasti lembut hati bebaskan mereka tapi Alvan tidak. Mereka itu pembunuh. Tempat orang model gitu pantas di penjara."
Bu Dewi menangkap kilatan marah di mata Alvan. Tatapan mata Alvan laksana sembilu siap menyayat orang. Nyali Bu Dewi menciut juga dapat amarah Alvan.
"Nak...mereka itu saudara kita!"
"Alvan tidak bersaudara dengan orang berhati busuk. Dan mama tak perlu sibuk urus Citra. Dia takkan ambil uangmu satu senpun. Dia telah dapat dari Perkasa."
"Kau makin tak sopan. Apa Citra pengaruhi kamu untuk melawan mama?" omel Bu Dewi makin tak masuk akal. Sedikit-sedikit salah Citra padahal Citra tak tahu apa-apa. Sangat tidak adil bagi Citra.
__ADS_1
"Ma ngucap...setan mana rasuki mama sehingga sejahat ini pada Citra. Asal mama tahu dia rela berpisah supaya Alvan bisa baikan dengan mama. Di mana Bu Dewi yang bijak? Kenapa mama berubah seperti ini? Apa mama senang punya menantu berjiwa pembunuh? Bisa jadi kelak kita jadi sasaran orang itu karena mereka kemaruk harta."
"Mereka kaya...Kayla cinta padamu!"
"Ya Allah...kenal juga nggak dari mana datang cinta? Yang waras dikit ma...Apa tujuan ingin matian masuk ke keluarga kita? Justru mereka yang gila harta dan nama." Alvan semakin geram pada mamanya yang kurang vitamin. Otak sudah rusak gara-gara terlalu sayang pada saudaranya.
"Sembarangan...coba tanya Amang siapa keluarga Kayla? Mereka kaya raya..."
"Amang? Amang justru dukung Alvan penjarakan mereka. Kalau tak percaya silahkan telepon Amang!"
"Bohong ..Amang juga sayang pada keluarga. Tak mungkin Amang kamu tega penjarakan saudara."
"Amang memang sayang keluarga tapi amang lebih sayang pada kebenaran." Alvan mulai gerah harus adu mulut terusan dengan Mamanya."
Bu Dewi terdiam. Alvan tak mungkin bohong mengenai cara pandang Amangnya. Adiknya itu selalu takut akan dosa. Junjung tinggi kebenaran tanpa pilih bulu. Kelihatannya tak ada jalan kebebasan bagi Kayla dan mamanya. Penjara yang dingin telah menanti mereka.
"Terserah kamu. Kamu berdosa pada leluhur mu aniaya saudara. Sekarang panggil anak-anak mu agar papa kamu cepat sehat. Mama kasihan pada papamu rindu pada anak-anak kamu!"
"Akan kucoba..." Alvan hampiri Pak Jono yang merem tak ingin ambil bagian dari perdebatan Alvan dan mamanya. Pak Jono tak mau ikut karena dirinya juga tersangka pengkhianat. Salah-salah terbuka pula busuknya dia. Sekam makin kerontang gampang terbakar.
"Pa..." panggil Alvan pelan.
Pak Jono membuka mata memandangi anaknya. Mata yang biasanya bersinar penuh semangat kini kuyu tak ada cahaya. Pak Jono telah mendapat balasan setimpal atas perbuatannya terhadap anak.
"Van... dua hari ini papa merasa agak lemas. Mengapa Citra tidak mau datang menjenguk papa?"
Alvan tarik kursi duduk dekat papanya agar enak ngobrol. Bicara dengan pak Jono takkan menguras emosi Alvan. Bu Dewi sudah tak dapat berpikir rasional hakimi Citra tanpa jelas apa dosa Citra. Menghujat hanya berdasarkan insting dan hasutan orang lain.
"Pa.. Citra bukannya tidak mau datang menjenguk bapak tetapi dia takut pada sikap Mama yang tidak bisa menerimanya. Sekarang Citra telah pindah ke tempat Pak Sobirin. Mereka telah menyediakan rumah untuk Citra dan anak-anak di samping rumah Pak Sobirin. Seharusnya kita yang malu tidak dapat menyediakan tempat berteduh bagi anak-anak. Aku sudah menawarkan tempat tinggal yang baru untuk Citra tapi Citra menolaknya."
"Citra tidak bermaksud apa-apa bang cuma Citra takut mulut mama yang sangat ganas. Belum apa-apa asik cerita pembagian harta warisan padahal sedikitpun Citra tidak tertarik. Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja Pa? Di sana Citra akan melayani dan merawat papa dengan sangat baik."
Pak Jono melirik istrinya dengan tatapan tidak mengerti. Bu Dewi yang terkenal sangat baik mengapa tiba-tiba berubah menjadi sangat jahat pada cucu dan menantu. Itu bukan gaya Bu Dewi selama ini.
"Kenapa kamu gitu pada anak mantu kita? Kita sudah cukup banyak bersalah pada citra dan sekarang kamu memusuhinya. Apa kamu tidak ingat kalau kita telah mempunyai cucu dari Citra?" tanya Pak Jono kepada istrinya yang mengangkat kepala ke atas seolah-olah dialah yang paling benar.
"Bawa pulang anak-anak! Biar kurawat mereka! Citra mau ikut atau tidak aku tak peduli. Dia kan sudah kaya untuk apa masuk ke keluarga kita lagi?"
Alvan memilih keluar dari kamar Pak Jono agar tidak terpancing emosi. Berdebat dengan mamanya sama saja berdebat dengan tembok yang tidak punya perasaan dan tidak punya hati.
"Lihat...anak kita makin kurang ajar! Di bilang sedikit langsung pergi. Sia-sia aku besarkan dia!" sungut Bu Dewi menunjuk ke arah Alvan yang keluar dari kamar dengan emosi mencapai ke ubun-ubun kepala.
Alvan memilih menenangkan otak di ruang tamu sambil meneleponi Untung untuk menjemput pak Jono ke rumah sakit lagi. Alvan takut pak Jono makin tertekan oleh tingkah Bu Dewi. Kelakuan Bu Dewi bukannya mendekat dengan cucu namun makin bentang jarak lebar.
Begitu Alvan selesai bicara dengan Untung ponsel Alvan berbunyi dapat panggilan masuk. Tertera nama Citra. Tanpa ragu Alvan geser tanda bola hijau terima panggilan dari wanita tercinta.
"Halo.. Assalamualaikum sayang..." Alvan duluan menyapa Citra begitu tersambung.
"Waalaikumsalam mas! Bisakah mas datang ke sini sebentar?"
"Bisa...ada apa? Tidak kerasan?"
"Bukan itu mas...Afisa sudah ada di bandara minta dijemput!"
__ADS_1
"Afisa? Ya Allah anakku.. mengapa datang tidak kasih kabar?"
"Dia sedang mengikuti kejuaraan senam junior di Singapura. Maka itu dia melangkah ke sini jenguk kita! Mas langsung ke bandara atau jemput kami? Atau kami pergi dengan Tokcer."
"Kalian pergi dulu dengan Tokcer agar Afisa tidak menunggu lama. Mas berangkat dari sini!"
"Oh gitu ya! Baiklah! Jumpa di bandara! Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Alvan bahagia bukan main dengar anaknya telah datang. Kerinduan akan anak nomor duanya akan segera terbayar. Alvan akan lihat langsung sosok Afisa yang katanya luar biasa.
Alvan tak sabar ingin kasih kabar pada pak Jono bahwa cucunya telah lengkap orang berada di tanah air. Alvan balik ke kamar Pak Jono untuk memberi kabar gembira ini. Semoga berita ini dapat membangkitkan semangat Pak Jono.
"Pa...ma...anakku yang nomor dua telah kembali ke tanah air. Aku segera ke bandara untuk jemput dia!" ujar Alvan senang sekali.
Pak Jono segera duduk bersemangat dengar berita semua cucunya telah lengkap. Ini melebihi obat mujarab untuk penyembuhan pak Jono. Celoteh anak-anak akan warnai rumah mereka.
"Iya...pergilah! Ajak mereka pulang sini ya! Papa rindu sekali pada anakmu terutama yang si mata bening. Siapa namanya?"
"Afifa...anak bungsu!"
"Cepat pergi! Jangan biarkan dia menunggu!"
"Iya pa... assalamualaikum..." Alvan serasa dapat lotre nomor satu dengar anaknya telah kembali. Jumpa pertama bagaimana reaksi Afisa. Konon menurut kabar Afisa jauh lebih pintar dari Azzam. Azzam saja sudah cukup jenius. Ini ada yang super jenius.
Mungkinkah anaknya itu titisan si jenius Albert Einstein? Alvan belum berani memberi penilaian sebelum menemui Afisa.
Jalan menuju ke bandara terasa sangat panjang padahal jalannya sangat bagus dan tidak macet. Alvan tak sabar melaju kendaraan dengan kecepatan tinggi agar cepat mencapai bandara. Alvan yakin dia akan duluan tiba daripada Citra karena jarak dari tempatnya ke bandara lebih dekat. Apa sampai di sana dia akan mengenali anaknya?
Berbagai angan indah melayang di otak Alvan. Apakah Afisa akan memeluknya sebagai salam perkenalan atau akan cuek bebek seperti sikapnya video call. Alvan hanya bisa berandai-andai sikap Afisa kepadanya nanti.
Benar dugaan Alvan. Dia duluan tiba di bandara. Laki ini segera parkir mobilnya di tempat teduh. Bergegas laki ini masuk ke tempat kedatangan penumpang dari luar negeri. Mata Alvan mencari sosok yang kira-kira mirip Afisa.
Cukup lama akhirnya Alvan melihat seorang gadis kecil menjelang remaja duduk santai di atas bagasi sambil main ponsel. Anak itu kenakan jaket warna putih campur orange dengan topi kupluk di atas kepala. Kalau benar anak itu Afisa maka anak itu sangat dewasa untuk ukuran anak umur delapan tahun.
Dengan ragu Alvan dekati anak yang duduk sendirian di tengah ruang bandara cuek bebek pada orang sekeliling. Matanya tak lepas dari ponsel di tangan.
"Hai..." sapa Alvan pelan takut anak itu kaget.
Anak itu kaget walau Alvan telah menyapanya dengan pelan. Anak itu langsung berdiri perlihatkan postur tubuh jangkung walau tidak setinggi Azzam. Untuk ukuran anak gadis berumur delapan sudah termasuk tinggi. Di banding dengan Afifa beda jauh. Afifa tampak mungil bila disejajarkan dengan anak ini.
"Afisa?" kata Alvan berusaha tetap lembut.
Anak itu mengangguk. Matanya seindah mata Afifa. Sama-sama memancarkan sinar bening bak telaga di mata.
"Are you my Daddy?(Apakah kamu papiku?)" tanya anak itu dalam bahasa Inggris.
"Yes..." Alvan masih takjub pada anaknya yang satu ini. Persis sosok digambar Afifa. Tenang menghanyutkan.
"Hi...Where my mom?(Hai..di mana mamiku?)"
"On the way...are you alone?(Dalam perjalanan..kamu sendirian?)" Alvan mencari siapa yang dampingi anaknya.
__ADS_1
"Yes...I'm alone..(Iya...aku sendirian.)"
Satu lagi point untuk anaknya. Melakukan perjalanan sendirian tanpa rasa takut. Wajahnya santai tidak ada bayangan ketakutan sedikitpun.